Sabtu, 31 Oktober 2015

Cinta itu

Tik ... Tok ...

Waktu berlalu begitu saja, seperti kemarin. Hari ini pun waktu masih berdetak dan kita melewatinya dalam diam. Kamu di seberang sana dengan setumpuk kesibukan yang mengalihkan pandanganmu dariku. Di sini aku masih melirikmu, berharap kali ini kau kan berpaling padaku tapi sepertinya aku salah. Kamu masih asyik dengan laptop menyala dan secangkir kopi yang menemanimu sore ini.

"Apa kau tak lelah melihatku terus?" Suara itu menyadarkanku.

 Ah, ternyata dia sadar aku memerhatikannya dari tadi. Ingin rasanya kulemparkan tumpukan buku yang ada di hadapanku saat ini padanya. Dia selalu berhasil membuatku mati kutu.

"Kalau kau tahu, kenapa sedari tadi diam?"

"Pergilah keluar kalau kau bosan,"

"Kurasa itu bukan jawaban yang aku inginkan."

Kembali dia diam, membenamkan diri dalam dengan setumpuk pekerjaannya. Ah, rasanya bosan juga menunggunya seperti ini. Kuraih tasku dan beranjak pergi.

"Bersenang-senanglah."

"Tentu, kurasa udara di luar sana lebih segar daripada di sini. Jangan menungguku, malam ini mungkin aku tak akan pulang."

Sudah sekian lama aku bersamanya dan baru kali ini aku merasakan kebosanan yang teramat sangat. Biasanya jika sore tiba kami akan menghabiskan sore dengan jalan-jalan di sekitar alun-alun atau menikmati sore yang indah di teras rumah.

Tapi sejak mendapatkan proyek baru Hanung sepertinya melupakan aku. Hari-harinya habis tersita di luar rumah dan juga di depan komputernya.

Senja ini terasa beda, keramaian taman kota tak bisa mengalihkan kesunyian yang aku rasakan. Aku merindukan Hanung yang dulu, meskipun dia jarang bicara tapi hatinya hangat. Kini aku merasakan hatinya begitu dingin.

Aku merogoh sakuku dan berganti memeriksa tasku. Beberapa kali aku mencoba memastikan dan ternyata benar Dompet dan ponselku ketinggalan. Ah, aku selalu ceroboh... bagaimana mungkin aku meninggalkan rumah tampa dompet. Aku mengecek tasku kembali, berharap masih ada lembaran uang yang tersisa di sana.

"Kau mencari ini?"

Sebuah dompet hitam terulur di depanku. aku hapal suara itu. Aku menerimanya tanpa menoleh ke arahnya.

"Terimakasih."

Dia mengacak rambutku pelan.

"Ah, kalau seperti ini, mana bisa aku meninggalkanmu sendirian."

"Jangan meledekku, aku terburu-buru tadi." Aku memasukkan dompetku ke dalam tas.

"Sudah hampir gelap, kita pulang sekarang."

"Pulanglah, kurasa proyekmu sudah menunggu untuk di selesaikan."

"Tapi aku ingin pulang dengan istriku yang selalu berisik saat aku kerja, merasakan masakannya yang selalu berantakan rasanya."

"Kalau begitu kau cari saja istri yang tenang dan pandai memasak."

"Maunya sich begitu. Tapi aku sudah terbiasa dengannya, jika sehari tidak melihatnya, aku seperti kehilangan sesuatu. Dia selalu membuatku cemas dan hangat."

Ah, ada yang terasa hangat saat ini, aku bahkan tak bisa membantah ucapnnya saat ini. Mungkin aku yang harus lebih banyak mengenalnya lagi dan lagi, seperti dia yang berusaha menerima kekuranganku.

Dia meraih tanganku dan tersenyum hangat.

"Kita pulang."

Aku mengikuti langkahnya, kadang kala memang pertengkaran kecil bisa membuat kita memahami sesuatu dan mengenal sosok yang beda dengan, segala kelebihan dan kekurangannya. Senja ini memang beda, hatiku terasa hangat sekarang.

Dua Rembulan

Suasana pesta ini sungguh membuatku ingin segera pergi dari tempat ini secepatnya, bukan karena membosankan tapi aku merasa tak selayaknya ada di sini.

Senyum mengembang di sudut bibir lelaki yang kini berstatus tunanganku. Rengkuhan tangannya yang sedari tadi berada di pinggang membatku ingin berlalu saja.

"Santai saja, Rum. Jangan tegang seperti itu, mereka bukan monster."

Untuk sejenak aku bisa tersenyum mendengar gurauannya. Ini gila, aku melirik jam tanganku. Sudah hampir jam 21.00 dan teleponku belum juga berdering.

"Ada yang kau tunggu? Sedari tadi aku melihatmu melihat arlojimu terus. Sepertinya aku harus menyingkirkan arlojimu  agar kau hanya melihatku malam ini."

"Kau tak akan bisa mengehentikan waktu yang berputar meski kau hancurkan seluruh jam yang ada di dunia ini."

"Begitukah? Bagaimana kalau aku bilang, aku bisa membuat keajaiban?"

"Setiap orang bisa membuat keajaiban dengan caranya sendiri. Tapi sayangnya aku tak menyukai keajaiban semu."

"Ayolah, nikmati saja malam ini, harusnya senyummu mengembang." Pemuda itu menatapku serius. Genggaman tangannya terasa beda malam ini.

"Akan kucoba, pergilah menyapa teman-temanmu. Aku ke belakang sebentar."

"Jangan mencoba lari dariku."

Aku segera berlalu dari hadapannya. Mencari tempat tenang untuk sejenak menenangkan diri. Ini hal tergila yang aku lakukan dari sekedar kencan buta yang pernah aku jalani bersamanya.

Kring ....Kring...

Akhirnya yang kutunggu datang juga....

"Dimana?"

"...."

"Aku ke sana."

Kupercepat langkah menuju tempat yang dimaksud. Beberapa kali aku menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti malam ini apalagi Yoga.

Malam ini entah mengapa perasaanku resah, tidak seperti biasanya. Biasanya setiap berhadapan dengan Yoga aku  bisa tenang, tapi tidak malam ini. Ada sesuatu yang di sembunyikan lelaki itu dan itu sangat menggangu pikiranku.

"Kau terlambat!"

Gadis itu hanya tersenyum dengan tenangnya. Dia seakan tak terpengaruh dengan ketegangan yang aku rasakan.

"Tenang saja, tak perlu panik seperti itu. Terimakasih sudah membantuku lagi malam ini."

"Tenang katamu? Gila! Ini gila. Untuk terakhir kalinya aku membantumu dan setelah ini, aku tak akan bertukar tempat lagi denganmu." Aku mengganti pakianku yang sudah kusiapkan.

"Itu berarti kau tak akan punya cukup uang untuk operasi adikmu."

"Aku akan cari jalan lain, aku tak saggup lagi bersandiwara seperti ini. Yoga tak seharusnya di permainkan seperti ini."

"Apa kau menyukai Yoga?"

Ucapannya membuatku terdiam sesaat. Suka? Entahlah, tapi aku merasa bersalah karena berada di sisinya. Tak seharusnya ini kulakukan.

"Pergilah, Yoga pasti mencarimu. Ini cincinmu. Setelah ini jangan mencariku lagi."

Sepertinya aku memang harus pergi dari kehidupan mereka. Semua harus dikembalikan ke keadaan semula. Yoga milik Arum, bukan milikku. Wajah kami memang serupa tapi bukan berarti semua harus serupa termasuk soal lelaki. Suatu hari nanti aku pasti akan menemukan lelakiku sendiri.

Kupercepat langkah menuju halte. Bus terakhir sebentar lagi akan melintas. Di halte masih ada beberapa karyawan yang juga menunggu bus. Beruntung malam ini tidak begitu berdesakan. Aku bisa mendapatkan tempat duduk. Kusandarkan kepala di jendela, pikiranku melayang entah kemana. Suara musik yang mengalun dari earphone sepertinya tak bisa meredam kegalauan yang aku rasakan saat ini.

Lamunanku buyar saat ada yang menarik earphoneku..

"Yoga?"

"Sudah kubilang jangan lari dariku!'

Oh ... tidak, sepertinya dugaanku salah, masalahku belum berakhir. Malam ini sepertinya awal masalah baru.

Pemuda itu duduk tenang di sampingku, entah sejak kapan aku tidak tahu.

Seribu alasan kini mulai memenuhi otakku, entah harus kukeluarkan yang mana. Sepertinya malam ini aku tak  tak akan bisa tidur dengan nyenyak lagi

#DUA_REMBULAN.

Jumat, 30 Oktober 2015

Lembaran Hitam

Seperti hari sebelumnya, dia akan berdiri di samping jendela dan menikmati senja yang tak berapa lagi akan berganti hamparan gelap.

"Bukankah senja ini selalu indah, Dy?'' Dia masih menengadah, seolah ada yang membuatnya tak bisa berpaling saat ini.

"Bagiku senja sama saja, hanya pergantian waktu."

"Kau selalu sinis, Dy."

Aku hanya tersenyum miring mendengar ucapannya.

"Aku hanya mencoba realistis."

"Itu karena kau tak punya kenangan tentang senja." Arin masih menengadah.

"Kalaupun punya, aku tak akan mengatannya padamu."

"Andai kau tahu, Dy. Senja membuatku hangat."

"Kalau ingin kehangatan, keluarlah. Jangan sembunyi di balik tirai kamarmu yang pengap ini. Di luar sana banyak kehangatan yang bisa kau dapatkan."

"Kurasa, mereka tak punya kehangatan yang aku cari."

"Dari mana kau tahu? Selama kau tak merentangkan tanganmu, tidak akan ada yang datang padamu. Pernah kau coba? Kurasa tidak. Kau lebih suka diam di sini dari pada keluar."

"Bagaimana denganmu, kau juga lebih suka berada di sisi gelap daripada keluar kan?"

"Setidaknya aku tidak mencari kehangatan dari sepotong senja yang menghadirkan luka." ucapku lirih.

"Beberapa hari yang lalu Damar ke sini. Dia bilang akan melamarku dan ternyata dia tak pernah kembali lagi, kenapa dia pergi begitu saja?" Dia mulai terisak.

"Jangan buang air matamu untuk sesuatu yang percuma, Za. Kurasa lelaki itu tak pantas untukmu."

"Apanya yang tak pantas, Dy? Apa standar kepantasan seseorang dalam berpasangan? Kau tahu, aku sudah menantikan ini lama sekali. Dia tidak pernah melihat padaku dan di saat dia memilihku, kenapa Tuhan memisahkan kami? Tak layakkah aku untuknya?"

"Dia yang tak layak untukmu!" bantahku dalam hati.

"Aku menginginkannya, Dy."

"Tapi aku sudah menyingkirkannnya!" teriakku dalam hati.

"Dia pemuda yang baik, Dy."

"Dia pembohong, penipu, suka mainin perempuan. Apa yang kau harapkan dari penipu seperti itu? Tidak ada yang lebih mengenal dia selain aku. kekasih yang dicampakkannya begitu saja saat dia punya mangsa yang baru." jelasku dalam hati.

"Aku merindukannya, Dy. Tiga bulan kita bersama dan aku mulai mencintainya." Zaza menatapku sendu.

"Dan aku sudah bersamanya bertahun-tahun. Dia baru mengenalmu, dan memilih berpaling daripada terus bersamaku." jelasku dalam hati.

"Dia orang yang menyenangkan, Dy."

"Tapi aku membencinya, Za. Sangat!" balasku dalam hati.

"Kenapa kau dari tadi diam saja, Dy?"

"Tidak, aku bicara denganmu. Sepertinya aku harus pergi. Ada hal yang harus aku lakukan." Aku berlalu dari hadapannya. Kurasa dia akan membenciku jika tahu aku yang menyingkirkan Arman dari kehidupannya.

"Dy, beritahu aku jika kau melihat Damar!" pintanya putus asa.

Suatu saat mungkin aku akan bicara dengannya, tapi tidak saat ini. Sekarang aku harus menyingkirkan tubuh Arman dulu sebelum bau busuk tercium banyak orang.

Rabu, 28 Oktober 2015

Sebungkus Permen

Pagi ini ibu menyuruhku ke pasar membeli beberapa bahan makanan. jarak dari rumah ke pasar tidak begitu jauh, jadi aku  bisa jalan kaki atau naik sepeda ke pasar. Pagi ini kuputusan untuk berjalan kaki ke pasar, kebetulan hari sedikit mendung jadi aku tak perlu takut kepanasan.

"Arman, cepat pulang ya! Jangan langsung main!" pesan ibu saat aku pamit tadi.

"Iya, Bu!" Aku mengangguk dan kembali melangkah ke pasar.

Di pasar, aku sudah punya beberpa langganan penjual sayur, jadi tidak perlu keliling pasar berlama-lama aku sudah menemukan yang aku cari. Kuputuskan untuk segera pulang, tapi langkahku terhenti. Kulihat Irwan sedang membawa belanjaan banyak sekali, tubuh kecilnya seolah tak merasa berat dengan beban seperti itu. Irwan teman sekelasku. Ayahnya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu karena sakit jadi dia yang membantu ibunya mencari nafkah.

"Irwan!"

"Hai, Man! Kamu lagi belanja ya?"

"Ibu menyuruhku membeli sayur, aku sudah selesai belanja kok."

"Cepatlah pulang, nanti ibumu mencari." sahut Irwan, dia melap wajahnya yang basah terkena keringat.

"Boleh aku membantu?"

"Tidak perlu, terimakasih. Aku sudah terbiasa. badanmu akan sakit nanti."

"Tidak apa. Boleh aku mencobanya?"

Irwan mengangguk, aku senang melihatnya.

"Bawa ini ke warung pojok sana ya. Sisanya aku yang bawa."

Tidak ada salahnya aku mencobanya. Irwan memberiku beban yang sedikit dari yang dia bawa tadi. Aku merasa keberatan dengan beban itu. Tapi akhirnya aku sampai juga ke warung yang di maksudkan Irwan. Ibu itu memberiku sedikit uang sebagai tanda terima kasih. Aku tersenyum menerimanya, meski tidak seberapa tapi pasti uang itu sangat berharga untuk Irwan.

"Irwan, aku dapat uang!"

"Baguslah, kau senang?"

"Tentu, ini ...." Aku memberikan uang itu untuknya. Kurasa itu adalah haknya. Aku tak boleh mengambilnya. Aku hanya mencoba pekerjaan berat yang di lakukannya.

"Sudah simpan saja."

Aku hanya menggeleng dan memberikan uang itu pada Irwan.

"Ini hakmu. Aku cuma mau mencoba tadi. Kau hebat bisa membawa beban seperti itu. Aku pulang dulu, ya." aku berlalu meninggalkan Irwan.

"Arman!" Irwan melemparkan sebungkus permen padaku. Aku melambai padanya dan berlari pulang. Pengalamanku hari ini lebih berharga dari upah yang aku terima. Sebungkus permen dari Irwan membuatku tersenyum, aku tidak sabar bercerita pada ibu hari ini.


Selasa, 27 Oktober 2015

Senja dan Dee



Aku rindu kamu, Dee. Kembali senjamu muram, bergelayut bisu dalam bingkai waktu. Kau tahu, Dee? Mereka mencarimu. Menelisik setiap inci sudut kehampaan yang kini menjelma menjadi raja dalam hati kita. Aku masih menunggumu dalam keremangan harapan ini.

Cukup bila hanya kata yang kini terhapus dalam jejek hati.  Ruasnya kini serupa jelaga. Apa yang bisa dillukis lagi sekarang bila kanvasnya terkoyak. Rentetan kenangan yang membucah tak lagi mampu menutupi risau yang semakin menghangat. Padamu kusemat asa yang tersisa.

Dee, bila masa terhenti, berpalinglah sejenak. Tengoklah jejak luka yang kau buat dalam perjalananmu. Adakah
kau taburi maaf sebagai pelipur laranya? Ah, kurejam kembali sisa hati yang membiru karena rindu. Kembalilah, sebelum waktu memutuskan segala rindu dan merubahnya menjadi batu

Senin, 26 Oktober 2015

Secangkir Kopi

"Kopi apa yang akan kau pesan?"

Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya, dia sepertinya lupa kalau aku tak bisa minum kopi.

"Aku akan memesan kopi yang kehangatannya bisa membuatku merasakan pelukanmu, saat aku menyesuri cankirnya, aku seperti menyusuri bibirmu yang lembut. Manis kopinya bisa membuatku merasakan manisnya kecupanmu dan dalam pekat warnanya aku bisa melihat wajahmu yang manis. Tapi aku rasa mereka tak akan bisa melukis wajahmu dalam secangkir kopi."

Ya, wajahmu hanya bisa dilukis dalam hati, bukan dalam secngkir kopi. Tapi aku akan memesan kopi yang tak akan membuatku cemas saat memminumnya dengan begitu aku akan menikmati kopi itu hingga habis denganmu.


Minggu, 25 Oktober 2015

LGBT

Dulu, aku punya teman lelaki yang sangat akrab, diantara teman-teman yang lain cuma aku yang akrab dengannya hingga aku SMA. Sejak kecil kami tumbuh bersama, bandel bareng-bareng. Menyenangkan ... dunia kami tak terbatas.

Tapi ada yang salah dengannya, dia sering memakai rok. Meski bicaranya masih seperti lelaki tapi aku sering melihatnya melaenggak-lenggok seperti layaknya seorang cewek. Waktu kecil, aku bukan tipe cewek yang cerewet. Aku hanya diam dan memerhatikan tingkahnya yang aneh itu.

Pernah suatu hari saat rumah sepi, dia memakai rok saat mencuci baju, menurutku ini aneh. Meski aku sering melihatnya memkai rok tapi jika memakainya saat mencuci pasti akan ribet. Aku cuma memerhatikan sambil membantunya mencuci. Keluarganya dan keluargaku waktu itu lumayan dekat. Aku sudah seperti anak di sana, kebetulan karena rumahnya ada di belakang rumahku jadi mudah bagiku untuk keluar masuk di sana.

Suatu hari aku melihat si Mbok marah. Mereka bertengkar, jujur si Mbok tidak setuju kalau melihat temanku itu memakai rok. Aku hanya diam, bersandar di pintu mendengarkan mereka bicara tanpa ada niat ikut ngomong ataupun pergi dari sana.

Si Mbok sering menasihatinya, tapi sepertinya keinginnya untuk menjadi perempuan tak bisa di cegah.

Saat kami dewasa dan bertemu lagi setelah sekian tahun berpisah, namanya sudah berubah ... dia tak lagi memakai nama cowok, tapi nama cewek. Langkahnya makin gemulai dan dia benar-benar membuat dirinya tak kalah dari seorang cewek, meski pada kenyataannya dia tetaplah kalah dengan cewek yang sebenarnya. Meski dia cantik, tapi tetap saja palsu.

Hal terakhir yang kuingat darinya setelah lepas dari rutan karena masalah narkoba adalah dia akan menikah dengan kekasihnya yang juga seorang cowok. Saat kami bertemu, dia masih seperti dulu, kalau ngomong suka semaunya. Ceplas-ceplos dan juga ndak ada rasa takutnya. Aku tak tahu apa yang membuatku menyukainya dan mau berteman dengannya di saat yang lain menjauhinya. Mungkin karena dia seperti itu, menurutku itu unik.

Hahahaha.... aku eror.... Di satu sisi dia bisa jadi teman perempuanku yang bisa kuajak main masak-masakan tapi di sisi lain dia adalah cowok yang paling cerewet. Suka protes ini dan itu. senangnya kalau sifat cowoknya muncul, kami akan berpetualang, main jauh dari rumah tanpa rasa takut kadang sampai magrib baru balik rumah.

Sekarang seperti apa kabarnya, masihkah tetap dengan dunianya yang rumit? Atau memilih sadar? Apapun itu, kehidupannya adalah sepenuhnya tanggung jawabnya. Aku tak berhak menasehati ataupun ikut campur. Bergaul dengan mereka membuatku mengerti sisi lain dari setiap keinginan yang kadang tersembunyi di balik setiap kepribdian.


Jumat, 23 Oktober 2015

Cerita Akhir

Sudah sepersekian detik waktu berjalan percuma, kami masih saja duduk diam tanpa bicara. Pagi ini pun kami membiarkan sarapan yang terhidang di atas meja  menjadi dingin karena hembusan angin. Mungkin karena kebekuan diantara kami yang membuat makanan itu dingin dengan cepat.

"Kau tak lapar? Sedari semalam aku belum melihatmu makan."

"Aku tidak lapar dan sepertinya kamu melupakan sesuatu."

"Apa?"

"Kebiasaanku?"

"Oh."

Kurasa memang benar, dia sudah melupakan kebiasaanku dengan cepat. Secepat hatinya yangberpaling dariku.

Rasanya waktu berlalu begitu lambat hari ini. Sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengannya dan bicara. Ponsel pun rasanya tidak ada gunanya.

Kami seperti hidup di dimensi yang berbeda. Padahal aku sangat merindukannya, tapi kurasa kerinduan ini tak pernah sampai padanya seolah terbentur pada tembok berlapis yang tak bisa ditembus apapun.

"KIta sudahi saja semua, kurasa tak ada yang perlu dibicarakan."

Dia hanya mendesah pelan dan menatapku sekilas.

"Kurasa ada yang salah dengan semua ini. Seharusnya tak seperti ini endingnya."

"Jangan samakan kehidupan dengan drama telenovela. Kita berdiri di atas takdir."

"Kau yakin? Sepertinya kau sudah siap kehilangan."

"Lebih dari siap dan aku tak selemah itu. Sejak kamu memutuskan semua sepihak, aku sudah siap."

"Maaf, aku hanya ...."

"Sudahlah, aku rasa keputusan sudah tepat. Pergilah, persiapkan pernikahanmu. Aku akan memulai hidupku, sama sepertimu."

"Kau yakin?"

"Berhentilah bertanya aku yakin atau tidak. Jawabanku tak akan bisa mengubah apa yang akan terjadi. Jadilah pria baik dan bertanggung jawab pada keputusanmu."

"Kurasa kau sudah banyak berubah."

"Aku belajar darimu."

Untuk kesekian kalinya kami kembali terdiam. Rasa kumiliki tak akan bisa mengikatnya untuk tetap berada di sisiku. Pada akhirnya kita harus menyerah pada takdir, sekuat apapun usahanya jika takdir berkehendak lain maka aku akan kehilangan dia dengan cepat, sama seperti saat ini.

Aku kehilangan dia, tapi aku akan tetap memiliki kenangannya meski mungkin dia akan melupakanku dengan cepat saat bersama dengan yang baru nanti. Cinta itu...

Pergi....

"Dy."

"Tab, mulai sekarang kita jangan membicarakannya. Dia punya kehidupan dan juga mimpinya sendiri."

"Kau mau start?"

"Iya, semakin cepat, semakin baik. Aku akan menghilang darinya dan menjauh ...."

"Kau siap sakit?"

"Tidak, tapi akan lebih baik jika aku tak mengganggunya lagi. Saat kita iklas semua akan jadi lebih mudah.

"Kau yakin?"

"Tentu. Aku akan belajar untuk tidak merindukannya lagi."

"Kau benar-benar gila."

"Tidak, aku waras sekarang."

Aku waras sekarang dan kurasa ini yang terbaik. Belajar melupakan dan menjauh darinya adalah keputusan tepat. Aku yang berbuat, aku pula yang harus bertanggung jawab. Setidaknya aku masih punya keangan untuk bisa bertahan dari kerinduan yang bisa saja mendera sewaktu-waktu. I miss u so much...

Kamis, 22 Oktober 2015

Kangen

"Dy ...."

"Aku kangen dengannya. Sungguh ...."

"Kau tidak menyapanya?"

"Sudah tadi lewat koment, sudahlah, jangan ganggu dia lagi. Bisa membaca tulisannya saja dah seperti obat buatku. Kita lanjutkan saja aksi kita..."

"Nyepi di mana sekarang?"

"Di kuburan wae, cari wangsit. Sapa tahu dapat akik."

"Yuuh, ikut-ikutan musrik kau, Dy?"

"Kagak ... sapa tahu beruntung... hahahahah"

"Lanjut, siapkan menyan."

"Ogah, Tab. Nanti yang datang malah kunti dan om pocong... hahahahaha."

kegilaan itu kadang menyenangkan, tapi juga sakit.


Rabu, 21 Oktober 2015

Kewarasan yang Di nantikan

"Sebentar lagi Dy. Bersabarlah."

"Kepalaku rasanya mau meledak. aku tak akan tenang sebelum maslah ini selesai."

"Bersabarlah, pikirkan langkah selanjutnya."

"Aku tak bisa berpikir apa-apa. Seluruh sel otakku mati seketika rasanya. Aku jadi linglung, plin-plan, semaunya dan juga egois."

"Tenanglah!"

"Aku tak bisa tenang, setelah selesai bawa ibu baru aku bisa tenang. Pikiranku benar-benar buntu.!"

"Sudah cari info?"

"Mereka tak akan mengijinkanku kerja."

"Kau bisa nekad seperti biasanya."

"Ibu ndak bakalan ngijinin.... seperti dulu, dia akan memintaku merawatnya."

"Ya, sudah. Diam saja di rumah."

"Aku setres kalau lama-lama di rumah tanpa ada kerjaan."

"Cari yang online...."

"Boros quota. Lagian aku dah malas dagang novel itu saat ini. Buatku itu karya gagal. Terlalu banyak masalah yang membebani buku itu. Jadi ya sudah, di off saja."

"Apa tidak apa? Kau iklas?"

"Iya ... kita off kan saja. Aku akan menulis lagi lain waktu?"

"Royaltimu?"

"Iklaskan saja, Tab. Lagi pula aku tak yakin dengan yang dia ucapkan. Member lain saja sampai sekarang bukunya juga belum pada turun. hahahha..... sudahlah, mana ada anak kuliahan yang borong bukuku. Buat apa? Aku bukan penulis terkenal."

"Ya sudah, Sekarang tenanglah ...."

"Aku ndak bisa, Tab. Kepalaku mau meledak. Andai bisa kubedah sendiri, sudah pasti dari dulu aku aku operasi."

"Ini tak ada hubungannya dengan isi kepalamu. Kau cuma harus tenang."

"Itu yang tak bisa aku lakukan."

"Kau harus mencobanya."

Ya, aku harus mencobanya. kemarahan tak akan menyelesaikan apapun. Meski semua hadir di saat yang bersamaan tapi tak boleh di hindari. Sesak, bukan berarti tak bisa dilegakan. Hanya tinggal bersarbar beberapa waktu saja dan kewarasan bisa di dapatkan kembali.

Selasa, 20 Oktober 2015

Abaikan Saja


"Dy, kita abaikan saja dia. Sepertinya keputusan benar meninggalkannya dulu."

"Sepertinya iya, Tab. Aku ndak suka dengan orang yang berbelit-belit seperti itu. Kayak apa saja?"

"Emang tujuan kaian apa?"

"Lha itu, aku ndak ngerti. Sudahlah biarkan saja. Ada yang lebih penting daripada ngurusi hal yang ndak penting kayak gitu."

"Mending, bikin cerpen saja, belajar sama Kak Shof. Itu lebih bermanfaat daripada ngurusin akun ndak jelas kayak gitu."

"Lha dia yang muncul sendiri kok, aku ndak mancing."

"Wis, biarkan saja dia ngoceh... ndak usah ditanggepin. Ntar juga ngaku sendiri kalau kamu abaikan."

Masa lalu yang aku lupakan, berarti memang dia tak pantas diingat.

Senin, 19 Oktober 2015

Masa lalu 2

"Dy, berhentilah mencemaskannya. Dia bukan anak kecil yang mesti kau urus. Lagi pula di sana pasti ada yang mengurusnya."

"Hehehh, aku cuma sedang memikirkannya. Boleh kan? Untuk sejenak saja aku inging mengingatnya."

"Lepaskan, bukankah ini yang kau inginkan? Melepaskannya ...."

"Akutahu, tapi tetap saja aku ndak bisa, Tab. Aku selalu memikirkannya,"


"Berhentilah berpikir kalau begitu, hiduplah secara normal."

"Hahahha, aku tak akan bisa normal."

"Kau sudah ingat sekarang?"

"Soal apa? Pengirim pesan itu? dia menutup wallnya. Jadi biarkan saja dia begitu, jika dia takdirku, dia akan berada di dekatku meski aku menghilang sekalipun. Lagipula, kalau akau melepaskannya dan menghapusnya dari ingitanku, itu berarti dia tak layak dikenang."

"Jangan menghakimi orang.

"Sudahlah, Tab... kita biarkan saja."

Masa lalu akan selalu ada, meski sekeras apappun kita mencoba mebghapusnya

Masa Lalu

"DY, kau tahu siapa dia?"

"Tidak ...."

"Kita akan cari tahu nanti, aneh jika aku bisa membuat seorang terluka seperti itu dan dia tetap engenangku?"

"Hahahaha.... kebanyakan nonton korea dia."

"Tapi aku penasaran, Tab. Siapa dia? Apa Oki?"

"Emang kau pernah pacaran ma Oki? Harusnya kau yang terluka bukan bukan dia...."

"Tab, aku merassa aneh. Dia bilang kangen...."

"Jangan gr, Dy. Kau tak tahu kebenarannya."

"Kita akan cari tahu. Aku benar-benar tak ingat dan juga tak tahu."

"Kau menghapus semua masa lalu seolah kau amnesia."

"Aku tak ingin mengingat masa lalu yang menyakitkan. Dumay tetaplah dumay."

"Kali ini jangan
bohong, apalagi sampai main sandiwara. Sapa tahu itu takdirmu."

"Hatiku telah  kuberikan pada seseorang."

Dan orang itu tak pernah melihatku...

Sabtu, 17 Oktober 2015

Promise


"Kamu berhasil?"

"Seperti yang kau lihat, aku ada di sini. Bersamamu."

Lorong itu masih panjang dan temaram, lorong yang sama yang dulu pernah aku tempuh dengan Arman, kekasihku. Saat kita pernah mencoba melarikan diri waktu itu. Napasku masih terengah, mataku masih mencoba menangkap bayangan yang terlihat samar di hadapanku. Bau lembam yang menyesakkan dada terasa memenuhi paru-paruku. Tanganku mencoba meraba sisi dinding yang terasa basah. Hingga akhirnya kakiku menyentuh sesuatu. Perlahan tanganku menyelusurui sesuatu yang teronggok di lantai yang basah itu.

"Kau akan melakukannya?"

"Tentu, aku akan melakukannya."

Aku memasukkan, tulang belulang Arman yang dulu belum sempat kukebumikan. Mataku terasa memanas, entah sudah berapa liter air mata yang ktelah tertumpah dalam kepedihan ini. Dengan gemetar aku memaskkan semua tulang itu, setelah merasa yakin tidak ada yang tertinggal, aku mengikatnnya kuat.

"Sebentar lagi jiwamu akan bebas, kau tak perlu gentayangan lagi menemaniku."

"Benar dan kau pun tak akan lagi dianggap gila karena bicara dengan arwah."

Aku hanya terkekeh saja, dengan terseok aku menyusuri lorong itu, tinggal beberapa langkah akan sampai di alam kebebasan yang selama ini aku dan Arman inginkan. Entah apa yang sebebnarnya terjadi, kami tiba-tiba diculik dan disiksa habis-habisan. Arman tak mampu bertahan, tinggal aku. Aku mendorong pintu itu dan beberapa pucuk senjata kini terarah ke padaku.

Rumah Kenangan

Tempat ini kini sedikit berubah, sudah lima tahun lebih aku meninggalkannya. Terakhir aku ke sini, air danaunya menyurut dan sekarang, saat aku kembali danau itu melimpah ruah airnya. 

Rumah tua itu masih berdiri kokoh meski tak terawat. Daun-daun kering menutupi sebagian pekarangannya. Dulu aku tinggal di sana bersama Rio, kekasihku.

“Hai, Sayang apa kabarmu? Lama ya aku tidak ke sini. Aku kangen kamu,” ucapku sambil menaburkan bunga, pada sesosok tengkorak yang masih terikat di bawah pohon tua.


Percaya?


"Tab, kau percaya soal buku itu?"

"Tidak, dia sulit dipercaya."

"Sama, aku juga meragukannya. Tidak mungkin seorang mahasiswa memborong bukuku begitu banyaknya. Untuk apa? Itu bukan best seller, ceritanya juga biasa kan?"

"Kau akan menanyakannya lagi?"

"Tidak, biarkan saja ... jika itu benar, biarkan jadi berkah. Jika tidak maka biarkan saja seperti itu."

"Kau yakin, Dy?"

"Iya, Tab."

"Apa kau akan cerita pada Kak Shof?"

"Tidak perlu, ini bukan cerita yang menarik untuk di diskusikan. Dia sudah cukup masalah gara-gara aku. Kurasa aku tak perlu mengganggunya lagi."

"Ya sudah, terserah."

Ada kalanya kita lebih baik diam, daripada bicara dan kehilangan.

Jumat, 16 Oktober 2015

Sorry. Kak ...


"Dy."

"Aku tahu, sudahlah ... jangan dibahas lagi. Aku tahu ceritaku membosankan, hingga membuatnya mengantuk."

"Hehhehe ... syukurlah kalau kau sadar."

"Aku cuma jadi penggangu saja rasanya. Jadi orang yang sok tahu. Aku sering lupa jika dia juga punya dunia sendiri."

"Dia tipe serius, Dy. Kurasa kau hanya jadi beban buatnya."

"Tab, aku sungguh menyesal, saat bersamanya aku sering hilang kendali dan lupa kalau dia bukan milikku. Kenapa aku selalu lupa semua saat bersamanya?"

"Kendalikan dirimu ... jangan semaunya!"

"Ingatkan aku untuk tidak mengganggu hidupnya lagi. Aku tahu harus bagaimana."

"Syukurlah kalau kau tahu. Jadi mulai sekarang berhentilah menggangu Kak ... dia juga butuh waktu untuk sendiri, tak melulu meladeni ocehanmu yang tak penting!"

"Iya ... aku tahu."

"Ya sudah ... dinginkan kepalamu."

"Aku tak bisa, aku kepikiran ini terus. Bagaimana ini."

"Ya, sudah .. gila saja terus!"

Ya, aku menyesal menggangunya terus hari ini, aku sangat menyesal ... maafin aku, Kak...

I'm Coming After You

Judul: I'm coming after you
Penulis: Averia Zulaika
Cetakan: Tahun 20014
Tebal: 237 hal  13x 19
ISBN: 978-603-7950-86-3
Diterbitkan: Nulisbuku.com

Kiara, gadis cantik yang memiliki trauma masa kecil karena percerian orang tuanya. Perselingkuhan mamanya membuat dia membenci pria chinese. Gadis yang semula riang, berubah menjadi menjadi keras kepala dan jutek.

Suatu hari dia bertemu dengan Li An, pria chinese yang juga menjadi ketua Ospek tempatnya kuliah. Melihat Kiara yang begitu berani dan juga jutek tanpa sadar membuat Li An menjadi penasaran. Apalagi gadis itu terang-terangan menyatakan jika dia tidak menyukainya. Rasa penasaran Li An berlanjut hingga membuatnya ingin lebih dekat dengan gadis itu.

Dengan bantuan Davit akhirnya Li An berhasil menemukan rumah Kiara. Sayangnya gadis itu tetap saja tidak mau menerimanya. Keteguhan hati Li An membuat Kian--kakak Kiara tidak tega padanya. Hingga akhirnya Kian membeberkan alasan Kiara yang sebenarnya.

Alasan Kiara ternyata tidak menyurutkan langkah Li An untuk mendekati gadis itu, hingga suatu hari Kiara nekat pergi ke Ghuangzhao untuk mencari mamanya. Kepergian Kiara yang mendadak tanpa pamit tentu saja mengejutkan keluarga hingga membuat Kian bertekat menyusul adiknya. Dari Davit, Kian mendapat informasi dimana Kiara berada.

Perjalan menemukan mamanya membuat Kiara mendapatkan pengalamannya yang tidak mengenakkan, beruntung ada yang menolongnya. Pria itu--Davit. Pria yang dia kenal dalam pesawat dan tidak dinyana jika mereka sejalan.

Kepergian Kiara yang menmdadak membuat Li An tidak tenang, membuat pemuda itu nekad menyusul Kiara ke China.

Akhirnya Kiara menemukan mamanya tapi, sungguh tidak di sangka jika perempuan itu malah tidak menyukai kehadiran Kiara dan terang-terangan membeberkan alasannya meninggalkan keluarganya.

Keteguhan hati Li Anterus saja diuji. Cinta yang dimilikinya akhirnya mamapu membuat gadis itu luluh juga.

Kisah ini begitu ringan dan asyik untuk di simak, penulis memnyampaikanny dengan bahasa yang ringan dan juga mudah dipahami. Saat memebacanya saya seoalah berada di salah satu drama korea yang pernah saya lihat, gaya romantisnya tanpa sadar membuat saya kesengsem dengan tokoh Li An. Pria Chinese yang tidak begitu banyak bicara tapi menunjukkan ketugahan cintanya.

Cinta, kadang bisa merobohkan kebekuan hati. Membuat manusia sadar bahwa cinta pantas untuk dipejuangkan, apapun keadaannya. Jodoh harus dijemput, bukan ditunggu. Kita tidak akan pernah tahu dimana takdir akan menghentikan langkah kita dan menghadapakan pada sebentuk hati yang merentangkan tangannya untuk kita masuki.

Cinta kadang sulit dipahami tapi bukan tidak mungkin untuk dimengerti.


Jam Terbang

'Membaca' satu kata yang sering aku hindari. Padahal membca adalah vitaminnya penulis. Kadang aku malas membaca dengan berbagai alasan, mulai dari ngantuk hingga pandangan yang tiba-tiba suka kabur.

Hanya beberapa buku yang berhasil kuselasaikan dengan baik, selebihnya aku lebih suka menganmbil kesimpulan setelah membaca endingnya tanpa membaca badannya hingga selesai.

Otakku seolah mempunyai sekat-sekat yang sangat kuat dan tak bisa ditembus, setiap sekat tak ingin menjadi satu. Setiap aku membaca sesuatu maka bagian yang lain akan langsung bergerak cepat mmenciptkan adegannya sendiri, celakanya ketika adegan itu begitu menarik maka otak yang sedang membaca akan kalah danterhenti tanpa sadar. Otak yang sedang beroperasi mengerjakan adegan akan menguasahi semuanya. Dia dominan.

Konsentrasiku saat membaca akan buyar dengan sendirinya. Celakanya lagi pandanganku akan kabur tiba-tiba. Untuk mengatasi hal ini aku akan memilih menutup buku itu membiarkan bertumpuk di mejaku untuk beberapa saat hingga pengelihatanku normal kembali.

Meski aku mengenakan kacamataku kembali hal ini tak akan bisa membantu. Sepertinya mataku juga perlu reflesing, melihat gambar-gambar bagus atau foto cowok cakep. #Plak ....

'Membaca' satu kata yang dulu sangat aku gemari. Tapi entah seak kapan aku berhenti melakukannya. Dulu semua aku baca, bahkan setiap gajian aku akan membeli sebuah buku. Tapi kini, saat di tempat ini banya sekali buku bertumpuk aku malah mengabaikannya. Meliriknya sekilas di bagian awal. Saat aku menyukainya penyampainya, aku akan lanjut... jika tidak, aku akan meninggalkannya sama seperti saat aku meninggalkan semua cinta yang pernah mampir dalam hidupku... tak akan pernah meliriknya lagi...

Mengenaskan, saat aku ingin melakukan sesuatu di saat terakhir, aku malah semakin tak karuan. Tak terarah ... aku hanya sibuk mengganggu orang seoalah takut akan kehilangan selamanya. hahahaha....

Saatnya aku fokus, berusaha keras mengunci pikiran untuk beberapa saat hingga sampai akhirnya  aku bisa menyelesaikan membaca. Aku tak mau bodoh di depannya. Cukup dia menganggapku sebagai orang aneh. Jangan ditambahi dengan predikat bodoh dan kuper hanya karena aku tak pernah membaca.

'Membaca' satu kata yang kini masih terasa asing, aku masih suka memahami karakter orang lewat film atau mimik mereka daripada menerima penjelasan narasi tentang suatu kejadian. Ah, sepertinya aku memang 'beda'.


Kamis, 15 Oktober 2015

Jangan GR

"Dy ..."

"Tab, jangan GR. Dia hanya menganggapku sebagai teman. Tak lebih ..."

"Kau bahagia dengan itu?"

"Iya. Tidak ada yang lebih membuatku bahagia selain bercakap dengannya meski cuma satu kata."

"Kau akan makin menderita karenanya, Dy."

"Penderitaan ini akan hilang saat aku bisa bercakap dengannya. Meski rasa sakit tetaplah ada."

"Kau tak bilang padanya?"

"Tidak, aku lebih suka diam tapi tetap bersamanya, daripada bilang dan kehilangan semuanya."

"Sampai kapan kau akan begini?"

"Sampai aku terbiasa dengan semuanya dan melupakan rasa sakit ini. Entahlah .... aku yang berbuat, aku yang harus bertanggung jawab. Aku menyukainya, tapi untuk jujur, aku tak bisa..."

"Kenapa tidak? Cobalah bicara dengannya siapa tahu dia juga punya perasaan yang sama denganmu."

"Tidak, aku lebih suka menikmati perasaan ini, yang terpenting aku bisa bicara dengannya saja aku dah senang."

"Kau gila ..."

"Sangat! Jadi sudahlah. Aku tak mau kehilangan dia lebih jauh lagi. Aku sangat menyayanginya, Tab. Aku sayang Kak ...."

"Berdoa saja, semoga Tuhan menyembuhkan lukamu."

"Iya, cuma itu yang bisa kita lakukan."

Selasa, 13 Oktober 2015

Black moon

"Dy, apakah yang kita pikirkan sama?"

"Iya, gadis itu mengakuinya. Dia mengakuinya .... Tab. Ijinkan aku menangis sekali ini saja. Esok aku tak akan menangis lagi."

"Kau sakit?"

"Sangat, kenapa yang kupikirkan malah suatu kebenaran. Dia menyukainya. Cerpen itu bukan untukku, tapi untuk gadis itu. Ya, mereka sudah mengenal lama, sebelum aku. Jadi wajar jika diantara mereka ada rasa."

"Kau akan menjauh?"

"Iya, selama ini aku sudah melakukannya perlahan kan?"

"Apa kau tak apa-apa?"

"Cepat atau lambat, aku akan kehilangan dia. Jadi apa salahnya jika sekarang aku menjauh. Aku hanya ingin menikmati sisa waktu yang ada, Tab. Kelak kita harus menjauh darinya. Cukup menjaganya dengan doa."

"Kau benar-benar jatuh cinta padanya?"

"Cinta? Aku tak berhak atas cinta. Aku ssudah kehilangan saat aku merasakannya. Sekarang aku cuma ingin menemukan satu tulisannya saja yang belum ketemu. Mengcopynya dalam otakku dan menguncinya agar tak pernah usah dimakan waktu."

"Bagaimana kau akam menyimpannya dalam otakmu jika kau tak tahan membaca."

"Aku akan menahannya. Aku akan membaca cepat agar tak ngantuk."

"Huh, sepertinya otakmu perlu dioperasi."

"Benar, aku juga penasaran kepana tengkorakku jadi cekung sekian dalam, apa ini yang membuatku jadi sering pusing dan tak tahan sinar."

"Tubuhmu rusak, seperti waktu kecil, kau bukan tipe gadis pendiam."

"Hahhhaha ... sepertinya iya. Aku bukan tipe gadis pendiam. Tab, terimakasih sudah ada di dekatku. Kelak aku tak akan bisa lagi hadir di sini. Tapi cerita ini akan tetap ada dalam ingatanku. Kamu dan dia adalah abadi. seabadi keanganku dengan keluarga Kak Dodi."

"Tidurlah, kau tak pernah tidur. jika kakakmu tahu, kau akan kena sidang lagi nanti."

"Hahaha.... bukankah kita sudah terbiasa begadang hingga subuh menjelang. Jadi .. kita lanjutka saja kegilaan ini."

"Kau benar-benar gila."

"Hahaha .... tidak, masih ada sisa kewarasan yang aku punya."

"Aku beduka, Dy>"

"Kalau begitu, mari kita tabur bunga. Hahahahaha ...."

Matinya Aksara

Entah dengan apa harus kurangkai kembali
Semua aksara kini terasa mati

Tanpa nyawa dan makna
Terkulai dalam kebisuan sang waktu

Hadirmu membawa cahaya
pergimu tinggalkan kelam

Harus dengan apa kuterangi bilik hati
Yang kini sunyi tanpa penghuni
Haruskah kucari penggantimu
sedangkan rasa ini terikat mati padamu

Pasungan ini terasa kuat
Membelit tak terelakkan

Ingin kutata kembali
Semua barisan kenangan yang tersisa
Agar tak menjadi luka yang menganga
Meski raga kembali rapuh

Tangerang, 13-10-2015

Balas Dendam






Semilir angin yang berhembus, menyambut kedatanganku di tempat itu. Sudah beberapa waktu aku pergi dari sana dan semua masih tetap sama. Pohon-pohon yang menjulang tinggi dan rimbun, juga semak belukar yang masih setia menjadi penghuni tempat itu.


Aku berhenti di depan sebuah pohon yang cukup rindang. Pohon itu masih sama, bekas hitam karena jilatan api masih terlihat jelas. Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu dan kemarahanku kembali memuncak, dengan kasar aku menyeret tubuh-tubuh mungil itu ke bawah pohon dan mengguyurnya dengan minyak.


Setiap kali mereka mencoba melarikan diri, aku kembali menyeretnya ketempat semula. Tanpa ampun lagi kunyalakan api dan dengan cepat api menjalar dan menyambar tubuh mereka, membuat tubuh mungil mereka melengkung. Aku tersenyum puas melihat kejadian itu.


“Itu balasannya karena kalian mengganggu hidupku, kehadiran kalian membuat tubuhku sakit!”
Aku meninggalkan tempat itu, tidak kuhiraukan lagi teriakan segerombolan semut merah dan ulat bulu yang kini terbungkus api

Ijinkan Aku Gila

"Dy, kau benar-benar ndak waras!"

"Tab, sekali ini saja ijinkan aku gila. Menghilangkan kewarasanku sejenak. Sekali ini saja, biarkan aku menikmatinya, kelak .... aku tak akan bisa melihat ataupun berbicara lagi dengannya. Sekali ini saja biarkan aku hilang kewarasan agar aku bisa terus mengenangnya--nanti."

"Kau GR."

"Heahahah ... ndak papa. Sekali-kali bolehkan aku bermimpi dia melihatku. Sekali saja bolehkan aku  berharap dia menulis sesuatu untukku. Kelak aku tak akan bisa melihat tulisannya lagi."


"Kau sakit!"

"Tidak, aku hanya ingin menikmati rasa sakitku dengan bicara denganmu. kelak aku hanya akan diam --selamanya."

"Kau membuatku takut, Dy."

"Kenapa harus takut denganku, Tab. Aku hanya bisa membunuh orang dalam cerita saja. Aku tak bisa berbuat apa-apa di aam nyata. Hanya bisa tersenyum meski hatiku remuk. Bukankah aku pemain yang handal, Tab?"

"Kau penipu yang ulung!"

"Setidaknya aku tak merugikan siapapun. Aku juga sudah menahan diriku untuk tidak berinteraksi dengannya lebih banyak lagi. Aku sudah jarang sms sekarang."

"Apa itu cukup? Dia akan mengenangmu sebagai orang oon yang suka komentar seenaknya tanpa pikir panjang."

"Bukankah itu bagus, setidaknya dia punya sedikit kenangan denganku meski sebentar lagi dia akan melupanku setelah menemukan cinta sejatinya."

"Bagaimana denganmu? Kamu bukan tipe orang yang mudah move-on. Selamanya kamu akan meratapinya dan mengenangnya."

"Andai saja aku bisamembedah otakku, maka aku akan mengeluarkan semuanya. Setiap sel akan kubuat kosong agar tak ada lagi sedikit pun ingatan tentangnya. Tentang dunia ini."

"Kau mengenaskan, Dy."

"Sekali ini saja, ijinkan aku untuk gila. Gila karena cinta yang kubuat dan kulepas. Akulah yang harus bertanggung jawab atas semua ini. Bukan dia, biarkan dia bebas. Hidupnya bukan di sampingku."

"Aku tabur bunga untukmu."

"Makasih, aku menikmatinya."

Senin, 12 Oktober 2015

Cinta Serapuh Kaca

v + 103 hlm: 13 x 19 cm
ISBN: 978-602-6999-19-1
Penerbit: Dins Publishing, Yokyakarta


May tidak pernah menyangka sebelum jika kehidupannya akan berubah dengan cepat. Ketenangannya terusik setelah hadirnya seorang gadis dalam kisah cintanya dengan Dodi. Selama ini May, tidak  pernah menyadari jika cintanya mulai tumbuh pada lelaki itu. Keadaan makin rumit saat sisi lain dalam hidupnya muncul dan mendesak ingin mengusai dirinya.

Sisi lain yang semula diam kini mulai berani untuk berinteraksi dengan yang lainnya, menunjukkan keberadaannya dan juga kemampuannya. Kadang dia muncul tanpa May sadari, dia  mulai menunjukkan ketertarikkannya pada Lilo.

Gayung bersambut, Lilo yang sudah lama mengamati May ternyata juga memberi peluang gadis itu untuk mendekat, hal ini menyebabkan Dodi mulai menyadari hatinya dan berusaha mendapatkan hati May.

Di sisi lain--Aning, gadis yang di pacari Dodi tidak terima dengan sikap Dodi yang mulai menunjukkan ketertarikannya dengan May. Sekuat hati dia melakukan apa saja untuk menjauhkan keduanya. Hal ini terus berlanjut hingga muncul insiden-insiden yang membuat nyawa May hampir melayang. Sisi lain dari dalam May ternyata mengambil alih semuanya. Perlahan dia mulai melawan dan membalas semua perakuan Aning.

Cinta pada gadis yang sama ternyata tidak membuat Dodi dan Lilo berseberangan, mereka bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu. Perubahan yang sering terjadi pada May membuat mereka penasaran dan tertarik untuk mencari tahu.


Assalamualaikum Beijing

Assalamualaikum Beijing
Penulis: Asma Nadia
354 halaman: 13 x 20 cm
978-602-1606-15-5


Dewa dan Ra, mereka satu. Cinta yang mereka rajut begitu indah, hingga membuat mereka memutuskan untuk menikah. Dewa sangat mencintai Ra, begitu juga sebaliknya. Dewa sangat memuja Ra, membuat gadis itu menjadi wanita yang paling beruntung  karena mendapat cinta Dewa.

Hingga suatu hari Dewa melakukan kesalahan yang fatal di hari-hari terakhir menjelang pernikahan mereka, membuat Ra tidak lagi mempercayai cinta sejati. Undangan yang siap dibagikan, berakhir di tempat sampah. Ra sangat terluka dan memutuskan menerima tawaran yang membuatnya bisa menjauhi Dewa.

Dalam perjalanan Ra bertemu kembali dengan Zhongwen, pria cina yang menemani menyusuri keindahan Masjid Niujie. Zhongwen begitu bahagia saat bertemu Asma dan menemani gadis itu menyusuri keindahan kota.

Di sisi lain Dewa begitu merindukan Ra. Semua upaya dia lakukan tapi Ra tak pernah bereaksi sama sekali. Ra sudah melupakan Dewa. Rasa bersalah dan penyesalan membuat Dewa tak dapat tenang. Ra semakin menjauh.

Hingga akhirnya dia dipertemukan lagi dengan Ra tapi keadaan sudah berubah. Di samping gadis itu kini sudah ada pria lain. Keinginannya untuk bersama Ra tak pernah surut.

Kisah ini begitu asyik untuk di simak. Kita seakan dibawa untuk ikut menyusuri keindahan Beijing dengan keunikan tempat dan juga susananya yang begitu menyenangkan membuat kita larut dalam kisah cinta mereka yang menyentuh hati. Penulis sangat pandai menciptakan sosok tiap tokohnya begitu sempurna.  Kisah ini begitu inspiratif, membuat kita tahu, bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama Allah berkehendak. Kehidupa, kematian, jodoh adalah takdir yang tak bisa direncakan manusia.

Parfum


Perfume: The Story Of Murderer
karya: Petrick Suskind
422 hal : 12,5 x 19 cm
979-3972-05-X


Apa yang terpikir saat kita mendengar kata 'Parfume'? Pastilah menyangkut aroma yang mencitrakan pemiliknya. Sebuah parfum di buat dari minyak esensial dan senyawa aroma, fiksatif dan pelarut, tapi parfume yang satu ini di buat dari bahan yang berbeda.

Jean-Baptiste-Grenaouille, seorang bayi yang lahir tanpa aroma. Kelainan yang di deritanya membawanya pada kemalangan hidup yang luar biasa tapi justru ini membuatnya 'Berbeda' dan mempunyai indra penciuman yang luar biasa. Dia yang terlahir tanpa aroma dan di asingkan dari kehidupan yang semestinya, ternyata menjadikannya kuat dan monster yang tak pernah di sadari oleh siapapun.

Jean menjalani hidupnya tanpa tangis dan meski raganya membusuk karena daraan hidup, justru ini membuatnya menjadi seorang yang cerdas. Dengan perjuangan yang luar biasa akhirnya membuat hidupnya berubah, pertemuannya dengan sang maestro ahli parfum, membuatnya jadi ahli parfum. Tentu saja tidak semudah itu, banyak sekali rintangan yang harus dia jalanin sebelum menjadikannya seorang ahli.

Pertemuannya yang tanpa sengaja dengan seorang gadis di suatu sore, membuatnya menemukan sebuah ide untuk membuat parfum dengan aroma berbeda, tentu saja aroma yang tidak lazim. Aroma perawan...

Untuk membuat aroma ini. Jean menggunakan rambut dan kulit perawan. Aroma ini membuat pemakainya agresif tanpa mereka sadari.

Kejahatan yang dilakukan Jean sangat sempurna dan tak terlacak. Hingga akhirnya Jean menjadi anak angkat dan kembali melakukan aksinya.

Parfum yang dibuat Jean bisa merubah kekaguman menjadi hasrat yang meledak-ledak, keheranan menjadi kegembiraan yang luar biasa. Semua tertarik padanya, daya tarik yang kuat dan liar terpancar dari tubuh mungilnya, hingga membuat orang-orang di sekitarnya menjadi liar dan berebut mendapatkan aroma tubuhnya, menjadikannya serpihan kecil yang teramat nikmat untuk diperebutkan.


Buku ini merupakan best Seller international dan masuk cetakan kedua april 2006. Kisah ini disampaikan dengan cara yang sangat menarik. Meski sebagian besar narasi tapi penulis mampu membawa kita pada seuasana yang mencekam, kita seoralah hidup di masa itu, merasakan bau busuk dengan tekanan emosinal karena taraf kehidupan yang buruk.

Sebuah karya luar biasa dan sayang untuk di lewatkan begitu saja.

Jumat, 09 Oktober 2015

Tentang Rasa

"Kau sudah bicara dengannya?"

"Iya."

"Apa keputusannya?"

"Tak ada."

"Lha ... kok?"

"Semoga secepatnya dia segera menemukan teman baru. Dia butuh seseorang yang cerdas bukan hanya orang yang mengekor saja. Itu tidak akan membantunya apapun."

"Kau akan sakit saat tahu yang siapa yang dibawanya, apalagi jika sudah kau duga sebelumnya."

"Aku tahu, tapi dia butuh teman yang bisa diajaknya berbagi, bukan teman yang sekedar mau dan nurut. Aku sudah banyak merepotkannya."

"Kau nekad!"

"Sekarang aku tak merasakan sakit yang berlebihan lagi. Saat kita iklas semuanya jadi mudah, Aku hanya tinggal mengatasi rasa rindu yang kadang menyerang saja."

"Kau memenuhi otakmu dengan semua kenangan tentangnya, hingga membuatmu sakit seperti ini. Kau bisa gila karenanya."

"Ya, aku memilih sakit dan gila daripada waras. Saat waras aku tak bisa melakukan apapun. Tapi saat aku tak waras, semua bisa aku lakukan dan mereka akan menganggap apa yang aku lakukan adalah suatu yang benar dan tak bisa di salahkan."

"Aku berduka, Dy."

"Makasih, Tab."

Menjadi gila atau waras hanyalah pilihan untuk melewati rasa sakit.

Selasa, 06 Oktober 2015

Anggur

Pernah aku beharap kau tak akan menemukan ini, tak akan membacanya atau pun peduli dengan apa yang kutulis saat ini, aku sangat berharap itu terji dengan begitu aku masih punya tempat untuk sembunyi darimu.

Anggur

Anggur itu begitu menggoda, aromanya membuatku ingin segera menyesapnya hingga habis. warnanya begitu menggoda, merah. Semerah darah suamiku yang kini tergenang dibawah kakiku.

Senin, 05 Oktober 2015

Topeng

"Dy ...." Panggil Tab pelan.

"Hmmm ...."

"Apa kau senang sekarang?"

"Soal?"

"Dia sudah menunjukkan dirinya. Dulu kau ingin sekali melihatnya kan?"

"Tidak juga, terserah dia ... Tab, tak ada salahnya jika dia ingin muncul." sanggahku.

"Tapi, menatapnya akan membuatmu sakit." ucapan Tab selalu menyakinkan seolah dia bisa meramal perasaanku.

"Iya, saat ini tapi tidak lain waktu, aku akan terbiasa nantinya. Pada saatnya kita akan membuka topeng kita. Tab."

"Kau akan kembali lagi?"

"Mungkin nanti ... saat aku bisa menghapusnya perlahan."

"Kau tak akan bisa menghapusnya jika kau ada di sana."

"Itu sebabnya aku sering ngumpet, kenapa impian itu kadang menyiksa. Kita ditipu oleh hati kita sendiri."

"Hati tak pernah menipu."

"Tapi aku selalu salah memilih hati. Harusnya dia tak baik padaku, harusnya dia tak peduli padaku."

"Kau menyesal mengenalnya?" pertanyaan Tab membuatku berpikir sejenak.

"Tidak, aku bahagia bisa mengenalnya dan sesaat bisa mengganggunya."

"Sekarang apa rencanamu?"

Pada kenyataannya, perpisahaan ini aku yang memintanya. Sekarang, tidak ada jalan untuk berbalik. 

"Kita lanjutkan saja semuanya. kau tahu ... aku mulai terbiasa menahan kangen padanya."

"Kau gila!"

Aku hanya tertawa. Melirik sekilas undangan bersampul merah di atas meja.

"Sepertinya iya, sama gilanya saat aku memutuskan menikmati rasa sakit ini."

"Aku berduka untukmu, Dy." ucap Tab tampa daya.

"Terimakasih." balasku dengan senyuman.

Aku hanya berpikir topeng aps yang akan aku kenakan saat berjumpa lagi dengannya nanti. Hanya menghitung hari sebelum janur kuning terpssang di depan pintu rumahnya.

Di luar, senja semakin merah. Semerah rasa dingin dalam hati saat dipaksa melepasnya.


Tempat Tidur Tingkat

Pertama kali melihatnya aku sangat gembira, karena bisa menyentuh genteng rumahku yang tidak begitu tingggi tanpa harus memanjat lagi.

Bapak membelinya agar aku dan kakakku tak berebut tempat tidur. Kakakku suka nakal, dia marah kalau aku tidur bersamanya. hahahah.... Aku sering tidur sama ibu, hingga akhirnya bapak membelinya dan aku memilih tidur di atas. Aku ingat waktu itu akau belum sekolah, itu kepindahan kami yang pertama dari madiun.

Sejak kecil, ibu selalu memperlakukan kami seperti anak kembar saja, semua baju sama ... mungkin karena selisih umur yang cuma setahun membuat kami seperti anak kembar, tapi kelakuan beda jauh ... dari kecil kakakku tukang bikin onar, sebenarnya dia cerdas, tapi sayang... sepertinya dia menderita kejiwaan yang komplekx juga, merasa tidak puas dengan apa yang didapatkan, padahal ibu tak pernah membedakan kita.


Pertama kali tidur di tempat tidur itu aku senang sekali meski bapak was-was aku bakalan jatuh karena sisi tempat tidurnya rendah. Akhirnya terjadi juga, malam itu aku terjatuh dari tempat tidurnya, ajaibnya aku tidak menangis, malah lanjut tidur di ubin. Paginya bapak langsung bawa aku ke rumah sakit, meski aku ndak demam. Benturan keras tubuhku membuatnya kawatir, tidak ada luka. cuma kepala yang sedikit benjol. hahahhah.... Bapak, dia lebih kawatir daripada ibu.... makasih bapak... terimakasih banyak....


Minggu, 04 Oktober 2015

Keputusan

"Kau akan meninggalkannya lagi?"

"Iya, kurasa yang  terbaik itu. Dia akan baik-baik saja. Kau tahu kan, dia kuat dan mandiri. Lagi pula dia ndak butuh aku."

"Kau akan gila untuk sementara waktu."

"Iya, dan aku akan menikmatinya sementara waktu. Kau bisa membantuku, kan?"

"Ok ... kita lanjutkan kegilaan ini sampai di atas level. Sampai kita tak akan pernah tahu warah atau tidaknya kita saat itu."

"Makasih, Tab. Kau sahabat gelap yang paling mengerti."

"Tentu, tak apa. Bicara padaku saja dan kita pecahkan itu bersama."

"Kita akan menyelusuri semuanya kempali."

"Itu artinya, kau tak akan pernah membuat dirimu sembuh."

"Aku hanya ingin melewati ini."

"Dy, apa kau menyukainya?"

"Iya, sejak pertama aku dekat dengannya dan sejak itu aku tahu hari ini akan tiba. Jadi kita nikmati saja rasa sakit ini. Anggap saja ini adalah anggur yang sejenak akan membuat kesadaran kita menghilang. Nikmati saja rasanya ..."

"Kau merindukannya."

"Dan aku juga sakit karenanya .... hahahah... mari bersulang untuk kegilaan ini."

"Jadilah May!"

"Aku belum bisa, May terlalu kuat, aku tak mau masuk dalam dunianya."

"Dua alam ..."

"Dua alam yang mengerikan..."

"Terserah kamu sekarang, cepatlah waras sebelum kau benar-benar gila.'

Hahahah .... sepertinya si Tab benar, aku harus cepat kembali waras, tapi saat ini aku ingin menikmati kegilaan ini.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Cintamu

"May!"

Suara itu yang pertama kudengar saat aku memasuki lorong. Langkahku yang semula terhenti kini mengayun pelan mendekati mereka. Wajah-wajah yang memandangku dengan seribu arti. Entah apa yang harus kukatan saat ini.

"Bu." Wanita separuh baya itu masih sama seperti saat terakhir aku meninggalkannya. Dia yang pernah menjadi ibu selama aku ikut bersamanya dan selamanya akan mnejadi ibu buatku.


"Kau berubah sekarang, May? Beda kau!"

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan ibu, dulu aku masih kucel. Kurasa sekarang sama kucelnya, bedanya aku pake hijap. Menit berikutnya, hanya untuk mengenang masa lalu. Banyak hal yang sudah kulewatkan, tahun-tahun yang tak akan kembali.

"May ...."

Sosok itu ternyata masih sama saat terakhir aku bertemu dengannya, berdiri tegap dengan kemeja yang sudah digulung sebatas sikunya, Seperti biasa dia akan melempar ranselnya begitu saja.

"Kapan kau datang, Dik?"

"Tadi pagi, Kak. Kak Dod, ndak berubah,"

"Bodat kau, emang harus berubah kayak apa?"

Senang rasanya bisa melihat senyumnya mengembang seperti dulu. Kaca minusnya semakin tebal saja kurasa, dengan seenaknya dia akan meletakkan itu dan melahap makannya.

"Kau yang masak, May?"

"Aku cuma bantu, Kak."

"Ah, kau itu ...."

Seperti itulah, kadang dia begitu cuek tapi kadang juga dia sangat perhatian, dia tidak akan menunjukkan secara langsung. Ekor matanya tak pernah sesekali tertangkap sedang memerhatikanku. Apa kabar gadisnya kini?  Kapan dia menikah? Sudah bertahun-tahun.

Melihatnya lahap menghabiskan makanannya membuatku lega, setidaknya ini bisa menjadi obat kerinduanku selama ini. Tetaplah tersenyum Kak, seperti saat ini dan seperti dulu, saat semuanya belum berubah.