Ada yang beda saat aku datang ke rumahnya pagi ini. Meski kesibukannya sama seperti kemarin, kali ini dengan nuansa berbeda. Beberapa buket bunga menghiasi sudut rumah, tenda merah menaungi teras depan.
"Jangan sampai ada yang ketinggalan, siapkan semuanya!" perintah seorang wanita separuh baya. Dia terlihat sibuk pagi ini, berjalan hilir-mudik seperti setrika tanpa kabel. Memberikn arahan.
Ingin rasanya aku mengancurkan semua bunga yang ada dan juga deretan kursi yang kini telah tertata rapi agar mereka tahu aku tak menginginkan pernikahan ini, bukan ini yang aku inginkan saat ini.
Tak ada yang peduli denganku, tak ada yang menyapaku. Mereka sibuk dengan persiapan pernikahan esok hari. Teganya mereka padaku, membuatku tak tenang dan gelisah seperti ini. Kesedihan ini tak akan bisa mereka tutupi dengan indahnya bunga yang menghiasi pelaminan atau bau harum yang tercium di tempat itu.
"Harusnya aku bahagia melihatmu esok hari dengan pakaian pengantin tapi ...." tak ada yang peduli dengan ucapanku. Bahkan pemuda yang duduk di hadapanku pun tak peduli.
Wajahnya terlihat pucat dan sembab, bahunya terguncang pelan. Dia menunduk dan sesekali menyeka air matanya. Beberapa orang yang melintai tempat itu hanya mampu menyeka air mata mereka, tapi aku masih bisa mendengar bisik-bisik di belakangku. Mereka tak peduli dengan perasaanku saat ini.
"Kamu yakin akan menikahinya?" tepukan halus di bahu pemuda itu membuatnya menoleh. Tidak ada jawaban, hanya bahunya yang kembali terguncang.
"Aku mencintainya, Bu. Dia sudah mengorbankan hidupnya untukku, tulang rusukku, kembali pada tubuhku," Dia menyentuh dadannya pelan. Di sana jantungku berada.
Pernyataannya membuatku sakit, lebih sakit dari sebelumnya. Aku tak ingin melihatnya menikah esok hari. Melihatnya memakai jas putih dengan dandanan rapi dan wajah sembab dan pucat. Itu menyakitkan buatku. Harusnya dia tak perlu melakukan ini, dia tak perlu memaksakan diri menikahiku.Lukanya belum mengering, aku tak bayaran atas apa yang aku lakukan, apalagi sebuah pernikahan.
"Tapi ..." Wanita paruh baya itu terlihat ragu melanjutkan ucapannya.
"Janji tetaplah janji, Bu. Aku sudah janji akan menikahinya apa pun keadaannya,"
Wanita paruh baya itu hanya mendesah, menepuk bahu anaknya pelan sebelum akhirnya meninggalkannya duduk sendirian di pelaminan yang baru selesai ditata.
Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. Berharap dia mau mengabulkan permintaanku kali ini.
"Bisakah kamu batalkan pernikahan ini? Aku mohon ...."
Pemuda itu bangkit dan meninggalkanku, dia tak mengindahkan permintaanku. Bahkan airmataku tak bisa membuatnya menoleh. Aku mengikutinya, berharap bisa membuatnya mendengar keinginanku dan menurutinya.
Langkahnya terhenti di depan kamarku. Ada yang berbeda kali ini, beberapa bunga yang menghiasi tiap sudut ruangannya. Pemuda itu duduk di sisi pembaringan, bahunya kembali terguncang pelan, tetesan bening ke luar dari sudut matanya.
"Ga, kumohon. Batalkan pernikahan ini. Aku tak ingin melihatmu menikah esok. Aku tak sanggup melihatmu esok dengan baju pengantin itu!"
"Ra, kita akan tetap menikah esok. Kamu tak akan sendiri lagi, kita akan jadi satu keluarga, seperti mimpimu,"
"Ga, aku memang menginginkan menikah denganmu tapi tidak esok, lusa atau hari sesudahnya.... kamu tak boleh melakukan ini! Masa kita sudah berlalu,"
"Aku tetap akan menjadikanmu pengantinku esok, Ra. Tetaplah berdetak,"
Aku mengusap wajahnya pelan. Matanya terlihat merah dan bengkak.
"Bisakah kau mendengarku kali ini? Kabulkan keinganku,Ga. Iklaskan aku pergi, jangan menikahiku!" kurasa mataku kembali memanas kali ini.
"Besok, kamu akan jadi pengantin paling cantik. Kamu paling suka aku meriasmu. Esok ... aku juga melakukannya untukmu. Tak perlu cemas. Aku akan merawatmu, seperti kamu merawatku dulu," Aga mengusap air matanya, mencoba tersenyum.
Cinta memang sulit di pahami, harusnya esok aku akan jadi pengantin paling berbahagia saat ini, tapi kenyataannya esok aku akan menjadi pengantin paling menyedihkan. Tak bisa lagi bicara atau pun menyentuhnya, bahkan duduk di pelaminan pun aku tak akan bisa melakukannya.
Aga bangkit dari duduknya, langkahnya gontai meninggalkan tempat itu. Dia berjalan pelan menuju kamar belakang, tempat jasadku di simpan.
Malam ini hujan kembali turun dan aku kembali tertunduk diam dalam putaran waktu yang mengalahkanku...
#Little_Story_Dy
Kesedihan terindah adalah saat kau berhasil melewatinya dengan baik. Kemenangan terbesar adalah saat kau bisa menaklukkan dirimu sendiri tanpa hilang kewarasan. Saat kau kembali terseret ke masa lalu maka ingatlah bahwa masa lalu akan tetap hidup meski kau ingin membuangnya. Biarkan saja dia lewat dan menggodamu sementara waktu, taklukkan dengan cara yang benar. Kelak kau akan menjadi kuat karena rasa sakit tak akan bisa mengalahkanmu lagi.
Jumat, 25 Desember 2015
Rabu, 09 Desember 2015
"Kamu orang baru ya?" Seorang pemuda muncul sambil memegang korang pagi itu. Ara memerhatikan pemuda itu, kegiatan membersihkan teras depan sejenak terhenti. Dia mendekati pemuda itu."Buat Pak Agung," ucapnya lagi sambil menyodorkan koran itu.
Ara menerimanya. Pemuda berlalu dan mengayuh sepedanya kencang.
"Bahasa indonesia kaku sekali." ucap Ara lirih.
Ara mendapatkan pekerjaan baru di daerah. Di sana dia beruaha membaur dengan masyarakat yang baru, mengenali bahasa mereka dan juga masakannya. Dia tinggal di perumahan yang masih terbilang baru dan juga masih sepi. Tidak ada aktivitas warga yang dia lihat pagi itu.
Ini bukan pertama kalinya dia bekerja di tempat yang jauh, dia sudah terbiasa berpisah dengan orang tuanya.
"Mbak Ninin itu di bilangin agak susah."
Sore itu semua berkumpul di ruang depan. Menikmati gorengan sambil berbincang. Ara menyandarkan tubuhnya di tembok, mendengarkan pembicaraan mereka. Sebagai anggota baru dalam rumah itu, dia masih belum berani akrab dengan semua anggota keluarga.
"Jangan terlalu sering senam biar cepat hamil." ucap Ibu lagi.
"Tidak apa-apa, Bu. Senam kan bikin sehat." ucap Mbak Ninin.
"Jangan pilih senam seperti itu." Ibu berlalu, masuk ke kamar.
"Ayo, Ra. Senam!" ucap Mbak Ninin seoalh tak terpengaruh dengan ucapan ibu mertuanya.
Ara hanya menggeleng. Setahun Pak Agung dan Mbak Ninin menikah tapi mereka belum juga punya momongan. Kekhawatiran ibu tentang hobi senam Mbak Ninin, membuatnya kadang jengkel. Setiap hari topiknya tak pernah beranjak dari makanan dan juga senam.
"Mbak Ninin itu anak tunggal, orang tuanya juga susah hamil. Makanya Mbak Ninin juga susah hamil."
Kuping Ara terasa panas mendengar ucapan Ibu mertua Mbak Ninin, dalam hati dia berdoa agar kelak tidak mendapatkan mertua seperti ini. Dia sering tahu dan mendengar, seorang mertua yang tidak akur dengan menantunya.
Tiba-tiba saja dia merindukan rumahnya yang tenang dan sederhana. Selama di sana, Ara lebih suka berada di kamarnya, membaca tumpukan majalah usang daripada mendengarkan nada protes ibu mertua Mbak Ninin.
"Ra, inget ya. Selama di sini kamu harus mengawasi Mbak Ninin. Jangan boleh senam yang begituan. Bikin susah hamil!" ucap ibu sebelum masuk ke mobil. Ara hanya mengangguk, hari itu Ibu pulang ke sragen.
"Rumah tenang!" seru Ara dalam hati.
Mobil yang membawa ibu bergerak pelan meninggalkan komplek perumahan. Di ujung gang Ara melihat pemuda pengantar koran datang sambil mengayuh sepedanya.
"Koran!" teriaknya, padahal Ara masih berdiri di depan pagar.
Gadis itu hanya tersenyum dan menerima koran.
"Ada berita bagus pagi ini." celoteh pemuda itu.
Ara mengangguk dan melihat koran itu.
"Kamu suka membaca?"
Ara kembali menganngguk.
"Kamu tak bisa bicara, ya?"
"Bisa." jawab Ara cepat.
"Nah, itu suaramu terdengar. Dari kemarin cuma diam dan mengangguk. Kayak ngomong sama tembok saja rasanya." Pemuda itu segera berlalu dan mengayuh sepedanya cepat.
Ara hanya tersenyum dan kembali masuk ke dalam.
Hari berikutnya pemuda itu datang lebih pagi dan membawakan Ara majalah baru.
"Bacalah cepat. Ingat jangan sampai lecek."
"Kamu akan terlambat jika menungguku selesai membaca."
"Aku bisa mengayuh sepedaku lebih cepat!"
Ara membuka majalah itu.
"Sudah." katanya sambil menyodorkan majalah itu.
"Sudah?" Pemuda itu menatap Ara tak percaya.
"Iya, aku sudah selesai melihatnya."
"Kamu tak baca isinya?''
"Sudah," jawab Ara mantap.
"Yang bener?"
"Iya."
Ara memang sudah membaca cerita itu meski hanya beberapa paragraf di bagian endingnya saja. Baginya tak perlu tahu proes alur ceritanya. Cukup dia tahu bagaimana endingnya, dia akan menembak sendiri jalan ceritanya.
"Pergilah cepat! Sudah siang."
Pemuda itu memasukkan majalah itu ke dalam tasn dan mengayuh sepeda lebih cepat. Ara melihatnya hingga pemua itu menghilang di ujung gang. Hari-hari berikutnya pemuda itu datang pagi-pagi sekali dan dia akan menyodorkan majalah baru buat Ara.
"Besok, tak perlu membawakanku majalah lagi."
"Kenapa? Kamu tak suka majalah yang aku bawakan. Kalau kamu mau aku bisa mencarikan majalah bekas untukmu. Kebetulan kemarin di agen ada beberapa majalah yang di kembalikan. jadi kamu bisa puas membacanya."
"Tidak perlu. Aku akan pulang."
"Pulang?"
"Iya, aku rindu rumah. Aku ndak mau membawa atau meninggalkan banyak barang." ucap Ara pelan.
"kapan kamu pulang?"
"Mungkin...."
"Mungkin?"
"Mungkin hari ini kalau ndak besok."
"Mendadak sekali. Harusnya dari kemarin kamu bilang, jadi aku bisa siapkan sesuatu untuk temanmu di jalan."
"Tak perlu, terimakasih untuk majalahnya. Sebaiknya kamu segera pergi. Kasihan pelangganmu."
pemuda itu beranjak bangkit tapi kemudia dia duduk lagi.
"Kamu yakin akan pulang?"
Ara mengangguk.
"Kembli ke sini?"
Ara menggeleng, "maaf, merepotkanmu dan terima kasih."
Pemuda itu menggeleng. Raut wajahnya berubah seketika.
"Hati-hati di jalan." Pemuda itu segera berlalu. Mengayuh sepedanya pelan meninggalkan kompleks.
"Kelak aku akan mengenangmu dengan caraku." ucapnya lirih sebelum menutup pintu pagar.
Kekecewaan telah membuat Ara memutuskan meninggalkan tempat itu. Bukan hanya karena masalah makan yang dibatasi tapi juga karena gaji yang minim. Ara tidak berani protes, dia hanya menerima dan memutuskan mencari pekerjaan di tempat lain.
Pagi ini koran datang lagi tapi bukan pemuda yang kemarin yang mengantarnya.
"Lopernya ganti, Mas yang kemarin sudah keluar kerjaan katanya." ucap Mbak Ninin sambil meletakkan koran di meja.
"Kenapa dia cepat sekali pergi, padahal aku ingin melihatnya pagi ini sebelum pulang. Bahkan aku belum tahu namanya." ucap Ara lirih sambil mengemasi bajunya. Hari ini Ara pulang dengan setumpuk kesedihan.
#Little_story_dy
Kamis, 26 November 2015
#Secret_Heart_8
"Dan ...!" Wajah Nadia terlihat ceria sore ini.
"Oh, kau sudah datang cepat sekali. Tunggu saja di kantor, Bimo juga ada di sini."
"Bimo di sini?" Nadia berlari ke kantor.
Aku melepar panci itu hingga menimbulkan suara berdentang, membuat puluhan mata terarah padaku. Sekarang saatnya mendengar penjelasan dari mereka. Dengan kesal kutinggalkan dapur begitu saja.
"Apa sebenarnya yang sedang kalian rencanakan?"
Nadia masih berdiri di antara mereka. Pandangannya kini beralih padaku.
"Mbak Tari! Tolong bersihkan kantorku!"
Mbak Tari muncul bersama seorang karyawati. Dengan cekatan dia membersihkan meja. Tidak ada suara yang terdengar di antara kami. Aku masih bersandar di pintu. Bimo terlihat tenang. Sedangkan gadis di sampingnya terlihat salah tingkah. Mbak tari dengan cepat membuat tempat itu bersih kembali.
"Kita bicara sekarang. Ada apa ini Nadia?"
"Aku hanya ingin mengenalkan seseorang padamu."
"Siapa? Bimo? Kalau memang dia tak perlu seribet ini kan? Kamu tinggal bilang ke aku kalau kalian akan menikah. Gampang kan?"
"Dia bukan Bimo?"
"Bukan?" Aku menatap Nadia tak percaya.
"Maaf, saya permisi dulu." Andin sepertinya merasa tak enak mendengar pertengkaran kami. Dia segera berlalu dari tempat itu.
Aku melepas celemekku dan meleparkannya begitu saja. Aku menatap mereka bergantian.
"Kau membuatku bingung. Jika bukan Bimo, lalu siapa? Hubungan kalian selama ini apa?"
Bimo terdiam, sekilas memandang Nadia dan mengalihkan pandangannya ke luar, menunggu jawaban. Diteguknya minumannya dengan cepat, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Aku hanya menganggapnya saudara."
"Saudara? Nad. Setelah apa yang dia lakukan padamu selama ini, kau hanya menganggapnya saudara? Jangan bermain dengan hati."
"Dan ..."
"Aku kecewa padamu Nad, semudah itukah kau bermain hati. Kami bukan bola yang bisa kau oper semaumu." Aku hanya menggeleng saja.
''Dan kau Bim! Apa maumu sebenarnya? Aku kecewa padamu. Harusnya kau tak perlu ganti identitas untuk bekerja sama denganku. Kita bisa membicarakannya sebagai keluarga 'kan?"
"Sorry, Dan. Soal kerja sama ini aku juga baru tahu kalau itu kamu. Sebenarnya ini tugas Pak Herman, tapi mendadak beliau ada keperluan jadi aku yang menyelesaikan. Aku juga terkejut saat tahu itu kamu."
"Kalian membuatku pusing. Kurasa kalian perlu bicara sekarang!" Aku meninggalkan mereka.
"Dan!"
"Aku akan minta Mbak Tari membantumu nanti. Aku pergi dulu."
"Kau mau kemana?"
Kurasa aku butuh tempat yang tenang sekarang. Kupacu mobil meninggalkan restoran. Entah kenapa kemarah ini bertumpuk rasanya.
Ingatanku kembali saat pertama kali melihat Bimo, masih terekam jelas di ingatanku saat Nadia menggandeng tangannya, senyum mereka begitu ceria, selama ini mereka begitu dekat. Lalu apa artinya ciuman dan pelukan itu buat Nadia. Bagaimmana mungkin dia hanya menganggapnya saudara.
"Nadia ... aku kecewa padamu!" Protesku kini hanya berakhir di dalam hati.
Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin dia bisa melepaskan Bimo dengan mudahnya. Harusnya dia bersyukur karena Bimo tak melepaskan tangannya meski Bimo tahu keadaannya yang seperti itu.
Dia pemuda yang baik dan juga perhatian. Dekat dengannya terasa hangat. Satu hari bersamanya membuatku merasa dicintai lebih, tapi sayangnya saat itu bukan aku yang sebenarnya. Aku hanya menggantikan peran Nadia dan Bimo tak menyadari itu.
#Secret_heart_8
"Oh, kau sudah datang cepat sekali. Tunggu saja di kantor, Bimo juga ada di sini."
"Bimo di sini?" Nadia berlari ke kantor.
Aku melepar panci itu hingga menimbulkan suara berdentang, membuat puluhan mata terarah padaku. Sekarang saatnya mendengar penjelasan dari mereka. Dengan kesal kutinggalkan dapur begitu saja.
"Apa sebenarnya yang sedang kalian rencanakan?"
Nadia masih berdiri di antara mereka. Pandangannya kini beralih padaku.
"Mbak Tari! Tolong bersihkan kantorku!"
Mbak Tari muncul bersama seorang karyawati. Dengan cekatan dia membersihkan meja. Tidak ada suara yang terdengar di antara kami. Aku masih bersandar di pintu. Bimo terlihat tenang. Sedangkan gadis di sampingnya terlihat salah tingkah. Mbak tari dengan cepat membuat tempat itu bersih kembali.
"Kita bicara sekarang. Ada apa ini Nadia?"
"Aku hanya ingin mengenalkan seseorang padamu."
"Siapa? Bimo? Kalau memang dia tak perlu seribet ini kan? Kamu tinggal bilang ke aku kalau kalian akan menikah. Gampang kan?"
"Dia bukan Bimo?"
"Bukan?" Aku menatap Nadia tak percaya.
"Maaf, saya permisi dulu." Andin sepertinya merasa tak enak mendengar pertengkaran kami. Dia segera berlalu dari tempat itu.
Aku melepas celemekku dan meleparkannya begitu saja. Aku menatap mereka bergantian.
"Kau membuatku bingung. Jika bukan Bimo, lalu siapa? Hubungan kalian selama ini apa?"
Bimo terdiam, sekilas memandang Nadia dan mengalihkan pandangannya ke luar, menunggu jawaban. Diteguknya minumannya dengan cepat, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Aku hanya menganggapnya saudara."
"Saudara? Nad. Setelah apa yang dia lakukan padamu selama ini, kau hanya menganggapnya saudara? Jangan bermain dengan hati."
"Dan ..."
"Aku kecewa padamu Nad, semudah itukah kau bermain hati. Kami bukan bola yang bisa kau oper semaumu." Aku hanya menggeleng saja.
''Dan kau Bim! Apa maumu sebenarnya? Aku kecewa padamu. Harusnya kau tak perlu ganti identitas untuk bekerja sama denganku. Kita bisa membicarakannya sebagai keluarga 'kan?"
"Sorry, Dan. Soal kerja sama ini aku juga baru tahu kalau itu kamu. Sebenarnya ini tugas Pak Herman, tapi mendadak beliau ada keperluan jadi aku yang menyelesaikan. Aku juga terkejut saat tahu itu kamu."
"Kalian membuatku pusing. Kurasa kalian perlu bicara sekarang!" Aku meninggalkan mereka.
"Dan!"
"Aku akan minta Mbak Tari membantumu nanti. Aku pergi dulu."
"Kau mau kemana?"
Kurasa aku butuh tempat yang tenang sekarang. Kupacu mobil meninggalkan restoran. Entah kenapa kemarah ini bertumpuk rasanya.
Ingatanku kembali saat pertama kali melihat Bimo, masih terekam jelas di ingatanku saat Nadia menggandeng tangannya, senyum mereka begitu ceria, selama ini mereka begitu dekat. Lalu apa artinya ciuman dan pelukan itu buat Nadia. Bagaimmana mungkin dia hanya menganggapnya saudara.
"Nadia ... aku kecewa padamu!" Protesku kini hanya berakhir di dalam hati.
Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin dia bisa melepaskan Bimo dengan mudahnya. Harusnya dia bersyukur karena Bimo tak melepaskan tangannya meski Bimo tahu keadaannya yang seperti itu.
Dia pemuda yang baik dan juga perhatian. Dekat dengannya terasa hangat. Satu hari bersamanya membuatku merasa dicintai lebih, tapi sayangnya saat itu bukan aku yang sebenarnya. Aku hanya menggantikan peran Nadia dan Bimo tak menyadari itu.
#Secret_heart_8
Senin, 23 November 2015
#heart_secret_7
"Ada jadwal hari ini, Dan?"
"Iya ada pertemuan dengan seseorang. Ada apa?"
"Bisa kita makan malam nanti di luar?"
"Tentu."
"Yuuhhuuui...!" Nadia memelukku.
"Aku pergi dulu, ingat jangan lupa telepon aku kalau keluar ya?"
Pagi ini banyak hal yang harus aku lakukan. Restauran juga sudah beberapa hari belum aku datangi setelah acara liburan kemarin. Rindu juga dengan aroma aneka masakan.
Drrtt ... drrtt... drrrt... sebuah sms masuk.
"Kita makan di restauran saja, aku mau mengenalkan seseorang."
Seseorang? Tumben sekali Nadia mengajak seseorang untuk dinner bersama kami. Kekasihnya? Bimo? Mungkin Nadia ingin mengesahkan hubungan mereka. Ah, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah juga, kurasa Bimo bisa menjaga dengan lebih baik lagi.
Jam sudah menunjukan pukul 14.00 tapi pria itu belum juga muncul. Rasanya membosankan juga harus menunggu seperti ini, sudah sejam lebih aku menunggunya. Ini bukan sekedar terlambat.
"Maaf menunggu lama!"
Sosok di hadapanku terlihat tenang. Seorang gadis cantik berdiri di belakanganya. Aku bangkit dari dudukku. Andai saja tidak ada orang lain di tempat itu, aku sudah memukul wajahnya yang tersenyum tanpa penyesalan itu. Kalau saja dari awal aku tahu Bimo yang akan jadi patner kerjaku sudah tentu aku akan menggagalkan semuanya.
"Oya kenalkan nama saya, Bimo Adiswara."
"Dania." Aku menerima uluran tangannya dan mencoba untuk tersenyum. Aktingnya kali ini benar-benar meyakinkan.
"Andin." gadis itu mengulurkan tangannya. Aku menyalaminya.
"Oya, kita lanjutkkan sambil makan siang."
"Kita keruanganku saja."
Sepertinya ruanganku lebih nyaman daripada di sini. Setidaknya aku bisa mendinginkan kepalaku yang rasanya ingin meledak saat ini.
"Silahkan masuk." Aku membuka pintu pemisah, terlihat taman kecil yang asri. Terdapat kolam kecil di pojok, udara segar menyeruak masuk. Gemericik suara air menjadi musik alami tempat ini.
"Tempatnya nyaman, bagus juga."
"Silahkan duduk."
Aku hanya sekilas memandang gadis yang ada di samping Bimo. Seleranya bagus juga.
"Maaf, kamar mandinya di mana?"
"Di samping kantor ini."
Gadis itu berlalu setelah meletakkan tasnya di sofa.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu." ucapku pelan.
"Dengan senang hati, aku tunggu!" Dia tertawa pelan, sepetinya dia sangat menikmati keterkejutanku saat ini.
"Jangan-jangan kamu juga yang akan Nadia kenalkan padaku?"
"Nadia ingin mengenalkan seseorang?"
"Iya. Nanti malam dia akan mengajaknya Dinner. Rasanya sudah tak supraise lagi kalau benar itu kamu."
"Kita lihat saja, kalau benar aku, rasanya dia tak perlu bersusah payah membuat Dinner kan?" Bimo terlihat memikirkan sesuatu. Sepertinya dia juga penasaran dengan hal ini.
"Benar juga, kita lihat saja nanti."
Saat berdiskusi dia terlihat serius, sangat berbeda dengan yang sering aku lihat, pada. Dia seolah tak pernah mengenalku sebelumnya. Beberapa kali mataku menangkap perhatian yang di berikan gadis itu pada Bimo, rasanya aku menangkap sinyal asmara yang diberikan gadis itu.
Drrtt ... drrrt... ponselku bergetar
"Maaf, permisi sebentar." Deringan telepon menyelematkanku kali ini, untuk sesaat aku tak perlu melihat tingkah mereka.
"Hai, Nad!"
"Aku ke sana ya. Bantu siapin."
"Ndak usah, kamu tinggal bilang saja mau seperti apa, nanti aku minta orang buat bantu."
"Tapi, Dan."
"Baiklah ... aku tunggu. Kita persiapkan semuanya."
Aku berlalu dari tempat itu, menuju dapur. Kurasa selera makanku sudah hilang sekarang.
"Mbak Tari nanti Nadia ke sini. Tolong persiapkan satu meja untuk dinner nanti malam!"
Mbak Tari mengangguk dan tersenyum. Sore ini restoran lumayan ramai. Beberapa tempat di penuhi pengunjung. Anak-anak pun membuat tempat ini semakin riuh, mereka berlarian ke sana kemari, seolah tak terganggu dengan lalu lalang para pengunjung. Beberapa pelayang hilir mudik, meletakkan sesuatu dan menyambar sesuatu. Mereka bergerak cepat.
"Ri, meja 6 belum dilayani."
"Iya, Mbak. Sebentar."
Sepertinya sore ini kami kekurangan tenaga untuk membantu melayani tamu.
"Aku bantu."
"Tamunya, Mbak?"
"Tidak apa-apa. Mereka lagi makan."
Kuambil menu makanan dan menghampiri meja 6. Meninggalkan Bimo sebentar kurasa tak masalah Setelah menulis pesanan tamu aku ke dapur. Di sana tak kalah sibuknya. Rasanya tak tega meninggalkan dapur begitu saja.
"Ayo semangat semua, kita rampungkan kerjaan!"
Mereka tersenyum melihatku memakai celemek. Sudah lama rasanya tidak melakukan pekerjaan ini. Kembali bisa merasakan aroma dapur dan dentingan alat masaknya, rasanya sangat menyenangkan.
"Biar aku aja, Mbak." Wahyu sudah siap dengan peralatannya.
"Aku kangen dapur. Ayo selesaikan pesananmu. Jangan buat mereka menunggu lama."
Wahyu hanya mengangguk dan kembali ke tempatnya. Gerakannya begitu cekatan mempersiapkan semuanya.
"Tamunya?" Mbak Tari kembali mengingatku soal tamu yang kini sedang menunggu di kantor. Aku melirik arlojiku.
Aku hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Saatnya membalas Bimo. Dia akan belajar sesuatu sekarang. Sekarang tunggu menunggu Nadia saja.
"Iya ada pertemuan dengan seseorang. Ada apa?"
"Bisa kita makan malam nanti di luar?"
"Tentu."
"Yuuhhuuui...!" Nadia memelukku.
"Aku pergi dulu, ingat jangan lupa telepon aku kalau keluar ya?"
Pagi ini banyak hal yang harus aku lakukan. Restauran juga sudah beberapa hari belum aku datangi setelah acara liburan kemarin. Rindu juga dengan aroma aneka masakan.
Drrtt ... drrtt... drrrt... sebuah sms masuk.
"Kita makan di restauran saja, aku mau mengenalkan seseorang."
Seseorang? Tumben sekali Nadia mengajak seseorang untuk dinner bersama kami. Kekasihnya? Bimo? Mungkin Nadia ingin mengesahkan hubungan mereka. Ah, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah juga, kurasa Bimo bisa menjaga dengan lebih baik lagi.
Jam sudah menunjukan pukul 14.00 tapi pria itu belum juga muncul. Rasanya membosankan juga harus menunggu seperti ini, sudah sejam lebih aku menunggunya. Ini bukan sekedar terlambat.
"Maaf menunggu lama!"
Sosok di hadapanku terlihat tenang. Seorang gadis cantik berdiri di belakanganya. Aku bangkit dari dudukku. Andai saja tidak ada orang lain di tempat itu, aku sudah memukul wajahnya yang tersenyum tanpa penyesalan itu. Kalau saja dari awal aku tahu Bimo yang akan jadi patner kerjaku sudah tentu aku akan menggagalkan semuanya.
"Oya kenalkan nama saya, Bimo Adiswara."
"Dania." Aku menerima uluran tangannya dan mencoba untuk tersenyum. Aktingnya kali ini benar-benar meyakinkan.
"Andin." gadis itu mengulurkan tangannya. Aku menyalaminya.
"Oya, kita lanjutkkan sambil makan siang."
"Kita keruanganku saja."
Sepertinya ruanganku lebih nyaman daripada di sini. Setidaknya aku bisa mendinginkan kepalaku yang rasanya ingin meledak saat ini.
"Silahkan masuk." Aku membuka pintu pemisah, terlihat taman kecil yang asri. Terdapat kolam kecil di pojok, udara segar menyeruak masuk. Gemericik suara air menjadi musik alami tempat ini.
"Tempatnya nyaman, bagus juga."
"Silahkan duduk."
Aku hanya sekilas memandang gadis yang ada di samping Bimo. Seleranya bagus juga.
"Maaf, kamar mandinya di mana?"
"Di samping kantor ini."
Gadis itu berlalu setelah meletakkan tasnya di sofa.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu." ucapku pelan.
"Dengan senang hati, aku tunggu!" Dia tertawa pelan, sepetinya dia sangat menikmati keterkejutanku saat ini.
"Jangan-jangan kamu juga yang akan Nadia kenalkan padaku?"
"Nadia ingin mengenalkan seseorang?"
"Iya. Nanti malam dia akan mengajaknya Dinner. Rasanya sudah tak supraise lagi kalau benar itu kamu."
"Kita lihat saja, kalau benar aku, rasanya dia tak perlu bersusah payah membuat Dinner kan?" Bimo terlihat memikirkan sesuatu. Sepertinya dia juga penasaran dengan hal ini.
"Benar juga, kita lihat saja nanti."
Saat berdiskusi dia terlihat serius, sangat berbeda dengan yang sering aku lihat, pada. Dia seolah tak pernah mengenalku sebelumnya. Beberapa kali mataku menangkap perhatian yang di berikan gadis itu pada Bimo, rasanya aku menangkap sinyal asmara yang diberikan gadis itu.
Drrtt ... drrrt... ponselku bergetar
"Maaf, permisi sebentar." Deringan telepon menyelematkanku kali ini, untuk sesaat aku tak perlu melihat tingkah mereka.
"Hai, Nad!"
"Aku ke sana ya. Bantu siapin."
"Ndak usah, kamu tinggal bilang saja mau seperti apa, nanti aku minta orang buat bantu.""Tapi, Dan."
"Baiklah ... aku tunggu. Kita persiapkan semuanya."
Aku berlalu dari tempat itu, menuju dapur. Kurasa selera makanku sudah hilang sekarang.
"Mbak Tari nanti Nadia ke sini. Tolong persiapkan satu meja untuk dinner nanti malam!"
Mbak Tari mengangguk dan tersenyum. Sore ini restoran lumayan ramai. Beberapa tempat di penuhi pengunjung. Anak-anak pun membuat tempat ini semakin riuh, mereka berlarian ke sana kemari, seolah tak terganggu dengan lalu lalang para pengunjung. Beberapa pelayang hilir mudik, meletakkan sesuatu dan menyambar sesuatu. Mereka bergerak cepat.
"Ri, meja 6 belum dilayani."
"Iya, Mbak. Sebentar."
Sepertinya sore ini kami kekurangan tenaga untuk membantu melayani tamu.
"Aku bantu."
"Tamunya, Mbak?"
"Tidak apa-apa. Mereka lagi makan."
Kuambil menu makanan dan menghampiri meja 6. Meninggalkan Bimo sebentar kurasa tak masalah Setelah menulis pesanan tamu aku ke dapur. Di sana tak kalah sibuknya. Rasanya tak tega meninggalkan dapur begitu saja.
"Ayo semangat semua, kita rampungkan kerjaan!"
Mereka tersenyum melihatku memakai celemek. Sudah lama rasanya tidak melakukan pekerjaan ini. Kembali bisa merasakan aroma dapur dan dentingan alat masaknya, rasanya sangat menyenangkan.
"Biar aku aja, Mbak." Wahyu sudah siap dengan peralatannya.
"Aku kangen dapur. Ayo selesaikan pesananmu. Jangan buat mereka menunggu lama."
Wahyu hanya mengangguk dan kembali ke tempatnya. Gerakannya begitu cekatan mempersiapkan semuanya.
"Tamunya?" Mbak Tari kembali mengingatku soal tamu yang kini sedang menunggu di kantor. Aku melirik arlojiku.
Aku hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Saatnya membalas Bimo. Dia akan belajar sesuatu sekarang. Sekarang tunggu menunggu Nadia saja.
Kamis, 19 November 2015
Secret-heart_6
"Kenapa kamu selalu melihat Nadia seperti itu?"
"Ada sesuatu yang menarik darinya, mengingatkanku pada seseorang. Kamu cemburu?"
Pertanyaan itu telak mengenaiku. Sebisa mungkin kualihkan perasaan yang kini tengah bergolak. Wanita itu pasti kekasihnya. Ingin sekali aku berteriak padanya kalau aku cemburu.
"Aku hanya ingin tahu. Saat kamu memandangnya, terlihat begitu fokus."
"Aku suka memandang gadis cantik, apalagi jika dia sering tersenyum."
"Pantas, saat melihatnya kau tak berkedip."
"Siapa saja pasti suka melihatnya. Tidak cuma aku,"
"Lalu kenapa kau tak menampakkan dirimu padanya?"
Dia hanya terdiam. Pandangannya kini beralih ke luar jendela. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Ingin aku menembus apa yang sedang di pikirkannya saat ini?
"Jangan coba membaca pikiranku."
"Aku ingin sekali tahu,"
"Tidak sopan."
Aku tertawa melihatnya cemberut dan berlalu, pasti dia akan mencari Nadia. Mengamati gadis itu. Selalu seperti itu. Seolah tidak ada hal yang menarik selain memerhatikannya.
"Aku akan pergi beberapa hari." Damar tiba-tiba muncul kembali.
"Pergilah, tumben pamit. Biasanya datang dan pergi semuanya."
"Aku tidak ingin melihatmu cemas dan merindukanku nanti."
"Tak akan."
"Penipu." ucapnya sambil berlalu.
Aku melanjutkan pekerjaanku. Beberapa hari libur membuat pekarjaan menumpuk.
Nadia sangat beruntung, dia punya Dimas yang selalu setia berada di dekatnya dan juga Damar yang diam-diam mengaguminya, sedangkan aku. Menyedihkan... rasanya aku hanya jadi bayangan Nadia saja. Menggantikannya saat dia sakit. Menjadi dirinya yang beda.
"Ada sesuatu yang menarik darinya, mengingatkanku pada seseorang. Kamu cemburu?"
Pertanyaan itu telak mengenaiku. Sebisa mungkin kualihkan perasaan yang kini tengah bergolak. Wanita itu pasti kekasihnya. Ingin sekali aku berteriak padanya kalau aku cemburu.
"Aku hanya ingin tahu. Saat kamu memandangnya, terlihat begitu fokus."
"Aku suka memandang gadis cantik, apalagi jika dia sering tersenyum."
"Pantas, saat melihatnya kau tak berkedip."
"Siapa saja pasti suka melihatnya. Tidak cuma aku,"
"Lalu kenapa kau tak menampakkan dirimu padanya?"
Dia hanya terdiam. Pandangannya kini beralih ke luar jendela. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Ingin aku menembus apa yang sedang di pikirkannya saat ini?
"Jangan coba membaca pikiranku."
"Aku ingin sekali tahu,"
"Tidak sopan."
"Aku akan pergi beberapa hari." Damar tiba-tiba muncul kembali.
"Pergilah, tumben pamit. Biasanya datang dan pergi semuanya."
"Aku tidak ingin melihatmu cemas dan merindukanku nanti."
"Tak akan."
"Penipu." ucapnya sambil berlalu.
Aku melanjutkan pekerjaanku. Beberapa hari libur membuat pekarjaan menumpuk.
Nadia sangat beruntung, dia punya Dimas yang selalu setia berada di dekatnya dan juga Damar yang diam-diam mengaguminya, sedangkan aku. Menyedihkan... rasanya aku hanya jadi bayangan Nadia saja. Menggantikannya saat dia sakit. Menjadi dirinya yang beda.
Senin, 16 November 2015
Heart_Secret_5
"Kita kemana?"
"Ikut saja, aku sudah lama ingin pergi ke sana bersamamu."
Kali ini aku membiarkan Nadia memegang kemudi. Setidaknya aku bisa mengawasinya. Selama ini Nadia selalu diantar Pak Atmo, pagi ini beliau libur.
Perjalanannya lumayan lama, siang hari kami baru sampai di tujuan. Pantai...
Suara deburan ombaknya tertangkap jelas di telingaku.
"Jadi ini tempatnya? Lumayan...." Aku merentangkan tanganku, udara yang berhembus terasa segar. Tempat itu tidak terlalu panas. Beberapa pohon kelapa membuat tempat itu terlindung dari sengatan matahari.
"Ayo kita main air!"
"Aku tak bawa ganti, Nan."
"Sudah kusiapkan. Ayo!"
Semoga kali ini dia benar-benar sudah membawakanku baju ganti. Sedikit ragu untuk ikut bermain meski ingin. Dulu dia membawakanku baju kurang bahan semua, akhirnya terpaksa seharian aku tak ganti baju. kuputuskan untuk bermain di pingggir saja. Tidak sampai bergulingan seperti yang Nadia lakukan.
"Kita akan menginap di sini."
"Hah?"
Menginap? Bencana! Aku bahkan belum seching penginapan di sekitar tempat ini. Kalau tidak segera mencari tempat, bisa-bisa kami tak punya tempat untuk tidur, apalagi ini wekend. pasti banyak yang menginap di sini.

"Tenang saja, sudah ada yang ngatur. Kita main lagi ...!" Nadia sudah menceburkan dirinya ke air. Senyumnya merekah. Tak dihiraukan lagi bajunya yang kini kotor.
Mengatur? Mendengar kata ini pikiranku tertuju pada satu orang, siapa lagi kalau bukan...
Tiba-tiba hatiku terasa sunyi, beberapa hari ini aku tak melihat pemuda itu, kemana perginya? Apa dia marah padaku? Biasanya dia datang saat aku memikirkannya.
Beberapa hari ini kesibukanku memang bertumpuk membuatku melupakannya untuk sejenak, dan hari ini tiba-tiba saja kerinduan itu begitu menggoda..
''Ada yang merindukanku?" Suara itu mengejutkanku.
Pemuda itu sudah berdiri di sampingku, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Aku menatapnya sekilas, entah sudah berapa lama dia berdiri di sampingku.
"Kenapa melamun? Mikirin aku ya?"
"Iya."
"Benarkah? Ini kemajuan. Kamu mulai memikirkanku." Dia berlari menghambur ke arah Nadia yang asyik bermain air. Aku menggeleng ...
"Aku memikirkanmu, tapi bukan karena aku merindukanmu." ucapku lirih. Sepertinya membiarkan mereka menikmati waktu berdua adalah keputusan yang paling tepat.
Aku membalikkan badan dan ternyata pemuda itu sudah berdiri di sana. Di samping mobil Bimo. Dia yang aku rindukan, Damar!
Kedua tangannya di masukkan di saku celana, pandangannya lurus memandang ke arah Nadia, aku bisa melihat senyum manis saat ini. Sayang sekali senyum itu bukan untukku...
"Ikut saja, aku sudah lama ingin pergi ke sana bersamamu."
Kali ini aku membiarkan Nadia memegang kemudi. Setidaknya aku bisa mengawasinya. Selama ini Nadia selalu diantar Pak Atmo, pagi ini beliau libur.
Perjalanannya lumayan lama, siang hari kami baru sampai di tujuan. Pantai...
Suara deburan ombaknya tertangkap jelas di telingaku.
"Jadi ini tempatnya? Lumayan...." Aku merentangkan tanganku, udara yang berhembus terasa segar. Tempat itu tidak terlalu panas. Beberapa pohon kelapa membuat tempat itu terlindung dari sengatan matahari.
"Ayo kita main air!"
"Aku tak bawa ganti, Nan."
"Sudah kusiapkan. Ayo!"
Semoga kali ini dia benar-benar sudah membawakanku baju ganti. Sedikit ragu untuk ikut bermain meski ingin. Dulu dia membawakanku baju kurang bahan semua, akhirnya terpaksa seharian aku tak ganti baju. kuputuskan untuk bermain di pingggir saja. Tidak sampai bergulingan seperti yang Nadia lakukan.
"Kita akan menginap di sini."
"Hah?"
Menginap? Bencana! Aku bahkan belum seching penginapan di sekitar tempat ini. Kalau tidak segera mencari tempat, bisa-bisa kami tak punya tempat untuk tidur, apalagi ini wekend. pasti banyak yang menginap di sini.

"Tenang saja, sudah ada yang ngatur. Kita main lagi ...!" Nadia sudah menceburkan dirinya ke air. Senyumnya merekah. Tak dihiraukan lagi bajunya yang kini kotor.
Mengatur? Mendengar kata ini pikiranku tertuju pada satu orang, siapa lagi kalau bukan...
Tiba-tiba hatiku terasa sunyi, beberapa hari ini aku tak melihat pemuda itu, kemana perginya? Apa dia marah padaku? Biasanya dia datang saat aku memikirkannya.
Beberapa hari ini kesibukanku memang bertumpuk membuatku melupakannya untuk sejenak, dan hari ini tiba-tiba saja kerinduan itu begitu menggoda..
''Ada yang merindukanku?" Suara itu mengejutkanku.
Pemuda itu sudah berdiri di sampingku, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Aku menatapnya sekilas, entah sudah berapa lama dia berdiri di sampingku.
"Kenapa melamun? Mikirin aku ya?"
"Iya."
"Benarkah? Ini kemajuan. Kamu mulai memikirkanku." Dia berlari menghambur ke arah Nadia yang asyik bermain air. Aku menggeleng ...
"Aku memikirkanmu, tapi bukan karena aku merindukanmu." ucapku lirih. Sepertinya membiarkan mereka menikmati waktu berdua adalah keputusan yang paling tepat.
Aku membalikkan badan dan ternyata pemuda itu sudah berdiri di sana. Di samping mobil Bimo. Dia yang aku rindukan, Damar!
Kedua tangannya di masukkan di saku celana, pandangannya lurus memandang ke arah Nadia, aku bisa melihat senyum manis saat ini. Sayang sekali senyum itu bukan untukku...
Sabtu, 14 November 2015
Secret heart_4
Pagi ini Nadia begitu bersemangat, wajahnya terlihat cerah. Dengan semangat dia melahap sarapannya. Pemuda itu terlihat tenang duduk di sampingnya, matanya tak lepas memerhatikan Nadia. Seulas senyum tersungging di wajahnya. Aku jarang melihatnya tersenyum saat bersamaku tapi saat dengan Nadia dia sering tertawa.
"Apa minggu ini kita bisa pergi bersama?"
"Mungkin, kau ingin pergi ke suatu tempat?" Pandanganku masih tertuju pada koran pagi ini. Ada sederet berita yang membuatku tertarik membacanya.
"Kita jarang pergi bersama belakangan ini. Bisakah kita pergi bersama?"
"Tentu, tentukan tempatnya dan kabari aku." Aku melipat koran itu dan beranjak pergi.
"Kau belum sarapan,Dan."
"Aku belum lapar, habiskan makanmu dan minum obat. Malam ini aku pulang larut jadi jangan menungguku."
"Kau akan menghabiskan waktumu di perpustakaan lagi? Ada yang kau tunggu di sana?"
"Tidak, hari ini aku ada pertemuan dengan beberapa orang. Jangan mengkhawatirkan aku. Oya, hari ini kamu tak ada pemotretan kan?"
"Kau bahkan tahu jadwalku tapi aku tak tahu jadwalmu."
Aku hanya tersenyum mendengar keluhannya, aku mengacak rambutnya.
"Kalau kukatakan padamu, kau akan dengan mudah mengacaukannya nanti." Kuraih tasku dan berlalu dari hadapannya.
"Pulanglah cepat, kita makan malam bersama. Atau aku akan menyuruh Bimo mencarimu!"
Aku berlalu. Selalu dia gunakan pemuda itu. Sepertinya moodku pagi ini benar-benar buruk.
"Kamu menghindariku?" pemuda itu sudah berada di dalam mobil.
"Tidak,"
"Kau tak bisa bohong padaku."
"Bisakah kau berhenti mengikutiku? Aku bukan lagi anak kecil yang harus kau jaga 24 jam."
"Kita akan bicara setelah kau tak marah lagi."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, kalaupun ada aku yakin kau tak akan menjawabnya."
"Suatu saat nanti aku akan cerita semua padamu. Sekarang, aku hanya ingin berada diantara kalian. Tapi jika kau tak ingin aku berada diantara kalian aku akan pergi."
Mobil melaju pelan membelah kota pagi itu. Sepertinya hari ini langit sepertinya agak mendung. Tidak ada suara lagi diantara kami. Aku tak ingin dia berada di dekatku tapi aku lebih tak ingin dia pergi.
Kamis, 12 November 2015
Heart Secret bag 3
"Dari mana kamu?"
Gadis itu terkejut melihatku sudah duduk di ruang tengah, tubuhnya surut kebelakang.
"Kau mengejutkanku, seperti hantu saja. Kenapa duduk di tempat gelap."
"Dari mana, Nan?"
"Pemotretan."
"Dimana?"
"Ayolah, haruskah aku bilang kemana aku pergi? Aku sudah dewasa."
"Dewasa? Kalau kamu sadar sudah dewasa, tak seharusnya kamu membuat skenario pertemuanku dengan Bimo. Berhentilah bermain-main. Kamu bisa menghancurkan semua."
"Aku hanya ingin membantumu."
"Membantu? Perjodohan? Untuk terakhir kalinya aku mohon padamu. Kita akan berbagi banyak hal, tapi tidak dengan hati. Sudah aku bilang, aku akan menemukan sendiri lelakiku. Jadi berhentilah untuk mempertemukanku dengan Bimo!"
"Dan, maafkan aku. Mungkin sikapku keterlaluan tapi aku tak ingin melihatmu seperti ini. Sejak dulu, kamu mengorbankan dirimu untukku, aku hanya ingin menebusnya."
"Hentikan omong kosong ini, sudahlah. Aku hanya melakukan tugasku untuk menjagamu. Kita hanya berdua. Jadi jangan berpikir tentang balas budi atau pengorbanan. Aku tak merasa berkorban untukmu." Aku beranjak pergi meninggalkannya.
Aku menghempaskan pintu kamarku sedikit keras, rasanya kekesalanku bertumpuk saat ini.
"Jangan terlalu keras padanya."
"Kau mengejutkanku. Berhetilah membelanya."
Sosok pemuda itu hanya tersenyum, dia duduk di tepi jendelaku. Kedua tangannya tersilang di dada. Beberapa hari ini aku tidak melihatnya. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya tapi rasanya moodku sudah hilang sekarang.
"Maaf, tapi aku merindukan kalian jadi aku menyusup kemari."
Sudah sekian lamanya pemuda itu bersama kami. Menjagaku dan Nadia dengan cara dan keterbatasannya.
"Kurasa Bimo pemuda yang baik." Dia mengerlingkan matanya padaku.
"Sudahlah, berhentilah bicara soal Bimo."
"Kenapa? Sepertinya kamu begitu frustasi?"
"Tidak. Sudahlah, aku mau istirahat."
"Tidurlah, aku mau melihat Nadia dulu."
Pemuda itu berlalu begitu saja. Kadang, ada kecemburuan yang tiba-tiba menggoda saat dia juga memerhatikan Nadia. Tapi selama ini dia selalu menjaga kami dengan baik.
Kusingkirkan pikiran konyol itu dan beranjak tidur. Entah mengapa mataku tiba-tiba memanas dan basah, sepertinya ada yang salah denganku. Andai saja dia bisa kumiliki sepenuhnya.
Sekarang waktunya aku untuk mandiri, cepat atau lambat pemuda itu juga akan pergi dari sisiku. Aku tak ingin terlalu bergantung padanya. Akan kutunjukkan padanya aku tak selemah Nadia. Mungkin akan sulit lepas darinya tapi bukan berarti tidak bisa.
Gadis itu terkejut melihatku sudah duduk di ruang tengah, tubuhnya surut kebelakang.
"Kau mengejutkanku, seperti hantu saja. Kenapa duduk di tempat gelap."
"Dari mana, Nan?"
"Pemotretan."
"Dimana?"
"Ayolah, haruskah aku bilang kemana aku pergi? Aku sudah dewasa."
"Dewasa? Kalau kamu sadar sudah dewasa, tak seharusnya kamu membuat skenario pertemuanku dengan Bimo. Berhentilah bermain-main. Kamu bisa menghancurkan semua."
"Aku hanya ingin membantumu."
"Membantu? Perjodohan? Untuk terakhir kalinya aku mohon padamu. Kita akan berbagi banyak hal, tapi tidak dengan hati. Sudah aku bilang, aku akan menemukan sendiri lelakiku. Jadi berhentilah untuk mempertemukanku dengan Bimo!"
"Dan, maafkan aku. Mungkin sikapku keterlaluan tapi aku tak ingin melihatmu seperti ini. Sejak dulu, kamu mengorbankan dirimu untukku, aku hanya ingin menebusnya."
"Hentikan omong kosong ini, sudahlah. Aku hanya melakukan tugasku untuk menjagamu. Kita hanya berdua. Jadi jangan berpikir tentang balas budi atau pengorbanan. Aku tak merasa berkorban untukmu." Aku beranjak pergi meninggalkannya.
Aku menghempaskan pintu kamarku sedikit keras, rasanya kekesalanku bertumpuk saat ini.
"Jangan terlalu keras padanya."
"Kau mengejutkanku. Berhetilah membelanya."
Sosok pemuda itu hanya tersenyum, dia duduk di tepi jendelaku. Kedua tangannya tersilang di dada. Beberapa hari ini aku tidak melihatnya. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya tapi rasanya moodku sudah hilang sekarang.
"Maaf, tapi aku merindukan kalian jadi aku menyusup kemari."
Sudah sekian lamanya pemuda itu bersama kami. Menjagaku dan Nadia dengan cara dan keterbatasannya.
"Kurasa Bimo pemuda yang baik." Dia mengerlingkan matanya padaku.
"Sudahlah, berhentilah bicara soal Bimo."
"Kenapa? Sepertinya kamu begitu frustasi?"
"Tidak. Sudahlah, aku mau istirahat."
"Tidurlah, aku mau melihat Nadia dulu."
Pemuda itu berlalu begitu saja. Kadang, ada kecemburuan yang tiba-tiba menggoda saat dia juga memerhatikan Nadia. Tapi selama ini dia selalu menjaga kami dengan baik.
Kusingkirkan pikiran konyol itu dan beranjak tidur. Entah mengapa mataku tiba-tiba memanas dan basah, sepertinya ada yang salah denganku. Andai saja dia bisa kumiliki sepenuhnya.
Sekarang waktunya aku untuk mandiri, cepat atau lambat pemuda itu juga akan pergi dari sisiku. Aku tak ingin terlalu bergantung padanya. Akan kutunjukkan padanya aku tak selemah Nadia. Mungkin akan sulit lepas darinya tapi bukan berarti tidak bisa.
Rabu, 11 November 2015
Mata Setan
"Apa yang kau buang?" sebuah suara mengejutkanku. Seorang gadis mungil berdiri di belakangku.
"Hanya barang yang tak pantas disimpan."
"Apa itu sebuah boneka?"
"Darimana kau tahu?"
"Aku hanya menebak saja. Kenapa kau membuangnya?"
"Karena dia tak pantas di simpan.'
"Benarkah? Apa dia jahat?"
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Mata bocah ini terasa aneh, ada kemarahan dan sesuatu yang tersembunyi di sana.
"Siapa namamu?"
"Valen."
Valen? Nama yang sama. Boneka terkutuk itu juga memakai kalung bernama Valen. Kebetulan yang aneh.
"Nama yang bagus, Aku Dy."
Aku mengulurkan tanganku, sejenak dia ragu. Tapi kemudian dia menyambutnya. Saat itulah aku melihat bayangan mengerikan yang selama ini ingin aku lupakan. Aku buru-buru menarik tanganku.
"Kenapa? Apa yang kau lihat?"
"Tidak ada, aku hanya kaget saja. Tanganmu begitu dingin. Mungkin udara di sekitar tempat ini membuatmu kedinginan."
Gadis itu hanya terdiam, pandangannya lalu beralih pada kotak kayu yang terlihat menjauh. Perasaanku menjadi aneh. Di sini dulu aku menemukan boneka tua itu dan membawanya pulang. Siapa sangka, boneka itu justru menimbulkan malapetaka.
Aku memerhatikan gadis itu, saat aku menyentuhnya pintasan kejadian semua tersusun seperti sebuah film.
Kadang aku membenci diriku sendiri karena keadaanku ini, sepertinya aku harus berhati-hati dengan sosok di hadapanku. Meski terlihat seperti gadis mungil yang tak berdaya, tapi di balik itu ada suatu kekuatan yang menyelimuti jasadnya.
"Kalau kau ingin boneka, datanglah ke rumah. Aku punya banyak boneka peninggalan Aria dan Arisa."
"Mereka sudah pergi?"
"Iya ...."
"Kenapa?"
"Kurasa Tuhan sangat menyayangi mereka dan memintanya bermain di surga saat ini."
Gadis itu menatapku. Aku tak ingin terlihat kalah di depannya. Aku tahu pasti, gadis ini tahu dengan pasti penyebab kematian kedua adik kembarku.
"Datanglah ke rumah. Ada banyak boneka yang bisa kau ajak bermain daripada boneka yang di peti itu." Aku beranjak pergi darinya.
Aku yakin gadis itu akan ke rumah. Sekarang waktunya aku mengenal musuhku, mungkin akan sulit untuk menyingkarkannya meski nyawa akan jadi taruhannya, tapi tak ada salahnya aku mempertaruhkan semuanya sekarang. Cukup Aria dan Arisa korban terakhirnya, saatnya aku mengakhiri semuanya.
Selasa, 10 November 2015
Secret heart bag 2
Kuputuskan untuk pergi ke kedai makanan yang biasa aku datangi, sudah waktunya aku mengisi perut sekarang setelah tadi pagi Nadia berhasil mengacaukannya dengan secangkir kopi.
Tempat ini menyediakan menu istimewa yang tidak menguras kantong. Jadi aku tak perlu khawatir, dompet kosong setelah memakan sesuatu yang membuat perutku kenyang seharian.
"Kau yakin menghabiskan semua ini sendirian?" Suara yang sangat kuhapal membuatku mengehentikan kunyahan. Tapi sesaat kemudian aku mulai mengunyah lagi.
Sepertinya makan siangku pun akan terganggu kali ini. Hanya Nadia yang tahu tempat favoritku ini. Kurasa gadis itu sedang bermain hati sekarang.
"Dania, sepertinya aku mulai terbiasa dengan sikapmu yang seperti ini."
"Kalian punya hobi yang sama. Pantas jika kalian cocok."
"Maksudnya?"
"Berhentilah merusak acara makanku. Kau dan Nadia sama saja." Aku melap mulutku dengan tissu dan beranjak bangkit tapi Bimo mencekal tangannku.
"Selesaikan makanmu baru pergi. Tidak baik menyiakan makanan."
"Aku sudah kenyang."
Perutku rasanya masih menyisakan banyak ruang untuk semua makanan yang kupesan siang ini, tapi kehadiran Bimo membuatku hilang selera.
"Apa aku punya salah denganmu?"
"Tidak, tapi aku tidak suka diganggu saat makan."
"Dari dulu, kamu selalu menyendiri. Dunia kamu tutupi dengan diam dan tak banyak bicara. Kau membuatku penasaran, Dan."
"Tapi sayangnya aku tak tertarik denganmu."
"Apa aku bilang aku tertarik denganmu?" Dia tersenyum mengejek.
"Kamu penasaran denganku, secara tidak langsung kamu sudah mengatakan kalau menyukaiku."
"Begitukah? Bagus juga analisamu. Tapi sepertinya kau salah, aku hanya penasaran denganmu. Sikapmu sangat berbeda dengan Nadia."
"Kurasa tak ada satu pun wanita di dunia ini yang suka dibandingkan dengan wanita lainnya meski mereka kembar sekali pun."
"Maaf,aku tak bermaksud seperti itu."
Rasanya aku tak perlu bicara lagi dengannya, berada di dekatnya membuat semuanya terasa kacau dan aku tidak menyukai ini. Dia mengacaukan konsentrasiku dalam banyak hal.
"Datanglah ke rumah, kurasa Nadia membutuhkanmu."
"Kamu mengundangku? Tumben. Kupikir kamu tak menyukaiku."
"Aku hanya tidak ingin dia menyiksaku dengan apa yang dia buat hanya karena menahan rindu padamu."
"Begitukah? Memangnya apa yang dia buat?"
"Kurasa aku tak perlu menjawabnya."
"Begitu ya, meski kamu seperti ini, tapi aku senang. Hari ini kemajuannya pesat sekali. Kamu mau bicara denganku. Sebelumnya kamu hanya diam dan pergi tanpa bicara. Aku merasa berhubungan dengan orang aneh saja."
"Kurasa diantara kita tak ada yang perlu dibicarakan."
"Maaf soal beberapa waktu yang lalu. Soal ciuman itu. Kurasa itu kesalahanku."
"Ciuman? Kurasa aku tak pernah ciuman dengan siapapun apalagi denganmu."
"Begitukah? Tapi saat itu bukankah kamu yang ada di sana?"
"Dimana? Apa kamu yakin itu aku? Sepertinya kamu masih tidak bisa membedakan aku dan Nadia. Kamu tak mengenalku rupanya."
Aku beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Sepertinya dia masih mengingat malam itu. Harusnya aku tak menggantikan Nadia. Ah, Nadia ... berhentilah bermain dengan hati seperti ini. Kita tidak akan berbagi soal hati. Tidak untuk yang satu ini.
#Secret_Heart
Tempat ini menyediakan menu istimewa yang tidak menguras kantong. Jadi aku tak perlu khawatir, dompet kosong setelah memakan sesuatu yang membuat perutku kenyang seharian.
"Kau yakin menghabiskan semua ini sendirian?" Suara yang sangat kuhapal membuatku mengehentikan kunyahan. Tapi sesaat kemudian aku mulai mengunyah lagi.
Sepertinya makan siangku pun akan terganggu kali ini. Hanya Nadia yang tahu tempat favoritku ini. Kurasa gadis itu sedang bermain hati sekarang.
"Dania, sepertinya aku mulai terbiasa dengan sikapmu yang seperti ini."
"Kalian punya hobi yang sama. Pantas jika kalian cocok."
"Maksudnya?"
"Berhentilah merusak acara makanku. Kau dan Nadia sama saja." Aku melap mulutku dengan tissu dan beranjak bangkit tapi Bimo mencekal tangannku.
"Selesaikan makanmu baru pergi. Tidak baik menyiakan makanan."
"Aku sudah kenyang."
Perutku rasanya masih menyisakan banyak ruang untuk semua makanan yang kupesan siang ini, tapi kehadiran Bimo membuatku hilang selera.
"Apa aku punya salah denganmu?"
"Tidak, tapi aku tidak suka diganggu saat makan."
"Dari dulu, kamu selalu menyendiri. Dunia kamu tutupi dengan diam dan tak banyak bicara. Kau membuatku penasaran, Dan."
"Tapi sayangnya aku tak tertarik denganmu."
"Apa aku bilang aku tertarik denganmu?" Dia tersenyum mengejek.
"Kamu penasaran denganku, secara tidak langsung kamu sudah mengatakan kalau menyukaiku."
"Begitukah? Bagus juga analisamu. Tapi sepertinya kau salah, aku hanya penasaran denganmu. Sikapmu sangat berbeda dengan Nadia."
"Kurasa tak ada satu pun wanita di dunia ini yang suka dibandingkan dengan wanita lainnya meski mereka kembar sekali pun."
"Maaf,aku tak bermaksud seperti itu."
Rasanya aku tak perlu bicara lagi dengannya, berada di dekatnya membuat semuanya terasa kacau dan aku tidak menyukai ini. Dia mengacaukan konsentrasiku dalam banyak hal.
"Datanglah ke rumah, kurasa Nadia membutuhkanmu."
"Kamu mengundangku? Tumben. Kupikir kamu tak menyukaiku."
"Aku hanya tidak ingin dia menyiksaku dengan apa yang dia buat hanya karena menahan rindu padamu."
"Begitukah? Memangnya apa yang dia buat?"
"Kurasa aku tak perlu menjawabnya."
"Begitu ya, meski kamu seperti ini, tapi aku senang. Hari ini kemajuannya pesat sekali. Kamu mau bicara denganku. Sebelumnya kamu hanya diam dan pergi tanpa bicara. Aku merasa berhubungan dengan orang aneh saja."
"Kurasa diantara kita tak ada yang perlu dibicarakan."
"Maaf soal beberapa waktu yang lalu. Soal ciuman itu. Kurasa itu kesalahanku."
"Ciuman? Kurasa aku tak pernah ciuman dengan siapapun apalagi denganmu."
"Begitukah? Tapi saat itu bukankah kamu yang ada di sana?"
"Dimana? Apa kamu yakin itu aku? Sepertinya kamu masih tidak bisa membedakan aku dan Nadia. Kamu tak mengenalku rupanya."
Aku beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Sepertinya dia masih mengingat malam itu. Harusnya aku tak menggantikan Nadia. Ah, Nadia ... berhentilah bermain dengan hati seperti ini. Kita tidak akan berbagi soal hati. Tidak untuk yang satu ini.
#Secret_Heart
Secret Heart bag 1
Pagi ini secangkir kopi terhidang di hadapanku, dari aromanya aku tahu pasti kopi apa yang dia buat pagi ini. Aku sudah akrab dengan bau ini sejak lama. Sepertinya pagi ini aku harus bicara padanya atau esok dia akan menyiksaku lagi dengan apa yang dibuat.
"Telepon dia!" Aku menyodorkan handponku padanya.
"Dia? Siapa?" Nadia menatapku bodoh.
"Haruskah kuperjelas?" ucapku sambil menoleh ke arah kopi yang masih mengepul di atas meja.
"Oh, tidak. Aku rasa tidak ada yang perlu kami bicarakan." ucapnya lirih sambil mengoles selai di atas roti. Aku memerhatikan selai yang dia pilih. Kurasa roti itu pun juga buat kami. Aku benci selai kacang, dan kurasa Nadia juga.
Dugaanku benar, dia hanya mengoles saja tanpa berniat memakannya. Roti pun hanya teronggok di atas piring. Dia meletakkan di depan kursi kosong. Kusodorkan kopiku ke dekat roti yang dia buat. Kursi itu biasanya ada yang menempati.
"Kau yakin tak ingin bicara dengannya?" tanyaku lagi.
"Apa tidak apa-apa jika aku bicara dengannya?" Dia balik bertanya padaku.
"Maksudnya?" Aku jadi penasaran dengan ucapannya kali ini.
"Aku ... tahu kau menyukainya."
Ucapannya membuat alisku bertaut, jadi inikah yang membuatnya menghindari Bimo saat ini. Kurasa ada yang harus aku luruskan sekarang. Jika dia sanggup mengalah untukku, aku juga melakukan hal yang sama dengannya.
"Dari mana pikiran itu?"
"Aku melihat dari matamu, caramu memandangnya itu ... cinta?"
"Kurasa kau salah, aku hanya mengaguminya. Itu bukan cinta."
"Benarkah?"
"Benar, aku sudah mengenal Bimo sedari kecil, sama sepertimu. Kita tumbuh bersama. Bukan karena kita kembar, kita menyukai orang yang sama. Kurasa seleraku tentang lelaki berbeda denganmu."
"Benarkah? Lelaki seperti apa yang kau sukai?" Dia terlihat semangat.
"Aku suka lelaki yang cuek, sedikit dingin tapi hatinya hangat." ucapku asal.
"Adakah lelaki seperti itu di sini? Bukankah Bimo juga berhati hangat?"
"Tapi aku tidak suka sikapnya yang terlalu hangat pada semua gadis."
"Kau cemburu, ya?"
"Tentu saja tidak. Dia buka tipeku. Sudahlah, telepon dia, saat kau merindukannya, kau menyiksaku dengan makanan yang dia sukai, ini bukan seleraku."
"Tapi siapa tahu kau juga belajar menyukainya. Jadi kubuat untukmu." Nadia tersenyum ke arahku. Sepertinya kali ini dia ingin menggodaku lagi.
"Ayolah, berhentilah menjodohkan kami. Kami tak akan cocok dalam banyak hal. Lagi pula dia tidak suka gadis sepertiku. Dia suka gadis yang ramah dan murah senyum sepertimu."
"Tapi aku merasa dia juga menyukaimu." Suara Nadia terdengar sendu kali ini.
"Kurasa kau terlalu banyak berpikir. Berhentilah berpikir atau kau akan kena migrain lagi. Aku tak mau repot karena urusan sepele seperti ini."
"Ayolah Denia, kurasa kau terlalu serius dalam banyak hal. Kau juga jarang tersenyum."
"Besok kau ada jadwal pemotretan di galeri Tante Irma, apa kau mau ke sana? Jangan minta aku menggantikanmu lagi kali ini." Aku melirik Nadia.
"Iya aku akan ke sana. Kau membuat orang ketakutan dengan wajah dinginmu. Bisa-bisa tak ada lagi yang memakaiku untuk model produk mereka jika kau dingin seperti itu. Bisakah kau tersenyum pada mereka, kurasa itu tidak sulit untuk dilakukan."
Aku hanya melirik ke arahnya dan kembali menatap majalah di hadapanku. Kurasa modeling bukanlah duniaku. Aku punya impian sendiri, bukan sekedar melenggang di atas catwalk.
"Oya, aku membeli banyak durian kemarin. Kurasa aku akan membuatnya menjadi beberapa menu makanan.Kau harus mencobanya." Wajahnya terlihat cerah. Senyum mengembang di sudut bibirnya. Aku benci durian, kenapa Bimo punya banyak hal yang aku benci?
Oh, tidak. aku berharap pagi ini Bimo datang dan mengajak Nadia keluar seharian. Dengan begitu aku bisa menyuruh para pelayan menghabiskan durian itu, atau dia akan menyiksaku dengan olahannya lagi.
#Secret_Heart
Sabtu, 07 November 2015
Pilihan
Pagi ini secangkir kopi terhidang di hadapanku, dari baunya aku tahu pasti kopi apa yang dia buat pagi ini. Aku sudah akrab dengan bau ini sejak lama. Sepertinya pagi ini aku harus bicara padanya atau esok dia akan menyiksaku lagi dengan apa yang dibuat.
"Telepon dia." Aku menyodorkan handponku padanya.
"Dia? Siapa?"
"Haruskah kuperjelas?" ucapku sambil menoleh ke arah kopi yang masih mengepul di atas meja.
"Oh, tidak. Aku rasa tidak ada yang perlu kami bicarakan." ucapnya lirih sambil mengoles selai di atas roti. Aku memerhatikan selai yang dia pilih. Kurasa roti itu pun juga buat kami. Aku benci selai kacang, dan kurasa Nadia juga.
Dugaanku benar, dia hanya mengoles saja tanpa berniat memakannya. Roti pun hanya teronggok di atas piring. Dia meletakkan di depan kursi kosong. Kusodorkan kopiku ke dekat roti yang dia buat. Kursi itu biasanya ada yang menempati. Pagi ini kami hanya sarapan berdua.
"Kau yakin tak ingin bicara dengannya?"
"Apa tidak apa-apa jika aku bicara dengannya?" Dia balik bertanya padaku.
"Maksudnya?" Aku jadi penasaran dengan ucapannya kali ini.
"Aku ... tahu kau menyukainya."
Ucapannya membuat alisku bertaut, jadi inikah yang membuatnya menghindari Bimo saat ini. Kurasa ada yang harus aku luruskan sekarang. Jika dia sanggup mengalah untukku, maka aku juga melakukan hal yang sama dengannya.
"Dari mana kau dapat pikiran itu?"
"Aku melihat dari matamu, caramu memandangnya itu ... cinta?"
"Kurasa kau salah, aku hanya mengaguminya. Itu bukan cinta."
"Benarkah?"
"Benar, aku sudah mengenal Bimo sedari kecil, sama sepertimu. Kita tumbuh bersama. Bukan karena kita kembar, kita menyuaki orang yang sama. Kurasa seleraku tentang lelaki berbeda denganmu."
"Benarkah? Lelaki seperti apa yang kau sukai?" Dia terlihat semangat.
"Aku suka lelaki yang cuek, sedikit dingin tapi hatinya hangat."

"Adakah lelaki seperti itu di sini? Bukankah Bimo juga berhati hangat?"
"Tapi aku tidak suka sikapnya yang terlalu hangat pada semua gadis."
"Kau cemburu, ya?"
"Tentu saja tidak. Dia buka tipeku. Sudahlah, telepon dia, aku tidak suka kau menyiksaku dengan makanan yang kau buat, ini bukan seleraku."
"Tapi Bimo menyukainya, siapa tahu kau juga belajar menyukainya. Jadi kubuat untukmu." Nadia tersenyum ke arahku. Sepertinya kali ini dia ingin menggodaku lagi.
"Ayolah, berhentilah menjodohkan kami. Kami tak akan cocok dalam banyak hal. Lagi pula dia tidak suka gadis sepertiku. Dia suka gadis yang ramah dan murah senyum."
"Tapi aku merasa dia juga menyukaimu." Suara Nadia terdengar sendu kali ini.
"Kurasa kau terlalu banyak berpikir. Berhentilah berpikir atau kau akan kena migrain lagi. Aku tak mau repot karena urusan sepele seperti ini."
"Ayolah Tania, kurasa kau terlalu serius dalam banyak hal. Kau juga jarang tersenyum."
"Hari ini kau ada jadwal pemotretan di galeri Tante Irma, apa kau mau ke sana? Jangan minta aku menggantikanmu lagi kali ini." Aku melirik Nadia.
"Iya aku akan ke sana. Kau membuat orang ketakutan dengan wajah dinginmu. Bisa-bisa tak ada lagi yang memakaiku untuk model produk mereka jika kau dingin seperti itu. Bisakah kau tersenyum pada mereka, kurasa itu tidak sulit untuk dilakukan."
Aku hanya melirik ke arahnya dan kembali menatap majalah di hadapanku. Kurasa modeling bukanlah duniaku. Aku punya impian sendiri.
"Oya, aku membeli banyak durian kemarin. Kurasa aku akan membuatnya menjadi beberapa menu makanan.Kau harus mencobanya." Wajahnya terlihat cerah. Senyum mengembang di sudut bibirnya. Aku benci durian, kenapa Bimo punya banyak hal yang aku benci?
Oh, tidak. aku berharap pagi ini Bimo datang dan mengajak Nadia keluar seharian. Dengan begitu aku bisa menyuruh para pelayan menghabiskan durian itu, atau dia akan menyiksaku dengan olahannya lagi.
"Telepon dia." Aku menyodorkan handponku padanya.
"Dia? Siapa?"
"Haruskah kuperjelas?" ucapku sambil menoleh ke arah kopi yang masih mengepul di atas meja.
"Oh, tidak. Aku rasa tidak ada yang perlu kami bicarakan." ucapnya lirih sambil mengoles selai di atas roti. Aku memerhatikan selai yang dia pilih. Kurasa roti itu pun juga buat kami. Aku benci selai kacang, dan kurasa Nadia juga.
Dugaanku benar, dia hanya mengoles saja tanpa berniat memakannya. Roti pun hanya teronggok di atas piring. Dia meletakkan di depan kursi kosong. Kusodorkan kopiku ke dekat roti yang dia buat. Kursi itu biasanya ada yang menempati. Pagi ini kami hanya sarapan berdua.
"Kau yakin tak ingin bicara dengannya?"
"Apa tidak apa-apa jika aku bicara dengannya?" Dia balik bertanya padaku.
"Maksudnya?" Aku jadi penasaran dengan ucapannya kali ini.
"Aku ... tahu kau menyukainya."
Ucapannya membuat alisku bertaut, jadi inikah yang membuatnya menghindari Bimo saat ini. Kurasa ada yang harus aku luruskan sekarang. Jika dia sanggup mengalah untukku, maka aku juga melakukan hal yang sama dengannya.
"Dari mana kau dapat pikiran itu?"
"Aku melihat dari matamu, caramu memandangnya itu ... cinta?"
"Kurasa kau salah, aku hanya mengaguminya. Itu bukan cinta."
"Benarkah?"
"Benar, aku sudah mengenal Bimo sedari kecil, sama sepertimu. Kita tumbuh bersama. Bukan karena kita kembar, kita menyuaki orang yang sama. Kurasa seleraku tentang lelaki berbeda denganmu."
"Benarkah? Lelaki seperti apa yang kau sukai?" Dia terlihat semangat.
"Aku suka lelaki yang cuek, sedikit dingin tapi hatinya hangat."

"Adakah lelaki seperti itu di sini? Bukankah Bimo juga berhati hangat?"
"Tapi aku tidak suka sikapnya yang terlalu hangat pada semua gadis."
"Kau cemburu, ya?"
"Tentu saja tidak. Dia buka tipeku. Sudahlah, telepon dia, aku tidak suka kau menyiksaku dengan makanan yang kau buat, ini bukan seleraku."
"Tapi Bimo menyukainya, siapa tahu kau juga belajar menyukainya. Jadi kubuat untukmu." Nadia tersenyum ke arahku. Sepertinya kali ini dia ingin menggodaku lagi.
"Ayolah, berhentilah menjodohkan kami. Kami tak akan cocok dalam banyak hal. Lagi pula dia tidak suka gadis sepertiku. Dia suka gadis yang ramah dan murah senyum."
"Tapi aku merasa dia juga menyukaimu." Suara Nadia terdengar sendu kali ini.
"Kurasa kau terlalu banyak berpikir. Berhentilah berpikir atau kau akan kena migrain lagi. Aku tak mau repot karena urusan sepele seperti ini."
"Ayolah Tania, kurasa kau terlalu serius dalam banyak hal. Kau juga jarang tersenyum."
"Hari ini kau ada jadwal pemotretan di galeri Tante Irma, apa kau mau ke sana? Jangan minta aku menggantikanmu lagi kali ini." Aku melirik Nadia.
"Iya aku akan ke sana. Kau membuat orang ketakutan dengan wajah dinginmu. Bisa-bisa tak ada lagi yang memakaiku untuk model produk mereka jika kau dingin seperti itu. Bisakah kau tersenyum pada mereka, kurasa itu tidak sulit untuk dilakukan."
Aku hanya melirik ke arahnya dan kembali menatap majalah di hadapanku. Kurasa modeling bukanlah duniaku. Aku punya impian sendiri.
"Oya, aku membeli banyak durian kemarin. Kurasa aku akan membuatnya menjadi beberapa menu makanan.Kau harus mencobanya." Wajahnya terlihat cerah. Senyum mengembang di sudut bibirnya. Aku benci durian, kenapa Bimo punya banyak hal yang aku benci?
Oh, tidak. aku berharap pagi ini Bimo datang dan mengajak Nadia keluar seharian. Dengan begitu aku bisa menyuruh para pelayan menghabiskan durian itu, atau dia akan menyiksaku dengan olahannya lagi.
Senin, 02 November 2015
Dua hati
"Tab, aku mulai merindukannya lagi."
"Padahal tadi kau bicara dengannya."
"Di hati ini hanya ada dua orang yang bertahta kuat, Tab. Cuma Kak Dodi dan raja manyun. Mereka sumber semangat dan inspirasi."
"Mereka juga tak termiliki."
"Tak apa. Sudah saatnya kita menyingkir, kita akan terbiasa dengan kesendirian. Nikmati saja, suatu saat ini akan jadi kenangan kita yang berharga."
"Kau tak bisa menyingkirkan mereka?"
"Tak bisa, Tab. Mereka beda, istimewa. Mereka tak pernah merayuku atau pun memujiku. Ini yang membuatku nyaman di samping mereka. Mereka beda ... tapi mereka istimewa."
"Kau akan terbiasa dengan semua ini, Dy."
"Tentu. Aku pingin pergi dari sini secepatnya. Mencari hidupku yang sesungguhnya."
"Pergilah!"
"Suatu saat aku akan sangat merindukan raja manyun lebih dari ini. Aku benar-benar merindukannya."
"Padahal tadi kau bicara dengannya."
"Di hati ini hanya ada dua orang yang bertahta kuat, Tab. Cuma Kak Dodi dan raja manyun. Mereka sumber semangat dan inspirasi."
"Mereka juga tak termiliki."
"Tak apa. Sudah saatnya kita menyingkir, kita akan terbiasa dengan kesendirian. Nikmati saja, suatu saat ini akan jadi kenangan kita yang berharga."
"Kau tak bisa menyingkirkan mereka?"
"Tak bisa, Tab. Mereka beda, istimewa. Mereka tak pernah merayuku atau pun memujiku. Ini yang membuatku nyaman di samping mereka. Mereka beda ... tapi mereka istimewa."
"Kau akan terbiasa dengan semua ini, Dy."
"Tentu. Aku pingin pergi dari sini secepatnya. Mencari hidupku yang sesungguhnya."
"Pergilah!"
"Suatu saat aku akan sangat merindukan raja manyun lebih dari ini. Aku benar-benar merindukannya."
Jendela Tua
Jendela kamar itu kembali terbuka, untuk kesekian kalinya aku mendesah. Sepertinya setiap kali aku melintasinya, jendela ini itu selalu terbuka. Bahkan saat malam tiba, aku sering melihatnya terbuka. Sepertinya penghuninya sengaja membiarkan jendela itu terbuka terus.
"Kenapa selalu terbuka?"
Mulan menarik tanganku menjauhi pintu. Gadis itu sepertinya menyimpan sesuatu. Sejenak pandanganku teralihkan dari jendela itu.
"Sejak kapan kau suka memerhatikan jendela itu?"
"Entahlah, ada apa dengan kamar itu. Selama ini kamar itu kosong 'kan?"
"Bagaimana kalau tidak?"
Aku menatap Mulan, gadis itu terlihat serius. Pantas jika ada penghuninya, jendela itu selalu terbuka setiap aku melintasi bawahnya...
"Jadi ada penghuninya?"
"Mungkin."
Alisku bertaut mendengar ucapan itu. Mungkin? Tak adakah kalimat yang lebih jelas dari kata 'mungkin'?
"Kau mulai main tebakan lagi."
"Temukan sendiri jawabanmu. Aku tak mau berurusan dengan penghuni kamar itu." Mulan beranjak pergi.
Apa penghuninya galak? Selama aku tinggal di rumah itu, tak pernah kulihat sekalipun ada orang yang keluar masuk tempat itu. Pintu kamarnya selalu tertutup rapat. Tidak pernah terdengar sekali pun suara-suara aneh dari dalam kamar itu. Benarkah ada penghuninya? Kembali pandanganku terarah ke jendela kamar. Hanya ada kesunyian yang tertangkap di sana.
Rasa penasaranku mulai menggelitik hati, ucapan Mulan membuatku penasaran. Sebenarnya ada apa dengan kamar itu dan penghuninya? Kenapa tak pernah ada yang membicarakan kamar ini?
Tangga ini terasa lebih panjang dari biasanya, langkah kakiku terasa berat saat menaikinya seperti ada yang menahannya untuk tidak naik ke atas. Tapi rasa penasaran tak bisa lagi dibendung..
Hawa dingin mulai menerpa, membuatku merinding. Sejenak langkahku terhenti. Tinggal beberapa anak tangga lagi dan aku akan sampai di depan kamar itu.
"Kalaupun ada yang harus terjadi maka terjadilah." gumanku pelan.
Satu desahan pelan mengawali langkahku lagi menyusuri anak tangga itu kembali. Pandanganku masih terkunci pada pintu yang tertutup rapat.
Akhirnya kakiku sampai juga di depan pintu itu, selama ini, aku hanya melintasi pintu tanpa berniat ingin tahu isinya, tapi hari ini rasanya pintu itu terlihat beda buatku. Sejenak aku ragu untuk menarik heandle pintunya. Tidak ada suara dari dalam sana, hanya deru napasku saja yang terdengar jelas saat ini.
Akhirnya kuberanikan diri juga membukanya. Perlahan mataku bisa menangkap isi kamar. Beberapa perabotannya mulai berdebu, sepertinya kamar ini sudah lama tidak dibersihkan. Pandanganku beralih ke arah jendela.
Jendela itu masih terbuka. Perlahan kakiku mulai memasuki kamar. Ekor mataku kembali menyusuri isi kamar. Pandangan kini tertuju pada cermin yang terletak di samping tempat tidur. Kutajamkan pandanganku saat debu-debu di kaca itu membentuk sebuah kata secara perlahan.
"Sudah lama aku menunggumu."
Angin dingin kembali menerpa, pintu kamar itu tertutup dengan sendirinya. Entah mengapa kakiku seakan terpatri di tempat dan lidahku terasa kelu untuk berteriak. hanya mataku saja yang mampu mengawasi gerakan benda-benda di sekitarku.
Sepertinya hari ini akan jadi hari yang panjang buatku.
Minggu, 01 November 2015
Cinta Semu
Untuk kesekian kalinya lirikanku jatuh ke arloji yang melingkar di tangan kiriku, rasanya sudah tidak sabar melihat ekspresinya saat dia memasuki pintu itu. Expresi apa yang akan ditunjukan nanti. Ah, apa dia akan pulang terlambat lagi hari ini?
Tujuh tahun meninggalkan tempat ini ternyata tidak banyak yang berubah. Rumah ini tetap saja hangat, Ibu masih dengan senyumnya yang teduh dan juga Kak Ri ramah. Sekarang anggota keluarga sudah bertambah, ada si kecil Alisya. Sepertinya keceriaan rumah ini bertambah.
"May?" Suara itu membuatku terhenyak. Sejenak kami sama-sama terpaku. Sepertinya bukan aku saja yang memberikan kejutan padanya. Tapi dia juga memberikan kejutan padaku.
Seorang gadis muncul di belakangnya.
"Ada tamu ya?" sapanya ramah. Aku hanya tersenyum membalas ucapannya.
"May keluarga kita juga, Ris. Dia dulu ikut ibu juga. Sekarang di sini lagi, bantu ibu."
"Ooo ... iya to?" gadis itu duduk di dekatku. Kak Dodi masih terpaku di tempatnya.
"Kak, mau jadi satpam ya? Dari tadi berdiri terus."
"Bodat kau, May!"
Aku tergelak mendengar ucapannya, sudah sekian lama kau tak mendengarnya dan sekarang ucapan itu terasa hangat. Riska, sekarang gadis ini yang menempati ruang hati yang dulu sempat aku masuki diam-diam.
Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenang seseorang dalam ketidak pastian. Kurasa pilihannya tepat untuk mencari penggantiku. Lagi pula rasa yang kami miliki tanpa nama, kita hanya menikmatinya saja.

Sore ini, sore pertama aku di sini. Kembali bergulat dengan dapur dan aneka kesibukan lainnya, membuatku sejenak melupakannya meski kadang suaranya mengganggu konsentrasiku.
"Sepertinya kau perlu belajar masak lagi, May." ucapnya sambil berlalu.
Aku benar-benar merindukan suasana ini, ingin rasanya aku memeluk mereka lagi, tapi segera kusingkirkan keinginan konyol ini...
Malam itu entah mengapa resah kembali menyapa. Untuk kesekian kalinya dada ini terasa pengap. Bergegas aku bangkit dan menuju dapur, sepertinya tenggorokanku mulai kering karena gelisah.
Rumah terlihat sepi dan gelap, semua penghuni sudah terlelap dalam mimpi mereka. Segelas air dingin yang mengaliri tenggorokan, belum mampu membuat pikiranku tenang.
Kulangkahkan kaki ke balkon atas, di sana dulu aku sering menghabiskan malam jika gelisah menyerang. Sepertinya malam ini pun aku membutuhkan tempat itu.
Tempat ini masih seperti dulu, tenang dan juga dingin. Kurebahkan tubuh, menatap lagit yang tertutup kabut gelap, semilir angin dinginnya membuat perasaanku sedikit tenang, kupejamkan mata, menikmati keheningan malam ini.
"Kenapa baru sekarang kau balik lagi, Dik?" Suara itu membuatku terhenyak. Tangannya yang kokoh menahan bahuku untuk bangkit. Napasnya terasa hangat menerpa wajahku, Apa aku tadi tertidur hingga tidak menyadari kehadirannya...
"Aku bukan paranormal yang bisa meprediksi kapan harus muncul dan kapan harus pergi, Kak."
"Andai saja kau datang lebih awal, Dik."
"Pada kenyataannya kita tak akan bisa mengubah apapun, Kak."
"Apa kita akan seperti dulu, May?"
Pertanyaan ini membuat kita berpikir lagi. Sekarang meski aku berada di sisinya, aku tak akan bisa memasuki hatinya. Di sana sudah ada gadis itu.
"Kembalilah ke kamar. Istrimu pasti sudah menunggu. Kita tak perlu kembali ke masa lalu. Sekarang yang terpenting adalah kembali berjalan di jalan kita masing-masing. Kamu majikanku dan itu tak akan berubah sampai kapan pun."
"Apakah rasamu sudah berubah?"
"Rasaku sudah beruabah sejak dulu, Kak. Tak ada yang tersisa sekarang. Turunlah."
"Tapi rasaku tak pernah berubah, May."
Pemuda itu perlahan bangkit dan berlalu. Ah, sepertinya aku salah telah kembali ke tempat ini. Harusnya aku tak kembali, tapi rasa ini begitu kuat, memakasaku kembali.
Sepertinya aku harus segera mengalihkan rasa ini agar tidak menjadi bumerang untuk kedua kalinya bagi kami. Cukup dalam diam saja rasa itu menjalar, tak perlu diungkapkan dan diumbar, karena rasa ini salah, sama seperti dulu. Malam ini langit begitu gelap dan dingin.
Tujuh tahun meninggalkan tempat ini ternyata tidak banyak yang berubah. Rumah ini tetap saja hangat, Ibu masih dengan senyumnya yang teduh dan juga Kak Ri ramah. Sekarang anggota keluarga sudah bertambah, ada si kecil Alisya. Sepertinya keceriaan rumah ini bertambah.
"May?" Suara itu membuatku terhenyak. Sejenak kami sama-sama terpaku. Sepertinya bukan aku saja yang memberikan kejutan padanya. Tapi dia juga memberikan kejutan padaku.
Seorang gadis muncul di belakangnya.
"Ada tamu ya?" sapanya ramah. Aku hanya tersenyum membalas ucapannya.
"May keluarga kita juga, Ris. Dia dulu ikut ibu juga. Sekarang di sini lagi, bantu ibu."
"Ooo ... iya to?" gadis itu duduk di dekatku. Kak Dodi masih terpaku di tempatnya.
"Kak, mau jadi satpam ya? Dari tadi berdiri terus."
"Bodat kau, May!"
Aku tergelak mendengar ucapannya, sudah sekian lama kau tak mendengarnya dan sekarang ucapan itu terasa hangat. Riska, sekarang gadis ini yang menempati ruang hati yang dulu sempat aku masuki diam-diam.
Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenang seseorang dalam ketidak pastian. Kurasa pilihannya tepat untuk mencari penggantiku. Lagi pula rasa yang kami miliki tanpa nama, kita hanya menikmatinya saja.

Sore ini, sore pertama aku di sini. Kembali bergulat dengan dapur dan aneka kesibukan lainnya, membuatku sejenak melupakannya meski kadang suaranya mengganggu konsentrasiku.
"Sepertinya kau perlu belajar masak lagi, May." ucapnya sambil berlalu.
Aku benar-benar merindukan suasana ini, ingin rasanya aku memeluk mereka lagi, tapi segera kusingkirkan keinginan konyol ini...
Malam itu entah mengapa resah kembali menyapa. Untuk kesekian kalinya dada ini terasa pengap. Bergegas aku bangkit dan menuju dapur, sepertinya tenggorokanku mulai kering karena gelisah.
Rumah terlihat sepi dan gelap, semua penghuni sudah terlelap dalam mimpi mereka. Segelas air dingin yang mengaliri tenggorokan, belum mampu membuat pikiranku tenang.
Kulangkahkan kaki ke balkon atas, di sana dulu aku sering menghabiskan malam jika gelisah menyerang. Sepertinya malam ini pun aku membutuhkan tempat itu.
Tempat ini masih seperti dulu, tenang dan juga dingin. Kurebahkan tubuh, menatap lagit yang tertutup kabut gelap, semilir angin dinginnya membuat perasaanku sedikit tenang, kupejamkan mata, menikmati keheningan malam ini.
"Kenapa baru sekarang kau balik lagi, Dik?" Suara itu membuatku terhenyak. Tangannya yang kokoh menahan bahuku untuk bangkit. Napasnya terasa hangat menerpa wajahku, Apa aku tadi tertidur hingga tidak menyadari kehadirannya...
"Aku bukan paranormal yang bisa meprediksi kapan harus muncul dan kapan harus pergi, Kak."
"Andai saja kau datang lebih awal, Dik."
"Pada kenyataannya kita tak akan bisa mengubah apapun, Kak."
"Apa kita akan seperti dulu, May?"
Pertanyaan ini membuat kita berpikir lagi. Sekarang meski aku berada di sisinya, aku tak akan bisa memasuki hatinya. Di sana sudah ada gadis itu.
"Kembalilah ke kamar. Istrimu pasti sudah menunggu. Kita tak perlu kembali ke masa lalu. Sekarang yang terpenting adalah kembali berjalan di jalan kita masing-masing. Kamu majikanku dan itu tak akan berubah sampai kapan pun."
"Apakah rasamu sudah berubah?"
"Rasaku sudah beruabah sejak dulu, Kak. Tak ada yang tersisa sekarang. Turunlah."
"Tapi rasaku tak pernah berubah, May."
Pemuda itu perlahan bangkit dan berlalu. Ah, sepertinya aku salah telah kembali ke tempat ini. Harusnya aku tak kembali, tapi rasa ini begitu kuat, memakasaku kembali.
Sepertinya aku harus segera mengalihkan rasa ini agar tidak menjadi bumerang untuk kedua kalinya bagi kami. Cukup dalam diam saja rasa itu menjalar, tak perlu diungkapkan dan diumbar, karena rasa ini salah, sama seperti dulu. Malam ini langit begitu gelap dan dingin.
Sabtu, 31 Oktober 2015
Cinta itu
Tik ... Tok ...Waktu berlalu begitu saja, seperti kemarin. Hari ini pun waktu masih berdetak dan kita melewatinya dalam diam. Kamu di seberang sana dengan setumpuk kesibukan yang mengalihkan pandanganmu dariku. Di sini aku masih melirikmu, berharap kali ini kau kan berpaling padaku tapi sepertinya aku salah. Kamu masih asyik dengan laptop menyala dan secangkir kopi yang menemanimu sore ini.
"Apa kau tak lelah melihatku terus?" Suara itu menyadarkanku.
Ah, ternyata dia sadar aku memerhatikannya dari tadi. Ingin rasanya kulemparkan tumpukan buku yang ada di hadapanku saat ini padanya. Dia selalu berhasil membuatku mati kutu.
"Kalau kau tahu, kenapa sedari tadi diam?"
"Pergilah keluar kalau kau bosan,"
"Kurasa itu bukan jawaban yang aku inginkan."
Kembali dia diam, membenamkan diri dalam dengan setumpuk pekerjaannya. Ah, rasanya bosan juga menunggunya seperti ini. Kuraih tasku dan beranjak pergi.
"Bersenang-senanglah."
"Tentu, kurasa udara di luar sana lebih segar daripada di sini. Jangan menungguku, malam ini mungkin aku tak akan pulang."
Sudah sekian lama aku bersamanya dan baru kali ini aku merasakan kebosanan yang teramat sangat. Biasanya jika sore tiba kami akan menghabiskan sore dengan jalan-jalan di sekitar alun-alun atau menikmati sore yang indah di teras rumah.
Tapi sejak mendapatkan proyek baru Hanung sepertinya melupakan aku. Hari-harinya habis tersita di luar rumah dan juga di depan komputernya.
Senja ini terasa beda, keramaian taman kota tak bisa mengalihkan kesunyian yang aku rasakan. Aku merindukan Hanung yang dulu, meskipun dia jarang bicara tapi hatinya hangat. Kini aku merasakan hatinya begitu dingin.
Aku merogoh sakuku dan berganti memeriksa tasku. Beberapa kali aku mencoba memastikan dan ternyata benar Dompet dan ponselku ketinggalan. Ah, aku selalu ceroboh... bagaimana mungkin aku meninggalkan rumah tampa dompet. Aku mengecek tasku kembali, berharap masih ada lembaran uang yang tersisa di sana.
"Kau mencari ini?"
Sebuah dompet hitam terulur di depanku. aku hapal suara itu. Aku menerimanya tanpa menoleh ke arahnya.
"Terimakasih."
Dia mengacak rambutku pelan.
"Ah, kalau seperti ini, mana bisa aku meninggalkanmu sendirian."
"Jangan meledekku, aku terburu-buru tadi." Aku memasukkan dompetku ke dalam tas.
"Sudah hampir gelap, kita pulang sekarang."
"Pulanglah, kurasa proyekmu sudah menunggu untuk di selesaikan."
"Tapi aku ingin pulang dengan istriku yang selalu berisik saat aku kerja, merasakan masakannya yang selalu berantakan rasanya."
"Kalau begitu kau cari saja istri yang tenang dan pandai memasak."
"Maunya sich begitu. Tapi aku sudah terbiasa dengannya, jika sehari tidak melihatnya, aku seperti kehilangan sesuatu. Dia selalu membuatku cemas dan hangat."
Ah, ada yang terasa hangat saat ini, aku bahkan tak bisa membantah ucapnnya saat ini. Mungkin aku yang harus lebih banyak mengenalnya lagi dan lagi, seperti dia yang berusaha menerima kekuranganku.
Dia meraih tanganku dan tersenyum hangat.
"Kita pulang."
Aku mengikuti langkahnya, kadang kala memang pertengkaran kecil bisa membuat kita memahami sesuatu dan mengenal sosok yang beda dengan, segala kelebihan dan kekurangannya. Senja ini memang beda, hatiku terasa hangat sekarang.
Langganan:
Postingan (Atom)





