"Dy."
"Hmmm."
"Kau tak merindukannya?"
"Tidak,"
"Kau bohong!"
"Kenapa kau yang emosi? Kesalahan besar jika aku merindukannya. Sudahlah, dia akan baik-baik saja tanpa aku. Dia kuat dan mandiri."
"Kau siap kehilangan?"
"Aku sudah siap kehilangan sejak pertama kali aku mengenalnya. Setidaknya aku masih mempunyai sesuatu darinya."
"Cerpen itu ...."
''Hehehe... aku tak akan kesepian, sudahlah. Jangan membuatku lemah, itu akan memperburuk keadaan. Kita akan tetap berjalan di jalan yang kita mau. Pada akhirnya kita sendiri."
"Kau pandai menipu."
"Hahaha... tidak juga. Aku cuma realitis saja. Udahlah, ada banyak kisah yang harus diselesaikan."
"Semalam kau gelisah,"
"Itu karena banyak nyamuk. Sudahlah...."
Aku mematikan si Tab. Semakin hari dia sering memerhatikanku. Ah, dia jadi pengamat sekarang.
Kesedihan terindah adalah saat kau berhasil melewatinya dengan baik. Kemenangan terbesar adalah saat kau bisa menaklukkan dirimu sendiri tanpa hilang kewarasan. Saat kau kembali terseret ke masa lalu maka ingatlah bahwa masa lalu akan tetap hidup meski kau ingin membuangnya. Biarkan saja dia lewat dan menggodamu sementara waktu, taklukkan dengan cara yang benar. Kelak kau akan menjadi kuat karena rasa sakit tak akan bisa mengalahkanmu lagi.
Kamis, 01 Oktober 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar