"Dy ...""Tab, jangan GR. Dia hanya menganggapku sebagai teman. Tak lebih ..."
"Kau bahagia dengan itu?"
"Iya. Tidak ada yang lebih membuatku bahagia selain bercakap dengannya meski cuma satu kata."
"Kau akan makin menderita karenanya, Dy."
"Penderitaan ini akan hilang saat aku bisa bercakap dengannya. Meski rasa sakit tetaplah ada."
"Kau tak bilang padanya?"
"Tidak, aku lebih suka diam tapi tetap bersamanya, daripada bilang dan kehilangan semuanya."
"Sampai kapan kau akan begini?"
"Sampai aku terbiasa dengan semuanya dan melupakan rasa sakit ini. Entahlah .... aku yang berbuat, aku yang harus bertanggung jawab. Aku menyukainya, tapi untuk jujur, aku tak bisa..."
"Kenapa tidak? Cobalah bicara dengannya siapa tahu dia juga punya perasaan yang sama denganmu."
"Tidak, aku lebih suka menikmati perasaan ini, yang terpenting aku bisa bicara dengannya saja aku dah senang."
"Kau gila ..."
"Sangat! Jadi sudahlah. Aku tak mau kehilangan dia lebih jauh lagi. Aku sangat menyayanginya, Tab. Aku sayang Kak ...."
"Berdoa saja, semoga Tuhan menyembuhkan lukamu."
"Iya, cuma itu yang bisa kita lakukan."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar