“Tempat kita sekarang jadi
sepi,” guman Antoni.
“Benar, Kak. Sejak raksasa itu
datang semua jadi berubah,” Raut wajah Maliki terlihat sedih.
"Kakak kenapa? Kenapa
memandangi aku seperti itu?" tanya maliki. Ditatapnya sekilas kakaknya.
Antoni menjadi sedih, kehadiran
raksasa itu membawa bencana yang cukup dasyat. Bahkan sekarang jumlah penduduk
semakin berkurang karena menjadi persembahan setiap malam bulan purnama. Antoni
tampak berpikir keras, dia tidak mau kehilangan adiknya. Harapan mereka
satu-satunya adalah Bidadari Utara yang kini sedang di tawan raksasa itu.
"Apa kita akan selamanya
seperti ini?" Desah Antoni.
"Iya Kak, semua ini
gara-gara raksasa jelek itu," sungut maliki
"Tapi kita bisa apa
kak?"
"Salah satu cara lepas dari raksasa cuma
dengan membebaskan Bidadari Utara,"
"Tapi akan sangat berbahaya
melakukan itu. Tidak akan mudah untuk bisa sampai ke sana. Kakak akan mencoba
membebaskannya besok," kata Antoni.
Tapi tanpa sayap bidadari miliknya, Melody
tidak bisa melakukan apa-apa. Ares sudah memusnahkan sayap melodi dengan cara
meminumkan ramuannya. Sayap melodi hanya bisa tumbuh bila dia mengajukan
keingian pada mutiara hijau yang kini di sembunyikan Ares. Melody tidak bisa
mencarinya karena kini dia terkurung di sangkar ajaip milik Ares.
"Jangan Kak, bahaya. kita
bukan tandingan raksasa itu!" cegah Maliki.
"Tapi kita harus coba atau
kita akan selamanya seperti ini." kata Antoni.
Pagi-pagi sekali Antoni meninggalkan
desa, niatnya untuk membebaskan bidadari tidak dapat di bendung. Untuk mencapai
tempat raksasa itu, Antoni harus melewati hutan larangan yang terkenal angker.
Hutan itu tidak pernah dijamah manusia sejak raksasa menguasai wilayah itu.
Hutan yang biasanya digunakan penduduk untuk mencari kayu bakar dan makanan
ternak kini tak lagi didatangi penduduk.
Raksasa selalu menangkap siapa
saja yang memasuki hutan dan tidak pernah melepaskan mereka. Dengan hati-hati
Antoni menyusuri hutan itu. Tak jarang tubuhnya tergores semak berduri. Saat
sedang menyusuri jalanan setapak, tanah yang dipijak Antoni tiba-tiba bergetar.
Dirapatkan tubuhnya di samping pohon yang cukup besar.
"Manusia … hmmm,
manusia!" Suara berat raksasa menggema di dalam hutan. Membuat
burung-burung bertebangan meninggalkan sarang mereka. Antoni memperhatikan
tubuhnya, sejenak dia berpikir, mungkin bau keringat dan darah yang keluar dari
luka-lukanya telah memancing penciuman raksasa itu, segera dia menjatuhkan
tubuhnya di lumpur.
Antoni melumuri tubuhnya dengan
lumpur agar raksasa itu tidak dapat mengendusnya lagi. Malam ini adalah bulan
purnama. Raksasa akan ke desa untuk mengambil persembahannya. Ini kesempatan
bagus, pikir Antoni.
Diamatinya sekitar gua tempat
raksasa itu tinggal. Dia bersembunyi di balik pohon besar. Malam hampir tiba
dan benar perkiraan Antoni, raksasa itu keluar dari guanya. Sejenak raksasa itu
berhenti di depan gua. Hidungnya mulai mengendus-endus sekeliling tempat itu.
Diayunkannya senjatanya hingga mengenai pohon-pohon di sekitar gua itu.
"Grrrgrrrrr!" geram
raksasa itu. Antoni tetap bertahan di tempat persembunyiannya. Raksasa itu perlahan
meninggalkan tempat itu.
Setelah raksasa menghilang dari
tempat itu barulah perlahan Antoni berani memasuki gua. Bau aneh menyeruak
ketika dia sampai di dalam gua. Dengan hati-hati antoni menyusuri gua.
Diamatinya sekelilingnya, dari tempatnya merapat di lihatnya seluruh penjuru
gua, hingga matanya menemukan seorang wanita yang berada di dalam sebuah
sangkar yang berada di atas bebatuan yang cukup tinggi. Antoni berbegas
memanjat dinding berbatu itu, tak jarang dia terpeleset jatuh lagi ke bawah dan
terluka. Akhirnya dia bisa mencapai tempat bidadari itu ditahan.
"Hsst … hssst … Bidadari … Bidadari,"
Antoni memanggil gadis itu.
"Siapa kamu?" Bidadari
merapatkan tubuhnya, dia tampak terkejut dan ketakutan melihat Antoni yang
tiba-tiba muncul dengan tubuh di penuhi lumpur dan wajah yang kotor.
"Aku akan membebaskanmu,
tapi kita harus cepat sebelum raksasa itu kembali.” Antoni berusaha membuka
kurungan itu.
"Kamu tidak akan bisa
membukanya, kuncinya dibawa Ares," sahut Bidadari.
"Trus harus
bagaimana?" Antoni tampak cemas.
"Carilah mutiara hijau,
cuma itu yang bisa membebaskan aku," kata bidadari, "mutiara itu
dibawa terox, dia ada di ruangan sebelah sana!”
Antoni menepuk jidatnya dan
menggerutu, satu raksasa saja dia tidak bisa menghadapi kini ada dua makhuk
aneh di tempat itu. Ingin rasanya dia mengurungkan niatnya saat itu juga tapi
dia teringat lagi Maliki. Perlahan dia turun dan menuju ke tempat yang
ditunjukan bidadari. Ruangan itu lebih mirip dapur, dengan kuali besar dan
beberapa kuali kecil. Ada juga beberapa sangkar yang berisi hewan hasil buruan
raksasa. Sejenak terox menghentikan kerjaannya, di amatinya sekelilingnya.
Hidungnya tampak mengendus sesuatu.
Antoni bersembunyi di balik kaki
meja, di amatinya gerak-gerik Terox. Tak jauh dari tungku ada deretan pisau dapur
dengan ukuran yang besar. Di sudut ruangan ada onggokan tulang belulang manusia
dan binatang.
Bulu kuduk Antoni berdiri. Terox
mengeluarkan mutiara dari dalam kantonya. Sejenak di pandanginya mutiara itu,
dia tersenyum sekilas lalu memasukan lagi mutiara itu kekantonya dan mulai
memasak lagi. Antoni perlahan merayap ke atas, kali ini perhitungannya harus
tepat dan cepat, kalau tidak; gagal semua usaha kerasnya selama ini.
Terox mengeluarkan seekor ular
dari dalam sangkar, ular itu tampak kecil ditangannya padahal ular itu besarnya
empat kali lipat tubuh Antoni. Ular itu meronta dan menggigit Terox, membuat
raksasa itu marah, saat itulah Antoni melemparkan pisaunya tepat mengenai mata
Terox membuat raksasa itu sempoyongan hingga menabrak kuali yang berisi kuah
panas.
Antoni semakin berani menyerang
raksasa itu hingga membuatnya jatuh terjerebak ke tanah dan mati dengan pisau yang
menancap di wajahnya. Antoni bergegas mengambil mutiara yang ada dikantong
raksasa. Secepat mungkin dia berlari ketempat Bidadari tadi.
"Buatlah permintaan Antoni cepatlah.
Waktu kita tidak banyak!" teriak bidadari.
"Aku ingin bidadari mendapatkan kembali
kesaktiannya!"
Antoni mengangkat mutiara itu ke
udara. Seketika itu juga sinar putih meliputi tempat itu. Bidadari mendapatkan
kembali sayapnya. Dan tertebas dari sangkar ajaib.
"Cepatlah tiup terompetnya sebelum
raksasa membunuh semua penduduk!" pinta Antoni.
Tiiiuuuuuunng …! Suara terempet
menggema nyaring.
Bumi pun bergetar. Antoni berlari keluar gua, dinding
gua sebagian mulai runtuh. Dia berlari secepat mungkin. Bidadari menarik tangan
Antoni dan membawanya terbang menjauhi hutan itu.
“Yuhuuu … aku terbang!” seru
Antoni riang.
Di desa penduduk tampak gemetar,
raksasa sudah menggemgam seorang gadis yang sejak tadi meronta ketakutan. Tidak
ada yang berani membebaskan gadis itu dari cengkraman si Raksasa. Mereka hanya
mampu diam dan bersembunyi.
Saat itu tiba tiba muncul
sesosok makhluk. Tubuhnya manusia tapi kepalanya mirip banteng. Dia membawa
senjata berupa tali yang di selimuti api dan tombak dialah Artos si penjaga.
Angin yang berhembus kencang mulai membuat tempat itu kacau.
Semua penduduk berlari menyelamatkan
diri. Ares tampak murka dilemparkannya gadis yang tadi digemgamnya. Dia mulai
menyerang Artos. Suara benturan senjata kedua senjata makhuk itu membuat
dentuman yang amat keras, tidak jarang juga muncul kilatan api dari kedua
senjata itu. Ares mulai kewalahan, beberapa kali dia jatuh terjerebab ke tanah.
Artos melemparkan tali apinya ke arah Ares dan tali itu mengikat kuat Ares
hingga membuat tubuh raksasa itu terbakar habis dan mati.
Kematian Ares di sambut sorak gembira
penduduk. Antoni yang sampai di tempat itu di sambut pelukan oleh adiknya.
Senyum kelegaan tergambar di wajah gadis itu. Secara gaib Artos menghilang dari
tempat itu begitu juga sang Bidadari.
Sejak saat itu kehidupan
berjalan seperti biasa lagi. Banyak penduduk luar desa yang mulai datang untuk berdagang kembali di desa itu. Semua
tampak gembira dan bersuka cita dan burung-burung pun kembali berkicau menyambut
cerahnya pagi.