Tik ... Tok ...Waktu berlalu begitu saja, seperti kemarin. Hari ini pun waktu masih berdetak dan kita melewatinya dalam diam. Kamu di seberang sana dengan setumpuk kesibukan yang mengalihkan pandanganmu dariku. Di sini aku masih melirikmu, berharap kali ini kau kan berpaling padaku tapi sepertinya aku salah. Kamu masih asyik dengan laptop menyala dan secangkir kopi yang menemanimu sore ini.
"Apa kau tak lelah melihatku terus?" Suara itu menyadarkanku.
Ah, ternyata dia sadar aku memerhatikannya dari tadi. Ingin rasanya kulemparkan tumpukan buku yang ada di hadapanku saat ini padanya. Dia selalu berhasil membuatku mati kutu.
"Kalau kau tahu, kenapa sedari tadi diam?"
"Pergilah keluar kalau kau bosan,"
"Kurasa itu bukan jawaban yang aku inginkan."
Kembali dia diam, membenamkan diri dalam dengan setumpuk pekerjaannya. Ah, rasanya bosan juga menunggunya seperti ini. Kuraih tasku dan beranjak pergi.
"Bersenang-senanglah."
"Tentu, kurasa udara di luar sana lebih segar daripada di sini. Jangan menungguku, malam ini mungkin aku tak akan pulang."
Sudah sekian lama aku bersamanya dan baru kali ini aku merasakan kebosanan yang teramat sangat. Biasanya jika sore tiba kami akan menghabiskan sore dengan jalan-jalan di sekitar alun-alun atau menikmati sore yang indah di teras rumah.
Tapi sejak mendapatkan proyek baru Hanung sepertinya melupakan aku. Hari-harinya habis tersita di luar rumah dan juga di depan komputernya.
Senja ini terasa beda, keramaian taman kota tak bisa mengalihkan kesunyian yang aku rasakan. Aku merindukan Hanung yang dulu, meskipun dia jarang bicara tapi hatinya hangat. Kini aku merasakan hatinya begitu dingin.
Aku merogoh sakuku dan berganti memeriksa tasku. Beberapa kali aku mencoba memastikan dan ternyata benar Dompet dan ponselku ketinggalan. Ah, aku selalu ceroboh... bagaimana mungkin aku meninggalkan rumah tampa dompet. Aku mengecek tasku kembali, berharap masih ada lembaran uang yang tersisa di sana.
"Kau mencari ini?"
Sebuah dompet hitam terulur di depanku. aku hapal suara itu. Aku menerimanya tanpa menoleh ke arahnya.
"Terimakasih."
Dia mengacak rambutku pelan.
"Ah, kalau seperti ini, mana bisa aku meninggalkanmu sendirian."
"Jangan meledekku, aku terburu-buru tadi." Aku memasukkan dompetku ke dalam tas.
"Sudah hampir gelap, kita pulang sekarang."
"Pulanglah, kurasa proyekmu sudah menunggu untuk di selesaikan."
"Tapi aku ingin pulang dengan istriku yang selalu berisik saat aku kerja, merasakan masakannya yang selalu berantakan rasanya."
"Kalau begitu kau cari saja istri yang tenang dan pandai memasak."
"Maunya sich begitu. Tapi aku sudah terbiasa dengannya, jika sehari tidak melihatnya, aku seperti kehilangan sesuatu. Dia selalu membuatku cemas dan hangat."
Ah, ada yang terasa hangat saat ini, aku bahkan tak bisa membantah ucapnnya saat ini. Mungkin aku yang harus lebih banyak mengenalnya lagi dan lagi, seperti dia yang berusaha menerima kekuranganku.
Dia meraih tanganku dan tersenyum hangat.
"Kita pulang."
Aku mengikuti langkahnya, kadang kala memang pertengkaran kecil bisa membuat kita memahami sesuatu dan mengenal sosok yang beda dengan, segala kelebihan dan kekurangannya. Senja ini memang beda, hatiku terasa hangat sekarang.




























