HUJAN
"Hujan turun deras sekali, kalau seperti ini pasti akan banjir,"
Aku melirik ke arah jendela yang sedikit terbuka kordennya. Wajah Irma terlihat cemas.
"Jangan cemas, kita bisa mengungsi nanti,"
"Bukan itu, aku mencemaskan sesuatu."
"Apa? Ada apa Ir?"
Irma memandang ke arahku, sejenak dia sepertinya ragu.
"Aku mencemaskan Anton. Dia belum kembali, padahal dia janji pulang cepat. Dia ingin bicara denganmu,"
"Soal apa?"
"Sebenarnya, Anton sudah melamarku kemarin. Kami akan menikah, Ra. Kau tahu, Anton bilang dia sudah bercerai dengan istrinya."
Napasku tercekat mendengar ucapan Irma, bercerai? Bagaimana mungkin. Aku merasa tak pernah mengajukan surat cerai pada Anton. Jadi ini alasannya dia menutupi pernikahan kami?
"Benarkah? Selamat ya. Aku juga tak sabar menunggu kabar gembira ini langsung dari mulut Anton,"
"Kau tak marah, Ra?"
"Tidak, kenapa mesti marah. Ini berita gembira 'kan?"
Irma hanya menggagukan kepala dan tersenyum tipis ke arahku.
"Aku tak sabar menunggu Anton pulang." Irma kembali melihat keluar dengan menyibakkan gordennya.
"Dan aku pun tak sabar ingin mengakhiri kalian--secepatnya." ucapku dalam hati sambil tersenyum ke arah Irma yang tak menoleh padaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar