"Hmmm ...."
"Apa kau senang sekarang?"
"Soal?"
"Dia sudah menunjukkan dirinya. Dulu kau ingin sekali melihatnya kan?"
"Tidak juga, terserah dia ... Tab, tak ada salahnya jika dia ingin muncul." sanggahku.
"Tapi, menatapnya akan membuatmu sakit." ucapan Tab selalu menyakinkan seolah dia bisa meramal perasaanku.
"Iya, saat ini tapi tidak lain waktu, aku akan terbiasa nantinya. Pada saatnya kita akan membuka topeng kita. Tab."
"Kau akan kembali lagi?"
"Mungkin nanti ... saat aku bisa menghapusnya perlahan."
"Kau tak akan bisa menghapusnya jika kau ada di sana."
"Itu sebabnya aku sering ngumpet, kenapa impian itu kadang menyiksa. Kita ditipu oleh hati kita sendiri."
"Hati tak pernah menipu."
"Tapi aku selalu salah memilih hati. Harusnya dia tak baik padaku, harusnya dia tak peduli padaku."
"Kau menyesal mengenalnya?" pertanyaan Tab membuatku berpikir sejenak.
"Tidak, aku bahagia bisa mengenalnya dan sesaat bisa mengganggunya."
"Sekarang apa rencanamu?"Pada kenyataannya, perpisahaan ini aku yang memintanya. Sekarang, tidak ada jalan untuk berbalik.
"Kita lanjutkan saja semuanya. kau tahu ... aku mulai terbiasa menahan kangen padanya."
"Kau gila!"
Aku hanya tertawa. Melirik sekilas undangan bersampul merah di atas meja.
"Sepertinya iya, sama gilanya saat aku memutuskan menikmati rasa sakit ini."
"Aku berduka untukmu, Dy." ucap Tab tampa daya.
"Terimakasih." balasku dengan senyuman.
Aku hanya berpikir topeng aps yang akan aku kenakan saat berjumpa lagi dengannya nanti. Hanya menghitung hari sebelum janur kuning terpssang di depan pintu rumahnya.
Di luar, senja semakin merah. Semerah rasa dingin dalam hati saat dipaksa melepasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar