
"Dy, kita abaikan saja dia. Sepertinya keputusan benar meninggalkannya dulu."
"Sepertinya iya, Tab. Aku ndak suka dengan orang yang berbelit-belit seperti itu. Kayak apa saja?"
"Emang tujuan kaian apa?"
"Lha itu, aku ndak ngerti. Sudahlah biarkan saja. Ada yang lebih penting daripada ngurusi hal yang ndak penting kayak gitu."
"Mending, bikin cerpen saja, belajar sama Kak Shof. Itu lebih bermanfaat daripada ngurusin akun ndak jelas kayak gitu."
"Lha dia yang muncul sendiri kok, aku ndak mancing."
"Wis, biarkan saja dia ngoceh... ndak usah ditanggepin. Ntar juga ngaku sendiri kalau kamu abaikan."
Masa lalu yang aku lupakan, berarti memang dia tak pantas diingat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar