Minggu, 25 Oktober 2015

LGBT

Dulu, aku punya teman lelaki yang sangat akrab, diantara teman-teman yang lain cuma aku yang akrab dengannya hingga aku SMA. Sejak kecil kami tumbuh bersama, bandel bareng-bareng. Menyenangkan ... dunia kami tak terbatas.

Tapi ada yang salah dengannya, dia sering memakai rok. Meski bicaranya masih seperti lelaki tapi aku sering melihatnya melaenggak-lenggok seperti layaknya seorang cewek. Waktu kecil, aku bukan tipe cewek yang cerewet. Aku hanya diam dan memerhatikan tingkahnya yang aneh itu.

Pernah suatu hari saat rumah sepi, dia memakai rok saat mencuci baju, menurutku ini aneh. Meski aku sering melihatnya memkai rok tapi jika memakainya saat mencuci pasti akan ribet. Aku cuma memerhatikan sambil membantunya mencuci. Keluarganya dan keluargaku waktu itu lumayan dekat. Aku sudah seperti anak di sana, kebetulan karena rumahnya ada di belakang rumahku jadi mudah bagiku untuk keluar masuk di sana.

Suatu hari aku melihat si Mbok marah. Mereka bertengkar, jujur si Mbok tidak setuju kalau melihat temanku itu memakai rok. Aku hanya diam, bersandar di pintu mendengarkan mereka bicara tanpa ada niat ikut ngomong ataupun pergi dari sana.

Si Mbok sering menasihatinya, tapi sepertinya keinginnya untuk menjadi perempuan tak bisa di cegah.

Saat kami dewasa dan bertemu lagi setelah sekian tahun berpisah, namanya sudah berubah ... dia tak lagi memakai nama cowok, tapi nama cewek. Langkahnya makin gemulai dan dia benar-benar membuat dirinya tak kalah dari seorang cewek, meski pada kenyataannya dia tetaplah kalah dengan cewek yang sebenarnya. Meski dia cantik, tapi tetap saja palsu.

Hal terakhir yang kuingat darinya setelah lepas dari rutan karena masalah narkoba adalah dia akan menikah dengan kekasihnya yang juga seorang cowok. Saat kami bertemu, dia masih seperti dulu, kalau ngomong suka semaunya. Ceplas-ceplos dan juga ndak ada rasa takutnya. Aku tak tahu apa yang membuatku menyukainya dan mau berteman dengannya di saat yang lain menjauhinya. Mungkin karena dia seperti itu, menurutku itu unik.

Hahahaha.... aku eror.... Di satu sisi dia bisa jadi teman perempuanku yang bisa kuajak main masak-masakan tapi di sisi lain dia adalah cowok yang paling cerewet. Suka protes ini dan itu. senangnya kalau sifat cowoknya muncul, kami akan berpetualang, main jauh dari rumah tanpa rasa takut kadang sampai magrib baru balik rumah.

Sekarang seperti apa kabarnya, masihkah tetap dengan dunianya yang rumit? Atau memilih sadar? Apapun itu, kehidupannya adalah sepenuhnya tanggung jawabnya. Aku tak berhak menasehati ataupun ikut campur. Bergaul dengan mereka membuatku mengerti sisi lain dari setiap keinginan yang kadang tersembunyi di balik setiap kepribdian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar