MY LETTER
Kesedihan terindah adalah saat kau berhasil melewatinya dengan baik. Kemenangan terbesar adalah saat kau bisa menaklukkan dirimu sendiri tanpa hilang kewarasan. Saat kau kembali terseret ke masa lalu maka ingatlah bahwa masa lalu akan tetap hidup meski kau ingin membuangnya. Biarkan saja dia lewat dan menggodamu sementara waktu, taklukkan dengan cara yang benar. Kelak kau akan menjadi kuat karena rasa sakit tak akan bisa mengalahkanmu lagi.
Rabu, 25 Maret 2026
Waktu
Selasa, 24 Maret 2026
pengganti
boneka
DANIA (11)
Wedding day
Stalker
Sayap Patah
Selasa, 20 Januari 2026
Janji
Cinta dalam sekantong asa
Yang namanya rindu tidak akan pernah bisa dikendalikan.
Yang Deya tahu, Zein bukan orang yang gampang diajak kompromi. Yang dia tahu, lelaki itu egois. Apa yang diputuskan itu yang akan dijalani.
Seperti hari ini, dia berencana untuk pergi keluar kota dengan alasan urusan kantor. Padahal besok adalah hari pertunangan mereka.
Deya ingin marah tapi itu percuma. Dia hanya bisa tetsenyum dan menekan kekhawatirannya. Hatinya berontak, selalu ada bisikan yang mengatakan dia akan kehilangannya.
Benarkah?
Pertanyaan itu selalu di sanggahnya. Deya yakin jika itu hanya kekhawatirannya. Zain masih tampak normal. Tersenyum senang dan bercanda bersama keluarga.
Tidak ada beban terlintas di wajahnya. Apa yang dia pikirkan hanya dia yang tahu.
"Apa semua sudah siap?" Deya meletakkan kopor didekat pintu.
"Hmm..."
Hanya itu jawaban yang diterimanya. Dia tidak puas. Zain yang sekarang terkesan menjauh darinya. Menjaga jarak darinya. Dan menyembunyikan sesuatu.
Saat berangkat pun, tidak ada kata mesra yang terucap. Matanya sesalu menghindarinya. Deya masih berharap akan ada satu ucapan untuknya.
Itu bukan kamu...
Kalimat ini terlintas dalam pikirannya. Deya berlari, menebas kerumunan.
"Dimana dia?"
Tatapan tajam Deya membuat Zain sejenak terpaku.
"Sudah cukup... Cukup membodohiku. Dimana dia?"
Zain masih diam, mengamati gadis itu.
"Lengan ini terlihat sama, tapi sebenarnya berbeda. Berhenti membodohiku. Dimana dia? Dimana suamiku?"
"Deya? Dia hanya pergi sebentar. Kenapa tidak sabaran?" kalimat sengit Anti tidak membuyarkan cekalan tangannya.
"Apa yang kau katakan?" Zain seolah kembali tersadar pada sesuatu.
"Baik. Ini pilihanmu? Jika aku menemukannya sendiri, aku tak akan pernah memaafkanmu." Deya berbalik. Wajahnya yang semula kacau kini tetlihat tegas.
Sejenak Zain terpaku. Hatinya terasa sakit. Nyeri ini sangat terasa. Hanya beberapa saat dia mengenal gadis itu, tapi seolah kini separuh hatinya telah teriris parah.
Zain... Dia milikmu. Hanya memilikimu dihatinya. Dia bahkan bisa mengenaliku hanya sekilas pandang. Zain... Hatimu, aku tak bisa membawanya.
Zain membuka pintu mobil dan melaju. Rasa sakit semakin terasa. Andai saja dia tahu masa depan akan seperti apa, mungkin dia akan memutar ulang waktu saat ini.
Dalam pandangannya kini terlintas ekspresi Deya saat pertama kali bertemu dengannya. Senyum yang semula berkembang sempurna, langsung menghilang saat pertama kali bertemu dengannya.
Ada rasa sakit yang terlintas dimatanya. Meski hanya sekilas tapi dia melihatnya. Gadis ini, cinta matinya hanya untuk Zain.
Zein memukul stirnya. Sejak awal gadis itu sudah tahu... Dia sudah tahu tapi tetap diam. Menunggu... Ya... Dia menunggunya. Tapi dia tidak mendapatkan apa-apa.
Janjinya pada Zain tak bisa dipungkuri begitu saja. Dia harus merahasiakan ini. Meski dia tak mau... Lebih baik Deya berpikir dia menghianatinya daripada tahu yang sebenarnya. Resikonya akan lebih besar daripada ini.
Besok dia tak perlu hadir dipertunangan. Tapi nyeri dihatinya tak bisa disangkal. Dia tahu gadis itu tak akan mengharapkan kehadirannya esok. Mobil melaju tampa arah. Zein hanya bisa mengusir galaunya kali ini.
Waktu berlalu begitu saja. Gelap malam melarutkan penat penantian dalam tidur. Tapi ada segelintir orang yang tidak tidur malam ini. Pikiran kalut mereka menjerat erat hati mereka.
Pagi merayap. Deya masih duduk di samping jendela. Pandangannya kosong. Tidak jauh darinya kelopak bunga berguguran.
"Deya... " panggilan lembut Zein tak berbalas.
Gadis itu seperti kehilangan warnanya. Hanya menatap kosong pohon sakura di depannya.
Zein masih terpaku di tempatnya, dia takut mendekati gadis itu. Dia takut gadis itu akan menjadi histeris saat dia mendekat.
"Apa dia kesakitan?"
Pertanyaan itu membuat zein tersentak. Tidak mungkin deya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia masih diam, menatap gadis yang masih berdiri tegak di sana.
Langkah kaki terdengar pelan, sesosok tubuh perlahan masuk. Itu adalah Bibi Nue. Wanita paruh baya yang selama ini menjaga Deya. Mata wanita itu memerah dan sembab. Dia berusaha menahan tangisnya. Tapi melihat Deya yang sekarang tak berjiwa, hatinya sakit. Perlahan dia menyentuh lengan gadis itu.
"De..." panggilnya pelan.
Tapi gadis itu tetap diam bahkan tidak menoleh.
"Dia sudah pergi, sudah lama pergi." kata Deya perlahan.
Airmata jatuh di wajah bibi nue, yang dia takutkan terjadi. Tidak peduli seberapa kuat mereka menyembunyikannya gadis itu akan tetap tahu. Diam mereka kini menjadi bumerang, mereka berpikir bisa membuat deya menerima semuanya saat dia bisa menerima kehadiran zein. Tp sungguh diluar digaan, deya menolak keras hal ini.. dia pasti merasa hancur saat tahi semua orang diam diam bermain di belakangnya.
Bibi memeluk gadis itu. Tapi dia terkejut karena merasa tubuh di depannya terasa panas.. sudah berapa lama dia sakit, kenapa dia tidak menyadarinya tadi..
Kecemasan melanda Bibi Nue. Deya kembali ke mode diamnya. Ini pernah terjadi sebelumnya orang tuanya meninggal. Gadis itu akan diam, demam tinggi dan tidak mengeluh. Bahkan tidak ada airmata.
"Panggil ambulance!" Teriak Bibi Nue.
Keadaan Deya benar benar tidak baik, wajahnya sangat pucat sekarang gadis itu hanya diam menutup matanya dan terjatuh begitu saja. Zein dengan sigap menangkapnya. Dia bisa merakan hawa panas pada gadis itu. Dengan cepat dia menggendongnya.
" Jun, siapkan mobil!" teriaknya.
Rumah yang semula tenang, kini seperti dilanda angin puyuh. Jun segera berlari ke garasi begitu dia tahu Zein membawa Deya turun.
Mobil melaju cepat ke rumah sakit kota. Rumah sakit terbesar dengan fasilitas terbaik dan menjadi rujukan.
Begitu mobil berhenti staf medis sudah bersiaga di depan. Melihat Zein membawa Deya turun, mereka dengan sigap membantu. Deya pun di bawa keruang IGD.
Zein masih berdiri tegak di samping pintu. Bibi Nue yang berhasil menyusul masih terlihat khawatir. Dia tidak banyak bertanya. Tidak bisa dipungkuri, dia ikut andil dalam membiruknya keadaan Deya. Zein tidak bisa disalahkan. Perasaan Deya pada Zain terlalu kuat. Dia tahu itu.. kedua orang itu seperti satu jiwa. Jika yang satu terluka, yang satu juga akan terluka. Dan sekarang Zain sudah meninggal, dia tidak berani membayangkan.
Kematian mendadak Zain tidak ada yang menduganya, kemudian mucul Zein. Saudara kembar yang selama ini tidak pernah muncul. Serti kisah dalam drama, tapi kisah ini tidak berjalan seindah novel.
Mereka masih diam. Tidak ada yang bicara. Mdlihat keadaan mereka, Dokter menyarankan agar merka kembali.. saat ini keadaannya masih belum baik. Mereka masih berusaha memantaunya. Demamnya sudah sedikit menurun tapi tetap harus diwaspadai. Dalam keadaan seperti ini, keadaan pasien seperti rollcoaster. Naik turun dengan cepat tak terkendali.
Zein masih diam, duduk sendiri tidak bergerak. Pertanyaan Deya masih terngiang di benaknya.
"Apakah dia kesakita?'
Dia bahkan tidak tahu apakah Zain lesakitan saat itu. Dia mendapat kabar saat semuanya sudah terlambat. Zain sudah terbujur diam di kamar jenazah.
Seminggu setelah kematian Zain dia baru berani lembali ke kamar saudaranya, di sana dia tahu tentang Deya. Gadis yang sangat dicintai Zain. Dan sekarang gadis itu pun memilih untuk menyerah. Rasa sakit menghinggapi hatinya. Baru kali ini dia merasakan sakit yang teramat menyiksa. Seakan ini adalah perasaan Zain.
lorong waktu
Tatapan mata mereka terasa aneh, seolah mereka baru melihat manusia saja. Pikiran Xian terasa buntu, untuk sesaat mereka saling mengamati. Semua terasa asing. Tidak ada yang dia kenal, seolah saat ini dia terdampar ke demensi yang berbeda.
Mereka terus berbisik, sambil sesekali melirikku. Aku mengamati sekeliling, ada dua jalan setapak saat ini. Entah arah mana yang aman buatku atau semuanya sama sekali tidak aman.
Seorang pemuda gendut menghampiriku, beberapa temannya berdiri tak jauh dari tempat itu, mata mereka terus mengawasi. Tanpa sadar, langkahku surut ke belakang. Gayanya yang sok bikin tanganku gatal ingin menonjoknya dan membuat mulutnya yang nyiyir.
Mereka terus berbisik dan sesekali tertawa lirih, entah apa yang ada di pikiran mereka yang jelas itu bukan suatu yg baik. Mata mereka terlihat mesum.
Xian mengibaskan tangannya dengan kasar, membuat cekalannya tangannya terlepas, beberapa pemuda lainnya maju. Mataku mengawasi sekeliling, mencoba menghitung berapa kekuatan mereka.
Gerakannya begitu waspada.
Sedangkan pemuda itu masih diam mematung di sampingku. Sejenak dia memperhatikanku dan kembali menunduk. Pemuda aneh. Aku belum bisa melihat wajahnya secara jelas karena masih tertutup capingnya.
"Terimakasih, kalau begitu... aku akan merepotkan Tuan kali ini."
Perlahan dia mendongakkan kepalanya, kini aku bisa menatap leluasa pemuda di hadapanku. Wajahnya lumayan, rahangnya kokoh dan hidungnya mancung. Dilihat dari perawakan dan olah tubuhnya yang begitu santun sepertinya dugaanku benar kali ini. Pemuda ini bukan pemuda sembarangan.
Pemuda itu kembali tersenyum sekilas.
Pemuda itu hanya menggangguk dan tersenyum.
Jujur aku suka sekali gayanya yang mirip dengan cerita dongeng pewayangan itu. Sebenarnya di bukan pemalu, mungkin dia belum terbiasa dengan wanita asing.Jumat, 04 Januari 2019
HITAM
Brak!
Tendangan keras di pintu membuat Lermo terjungkal karena terkejut. Sejak semalam dia bersembunyi di dalam sarung dan duduk menekuk lutut di atas balai-balai rumahnya. Bahkan kepalanya pun enggan untuk keluar.
"Bocah bau, beraninya kau mengabaikanku!"
Hardik keras membuat Lermo membuka matanya, mendapati sosok yang dikenal berdiri di ambang pintu, dia masih enggan untuk bicara. Hanya matanya yang masih mencari pembenaran.
"Apa? Masih tidak bergerak? Apa perlu aku menyeretmu!"
Lermo masih menatapnya ragu.
"Kang....?"
"Akhirnya kau bicara, kupikir kau sudah jadi bisu sekarang gara-gara hantu itu," Sarpo duduk dengan gayanya yang angkuh, seolah itu adalah rumahnya sendiri.
Bau harum yang menyengat segara menghatam hidung Lermo. Dia ingat bau ini, itu minyak 'mujarab' dari Mbah Su, lelaki tua yang dianggap sakti di desa mereka.
Mbak Su bilang, minyak itu ajaib. Dia mendapatkannya dengan susah payah. Bahkan katanya, dia sudah bersemedi di hutan larangan selama 10 tahun untuk mendapatkannya.
Semua orang berebut karena tergiur 'kashiatnya'. Hingga akhirnya Sarpo berhasil mendapatkannya dengan harga tertinggi mengalahkan yang lain. Ini lebih mirip kembali ke zaman kuno, dimana mereka mengadakan lelang, untuk mendapatkan barang.
Mbah Su bilang, cukup gunakan setetes dan mengusapnya diantara alisnya akan membuat auranya semakin kuat. Tapi, dari baunya yang menyengat, Lermo yakin minyak itu dipakai mandi olehnya.
Lermo berpikir minyak itu lebih tajam dari minyak serimpi yang pernah dia cium di pasar kembang.
"Kang, apa kau mandi pakai minyak itu?"
"Semakin banyak, semakin bagus efeknya," sanggah Kang Sarpo tanpa rasa bersalah.
"Tapi, semakin banyak membuat orang muntah," Lermo tidak mau kalah.
"Kau bocah bau, tahu apa? Bilang saja kau cemburu karena tidak berhasil mendapatkan minyak itu," cibir Sarpo.
"Bahkan jika aku punya uang banyak pun, aku tidak akan membelinya," kata Lemo penuh percaya diri.
"Masih bicara omong kosong, tidak heran yang dikatakan Mbahh Su benar!"
Lermo tahu Sarpo mengejeknya karena ketakutan semalam. Dia hanya bisa mendesah pelan. Gangguan ini sudah dia alami sejak beberapa malam yang lalu. Apalagi sekarang pintu rumahnya rusak, jika dia tidak bergerak cepat sekarang, nanti malam dia pasti akan mendapatkan dua gangguan sekaligus. Tentu saja dari angin malam yang dinginnya menusuk tulang dan dari suara berisik yang mengganggunya tiap malam.
Mbah Su bilang, itu karena dia tidak mau membeli minyaknya untuk penangkal. Padahal, ada beberapa warga yang juga tidak membelinya. Tapi entah kenapa, dia yang paling sering di ganggu. Mungkin karena dia yang paling ngotot tidak mau membeli.
Pikiran Lermo masih melayang kemana-mana saat Sarpo menyeretnya keluar rumah. Sepajang jalan dia menjaga jarak dari Sarpo. Bau minyaknya membuat dia mual.
"Mukamu gelap. Sepertinya kau menikmati malammu dengan baik," ejekan pertama sudah mampir di telinga Lermo sejak dia memasuki warung Pak Ojang.
Dia hanya acuh, tidak peduli dengan ejekan mereka. Duduk menyingkir dari yang lain. Dia sudah biasa dengan hal ini dan enggan untuk membalas.
"Lermo, apa mereka menggangumu lagi? Belakangan ini mereka merajalela. Kamu harus hati-hati."
Peringatan Pak Ojan hanya di balas dengan anggukan. Pikirannya masih terfokus pada pintu rumahnya yang rusak. Dia ingin bergegas pulang daripada duduk di warung mendengarkan rumpian orang-orang ini yang lebih ganas daripada gosip ibu-ibu.
"Hey... apa kalian tahu, Mbah Su mendapatkan barang baru!" Paimo mulai obrolan lagi.
"Benarkah, apa lagi itu?" beberapa orang mulai penasaran, mereka bahkan mulai menggeser tempat duduknya di samping Paimo.
Melihat antusias warga, Paimo semakin bersemangat.
"Ini adalah sebuah keris. Mbah Su sudah mengalahkan jin di hutan larangan untuk mendapatkannya."
Alis Lermo terangkat satu karena ucapannya. Dia hanya melirik mereka dan kembali acuh. Soal "kesaktian" Mbah Su ini, Lermo sudah merasakannya.
Beberapa waktu yang lalu, Lermo sakit perut. Dia datang ke tempat Mbah Su untuk meminta obat. Akhirnya Mbah Su memberinya sebotol air, katanya itu sangat manjur. Sekali minum semua penyakit hilang, tanpa efek samping. Tidak sepertu obat warung.
Semua uang penjualan hasil kebun dia gunakan untuk membayarnya. Sesampai di rumah dia langsung meminumnya tanpa ragu, meski rasanya sedikit aneh dan baunya wangi. Dia tidak peduli, dia hanya ingin sembuh.
Hasilnya, semalaman dia tidak bisa tidur dan muntah terus, perutnya sakit bukan main. Dia jelas jalan keluar mencari pertolongan. Beruntung Pak Ojan yang sedang ronda menemukan dan membawanya ke rumah sakit di kota.
Pengalaman ini membuat Lermo tahu bagaimana "kesaktian" Mbah Su yang sebenarnya.
"Tidak di sangka Mbah Su benar-benar kuat! Bahkan jin pun dikalahkan. Tidak heran dia selalu mendapatkan barang bagus," timpal yang lain.
"Tentu saja, Mbah Su rajin bersemedi dan menempa kesaktian di sana. Jika itu kita, mungkin kita sudah mati sebelum mengalahkan jin-jin itu," kata Paimo penuh keyakinan.
Lermo tidak yakin dengan ucapannya, kapan Mbah Su pergi semedi? Kadang, dia sering melihat Mbah Su nongkrong di warung tiap malam. Bahkan pergi begitu saja tanpa membayar kopinya. Kata Pak Ojang, Mbah Su sudah berbaik hati memasang penangkal di warungnya supaya bebas gangguan dari makhuk-makhuk itu. Itu sebabnya Pak Ojang tidak menarik uang kopi Mbah Su, meski kadang dia mendesah pelan.
Sering pula, Lermo melihat Mbah Su di pos ronda dengan beberapa warga.
"Semedi cara apa yang digunakan Mbah Su hingga mendapatkan keris itu, hingga dia masih punya banyak waktu nongkrong dengan yang lain?" Lermo hanya bisa penasaran.
Melirik Paimo yang bersemangat, Lermo jadi curiga kalau Paimo kaki tangan Mbah Su. Dia hanya menggeleng dan bangkit membayar kopinya.
"Kemana kau pegi?" Sarpo yang dari tadi diam akhirnya bertanya.
"Pulang," jawabnya acuh.
"Jangan bilang kau akan langsung ke rumah Mbah Su kali ini," tuduh Sarpo.
"Kang, apa kau lupa? Kau merusak pintuku. Jika aku tidak memperbaikinya sekarang, nanti malam aku akan di serbu angin dingin," Lermo berbalik dan pergi.
Melihat kepergian Lemo, Paimo mulai mengipasi warga lagi.
"Jika kalian tidak pergi sekarang, keris itu mungkin akan jadi milik Lermo."
Mendengar ucapan Paimo, warga yang semula tenang seolah diingatkan. Mereka bergegas bangkit dan menyusul Lermo tanpa menoleh ke belakang.
"Hey! orang-orang ini. Bu, catat mereka!" perintah Pak Ojang pada istrinya.
Segera Bu Ojang mencatat semua makanan yang mereka ambil. Karena terlalu seringnya mereka seperti itu. Pak Ojang jadi waspada dan memperhatikan setiap gerakan mereka mengambil makanan.
Lermo yang berjalan, langkahnya kini terhenti. Di depannya berdiri sesosok lelaki separuh baya
Berdir tegak sambil mengelus jenggotnya. Tentu saja sosok itu adalah Mbah Su dan di belakangnya beberapa warga berhasil mengejarnya.
Sepertinya, mereka tidak akan membiarkan Lermo tenang kali ini...
Minggu, 23 Oktober 2016
dua rembulan
setidaknya itu menurutku, tanpa sadar aku membandingkannya dengan bebrapa pemuda yang kulihat berseliweran di sekitar tempat kerjaku. Dia tidak seperti Rudi yang berbadan bagus dan selalu membangggakannya. setiap saat yang dibicarakan hanya fitnes dan menjaga makanan. Kadng akau membayangkan kalau aku jadi pacarnya apa yang akan terjadi? Dia akan melarangkan makan ini dan itu. Sekarang saja dia banyak sekali komplaint kalau aku banyak ngemil makanan. Tidak jarang dia merebutnya dan membuangnya begitu saja, sebagai gantinnya dia memberiku jus buah.
Padahal aku benci buah. tapi apa boleh buat, saat dia tidak ada aku mmeberikannya pada orang lain. beda juga dengan Rian yang cueknya minta ampun, dia tidak peduli makanan apa yang dia santap saat itu. begitu pula dengan makanan orang-orang di sekitarnya. bahkan dia juga tidak peduli jika mulutnya belepotan karena makanan, dia akan memberishkannya dengan begitu saja. setiap hari yang dibicarakan hanya tempat-tempat yang asyik buat nongkrong.
Saat bersamanya harus sedia tisyu yang banyak karena pasti makanannnya akan menyembur kemanapun saat dia bicara dengan semangat. ingin rasanya aku membungkammnya dengan masker saat itu. tapi setidaknya dia teman yang asyik untuk bercanda tapi tidak untuk curhat karena dia kadang suka keceplosan.
Tapi bagaimana dengan pemuda itu? Apa dia seperti Rudi atau Rian? atau dia tipe yang berbeda dengan keduanya? Atau malah campuran?
Entah sejak kapan aku mulai suka memerhatikannya, awalnya aku tidak begitu tertarik dengannya, bahkan saat jam makan siang pun aku tidak memerhatikannya. tapi belakangan ini dia menrik perhatianku tanpa kusadari.
Pemuda itu selalu duduk dan datang di waktu yang sama setiap harinya. Seolah tempat itu sudah menjadi hak patennya. Entah siapa yang di tunggunya tapi aku tidak pernah melihatnya membawa teman, entah itu lelaki atau pun perempuan.
"Dih, May kumat. senang banget ngeliahatin cowok itu,"
Suara Mbak Eneng membuatku mengalihkan perhatian.
"Kira-kira sifatnya seperti apa ya, Mbak?" pertanyaaan itu terlintas begitu saja. Mbak Eneng hanya angkat bahu saja.
"Kurasa dia bukan pegawai di sini, aku tak pernah melihatnya seliweran di sekitar sini,"
"benarkah? Mbak merasa aneh nggak dengannya?"
"Aneh?"
"Ya ... dia selalu duduk di sana. dan seperti ada yang di tunggu, tapi akau tidak melihat ada orang yang menghampirinya kecuali mereka yang berebut kursi atau cuma abg iseng saja,"
"Entahlah, kuras wajar saja jika setiap ada orang yang datang ke tempat ini untuk makan dan ketagiah di sini,"
"Tapi kalau ketagihan dengan apanya ya? Tempat ini ramai, sangat tidak asyik kalua buat menyepi, kalau soal makanan di sini rata-rata rasanya, " pikiranku masih berkelana mencari jawaban yang pas untuk semua pertanyaan yang menggajal di pikiranku.
Aku jarang melihatnya memilih makanan yang khusus, bahkan dia sering mengabaikan jika ada pegawai yang menawarkan menu makannya ke mejanya. Kadnag dia hanya memesan segelas minuman saja, apa dia seperti Rudi yang selalu menjaga makanannya, ah ribet juga.
"Udah May, jangan merhatiin dia terus, jam makan siang hampir habis. Kamu ndak makan? Diet?" pertanyyan Mbak Eneng menyadarkan aku.
Sial, aku lupa belum makan dari pagi. bergeges aku bangkit dan berjalan cepat ke outlet sebelah.
"Rik, buruan teh oolongnya." pintaku saat kulihat Arik masih sibuk di sana.
"Buat sendiri ngapaw, nggak tahu ada orang lagi sibuk apa?" Arik cemberut, sepertinya dia kewalahan melayani pembeli. Tidak terlihat Mira di sana, biasanya dia selalu berdua dengan Mira.
"Mira mana?"
"Lagi sakit dia,"
"Oooo... jangan-jangan dia hamil," tebakku semamunya.
"Mulutmu itu perlu di lakban," bantahnya.
"Lha aku kan cuma ngomong doang, kenapa lo sewot, pelakunya ya?"
"Dasar lo, May...mulutmu!" Arik menyondongkan mukanya, reflek aku mundur ke belakang.
beberapa abg cekikikan melihat kami bertengkar, aku seolah baru tersadar sesuatu. Tanpa sadar pdanganku bertabrakan dengan pemuda itu. wajahnya masih tetap saja datar seperti biasanya. Padahal banyak sekali gadis-gadis di sekitarnya yang mencari perhatian. Apa dia itu patung? kenapa dia tidak terpengaruh dengan sekitarnya?
wah celaka gara-gara asyik dengan Arik sampai lupa jam makan siang sudah habis.
"Aku balik dulu ya... jamku dah habis," pamitku.
"Eh, tehmu May!" Arik menyodorkan teh pesanku, Aku merogoh sakuku.
"Nggak usah, upah kamu bantu aku kali ini,"
"Idih, sok jadi bos. Makasih ya..." kupercepat langkahku kembali ke tempat kerjaku, tapi sepatuku terasa licin, akhirnya kuputuskan melepaskannnya . Beberapa pasang mata melihatku aneh. tentu saja, ini pasti bukanlah pemandangan yang enak untuk di lihat, tapi apa boleh buat, aku di kejar waktu sekarang dan sepatu ini menghambat lariku.
Akhirnya samapai juga di tempoat kerja meski dengan sedikit peluh yang membansahi dahi. Tidak terlihat sosok Bu Nani di situ. berrati dia belum balik dari makan siangnya.
"Selamat!" teriakku tanpa sadar.
"May!" teriakan di belakangku embuatku terlonjak, reflek aku mebalikkan badan. Bu Nani sudah berdiri di sana dengan muka garangnya. Matanya tertuju pada sepasang sepatu yang ku jinjing di tangan kiriki dan botol minuman di tangan kananku. Seketika itu juga aku merasa keberuntunganku menghilang.
"Ikut keruanganku sekarang!"
kali ini akui hanya bisa mengikutinya dengan lunglai, sepertinya aku harus siap dengan semburan kata-katanya. Mab Eneng hanya menggeleng saja melihatku kali ini. Sementara Ajeng dan Kasih tersenyum miring.
Keluar dari ruangan Bu Ani, aku cuma bisa manyun. lengkap dengan bawaanku.
"Kenapa sepatunya di jinijing begitu?" Mbak Eneng masih penasaran melihatku tidak juga segera memakai sepatuku.
"Licin, Mbak. dari tadi berasa mau jatuh terus,"
"Biasa pakai sepatu bola di kasih highhils, mana bisa?" celoteh Andung.
"Iya kali ya, padahal sepatunya bagus. Kelihatan kayak sepatu mahal," ucapku lirih sambil memerhatikan sepatu itu.
"Nyolong di mana sepatunya? Jangan-jangan di outlet sebelah," ucap Andum lagi.
"Ngawur, tahu ini dari mana. Mun gkin dariibu peri kali ya... tiba-tiba saja sepatku hilang saat aku bangu tadi dan sepatu ini ada di rak sepatuku. Jadi ya udah kusambar saja. Eee.... malah bikin masalah ternyata," ucapku sambil memakai sepatu itu dengan paksa. Masalah sepatu membuatku lupa dengan lapar dan juga pemuda tadi.
"Selamat datang!" ucapku sambil berdiri saat pintu terbuka. Badanku menjadi kaku seketika saat sesosok tubuh melangkah mnasuk ke tempat itu.
"Ah, Pak Zain. Mari silahkan masuk!" Bu Ani muncul dari ruangannya. Senyumnya mengambang sempurna sangat berbeda dengan saat dia menegurku tadi.
Mataku masih mengikuti dengan sempurna semua gerak lelaki yang dengan tenang melintas di depanku.
"Jadi dia orangnya?" bisik Mbak Aneng.
"Siapa?"
'Kudengar akan ada orang pusat datang, dia orangnya,"
"Eh, tapi bukankah selama ini dia sudah ada di sini, jadi selama ini dia mengawasi kita?" aku jadi terkekh sendiri. Aku sering mengawasinya dan dia ternyata juga mengawasi tempat ini. Ah celaka, berarti selama ini dia tahu kalau aku diam-diam mengawasinya. Tidak...
'May, Bu Anik memanggilmu!"
Ah, tidak! Celaka, pasti Pak Zein tahu kalau aku memerhatikannya. ah sepertinya ini hari kesialanku.
Bu Anik pasti akan memakiku habis-habisan. ah.... aku celaka kali ini

