"Kau tak lapar? Sedari semalam aku belum melihatmu makan."
"Aku tidak lapar dan sepertinya kamu melupakan sesuatu."
"Apa?"
"Kebiasaanku?"
"Oh."
Kurasa memang benar, dia sudah melupakan kebiasaanku dengan cepat. Secepat hatinya yangberpaling dariku.
Rasanya waktu berlalu begitu lambat hari ini. Sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengannya dan bicara. Ponsel pun rasanya tidak ada gunanya.
Kami seperti hidup di dimensi yang berbeda. Padahal aku sangat merindukannya, tapi kurasa kerinduan ini tak pernah sampai padanya seolah terbentur pada tembok berlapis yang tak bisa ditembus apapun.
"KIta sudahi saja semua, kurasa tak ada yang perlu dibicarakan."
Dia hanya mendesah pelan dan menatapku sekilas.
"Kurasa ada yang salah dengan semua ini. Seharusnya tak seperti ini endingnya."
"Jangan samakan kehidupan dengan drama telenovela. Kita berdiri di atas takdir."
"Kau yakin? Sepertinya kau sudah siap kehilangan."
"Lebih dari siap dan aku tak selemah itu. Sejak kamu memutuskan semua sepihak, aku sudah siap."
"Maaf, aku hanya ...."
"Sudahlah, aku rasa keputusan sudah tepat. Pergilah, persiapkan pernikahanmu. Aku akan memulai hidupku, sama sepertimu."
"Kau yakin?"
"Berhentilah bertanya aku yakin atau tidak. Jawabanku tak akan bisa mengubah apa yang akan terjadi. Jadilah pria baik dan bertanggung jawab pada keputusanmu."
"Kurasa kau sudah banyak berubah."
"Aku belajar darimu."
Untuk kesekian kalinya kami kembali terdiam. Rasa kumiliki tak akan bisa mengikatnya untuk tetap berada di sisiku. Pada akhirnya kita harus menyerah pada takdir, sekuat apapun usahanya jika takdir berkehendak lain maka aku akan kehilangan dia dengan cepat, sama seperti saat ini.
Aku kehilangan dia, tapi aku akan tetap memiliki kenangannya meski mungkin dia akan melupakanku dengan cepat saat bersama dengan yang baru nanti. Cinta itu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar