Sebenarnya tidak ada yang menarik dengan pemuda itu. Penampilannya sama seperti pemuda pada umumnya, kulitnya bersih meski bukan orang keturunan, hidungnya juga rata-rata tidak begitu mancung. Badannya tidaklah proposional tapi kurasa Tuhan mencipatakan makhuk yang sangat sempurna kali ini.
setidaknya itu menurutku, tanpa sadar aku membandingkannya dengan bebrapa pemuda yang kulihat berseliweran di sekitar tempat kerjaku. Dia tidak seperti Rudi yang berbadan bagus dan selalu membangggakannya. setiap saat yang dibicarakan hanya fitnes dan menjaga makanan. Kadng akau membayangkan kalau aku jadi pacarnya apa yang akan terjadi? Dia akan melarangkan makan ini dan itu. Sekarang saja dia banyak sekali komplaint kalau aku banyak ngemil makanan. Tidak jarang dia merebutnya dan membuangnya begitu saja, sebagai gantinnya dia memberiku jus buah.
Padahal aku benci buah. tapi apa boleh buat, saat dia tidak ada aku mmeberikannya pada orang lain. beda juga dengan Rian yang cueknya minta ampun, dia tidak peduli makanan apa yang dia santap saat itu. begitu pula dengan makanan orang-orang di sekitarnya. bahkan dia juga tidak peduli jika mulutnya belepotan karena makanan, dia akan memberishkannya dengan begitu saja. setiap hari yang dibicarakan hanya tempat-tempat yang asyik buat nongkrong.
Saat bersamanya harus sedia tisyu yang banyak karena pasti makanannnya akan menyembur kemanapun saat dia bicara dengan semangat. ingin rasanya aku membungkammnya dengan masker saat itu. tapi setidaknya dia teman yang asyik untuk bercanda tapi tidak untuk curhat karena dia kadang suka keceplosan.
Tapi bagaimana dengan pemuda itu? Apa dia seperti Rudi atau Rian? atau dia tipe yang berbeda dengan keduanya? Atau malah campuran?
Entah sejak kapan aku mulai suka memerhatikannya, awalnya aku tidak begitu tertarik dengannya, bahkan saat jam makan siang pun aku tidak memerhatikannya. tapi belakangan ini dia menrik perhatianku tanpa kusadari.
Pemuda itu selalu duduk dan datang di waktu yang sama setiap harinya. Seolah tempat itu sudah menjadi hak patennya. Entah siapa yang di tunggunya tapi aku tidak pernah melihatnya membawa teman, entah itu lelaki atau pun perempuan.
"Dih, May kumat. senang banget ngeliahatin cowok itu,"
Suara Mbak Eneng membuatku mengalihkan perhatian.
"Kira-kira sifatnya seperti apa ya, Mbak?" pertanyaaan itu terlintas begitu saja. Mbak Eneng hanya angkat bahu saja.
"Kurasa dia bukan pegawai di sini, aku tak pernah melihatnya seliweran di sekitar sini,"
"benarkah? Mbak merasa aneh nggak dengannya?"
"Aneh?"
"Ya ... dia selalu duduk di sana. dan seperti ada yang di tunggu, tapi akau tidak melihat ada orang yang menghampirinya kecuali mereka yang berebut kursi atau cuma abg iseng saja,"
"Entahlah, kuras wajar saja jika setiap ada orang yang datang ke tempat ini untuk makan dan ketagiah di sini,"
"Tapi kalau ketagihan dengan apanya ya? Tempat ini ramai, sangat tidak asyik kalua buat menyepi, kalau soal makanan di sini rata-rata rasanya, " pikiranku masih berkelana mencari jawaban yang pas untuk semua pertanyaan yang menggajal di pikiranku.
Aku jarang melihatnya memilih makanan yang khusus, bahkan dia sering mengabaikan jika ada pegawai yang menawarkan menu makannya ke mejanya. Kadnag dia hanya memesan segelas minuman saja, apa dia seperti Rudi yang selalu menjaga makanannya, ah ribet juga.
"Udah May, jangan merhatiin dia terus, jam makan siang hampir habis. Kamu ndak makan? Diet?" pertanyyan Mbak Eneng menyadarkan aku.
Sial, aku lupa belum makan dari pagi. bergeges aku bangkit dan berjalan cepat ke outlet sebelah.
"Rik, buruan teh oolongnya." pintaku saat kulihat Arik masih sibuk di sana.
"Buat sendiri ngapaw, nggak tahu ada orang lagi sibuk apa?" Arik cemberut, sepertinya dia kewalahan melayani pembeli. Tidak terlihat Mira di sana, biasanya dia selalu berdua dengan Mira.
"Mira mana?"
"Lagi sakit dia,"
"Oooo... jangan-jangan dia hamil," tebakku semamunya.
"Mulutmu itu perlu di lakban," bantahnya.
"Lha aku kan cuma ngomong doang, kenapa lo sewot, pelakunya ya?"
"Dasar lo, May...mulutmu!" Arik menyondongkan mukanya, reflek aku mundur ke belakang.
beberapa abg cekikikan melihat kami bertengkar, aku seolah baru tersadar sesuatu. Tanpa sadar pdanganku bertabrakan dengan pemuda itu. wajahnya masih tetap saja datar seperti biasanya. Padahal banyak sekali gadis-gadis di sekitarnya yang mencari perhatian. Apa dia itu patung? kenapa dia tidak terpengaruh dengan sekitarnya?
wah celaka gara-gara asyik dengan Arik sampai lupa jam makan siang sudah habis.
"Aku balik dulu ya... jamku dah habis," pamitku.
"Eh, tehmu May!" Arik menyodorkan teh pesanku, Aku merogoh sakuku.
"Nggak usah, upah kamu bantu aku kali ini,"
"Idih, sok jadi bos. Makasih ya..." kupercepat langkahku kembali ke tempat kerjaku, tapi sepatuku terasa licin, akhirnya kuputuskan melepaskannnya . Beberapa pasang mata melihatku aneh. tentu saja, ini pasti bukanlah pemandangan yang enak untuk di lihat, tapi apa boleh buat, aku di kejar waktu sekarang dan sepatu ini menghambat lariku.
Akhirnya samapai juga di tempoat kerja meski dengan sedikit peluh yang membansahi dahi. Tidak terlihat sosok Bu Nani di situ. berrati dia belum balik dari makan siangnya.
"Selamat!" teriakku tanpa sadar.
"May!" teriakan di belakangku embuatku terlonjak, reflek aku mebalikkan badan. Bu Nani sudah berdiri di sana dengan muka garangnya. Matanya tertuju pada sepasang sepatu yang ku jinjing di tangan kiriki dan botol minuman di tangan kananku. Seketika itu juga aku merasa keberuntunganku menghilang.
"Ikut keruanganku sekarang!"
kali ini akui hanya bisa mengikutinya dengan lunglai, sepertinya aku harus siap dengan semburan kata-katanya. Mab Eneng hanya menggeleng saja melihatku kali ini. Sementara Ajeng dan Kasih tersenyum miring.
Keluar dari ruangan Bu Ani, aku cuma bisa manyun. lengkap dengan bawaanku.
"Kenapa sepatunya di jinijing begitu?" Mbak Eneng masih penasaran melihatku tidak juga segera memakai sepatuku.
"Licin, Mbak. dari tadi berasa mau jatuh terus,"
"Biasa pakai sepatu bola di kasih highhils, mana bisa?" celoteh Andung.
"Iya kali ya, padahal sepatunya bagus. Kelihatan kayak sepatu mahal," ucapku lirih sambil memerhatikan sepatu itu.
"Nyolong di mana sepatunya? Jangan-jangan di outlet sebelah," ucap Andum lagi.
"Ngawur, tahu ini dari mana. Mun gkin dariibu peri kali ya... tiba-tiba saja sepatku hilang saat aku bangu tadi dan sepatu ini ada di rak sepatuku. Jadi ya udah kusambar saja. Eee.... malah bikin masalah ternyata," ucapku sambil memakai sepatu itu dengan paksa. Masalah sepatu membuatku lupa dengan lapar dan juga pemuda tadi.
"Selamat datang!" ucapku sambil berdiri saat pintu terbuka. Badanku menjadi kaku seketika saat sesosok tubuh melangkah mnasuk ke tempat itu.
"Ah, Pak Zain. Mari silahkan masuk!" Bu Ani muncul dari ruangannya. Senyumnya mengambang sempurna sangat berbeda dengan saat dia menegurku tadi.
Mataku masih mengikuti dengan sempurna semua gerak lelaki yang dengan tenang melintas di depanku.
"Jadi dia orangnya?" bisik Mbak Aneng.
"Siapa?"
'Kudengar akan ada orang pusat datang, dia orangnya,"
"Eh, tapi bukankah selama ini dia sudah ada di sini, jadi selama ini dia mengawasi kita?" aku jadi terkekh sendiri. Aku sering mengawasinya dan dia ternyata juga mengawasi tempat ini. Ah celaka, berarti selama ini dia tahu kalau aku diam-diam mengawasinya. Tidak...
'May, Bu Anik memanggilmu!"
Ah, tidak! Celaka, pasti Pak Zein tahu kalau aku memerhatikannya. ah sepertinya ini hari kesialanku.
Bu Anik pasti akan memakiku habis-habisan. ah.... aku celaka kali ini
Kesedihan terindah adalah saat kau berhasil melewatinya dengan baik. Kemenangan terbesar adalah saat kau bisa menaklukkan dirimu sendiri tanpa hilang kewarasan. Saat kau kembali terseret ke masa lalu maka ingatlah bahwa masa lalu akan tetap hidup meski kau ingin membuangnya. Biarkan saja dia lewat dan menggodamu sementara waktu, taklukkan dengan cara yang benar. Kelak kau akan menjadi kuat karena rasa sakit tak akan bisa mengalahkanmu lagi.
Minggu, 23 Oktober 2016
Kamis, 28 Januari 2016
Senin, 25 Januari 2016
Langganan:
Postingan (Atom)
