MY LETTER

Kesedihan terindah adalah saat kau berhasil melewatinya dengan baik. Kemenangan terbesar adalah saat kau bisa menaklukkan dirimu sendiri tanpa hilang kewarasan. Saat kau kembali terseret ke masa lalu maka ingatlah bahwa masa lalu akan tetap hidup meski kau ingin membuangnya. Biarkan saja dia lewat dan menggodamu sementara waktu, taklukkan dengan cara yang benar. Kelak kau akan menjadi kuat karena rasa sakit tak akan bisa mengalahkanmu lagi.

Label

  • Artikel unik
  • Cerita anak
  • Cerita si Tab
  • Cermin
  • cerpen
  • dongeng anak
  • doodle
  • Event Menulis
  • FF
  • Fiksi
  • My Notes
  • Novel baru
  • promosi buku
  • Puisi
  • Resensi Novel
  • Sepenggal kisah

Kamis, 30 Juli 2015

HUJAN

HUJAN
"Hujan turun deras sekali, kalau seperti ini pasti akan banjir,"
Aku melirik ke arah jendela yang sedikit terbuka kordennya. Wajah Irma terlihat cemas.
"Jangan cemas, kita bisa mengungsi nanti,"
"Bukan itu, aku mencemaskan sesuatu."
"Apa? Ada apa Ir?"
Irma memandang ke arahku, sejenak dia sepertinya ragu.
"Aku mencemaskan Anton. Dia belum kembali, padahal dia janji pulang cepat. Dia ingin bicara denganmu,"
"Soal apa?"
"Sebenarnya, Anton sudah melamarku kemarin. Kami akan menikah, Ra. Kau tahu, Anton bilang dia sudah bercerai dengan istrinya."
Napasku tercekat mendengar ucapan Irma, bercerai? Bagaimana mungkin. Aku merasa tak pernah mengajukan surat cerai pada Anton. Jadi ini alasannya dia menutupi pernikahan kami?
"Benarkah? Selamat ya. Aku juga tak sabar menunggu kabar gembira ini langsung dari mulut Anton,"
"Kau tak marah, Ra?"
"Tidak, kenapa mesti marah. Ini berita gembira 'kan?"
Irma hanya menggagukan kepala dan tersenyum tipis ke arahku.
"Aku tak sabar menunggu Anton pulang." Irma kembali melihat keluar dengan menyibakkan gordennya.
"Dan aku pun tak sabar ingin mengakhiri kalian--secepatnya." ucapku dalam hati sambil tersenyum ke arah Irma yang tak menoleh padaku.






Diposting oleh Jianyang di 19.17 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Cermin

Sayap Bidadari



“Tempat kita sekarang jadi sepi,” guman Antoni.

“Benar, Kak. Sejak raksasa itu datang semua jadi berubah,” Raut wajah Maliki terlihat sedih.

"Kakak kenapa? Kenapa memandangi aku seperti itu?" tanya maliki. Ditatapnya sekilas kakaknya.
Antoni menjadi sedih, kehadiran raksasa itu membawa bencana yang cukup dasyat. Bahkan sekarang jumlah penduduk semakin berkurang karena menjadi persembahan setiap malam bulan purnama. Antoni tampak berpikir keras, dia tidak mau kehilangan adiknya. Harapan mereka satu-satunya adalah Bidadari Utara yang kini sedang di tawan raksasa itu.

"Apa kita akan selamanya seperti ini?" Desah Antoni.

"Iya Kak, semua ini gara-gara raksasa jelek itu," sungut maliki

"Tapi kita bisa apa kak?"

 "Salah satu cara lepas dari raksasa cuma dengan membebaskan Bidadari Utara,"

"Tapi akan sangat berbahaya melakukan itu. Tidak akan mudah untuk bisa sampai ke sana. Kakak akan mencoba membebaskannya besok," kata Antoni.

 Tapi tanpa sayap bidadari miliknya, Melody tidak bisa melakukan apa-apa. Ares sudah memusnahkan sayap melodi dengan cara meminumkan ramuannya. Sayap melodi hanya bisa tumbuh bila dia mengajukan keingian pada mutiara hijau yang kini di sembunyikan Ares. Melody tidak bisa mencarinya karena kini dia terkurung di sangkar ajaip milik Ares.

"Jangan Kak, bahaya. kita bukan tandingan raksasa itu!" cegah Maliki.

"Tapi kita harus coba atau kita akan selamanya seperti ini." kata Antoni.

Pagi-pagi sekali Antoni meninggalkan desa, niatnya untuk membebaskan bidadari tidak dapat di bendung. Untuk mencapai tempat raksasa itu, Antoni harus melewati hutan larangan yang terkenal angker. Hutan itu tidak pernah dijamah manusia sejak raksasa menguasai wilayah itu. Hutan yang biasanya digunakan penduduk untuk mencari kayu bakar dan makanan ternak kini tak lagi didatangi penduduk.

Raksasa selalu menangkap siapa saja yang memasuki hutan dan tidak pernah melepaskan mereka. Dengan hati-hati Antoni menyusuri hutan itu. Tak jarang tubuhnya tergores semak berduri. Saat sedang menyusuri jalanan setapak, tanah yang dipijak Antoni tiba-tiba bergetar. Dirapatkan tubuhnya di samping pohon yang cukup besar.

"Manusia … hmmm, manusia!" Suara berat raksasa menggema di dalam hutan. Membuat burung-burung bertebangan meninggalkan sarang mereka. Antoni memperhatikan tubuhnya, sejenak dia berpikir, mungkin bau keringat dan darah yang keluar dari luka-lukanya telah memancing penciuman raksasa itu, segera dia menjatuhkan tubuhnya di lumpur.

Antoni melumuri tubuhnya dengan lumpur agar raksasa itu tidak dapat mengendusnya lagi. Malam ini adalah bulan purnama. Raksasa akan ke desa untuk mengambil persembahannya. Ini kesempatan bagus, pikir Antoni.

Diamatinya sekitar gua tempat raksasa itu tinggal. Dia bersembunyi di balik pohon besar. Malam hampir tiba dan benar perkiraan Antoni, raksasa itu keluar dari guanya. Sejenak raksasa itu berhenti di depan gua. Hidungnya mulai mengendus-endus sekeliling tempat itu. Diayunkannya senjatanya hingga mengenai pohon-pohon di sekitar gua itu.

"Grrrgrrrrr!" geram raksasa itu. Antoni tetap bertahan di tempat persembunyiannya. Raksasa itu perlahan meninggalkan tempat itu.

Setelah raksasa menghilang dari tempat itu barulah perlahan Antoni berani memasuki gua. Bau aneh menyeruak ketika dia sampai di dalam gua. Dengan hati-hati antoni menyusuri gua. Diamatinya sekelilingnya, dari tempatnya merapat di lihatnya seluruh penjuru gua, hingga matanya menemukan seorang wanita yang berada di dalam sebuah sangkar yang berada di atas bebatuan yang cukup tinggi. Antoni berbegas memanjat dinding berbatu itu, tak jarang dia terpeleset jatuh lagi ke bawah dan terluka. Akhirnya dia bisa mencapai tempat bidadari itu ditahan.

"Hsst … hssst … Bidadari … Bidadari," Antoni memanggil gadis itu.

"Siapa kamu?" Bidadari merapatkan tubuhnya, dia tampak terkejut dan ketakutan melihat Antoni yang tiba-tiba muncul dengan tubuh di penuhi lumpur dan wajah yang kotor.

"Aku akan membebaskanmu, tapi kita harus cepat sebelum raksasa itu kembali.” Antoni berusaha membuka kurungan itu.

"Kamu tidak akan bisa membukanya, kuncinya dibawa Ares," sahut Bidadari.

"Trus harus bagaimana?" Antoni tampak cemas.

"Carilah mutiara hijau, cuma itu yang bisa membebaskan aku," kata bidadari, "mutiara itu dibawa terox, dia ada di ruangan sebelah sana!”

Antoni menepuk jidatnya dan menggerutu, satu raksasa saja dia tidak bisa menghadapi kini ada dua makhuk aneh di tempat itu. Ingin rasanya dia mengurungkan niatnya saat itu juga tapi dia teringat lagi Maliki. Perlahan dia turun dan menuju ke tempat yang ditunjukan bidadari. Ruangan itu lebih mirip dapur, dengan kuali besar dan beberapa kuali kecil. Ada juga beberapa sangkar yang berisi hewan hasil buruan raksasa. Sejenak terox menghentikan kerjaannya, di amatinya sekelilingnya. Hidungnya tampak mengendus sesuatu.

Antoni bersembunyi di balik kaki meja, di amatinya gerak-gerik Terox. Tak jauh dari tungku ada deretan pisau dapur dengan ukuran yang besar. Di sudut ruangan ada onggokan tulang belulang manusia dan binatang.

Bulu kuduk Antoni berdiri. Terox mengeluarkan mutiara dari dalam kantonya. Sejenak di pandanginya mutiara itu, dia tersenyum sekilas lalu memasukan lagi mutiara itu kekantonya dan mulai memasak lagi. Antoni perlahan merayap ke atas, kali ini perhitungannya harus tepat dan cepat, kalau tidak; gagal semua usaha kerasnya selama ini.

Terox mengeluarkan seekor ular dari dalam sangkar, ular itu tampak kecil ditangannya padahal ular itu besarnya empat kali lipat tubuh Antoni. Ular itu meronta dan menggigit Terox, membuat raksasa itu marah, saat itulah Antoni melemparkan pisaunya tepat mengenai mata Terox membuat raksasa itu sempoyongan hingga menabrak kuali yang berisi kuah panas.

Antoni semakin berani menyerang raksasa itu hingga membuatnya jatuh terjerebak ke tanah dan mati dengan pisau yang menancap di wajahnya. Antoni bergegas mengambil mutiara yang ada dikantong raksasa. Secepat mungkin dia berlari ketempat Bidadari tadi.

 "Buatlah permintaan Antoni cepatlah. Waktu kita tidak banyak!" teriak bidadari.

 "Aku ingin bidadari mendapatkan kembali kesaktiannya!"
Antoni mengangkat mutiara itu ke udara. Seketika itu juga sinar putih meliputi tempat itu. Bidadari mendapatkan kembali sayapnya. Dan tertebas dari sangkar ajaib.

 "Cepatlah tiup terompetnya sebelum raksasa membunuh semua penduduk!" pinta Antoni.

Tiiiuuuuuunng …! Suara terempet menggema nyaring.

 Bumi pun bergetar. Antoni berlari keluar gua, dinding gua sebagian mulai runtuh. Dia berlari secepat mungkin. Bidadari menarik tangan Antoni dan membawanya terbang menjauhi hutan itu.

“Yuhuuu … aku terbang!” seru Antoni riang.

Di desa penduduk tampak gemetar, raksasa sudah menggemgam seorang gadis yang sejak tadi meronta ketakutan. Tidak ada yang berani membebaskan gadis itu dari cengkraman si Raksasa. Mereka hanya mampu diam dan bersembunyi.

Saat itu tiba tiba muncul sesosok makhluk. Tubuhnya manusia tapi kepalanya mirip banteng. Dia membawa senjata berupa tali yang di selimuti api dan tombak dialah Artos si penjaga. Angin yang berhembus kencang mulai membuat tempat itu kacau.

Semua penduduk berlari menyelamatkan diri. Ares tampak murka dilemparkannya gadis yang tadi digemgamnya. Dia mulai menyerang Artos. Suara benturan senjata kedua senjata makhuk itu membuat dentuman yang amat keras, tidak jarang juga muncul kilatan api dari kedua senjata itu. Ares mulai kewalahan, beberapa kali dia jatuh terjerebab ke tanah. Artos melemparkan tali apinya ke arah Ares dan tali itu mengikat kuat Ares hingga membuat tubuh raksasa itu terbakar habis dan mati.

Kematian Ares di sambut sorak gembira penduduk. Antoni yang sampai di tempat itu di sambut pelukan oleh adiknya. Senyum kelegaan tergambar di wajah gadis itu. Secara gaib Artos menghilang dari tempat itu begitu juga sang Bidadari.



Sejak saat itu kehidupan berjalan seperti biasa lagi. Banyak penduduk luar desa yang mulai datang  untuk berdagang kembali di desa itu. Semua tampak gembira dan bersuka cita dan burung-burung pun kembali berkicau menyambut cerahnya pagi.



Diposting oleh Jianyang di 15.31 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: dongeng anak

Kejadian Sore Itu

Judul: Kejadian di Sore Itu
Langit berwarna merah pada sore itu. Seolah langit sedang terluka, hingga berdarah-darah. Hanya siluet hitam burung-burung yang terbang hendak pulang ke sarangnya, menjadi pembeda.
Sejak tadi pagi, Dhea merasakan sesuatu yang aneh akan terjadi. Sebuah firasat buruk. Entah apa dan bagaimana akan terjadi. Tapi hatinya tak henti dibalut kesukaran dan kegelisahan. Dan, dengan penampakan langit merah darah, membuat kegelisahan di hatinya kian mencuat.
Dhea mempercepat langkahnya untuk pulang ke rumahnya. Segera. Firasat yang ia rasakan benar-benar mengganggu. Seakan-akan bahaya sedang mengintainya.
Ketika ia membuka pintu dan masuk ke rumahnya. Dhea mendapati suatu keganjilan. Rumahnya begitu sepi. Hening. Seolah kesenyapan paling purba, sedang singgah di dalamnya. Ia bergidik. Dengan langkah tertahan, Dhea mencoba masuk lebih dalam. Tampak aneh memang, ketika menyaksikan si pemilik rumah mengendap-ngendap masuk ke rumahnya sendiri.
"Hendra! Agung!" ia memanggil anak-anaknya. Suaranya menggaung, memenuhi ruangan.
Tak ada jawaban.
"Mas Herman!" kali ini memanggil nama suaminya. "Kamu sudah pulang?!"
Dhea beranjak menuju dapur. Terdengar suara berisik dari sana. Perlahan ia memijakkan kaki. Pasti ada seseorang di sana, pikirnya.
Ketika Dhea sampai di dapur, didapatinya ruangan itu gelap. Dan benar, ia mendapati siluet hitam bayangan seorang lelaki.
"Siapa kau?!" tanya Dhea. Kakinya gemetar. Ketakutan.
Sosok itu berbalik. Berjalan mendekat kepada Dhea. Keluar dari sisi gelap ruangan. Saat cahaya lampu yang remang tumpah ke wajah lelaki itu, Dhea terkesiap.
"Mas Herman?" katanya. Dhea segera mendekap tubuh suaminya itu. "Ke mana anak-anak, Mas?"
Herman bungkam sejenak. Tetapi dari sorot mata Herman, Dhea bisa melihat sesuatu yang buruk: kebengisan.
"Maaf, Dhea," kata Herman. Ia mengambil benda yang disarungkannya di saku belakang. "Harusnya aku tak melakukan itu pada anak-anak."
Dhea melirik benda yang kini dipegang oleh Herman. Sebuah pistol.
"A-apa yang telah kaulakukan pada mereka?" Dhea tergeragap. Menjauh dari Herman.
Herman menyeringai. "Mereka terlalu berisik, jadi aku--"
"K-kau membunuh mereka?" sela Dhea. "Biadab."
"Maaf, Dhea," kata Herman.
"Dasar penjahat!" Dhea berteriak. Pilu.
Herman kembali menyeringai. Tidak merasa terganggu dengan teriakan istrinya.
"Maafkan aku, Dhea," kata Herman. Ia mengacungkan senjata ke kening Dhea. Bersiap menembak. "Aku tak ingin kejahatanku ini meninggalkan jejak."
Keringat dingin segera membutir di kening Dhea. Ia ketakutan. Nyawanya hanya tersisa beberapa detik, tergantung hitungan yang dilakukan Herman. Dhea memejamkan mata.
"Maafkan aku, Dhea."
Herman menarik pelatuk. Pistol itu meletus. Menyemburkan kertas warna-warni.
Dhea yang baru saja membuka mata dan mendapati keningnya tak berlubang karena peluru--seperti yang disangkanya--mendadak bingung.
Tiba-tiba di belakangnya, dua putranya mengejutkannya. Membawa kue tart besar dengan lilin-lilin yang menyala. Senyum mereka merekah menyambut wajah ibunya yang masih digurat kebingungan.
"Selamat ulang tahun, Dhea," kata Herman. Tersenyum. Ia mendekap tubuh Dhea. "Maaf ... kalau iseng," bisiknya di sela pelukan.
Kebahagiaan di hati Dhea buncah. Wajahnya sontak menjadi cerah. Ia baru ingat kalau hari ini; ia berulang tahun.
"Make a wish," kata Herman sembari mengangkat kue tart di depan wajah Dhea.
Dhea memejamkan mata. Berdoa dalam hati:
"Tuhan, terima kasih atas kehidupan yang kautitipkan padaku. Maafkan bila aku pernah menyia-nyiakannya."
Bukankah mensyukuri hidup juga salah satu doa terbaik?
grin emotikon
*) Ada yang tahu? Cerpen ini buat siapa?



Diposting oleh Jianyang di 14.43 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: cerpen

BUDI DAN BURUNG KECIL

Matahari mulai menampakan sinarnya, ayam jago pun mulai berkokok bersautan. Pagi itu Budi berniat untuk pergi ke ladangnya ketika dilihatnya seekor burung yang tampak lunglai di halaman depan, sesekali dia berusaha mengepakan sayapnya dan berusaha bangkit tapi dia selalu gagal.
Budi memperhatikan burung kecil itu, tangan dan kakinya terluka, “mungkin terkena peluru pemburu atau digigit binatang lainnya,” pikir budi dengan hati-hati dia mengangkat burung itu dan kembali masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian dia sudah keluar sambil membawa sebuah sangkar kecil.

"Nah ... burung kecil, kau tinggal di sini saja. Aku akan merawatmu." Kata Budi dengan riang. setelah meletakan burung kecil itu di dalam sangkar Budi segera menggantungnya di halaman depan dan bergegas ke ladang sebelum matahari bertambah tinggi.

Berhari-hari Budi merawat burung kecil itu hingga akhirnya burung itu sembuh dan bisa mengepakan sayapnya.

"Wah ... kau sudah terbang kembali burung kecil, lihatlah kau riang sekali," kata Budi sambil memperhatikan burung itu.


"Makan dulu, Le. Sudah siang," Sesosok tubuh keluar dari balik pintu sambil membawa mampan makanan.


"Mbok ... burung kecilku sudah sembuh. Lihat, dia senang sekali ... lincah to, Mbok," kata Budi dengan riang.


"Apa kamu akan melepaskannya nanti, Le?" kata simbok


"Ndak tahu, Mbok. Burung ini lucu meski belum bersuara sama sekali tapi dia lucu,"


"Tapi kalau dikurung terus, kasihan juga, Le," simbok menatap Budi.


"Ya nanti akan aku pikirkan, Mbok," Budi tampak lesu, dalam hati dia membenarkan apa kata simboknya tapi dia juga sayang pada burung itu.

Langit tampak mendung, burung kecil itu berkicau terus dari pagi. Suaranya nyaring dan merdu.

"Tumben burung kecilmu itu berkicau terus, Le?" kata simbok sambil memandang keluar.


"Iya, Mbok ada apa ya? Semoga ada kabar baik hari ini," kata Budi pelan.


Tak lama kemudian....

"Pemisi, Mbak yu ...!"Suara seorang lelaki terdengar dari teras depan.

"Oh, Dik Marto. Mari masuk, di luar gerimis. Ayo duduk dulu, sebentar ya." Simbok masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian dia sudah keluar bersama Budi. Seorang lelaki separuh baya melangkah perlahan memasuki rumah di susul seorang gadis muda yang tampak menunduk.


"Oh, ada Pak Lik Marto," Budi menyalami tamunya. Sejenak dia memandang ke arah seorang gadis yang tampak menunduk.


"Oh, iya kenalkan ini Marni. Anak sepupu saya," Pak Lik Marto memperkenalkan gadis itu. Gadis itu masih menunduk malu. Dia menyalami simbok dan Budi...


"Dari mana ini, Pak Lik?" tanya Budi.


"Dari kampung sebelah, Le, Ada acara syukuran bersih desa di sana. Pak Lik kebetulan di undang. Eh, ternyata di sana ketemu Marni juga jadi ya Pak Lik ajak pulang sekalian," Pak Lik menjelaskan.


"Lha Dik Marni ke sana sama siapa?" tanya Budi pada Marni.


"Sebenarnya sama teman-teman, saya pingin liat Reog, Kang, tapi teman-teman pulang duluan jadinya saya di tinggal sendiri. Untung ketemu Pak Lik di sana,"  kata marni masih menunduk.


"Ya sudah kalian istirahat di sini saja, di luar hujan deras. Besok kalian baru bisa melanjutkan perjalan lagi, simbok mau menyiapkan makan dulu," kata Simbok yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Pak Lik.


"Boleh saya bantu, Mbok?" kata Murni sambil beranjak dari tempatnya duduk , simbok menganggukan kepala tanda setuju.

Malam semakin larut. Pak lik dan Budi masih duduk di ruang tengah sambil menikmati kopi manis dan ubi rebus. Simbok dan Murni sudah masuk ke dalam kamar, di luar hujan semakin deras. Burung kecil pun mulai merapatkan sayapnya.
Pagi itu berkabut, udara yang berenbus terasa dingin. Jalanan masih becek akibat hujan semalam. Burung-burung mulai berkicau di dahan pohon. Jalanan desa masih tampak lengang, hanya sesekali terlihat beberapa orang yang melintas menuju ke sawah. Pak Lik dan Murni berpamitan pada Simbok dan Budi, mereka harus berangkat pagi agar tidak kemalaman di jalan karena perjalanan masih jauh. Budi mengantar mereka sampai ke batas desa sambil sesekali bercerita.
Sejak kedatangan Pak Lik kemarin Budi menjadi resah, dia diam-diam menyukai Marni tapi malu untuk mengutarakan pada simboknya, dia hanya menyimpan perasaannya. Diam-diam simbok mulai merasakan perubahan sikap yang ditunjukan Budi, dia sering melihat Budi melamun dan kadang seperti mendesah tanpa sebab.

"Kenapa melamun, Le?" kata simbok.


"Eh tidak apa-apa, Mbok," Budi tampak terkejut mendengar suara simbok.


"Jangan bohong, Le. Simbok ini ibumu jadi tahu apa yang kamu pikirkan," simbok duduk di dekat Budi yang masih tertunduk diam, dia masih enggan untuk mengutarakan isi hatinya.


"Simbok tahu kamu suka sama Murni. Kalau kamu mau Simbok pasti akan melamar Murni." kata-kata simbok membuat Budi terkejut. Dia tidak menyangka Simbok tahu apa yang dipikirkannya selama ini.


"Apa benar,Mbok. Simbok akan melamar Murni?" kata Budi penuh sumringah yang di balas anggukan kepala oleh Simbok.


"Tapi bagaimana kita akan memberitahukan keluarga Murni? Tempat mereka jauh. Butuh waktu lama untuk bisa sampai ke sana," Kata Budi.


"Serahkan semua padaku." kata sebuah suara.

Serentak Budi dan Simbok menoleh ke arah suara itu. Mereka terkejut ketika suara itu berasal dari seekor burung yang selama ini mereka pelihara.

"Kamu ... bisa bicara?" Budi seakan tak percaya pada apa yang dilihat dan didengarnya.


"Bisa ... tapi hanya orang yang berhati baik saja yang bisa mendengar suaraku," kata burung kecil itu.


"Benarkah kamu bisa membantuku?" kata Budi berusah meyakinkan dirinya.


"Tentu saja ... aku akan terbang ke rumah Murni untuk mengabarkan ini." kata burung itu penuh kenyakinan


"Terimakasih burung kecil, jasamu tak terkira. Terimakasih banyak selama ini kamu sering membantu simbok. Simbok tahu diam-diam selama ini kamu sering membantu mengurus rumah selama kami pergi ke ladang." kata Simbok sambil tersenyum. Burung kecil itupun hanya mengangguk.

“Tunnggulah kabar baik dariku, aku akan segera kembali!” Burung kecil itu terbang mengtari rumah, sebelum akhirnya menembus awan, sambil berkicau dan disambut dengan kicauan burung-burung yang lainnya hingga sampai ke rumah Murni.

Keluarga Murni tampak gembira. Mereka tahu datangnya burung itu sebagai pertanda akan ada kabar baik yang akan datang pada mereka dan sampai sekarang hal itu masih berlangsung. Burung kecil itu akan berkicau nyaring disekitar rumah orang sebagai pertanda mereka akan kedatangan kerabat. 




Diposting oleh Jianyang di 10.40 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: dongeng anak

Rabu, 29 Juli 2015

Aku dan Senja



Aku iri melihatmu
Memandang senja begitu mesra
Ingin aku menyimpannya
Dalam kantong yang tak terjamah

Senyummu begitu indah
Tersimpul manis dalam wadah rembulan
Ingin aku menyematnya
Dalam hatiku yang kian rapuh

Matamu berbinar indah
Serupa kejora di taman nirwana
Ingin aku merampas senjamu
Agar pandanganmu hanya tertuju padaku

Kenapa begitu sulit kugapai hatimu
Yang melambai penuh rayuan
Tapi tak pernah terjamah dalam nyata
Kenapa begitu kuat sakit ini terasa

Kapan hatimu melihatku
Yang selalu setia menunggumu
Aku ingin menjadi senjamu
Yang mendapatkan cintamu tanpa batas waktu


Tangerang, 19/7/2015
Diposting oleh Jianyang di 21.03 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Puisi

AKU, KAMU DAN DIA


“Kenapa kamu dc aku?” Itu pertanyaan yang kamu lontarkan padaku beberapa waktu yang lalu.

“Karena aku kecewa padamu.” jawabku sambil lalu.

Ya aku kecewa padamu, bagaimana mungkin kamu bisa berbuat seperti itu padaku? Baru beberapa saat kamu menyatakan suka padaku dan sekarang berpaling dengan dengan mudahnya.

Setiap kali aku hadir di statusmu kamu selalu cuek dan menganggapku tak ada. Malah asyik dengan teman-temanmu, seolah kalian sepakat untuk menyingkirkanku secara perlahan.

Lebih menyakitkan lagi ketika kamu meminta sahabatmu untuk membalas inboxku malu,kecewa dan sakit hati itulah yang aku rasakan saat ini.

Di saat kamu menolak inboxku, kamu malah menawarkan inboxmu pada gadis lain? Apa karena dia cantik dan juga menawarkan cinta maka kamu berlaku seperti itu? Tak tahukah kamu aku membacanya dan bahkan ada ratusan mata yang juga membacanya.

“Wah Kang, penggemarmu banyak sekali. Waktunya untuk merazia inboxmu,” ucap Mbak Dina tanpa beban dan dia tahu pasti aku juga ada di situ.

“Wah  Mbak Dina, untung aku ndak inbox Akang lagi. Coba kalau aku inbox dia, pasti aku akan tergaget-kaget kayak kemarin,” balasku santai dan berakhir tanpa komentar lagi darimu dan dari Mbak Dina.

Orang bilang kamu dan Mbak Dina hanya sebatas sahabat. Benarkah? Apakah sahabat harus berlaku seperti itu? Tak ada yang namanya sahabat sejati antara cowok dan cewek yang sudah dewasa, yang ada hanyalah cinta terselebung yang tak terucap.

Bohong jika kamu bilang kamu tak menyukainya, karena dia selalu menceritakan dengan gamblang dan riang saat kopi darat denganmu. Bahkan mereka sampai kesasar saat pulang karena Mbak Dina tidak konsentrasi menyetir. 

Aku ingat saat kamu bilang Mbak Dina tidak berani menatap matamu. Sakit hatiku karena kalimatmu seakan menunjukan jika kamu menyukainya atau lebih tepat lagi, kamu suka ada cewek seperti Mbak Dina yang mengagumimu.

Awal pertama aku berjumpa adalah saat aku menyukai puisimu, lalu kita saling berbalas komen dan bercanda. Tak ada yang aneh hingga akhirnya kamu inbox aku duluan dan mengirim emotion love padaku, bahkan kamu juga mengirimkan foto padaku di saat orang lain tidak tahu wujud aslimu. 

Aku bahkan tak memintanya. Seiring waktu perasaan itu tumbuh tapi kamu mulai berubah. Ternyata banyak sekali peri cantik dan kamu mulai mengabaikanku dan ketika rasa sakit itu mulai memuncak, aku memilih untuk melepaskan karena pada kenyataannya aku tak bisa berdamai dengan perasaanku sendiri dan memaklumi bahwa mereka hanyalah sahabatmu.

Dunia tak berhenti saat aku melepasmu, bahkan kini menemukan dunia kecilku sendiri. Sekarang kita berpisah, hidup dalam dunia kita masing-masing. Aku dengan semangatku mengikuti beberapa lomba agar bisa melupakanmu dan kamu, tetap sibuk dengan akunmu yang setiap saat berganti nama dan foto profil dan selalu ramai dengan para wanita.

Terima kasih karena kamu sudah membuka mataku untuk tidak percaya dengan cintai dunia maya seperti ini dan karena kamu pula aku menemukan hal indah dalam yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Dunia kecil yang membuatku mulai menyukai menulis dan berpuisi. Terima kasih dan maaf, aku memilih untuk melupakanmu.



Bitung, 12/3/2015
Diposting oleh Jianyang di 20.39 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: cerpen

PERJALANAN


Layar mulai tergulung
Perahu pun menepi

Gulungan ombak tak lagi menerpa
Berakhir sudah; perjalanan


Tertatih raga mencoba tegak
Senja melambai hantarkan lelah
Keringat kering di antara asa
Meraup sejumput senyuman yang mengiba


Bulir lara tak lagi terasa duka
Kala malam meramunya 


Bisikkan desahan penuh khayalan
Rengkuh hasrat dalam keheningan


Usai sudah tapak kaki berjalan
Menyusuri lorong penuh onak
Tangis jadi penghias
Dalam keranjang kehidupan


Tangerang, 23-06-20015


Diposting oleh Jianyang di 15.29 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Puisi

MOBIL BEKAS


Aku masih mengawasi deretan mobil bekas yang kini teronggok tak berdaya, Pandanganku kini terkunci pada sebuah mobil tua, yang berada di deretan belakang. Mobil yang sama yang pernah kutenggelamkan di danau bersama mayat seseorang.
Tgr, 7-7-2015
Diposting oleh Jianyang di 13.09 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: FF

TEMPAT KENANGAN


Tempat ini kini sedikit berubah, sudah lima tahun lebih aku meninggalkannya. Terakhir aku ke sini, air danaunya menyurut dan sekarang saat aku kembali danau itu melimpah ruah airnya. 


Rumah tua itu masih berdiri kokoh meski tak terawat. Daun-daun kering menutupi sebagian pekarangannya. Dulu aku tinggal di sana bersama Rio, kekasihku
.
“Hai, Sayang apa kabarmu? Lama ya aku tidak ke sini. Aku kangen kamu,” ucapku sambil menaburkan bunga, pada tengkorak Rio yang masih terikat di bawah pohon tua.

Add caption

Tangerang, 15-6-2015
Diposting oleh Jianyang di 12.59 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: FF

BALAS DENDAM

Semilir angin yang berhembus, menyambut kedatanganku di tempat itu. Sudah beberapa waktu aku pergi dari sana dan semua masih tetap sama. Pohon-pohon yang menjulang tinggi dan rimbun, juga semak belukar yang masih setia menjadi penghuni tempat itu.

Aku berhenti di depan sebuah pohon yang cukup rindang. Pohon itu masih sama, bekas hitam karena jilatan api masih terlihat jelas. Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu dan kemarahanku kembali memuncak, dengan kasar aku menyeret tubuh-tubuh mungil itu ke bawah pohon dan mengguyurnya dengan minyak.

Setiap kali mereka mencoba melarikan diri, aku kembali menyeretnya ketempat semula. Tanpa ampun lagi kunyalakan api dan dengan cepat api menjalar dan menyambar tubuh mereka, membuat tubuh mungil mereka melengkung. Aku tersenyum puas melihat kejadian itu.

“Itu balasannya karena kalian mengganggu hidupku, kehadiran kalian membuat tubuhku sakit!”

Aku meninggalkan tempat itu, tidak kuhiraukan lagi teriakan segerombolan semut merah dan ulat bulu yang kini terbungkus api




Tangerang, 12-6-2015
.
Diposting oleh Jianyang di 12.47 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: FF

Kandas


Ada barisan kata yang tak terucap
teriakan sumbangpun kini tertelan buih
merentas semua kenangan
hangus terbakakar lara
senjamu kini tak lagi merah
berganti rupa wajah kelamnya
bagai seorang penari
meliuk diatas duka
seperti itu pula akhir sebuah mimpi
tergilas kandas tanpa bekas

Bitung, 12/3/2015
Diposting oleh Jianyang di 00.49 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Puisi

KARMA


belum sadarkah?
kau buat kami tak bisa berdiri tegak
Seumpama pincang diatas tanah datar
Mengapa tertawa?
duka kami bukan untuk ditertawakan
kami tak butuh hiburan penuh rayuan
kami butuh kepastian
agar tak lagi timpang hidup kami
masihkah berpikir?
berada di sisi kami atau 'mereka'
yang makin gemerlap diatas tangisan bumi ini
inikah inginmu?
Pak Hakim
bisakah kau menoleh kearah kami?
yang berpeluh penuh kesakitan
dianatara deru tawa kaum koruptor
lihat kami!
tanah kami mengering karena dustamu
air kami tandus karena rayuanmu
udara bercampur racun bualanmu
Masihkah kau berpaling dari ini?
kau menutup hatimu dengan gemerlap duniamu
seakan telingamu tak lagi mendengar bisikan hati kami
tak takutkah kamu pada Ilahi Robbi?
yang akan menggoreskan karma pada takdirmu
Tangerang, 29/3/2015
Diposting oleh Jianyang di 00.42 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Puisi

SENJA BUAT DEE


Senja ini masih sama, masih merah ranum dengan bayangan hitam yang mengekorinya. Bayanganmu masih terlukis manis dalam bingkai kerinduan yang seakan seperti rantai yang kian membelenggu hati ini, membuatku tak bisa bergerak meski aku meronta. Masih kuingat dengan jelas, hari dimana kita mengikrarkan sumpah untuk selalu setia. Menautkan hati dan jiwa kita menjadi satu. Senyummu mengembang, tanpa beban kita berbagi kasih.


“Apa kamu bahagia, Dee?” tanyaku dan kau balas dengan senyuman manismu. Wajahmu yang tampan tampak berseri kala itu. Senyummu merekah dan berhias lesung pipit, membuat wajahmu makin sempurna. Sungguh suatu maha karya bak pahatan dewa yunani.

Senja ini masih tetap sama, saat terakhir kita berjumpa. Dengan berat hati aku melepasmu di bandara, rasanya ingin sekali aku mengikatmu agar kamu tak pergi. Tapi karena tuntutan pekerjaan, kita pun harus berpisah.

“Berjanjilah untuk selalu mengujungiku dan ceritakan semuanya, tanpa terlewati setiap harinya.” Ucapmu pelan dan mengecup dahiku. 
Aku hanya mengangguk dan tersenyum, rasanya saat itu aku tak mau melepaskan pelukanmu. Memandang tubuhmu yang menjauh, membuatku merasakan kerinduan yang teramat sangat, padahal kita baru beberapa detik berpisah.
Dan hari-hariku terasa sepi tanpamu, Dee. Semakin sepi saat kamu tak pernah kembali lagi sesuai janjimu.

Dan sekarang setiap hari aku datang ke tempatmu yang baru. Aku tak peduli apa kau akan marah atau malah senang, yang jelas, aku datang memenuhi janjiku padamu. Menceritakan semua hal yang yang aku lalui tanpa kamu di sisiku karena pesawat itu telah mengoyak dirimu
.
“Senjamu indah, Dee. Apa kau bahagia dicsana? Kau punya teman? Apa dia seorang bidadari? Apa dia secantik aku, Dee? Aku rindu padamu, Dee.” Ucapku lirih sambil memeluk pusaranmu yang menjadi tempat favoritku kini, yang juga menjadi rumah barumu.
Langit senja pun semakin menghilang berganti kabut yang menghitam, menghantarkan butiran bening yang kini ikut larut dalam duka dan langit pun semakin muram.
Tangerang, 1 april 2015


Diposting oleh Jianyang di 00.38 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Cermin

DENDAM



Aku memandang Aning yang kini duduk diam membisu, pandangan gadis itu kosong. Perlahan aku mendekati dan mengamatinya. Aning masih duduk terdiam tanpa kata, seolah kini dia terhempas ke alam lain. Aku tersenyum tipis, dia tak lagi menyerangku seperti  saat dia melihatku.

“Hai, Rin. Apa kabar? Bagaimana rasanya menikmati kekalahan?” tanyaku lirih.

“Dee …."

Aku menoleh ke arah suara, kulihat Kak Tio berdiri di dekat pintu, sejenak dia sepertinya ragu untuk melangkah masuk.

“Masuklah .…” aku tersenyum padanya, sejenak dia masih terdiam sebelum kemudian melangkah masuk. Dia memandangku, kemudian menarikku menjauhi Rien. Ada kekawatiran yang terlintas di wajahnya.

“Tenang saja, Kak. Dia tidak akan bisa menyakiti kita lagi.” ucapku lirih.

“Hai, Rien. Apa kabarmu? Maaf, aku baru bisa berkunjung sekarang. Aku ke sini cuma mau bilang, aku cinta Dee. Aku memaafkan kesalahanmu. Kuharap kau tak mengganggu kami lagi.” Kak Tio segera balik badan dan menarikku keluar ruangan, sepertinya dia tidak nyaman berada di dekat Rien saat ini.

Aku hanya melirik sekilas dan tersenyum miring ke arah Rien yang masih diam membeku tanpa kata. Sikapnya ini berbanding terbalik dengan sikapnya yang dulu selalu mencoba mencelakaiku, beberapa kali dia berhasil melancarkan aksinya hingga membuatku terluka dan masuk rumah sakit.
 Waktu yang ada hanya digunakannya untuk terus memburuku dan menjauhkanku dari Kak Tio tanpa memerdulikan kecemasan orangtua dan rasa malu yang akan mereka tanggung karena anak mereka di cap sebagai peneror rumah tangga orang.

Malam itu angin bertiup cukup kencang, aku menutup jendela rapat-rapat. Kami memutuskan untuk tinggal di rumah Rien malam ini. Aku meilirk Kak Tio yang tertidur pulas di sampingku. Sepertinya dia tidak terpengaruh dengan keadaan sekelilingnya. 
Aku segera bangkit dari ranjang dan melangkah keluar. Suasana temaram tampak menyelimuti rumah itu. Sunyi mencekam terasa sekali di tempat itu. Rumah ini memang terletak jauh dari daerah perkotaan dan juga terpencil dari rumah warga lainnya. Perlahan aku melangkahkan kakiku menuju lantai atas, kamar Aning.

Pelan tapi pasti aku memutar knop pintu dan melangkah masuk. Angin yang masuk cukup kencang, sepertinya mereka lupa menutup jendelanya sore tadi. Bergegas aku menutup jendela dan menarik kordennya. Aku membalikkan badanku dan melangkah kearahnya. Gadis itu terlihat tenang, matanya tertutup rapat dan nafasnya teratur.

“Apa kabarmu, Rien? Bagaimana rasanya menjadi yang dilupakan. Aku bukan Dee, si Lemah, aku sisi lain yang bersemayam dalam dirinya selama ini. Apa yang kau lakukan pada Dee, sudah memberiku jalan untuk bangkit dan membalaskan dendam padamu. Jangan berpikir aku jahat, aku hanya membalas kelakuan busukmu lewat alam bawah sadarmu dan kurasa dugaanku tepat. Kamu tak siap menghadapiku kan? Sekarang pergilah dengan tenang. Tidak ada lagi yang bisa kau harapkan di sini, orangtuamu sudah merelakanmu, apalagi satu-satunya orang yang paling kau cintai sudah melepasmu. Dan aku akan menganggatikan posisimu di hati mereka dengan mudahnya. 
Selamat tinggal, Rien. Tidurlah yang nyenyak dalam keabadian.” Aku tersenyum miring, kemudian beranjak meninggalkan Aning yang masih terbujur tenang dalam diamnya dan hanya tinggal menunggu sang waktu memangkas hidupnya.
”
Bitung, 8 april 2015
Diposting oleh Jianyang di 00.29 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Cermin
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Entri Populer

  • Sebungkus Permen
    Pagi ini ibu menyuruhku ke pasar membeli beberapa bahan makanan. jarak dari rumah ke pasar tidak begitu jauh, jadi aku  bisa jalan kaki atau...
  • Racun Mematikan Biji Apel
    Siapa yang ndak kenal buah apel, selain banyak gizinya, buah ini juga memiliki beberapa jenis dan warna yang memikat, orang tidak akan menya...
  • Novel
    Sudah terbit!! Sebuah jalinan cinta yang mendebarkan. Penuh intrik, kebencian dan ketegangan, dihadirkan dengan gaya khas yang apik dan ele...
  • dua rembulan
    Sebenarnya tidak ada yang menarik dengan pemuda itu. Penampilannya sama seperti pemuda pada umumnya, kulitnya bersih meski bukan orang ketur...
  • Rahasia Dibalik Kristal Air
    Apa yang kamu ketahui tentang air? Pasti sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan kita. Bagaimana kalau ternyata air menyimpan suatu rahasi...
  • Anggur
    Pernah aku beharap kau tak akan menemukan ini, tak akan membacanya atau pun peduli dengan apa yang kutulis saat ini, aku sangat berharap it...
  • HUJAN
    HUJAN "Hujan turun deras sekali, kalau seperti ini pasti akan banjir," Aku melirik ke arah jendela yang sedikit terb...
  • Cinta Serapuh Kaca
    v + 103 hlm: 13 x 19 cm ISBN: 978-602-6999-19-1 Penerbit: Dins Publishing, Yokyakarta May tidak pernah menyangka sebelum jika kehidupan...
  • Curhat
    "Dy, lagi patah hati?" "Ndak," "Hala ... sejak kapan sich lo itu pinter bohong? Sembunyi dari FB, ngindarin apa...
  • Anggur
    Anggur itu begitu menggoda, aromanya membuatku ingin segera menyesapnya hingga habis. warnanya begitu menggoda, merah. Semerah darah suamik...

Penulis dan Peresensi

Jianyang
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ►  2026 (10)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Januari (3)
  • ▼  2015 (77)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (37)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (1)
    • ▼  Juli (18)
      • HUJAN
      • Sayap Bidadari
      • Kejadian Sore Itu
      • BUDI DAN BURUNG KECIL
      • Aku dan Senja
      • AKU, KAMU DAN DIA
      • PERJALANAN
      • MOBIL BEKAS
      • TEMPAT KENANGAN
      • BALAS DENDAM
      • Kandas
      • KARMA
      • SENJA BUAT DEE
      • DENDAM
      • KAKI
      • Aku Dan si Tab
      • LEPAS "Apa setelah ini kau akan pergi?" "Iya, ...
      • SENJA YANG BEDA "Apa yang kau tahu tentang 'Senj...

Laman

  • Beranda
DYAH APRI R. Tema Perjalanan. Gambar tema oleh neomistyle. Diberdayakan oleh Blogger.