Hanya beberapa buku yang berhasil kuselasaikan dengan baik, selebihnya aku lebih suka menganmbil kesimpulan setelah membaca endingnya tanpa membaca badannya hingga selesai.Otakku seolah mempunyai sekat-sekat yang sangat kuat dan tak bisa ditembus, setiap sekat tak ingin menjadi satu. Setiap aku membaca sesuatu maka bagian yang lain akan langsung bergerak cepat mmenciptkan adegannya sendiri, celakanya ketika adegan itu begitu menarik maka otak yang sedang membaca akan kalah danterhenti tanpa sadar. Otak yang sedang beroperasi mengerjakan adegan akan menguasahi semuanya. Dia dominan.
Konsentrasiku saat membaca akan buyar dengan sendirinya. Celakanya lagi pandanganku akan kabur tiba-tiba. Untuk mengatasi hal ini aku akan memilih menutup buku itu membiarkan bertumpuk di mejaku untuk beberapa saat hingga pengelihatanku normal kembali.
Meski aku mengenakan kacamataku kembali hal ini tak akan bisa membantu. Sepertinya mataku juga perlu reflesing, melihat gambar-gambar bagus atau foto cowok cakep. #Plak ....
'Membaca' satu kata yang dulu sangat aku gemari. Tapi entah seak kapan aku berhenti melakukannya. Dulu semua aku baca, bahkan setiap gajian aku akan membeli sebuah buku. Tapi kini, saat di tempat ini banya sekali buku bertumpuk aku malah mengabaikannya. Meliriknya sekilas di bagian awal. Saat aku menyukainya penyampainya, aku akan lanjut... jika tidak, aku akan meninggalkannya sama seperti saat aku meninggalkan semua cinta yang pernah mampir dalam hidupku... tak akan pernah meliriknya lagi...
Mengenaskan, saat aku ingin melakukan sesuatu di saat terakhir, aku malah semakin tak karuan. Tak terarah ... aku hanya sibuk mengganggu orang seoalah takut akan kehilangan selamanya. hahahaha....
Saatnya aku fokus, berusaha keras mengunci pikiran untuk beberapa saat hingga sampai akhirnya aku bisa menyelesaikan membaca. Aku tak mau bodoh di depannya. Cukup dia menganggapku sebagai orang aneh. Jangan ditambahi dengan predikat bodoh dan kuper hanya karena aku tak pernah membaca.
'Membaca' satu kata yang kini masih terasa asing, aku masih suka memahami karakter orang lewat film atau mimik mereka daripada menerima penjelasan narasi tentang suatu kejadian. Ah, sepertinya aku memang 'beda'.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar