Sabtu, 03 Oktober 2015

Cintamu

"May!"

Suara itu yang pertama kudengar saat aku memasuki lorong. Langkahku yang semula terhenti kini mengayun pelan mendekati mereka. Wajah-wajah yang memandangku dengan seribu arti. Entah apa yang harus kukatan saat ini.

"Bu." Wanita separuh baya itu masih sama seperti saat terakhir aku meninggalkannya. Dia yang pernah menjadi ibu selama aku ikut bersamanya dan selamanya akan mnejadi ibu buatku.


"Kau berubah sekarang, May? Beda kau!"

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan ibu, dulu aku masih kucel. Kurasa sekarang sama kucelnya, bedanya aku pake hijap. Menit berikutnya, hanya untuk mengenang masa lalu. Banyak hal yang sudah kulewatkan, tahun-tahun yang tak akan kembali.

"May ...."

Sosok itu ternyata masih sama saat terakhir aku bertemu dengannya, berdiri tegap dengan kemeja yang sudah digulung sebatas sikunya, Seperti biasa dia akan melempar ranselnya begitu saja.

"Kapan kau datang, Dik?"

"Tadi pagi, Kak. Kak Dod, ndak berubah,"

"Bodat kau, emang harus berubah kayak apa?"

Senang rasanya bisa melihat senyumnya mengembang seperti dulu. Kaca minusnya semakin tebal saja kurasa, dengan seenaknya dia akan meletakkan itu dan melahap makannya.

"Kau yang masak, May?"

"Aku cuma bantu, Kak."

"Ah, kau itu ...."

Seperti itulah, kadang dia begitu cuek tapi kadang juga dia sangat perhatian, dia tidak akan menunjukkan secara langsung. Ekor matanya tak pernah sesekali tertangkap sedang memerhatikanku. Apa kabar gadisnya kini?  Kapan dia menikah? Sudah bertahun-tahun.

Melihatnya lahap menghabiskan makanannya membuatku lega, setidaknya ini bisa menjadi obat kerinduanku selama ini. Tetaplah tersenyum Kak, seperti saat ini dan seperti dulu, saat semuanya belum berubah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar