"Iya, gadis itu mengakuinya. Dia mengakuinya .... Tab. Ijinkan aku menangis sekali ini saja. Esok aku tak akan menangis lagi.""Kau sakit?"
"Sangat, kenapa yang kupikirkan malah suatu kebenaran. Dia menyukainya. Cerpen itu bukan untukku, tapi untuk gadis itu. Ya, mereka sudah mengenal lama, sebelum aku. Jadi wajar jika diantara mereka ada rasa."
"Kau akan menjauh?"
"Iya, selama ini aku sudah melakukannya perlahan kan?"
"Apa kau tak apa-apa?"
"Cepat atau lambat, aku akan kehilangan dia. Jadi apa salahnya jika sekarang aku menjauh. Aku hanya ingin menikmati sisa waktu yang ada, Tab. Kelak kita harus menjauh darinya. Cukup menjaganya dengan doa."
"Kau benar-benar jatuh cinta padanya?"
"Cinta? Aku tak berhak atas cinta. Aku ssudah kehilangan saat aku merasakannya. Sekarang aku cuma ingin menemukan satu tulisannya saja yang belum ketemu. Mengcopynya dalam otakku dan menguncinya agar tak pernah usah dimakan waktu."
"Bagaimana kau akam menyimpannya dalam otakmu jika kau tak tahan membaca."
"Aku akan menahannya. Aku akan membaca cepat agar tak ngantuk."
"Huh, sepertinya otakmu perlu dioperasi."
"Benar, aku juga penasaran kepana tengkorakku jadi cekung sekian dalam, apa ini yang membuatku jadi sering pusing dan tak tahan sinar."
"Tubuhmu rusak, seperti waktu kecil, kau bukan tipe gadis pendiam."
"Hahhhaha ... sepertinya iya. Aku bukan tipe gadis pendiam. Tab, terimakasih sudah ada di dekatku. Kelak aku tak akan bisa lagi hadir di sini. Tapi cerita ini akan tetap ada dalam ingatanku. Kamu dan dia adalah abadi. seabadi keanganku dengan keluarga Kak Dodi."
"Tidurlah, kau tak pernah tidur. jika kakakmu tahu, kau akan kena sidang lagi nanti."
"Hahaha.... bukankah kita sudah terbiasa begadang hingga subuh menjelang. Jadi .. kita lanjutka saja kegilaan ini."
"Kau benar-benar gila."
"Hahaha .... tidak, masih ada sisa kewarasan yang aku punya."
"Aku beduka, Dy>"
"Kalau begitu, mari kita tabur bunga. Hahahahaha ...."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar