Rabu, 28 Oktober 2015

Sebungkus Permen

Pagi ini ibu menyuruhku ke pasar membeli beberapa bahan makanan. jarak dari rumah ke pasar tidak begitu jauh, jadi aku  bisa jalan kaki atau naik sepeda ke pasar. Pagi ini kuputusan untuk berjalan kaki ke pasar, kebetulan hari sedikit mendung jadi aku tak perlu takut kepanasan.

"Arman, cepat pulang ya! Jangan langsung main!" pesan ibu saat aku pamit tadi.

"Iya, Bu!" Aku mengangguk dan kembali melangkah ke pasar.

Di pasar, aku sudah punya beberpa langganan penjual sayur, jadi tidak perlu keliling pasar berlama-lama aku sudah menemukan yang aku cari. Kuputuskan untuk segera pulang, tapi langkahku terhenti. Kulihat Irwan sedang membawa belanjaan banyak sekali, tubuh kecilnya seolah tak merasa berat dengan beban seperti itu. Irwan teman sekelasku. Ayahnya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu karena sakit jadi dia yang membantu ibunya mencari nafkah.

"Irwan!"

"Hai, Man! Kamu lagi belanja ya?"

"Ibu menyuruhku membeli sayur, aku sudah selesai belanja kok."

"Cepatlah pulang, nanti ibumu mencari." sahut Irwan, dia melap wajahnya yang basah terkena keringat.

"Boleh aku membantu?"

"Tidak perlu, terimakasih. Aku sudah terbiasa. badanmu akan sakit nanti."

"Tidak apa. Boleh aku mencobanya?"

Irwan mengangguk, aku senang melihatnya.

"Bawa ini ke warung pojok sana ya. Sisanya aku yang bawa."

Tidak ada salahnya aku mencobanya. Irwan memberiku beban yang sedikit dari yang dia bawa tadi. Aku merasa keberatan dengan beban itu. Tapi akhirnya aku sampai juga ke warung yang di maksudkan Irwan. Ibu itu memberiku sedikit uang sebagai tanda terima kasih. Aku tersenyum menerimanya, meski tidak seberapa tapi pasti uang itu sangat berharga untuk Irwan.

"Irwan, aku dapat uang!"

"Baguslah, kau senang?"

"Tentu, ini ...." Aku memberikan uang itu untuknya. Kurasa itu adalah haknya. Aku tak boleh mengambilnya. Aku hanya mencoba pekerjaan berat yang di lakukannya.

"Sudah simpan saja."

Aku hanya menggeleng dan memberikan uang itu pada Irwan.

"Ini hakmu. Aku cuma mau mencoba tadi. Kau hebat bisa membawa beban seperti itu. Aku pulang dulu, ya." aku berlalu meninggalkan Irwan.

"Arman!" Irwan melemparkan sebungkus permen padaku. Aku melambai padanya dan berlari pulang. Pengalamanku hari ini lebih berharga dari upah yang aku terima. Sebungkus permen dari Irwan membuatku tersenyum, aku tidak sabar bercerita pada ibu hari ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar