Sabtu, 17 Oktober 2015

Promise


"Kamu berhasil?"

"Seperti yang kau lihat, aku ada di sini. Bersamamu."

Lorong itu masih panjang dan temaram, lorong yang sama yang dulu pernah aku tempuh dengan Arman, kekasihku. Saat kita pernah mencoba melarikan diri waktu itu. Napasku masih terengah, mataku masih mencoba menangkap bayangan yang terlihat samar di hadapanku. Bau lembam yang menyesakkan dada terasa memenuhi paru-paruku. Tanganku mencoba meraba sisi dinding yang terasa basah. Hingga akhirnya kakiku menyentuh sesuatu. Perlahan tanganku menyelusurui sesuatu yang teronggok di lantai yang basah itu.

"Kau akan melakukannya?"

"Tentu, aku akan melakukannya."

Aku memasukkan, tulang belulang Arman yang dulu belum sempat kukebumikan. Mataku terasa memanas, entah sudah berapa liter air mata yang ktelah tertumpah dalam kepedihan ini. Dengan gemetar aku memaskkan semua tulang itu, setelah merasa yakin tidak ada yang tertinggal, aku mengikatnnya kuat.

"Sebentar lagi jiwamu akan bebas, kau tak perlu gentayangan lagi menemaniku."

"Benar dan kau pun tak akan lagi dianggap gila karena bicara dengan arwah."

Aku hanya terkekeh saja, dengan terseok aku menyusuri lorong itu, tinggal beberapa langkah akan sampai di alam kebebasan yang selama ini aku dan Arman inginkan. Entah apa yang sebebnarnya terjadi, kami tiba-tiba diculik dan disiksa habis-habisan. Arman tak mampu bertahan, tinggal aku. Aku mendorong pintu itu dan beberapa pucuk senjata kini terarah ke padaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar