Jumat, 25 Desember 2015

Kamar Belakang

Ada yang beda saat aku datang ke rumahnya pagi ini. Meski kesibukannya sama seperti kemarin, kali ini dengan nuansa berbeda. Beberapa buket bunga menghiasi sudut rumah, tenda merah menaungi teras depan.

"Jangan sampai ada yang ketinggalan, siapkan semuanya!" perintah seorang wanita separuh baya. Dia terlihat sibuk pagi ini, berjalan hilir-mudik seperti setrika tanpa kabel. Memberikn arahan.


Ingin rasanya aku mengancurkan semua bunga yang ada dan juga deretan kursi yang kini telah tertata rapi agar mereka tahu aku tak menginginkan pernikahan ini, bukan ini yang aku  inginkan saat ini.

Tak ada yang peduli denganku, tak ada yang menyapaku. Mereka sibuk dengan persiapan pernikahan esok hari. Teganya mereka padaku, membuatku tak tenang dan gelisah seperti ini. Kesedihan ini tak akan bisa mereka tutupi dengan indahnya bunga yang menghiasi pelaminan atau bau harum yang tercium di tempat itu.

"Harusnya aku bahagia melihatmu esok hari dengan pakaian pengantin tapi ...." tak ada yang peduli dengan ucapanku. Bahkan pemuda yang duduk di hadapanku pun tak peduli.

Wajahnya terlihat pucat dan sembab, bahunya terguncang pelan. Dia menunduk dan sesekali menyeka air matanya. Beberapa orang yang melintai tempat itu hanya mampu menyeka air mata mereka, tapi aku masih bisa mendengar bisik-bisik di belakangku. Mereka tak peduli dengan perasaanku saat ini.

"Kamu yakin akan menikahinya?" tepukan halus di bahu pemuda itu membuatnya menoleh. Tidak ada jawaban, hanya bahunya yang kembali terguncang.

"Aku mencintainya, Bu. Dia sudah mengorbankan hidupnya untukku, tulang rusukku, kembali pada tubuhku," Dia menyentuh dadannya pelan. Di sana jantungku berada.

Pernyataannya membuatku sakit, lebih sakit dari sebelumnya. Aku tak ingin melihatnya menikah esok hari. Melihatnya memakai jas putih dengan  dandanan rapi dan wajah sembab dan pucat. Itu menyakitkan buatku. Harusnya dia tak perlu melakukan ini, dia tak perlu memaksakan diri menikahiku.Lukanya belum mengering, aku tak bayaran atas apa yang aku lakukan, apalagi sebuah pernikahan.

"Tapi ..." Wanita paruh baya itu terlihat ragu melanjutkan ucapannya.

"Janji tetaplah janji, Bu. Aku sudah janji akan menikahinya apa pun keadaannya,"

Wanita paruh baya itu hanya mendesah, menepuk bahu anaknya pelan sebelum akhirnya meninggalkannya duduk sendirian di pelaminan yang baru selesai ditata.

Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. Berharap dia mau mengabulkan permintaanku kali ini.

"Bisakah kamu batalkan pernikahan ini? Aku mohon ...."

Pemuda itu bangkit dan meninggalkanku, dia tak mengindahkan permintaanku. Bahkan airmataku tak bisa membuatnya menoleh. Aku mengikutinya, berharap bisa membuatnya mendengar keinginanku dan menurutinya.

Langkahnya terhenti di depan kamarku. Ada yang berbeda kali ini, beberapa bunga yang menghiasi tiap sudut ruangannya. Pemuda itu duduk di sisi pembaringan, bahunya kembali terguncang pelan, tetesan bening ke luar dari sudut matanya.

"Ga, kumohon. Batalkan pernikahan ini. Aku tak ingin melihatmu menikah esok. Aku tak sanggup melihatmu esok dengan baju pengantin itu!"

"Ra, kita akan tetap menikah esok. Kamu tak akan sendiri lagi, kita akan jadi satu keluarga, seperti mimpimu,"

"Ga, aku memang menginginkan menikah denganmu tapi tidak esok, lusa atau hari sesudahnya.... kamu tak  boleh melakukan ini! Masa kita sudah berlalu,"

"Aku tetap akan menjadikanmu pengantinku esok, Ra. Tetaplah berdetak,"

Aku mengusap wajahnya pelan. Matanya terlihat merah dan bengkak.

"Bisakah kau mendengarku kali ini? Kabulkan keinganku,Ga. Iklaskan aku pergi, jangan menikahiku!" kurasa mataku kembali memanas kali ini.

"Besok, kamu akan jadi pengantin paling cantik. Kamu paling suka aku meriasmu. Esok ... aku juga melakukannya untukmu. Tak perlu cemas. Aku akan merawatmu, seperti kamu merawatku dulu," Aga mengusap air matanya, mencoba tersenyum.

Cinta memang sulit di pahami,  harusnya esok aku akan jadi pengantin paling berbahagia saat ini, tapi kenyataannya esok aku akan menjadi pengantin paling menyedihkan. Tak bisa lagi bicara atau pun menyentuhnya, bahkan duduk di pelaminan pun aku tak akan bisa melakukannya.

Aga bangkit dari duduknya, langkahnya gontai meninggalkan tempat itu. Dia berjalan pelan menuju kamar belakang, tempat jasadku di simpan.
Malam ini hujan kembali turun dan aku kembali tertunduk diam dalam putaran waktu yang mengalahkanku...

#Little_Story_Dy

Rabu, 09 Desember 2015

"Kamu orang baru ya?" Seorang pemuda muncul sambil memegang korang pagi itu. Ara memerhatikan pemuda itu, kegiatan membersihkan teras depan sejenak terhenti. Dia mendekati pemuda itu.

"Buat Pak Agung," ucapnya lagi sambil menyodorkan koran itu.

Ara menerimanya. Pemuda berlalu dan mengayuh sepedanya kencang.

"Bahasa indonesia kaku sekali." ucap Ara lirih.

Ara mendapatkan pekerjaan baru di daerah. Di sana dia beruaha membaur dengan masyarakat yang baru, mengenali bahasa mereka dan juga masakannya. Dia tinggal di perumahan yang masih terbilang baru dan juga masih sepi. Tidak ada aktivitas warga yang dia lihat pagi itu.

Ini bukan pertama kalinya dia bekerja di tempat yang jauh, dia sudah terbiasa berpisah dengan orang tuanya.

"Mbak Ninin itu di bilangin agak susah."

Sore itu semua berkumpul di ruang depan. Menikmati gorengan sambil berbincang. Ara menyandarkan tubuhnya di tembok, mendengarkan pembicaraan mereka. Sebagai anggota baru dalam rumah itu, dia masih belum berani akrab dengan semua anggota keluarga.

"Jangan terlalu sering senam biar cepat hamil." ucap Ibu lagi.

"Tidak apa-apa, Bu. Senam kan bikin sehat." ucap Mbak Ninin.

"Jangan pilih senam seperti itu." Ibu berlalu, masuk ke kamar.

"Ayo, Ra. Senam!" ucap Mbak Ninin seoalh tak terpengaruh dengan ucapan ibu mertuanya.

Ara hanya menggeleng. Setahun Pak Agung dan Mbak Ninin menikah tapi mereka belum juga punya momongan. Kekhawatiran ibu tentang hobi senam Mbak Ninin, membuatnya kadang jengkel. Setiap hari topiknya tak pernah beranjak dari makanan dan juga senam.

"Mbak Ninin itu anak tunggal, orang tuanya juga susah hamil. Makanya Mbak Ninin juga susah hamil."

Kuping Ara terasa panas mendengar ucapan Ibu mertua Mbak Ninin, dalam hati dia berdoa agar kelak tidak mendapatkan mertua seperti ini. Dia sering tahu dan mendengar, seorang mertua yang tidak akur dengan menantunya.

 Tiba-tiba saja dia merindukan rumahnya yang tenang dan sederhana. Selama di sana, Ara lebih suka berada di kamarnya, membaca tumpukan majalah usang daripada mendengarkan nada protes ibu mertua Mbak Ninin.

"Ra, inget ya. Selama di sini kamu harus mengawasi Mbak Ninin. Jangan boleh senam yang begituan. Bikin susah hamil!" ucap ibu sebelum masuk ke mobil. Ara hanya mengangguk, hari itu Ibu pulang ke sragen.

"Rumah tenang!" seru Ara dalam hati.

Mobil yang membawa ibu bergerak pelan meninggalkan komplek perumahan. Di ujung gang Ara melihat pemuda pengantar koran datang sambil mengayuh sepedanya.

"Koran!" teriaknya, padahal Ara masih berdiri di depan pagar.

Gadis itu hanya tersenyum dan menerima koran.

"Ada berita bagus pagi ini." celoteh pemuda itu.

Ara mengangguk dan melihat koran itu.

"Kamu suka membaca?"

Ara kembali menganngguk.

"Kamu tak bisa bicara, ya?"

"Bisa." jawab Ara cepat.

"Nah, itu suaramu terdengar. Dari kemarin cuma diam dan mengangguk. Kayak ngomong sama tembok saja rasanya." Pemuda itu segera berlalu dan mengayuh sepedanya cepat.

Ara hanya tersenyum dan kembali masuk ke dalam.

Hari berikutnya pemuda itu datang lebih pagi dan membawakan Ara majalah baru.

"Bacalah cepat. Ingat jangan sampai lecek."

"Kamu akan terlambat jika menungguku selesai membaca."

"Aku bisa mengayuh sepedaku lebih cepat!"

Ara membuka majalah itu.

"Sudah." katanya sambil menyodorkan majalah itu.

"Sudah?" Pemuda itu menatap Ara tak percaya.

"Iya, aku sudah selesai melihatnya."

"Kamu tak baca isinya?''

"Sudah," jawab Ara mantap.

"Yang bener?"

"Iya."

Ara memang sudah membaca cerita itu meski hanya beberapa paragraf di bagian endingnya saja. Baginya tak perlu tahu proes alur ceritanya. Cukup dia tahu bagaimana endingnya, dia akan menembak sendiri jalan ceritanya.

"Pergilah cepat! Sudah siang."

Pemuda itu memasukkan majalah itu ke dalam tasn dan mengayuh sepeda lebih cepat. Ara melihatnya hingga pemua itu menghilang di ujung gang. Hari-hari berikutnya pemuda itu datang pagi-pagi sekali dan dia akan menyodorkan majalah baru buat Ara.

"Besok, tak perlu membawakanku majalah lagi."

"Kenapa? Kamu tak suka majalah yang aku bawakan. Kalau kamu mau aku bisa mencarikan majalah bekas untukmu. Kebetulan kemarin di agen ada beberapa majalah yang di kembalikan. jadi kamu bisa puas membacanya."

"Tidak perlu. Aku akan pulang."

"Pulang?"

"Iya, aku rindu rumah. Aku ndak mau membawa atau meninggalkan banyak barang." ucap Ara pelan.

"kapan kamu pulang?"

"Mungkin...."

"Mungkin?"

"Mungkin hari ini kalau ndak besok."

"Mendadak sekali. Harusnya dari kemarin kamu bilang, jadi aku bisa siapkan sesuatu untuk temanmu di jalan."

"Tak perlu, terimakasih untuk majalahnya. Sebaiknya kamu segera pergi. Kasihan pelangganmu."

pemuda itu beranjak bangkit tapi kemudia dia duduk lagi.

"Kamu yakin akan pulang?"

Ara mengangguk.

"Kembli ke sini?"

Ara menggeleng, "maaf, merepotkanmu dan terima kasih."

Pemuda itu menggeleng. Raut wajahnya berubah seketika.

"Hati-hati di jalan." Pemuda itu segera berlalu. Mengayuh sepedanya pelan meninggalkan kompleks.

"Kelak aku akan mengenangmu dengan caraku." ucapnya lirih sebelum menutup pintu pagar.

Kekecewaan telah membuat Ara memutuskan meninggalkan tempat itu. Bukan hanya karena masalah makan yang dibatasi tapi juga karena gaji yang minim. Ara tidak berani protes, dia hanya menerima dan memutuskan mencari pekerjaan di tempat lain.

Pagi ini koran datang lagi tapi bukan pemuda yang kemarin yang mengantarnya.

"Lopernya ganti, Mas yang kemarin sudah keluar kerjaan katanya." ucap Mbak Ninin sambil meletakkan koran di meja.

"Kenapa dia cepat sekali pergi, padahal aku ingin melihatnya pagi ini sebelum pulang. Bahkan aku belum tahu namanya." ucap Ara lirih sambil mengemasi bajunya. Hari ini Ara pulang dengan setumpuk kesedihan.

#Little_story_dy