Rabu, 30 September 2015

Curhat

"Dy, lagi patah hati?"

"Ndak,"

"Hala ... sejak kapan sich lo itu pinter bohong? Sembunyi dari FB, ngindarin apa sich? Banyak fans ndak penting?"

"haruskah kuceritakan jika kamu sudah tahu semuanya? Kau tahu Tab, aku sudah meremukkan hatiku sendiri. Sekarang rasanya menyingkir jadi jalan terbaik. Menikmati kesendirian dan juga menikmati detik-detik terakhir."

"Sejak kapan kau menyerah soal hidup?"

"Sejak aku sadar, rasa ini datang lagi. Padahal sudah lama aku mematikan semua rasa. Sering aku tanamkan dalam diriku bahwa aku tak layak buat siapa pun."

"Kau itu mengerikan, membosankan, bukan lagi gadis yang kuat, tegar, cerewet, suka main drama. Kali ini peran apa yang kau mainkan?"

"Tak ada. Aku sudah tutup semua akunku. Untuk saat ini, aku ingin di sini. Tak akan ada yang menemukanku."

"Ada. Pasti ada. Apa kau pikir dia cuek meski dia diam?"

"Kuharap dia tak ke sini."

"Kalau dia ke sini?"

"Banyak hal yang bisa dia lakukan selain melacak keberadaanku. Dia tak akan bertanya apapun padaku. Aku tahu sifatnya."

"Kau tahu sifatnya, tapi kau tak tahu hatinya."

"Iya, aku tak tahu hatinya dan aku juga tak ingin tahu itu. Suatu saat dia akan menemukan gadis yang tepat. Kurasa itu bukan aku."

"Terus saja meratap seperti itu."

"Sudahlah, setidaknya aku punya banyak waktu untuk menulis sekarang. Belakangan ini aku begadang terus sampai bengkak dan ngilu kakiku."

"Kau yang buat masalah, kalau kau lumpuh lagi gimana? Siapa yang akan kau suruh merawatmu. Belum kapok juga, dulu waktu kau setengah lumpuh, kau merepotkan banyak orang. sering jatuh, apa sekarang kau akan seperti itu?"

"Setidaknya dulu aku berjuang sendirian, mereka tak jujur soal sakitku. Ibu juga ndak pernah bilang kalau jantungku soak sejak kecil, pantas saja kalau di suruh lari rasanya mau pingsan, sesak dan nyeri tak karuan. Badan jadi ngilu dan gatal."

"Udah serching lagi?"

"Udah, kemungkinan sudah bocor. Tapi semoga aja ndak parah dan ndak ada komplikasi lanjutan."

"Ndak kerumah sakit?"

"Buat apa? Kalau aku ke sana, mereka akan tahu aku sakit. Aku ndak suka dikasihani. Sudahlah, aku bisa bertahan, kau tahu kan aku bisa melewati tahun-tahun ini sendirian. Setidaknya, aku masih punya kamu yang setia menemaniku."

"Terserah kau, Dy. Asal kau tahu, sepandai-pandainya tupai melompat akan jatuh juga."

"Tupainya lagi oon saja waktu itu ... hahahaha. Kurang prediksi dia, hahahaha... eh Tab, kalau si Lepi kujual buat bawa Ibu gimana?"

"Hmmm ... ndak papa sich,"

"Iya, kan masih ada ini nanti buat gantian. Lagi pula aku sudah ndak aktif kan... kalau buat nulis aku masih punya kamu. Kirim emailnya aku masih bisa pinjam adikku."

"Dy. Tumben ya, kita ngomong serius sekarang?"

"Iya ... hahahahah. Sudahlah, Besok ceritakan soal teman kencanmu, ya."

"Ogah. Kalau aku cerita kau pasti mewek, cemburu."

"Sok tahu."

Kenapa harus cemburu dengan kebahagian orang, eh .. si Tab kan bukan orang. Hehehehe... Yab, semoga mereka selalu bahagia dimanapun mereka berada. Sepertinya harus install blok sms biar ndak ada yang investigasi soal off dr dumay.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar