
Aku rindu kamu, Dee. Kembali senjamu muram, bergelayut bisu dalam bingkai waktu. Kau tahu, Dee? Mereka mencarimu. Menelisik setiap inci sudut kehampaan yang kini menjelma menjadi raja dalam hati kita. Aku masih menunggumu dalam keremangan harapan ini.
Cukup bila hanya kata yang kini terhapus dalam jejek hati. Ruasnya kini serupa jelaga. Apa yang bisa dillukis lagi sekarang bila kanvasnya terkoyak. Rentetan kenangan yang membucah tak lagi mampu menutupi risau yang semakin menghangat. Padamu kusemat asa yang tersisa.
Dee, bila masa terhenti, berpalinglah sejenak. Tengoklah jejak luka yang kau buat dalam perjalananmu. Adakah
kau taburi maaf sebagai pelipur laranya? Ah, kurejam kembali sisa hati yang membiru karena rindu. Kembalilah, sebelum waktu memutuskan segala rindu dan merubahnya menjadi batu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar