Kesedihan terindah adalah saat kau berhasil melewatinya dengan baik. Kemenangan terbesar adalah saat kau bisa menaklukkan dirimu sendiri tanpa hilang kewarasan. Saat kau kembali terseret ke masa lalu maka ingatlah bahwa masa lalu akan tetap hidup meski kau ingin membuangnya. Biarkan saja dia lewat dan menggodamu sementara waktu, taklukkan dengan cara yang benar. Kelak kau akan menjadi kuat karena rasa sakit tak akan bisa mengalahkanmu lagi.
Selasa, 20 Januari 2026
Janji
Cinta dalam sekantong asa
Yang namanya rindu tidak akan pernah bisa dikendalikan.
Yang Deya tahu, Zein bukan orang yang gampang diajak kompromi. Yang dia tahu, lelaki itu egois. Apa yang diputuskan itu yang akan dijalani.
Seperti hari ini, dia berencana untuk pergi keluar kota dengan alasan urusan kantor. Padahal besok adalah hari pertunangan mereka.
Deya ingin marah tapi itu percuma. Dia hanya bisa tetsenyum dan menekan kekhawatirannya. Hatinya berontak, selalu ada bisikan yang mengatakan dia akan kehilangannya.
Benarkah?
Pertanyaan itu selalu di sanggahnya. Deya yakin jika itu hanya kekhawatirannya. Zain masih tampak normal. Tersenyum senang dan bercanda bersama keluarga.
Tidak ada beban terlintas di wajahnya. Apa yang dia pikirkan hanya dia yang tahu.
"Apa semua sudah siap?" Deya meletakkan kopor didekat pintu.
"Hmm..."
Hanya itu jawaban yang diterimanya. Dia tidak puas. Zain yang sekarang terkesan menjauh darinya. Menjaga jarak darinya. Dan menyembunyikan sesuatu.
Saat berangkat pun, tidak ada kata mesra yang terucap. Matanya sesalu menghindarinya. Deya masih berharap akan ada satu ucapan untuknya.
Itu bukan kamu...
Kalimat ini terlintas dalam pikirannya. Deya berlari, menebas kerumunan.
"Dimana dia?"
Tatapan tajam Deya membuat Zain sejenak terpaku.
"Sudah cukup... Cukup membodohiku. Dimana dia?"
Zain masih diam, mengamati gadis itu.
"Lengan ini terlihat sama, tapi sebenarnya berbeda. Berhenti membodohiku. Dimana dia? Dimana suamiku?"
"Deya? Dia hanya pergi sebentar. Kenapa tidak sabaran?" kalimat sengit Anti tidak membuyarkan cekalan tangannya.
"Apa yang kau katakan?" Zain seolah kembali tersadar pada sesuatu.
"Baik. Ini pilihanmu? Jika aku menemukannya sendiri, aku tak akan pernah memaafkanmu." Deya berbalik. Wajahnya yang semula kacau kini tetlihat tegas.
Sejenak Zain terpaku. Hatinya terasa sakit. Nyeri ini sangat terasa. Hanya beberapa saat dia mengenal gadis itu, tapi seolah kini separuh hatinya telah teriris parah.
Zain... Dia milikmu. Hanya memilikimu dihatinya. Dia bahkan bisa mengenaliku hanya sekilas pandang. Zain... Hatimu, aku tak bisa membawanya.
Zain membuka pintu mobil dan melaju. Rasa sakit semakin terasa. Andai saja dia tahu masa depan akan seperti apa, mungkin dia akan memutar ulang waktu saat ini.
Dalam pandangannya kini terlintas ekspresi Deya saat pertama kali bertemu dengannya. Senyum yang semula berkembang sempurna, langsung menghilang saat pertama kali bertemu dengannya.
Ada rasa sakit yang terlintas dimatanya. Meski hanya sekilas tapi dia melihatnya. Gadis ini, cinta matinya hanya untuk Zain.
Zein memukul stirnya. Sejak awal gadis itu sudah tahu... Dia sudah tahu tapi tetap diam. Menunggu... Ya... Dia menunggunya. Tapi dia tidak mendapatkan apa-apa.
Janjinya pada Zain tak bisa dipungkuri begitu saja. Dia harus merahasiakan ini. Meski dia tak mau... Lebih baik Deya berpikir dia menghianatinya daripada tahu yang sebenarnya. Resikonya akan lebih besar daripada ini.
Besok dia tak perlu hadir dipertunangan. Tapi nyeri dihatinya tak bisa disangkal. Dia tahu gadis itu tak akan mengharapkan kehadirannya esok. Mobil melaju tampa arah. Zein hanya bisa mengusir galaunya kali ini.
Waktu berlalu begitu saja. Gelap malam melarutkan penat penantian dalam tidur. Tapi ada segelintir orang yang tidak tidur malam ini. Pikiran kalut mereka menjerat erat hati mereka.
Pagi merayap. Deya masih duduk di samping jendela. Pandangannya kosong. Tidak jauh darinya kelopak bunga berguguran.
"Deya... " panggilan lembut Zein tak berbalas.
Gadis itu seperti kehilangan warnanya. Hanya menatap kosong pohon sakura di depannya.
Zein masih terpaku di tempatnya, dia takut mendekati gadis itu. Dia takut gadis itu akan menjadi histeris saat dia mendekat.
"Apa dia kesakitan?"
Pertanyaan itu membuat zein tersentak. Tidak mungkin deya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia masih diam, menatap gadis yang masih berdiri tegak di sana.
Langkah kaki terdengar pelan, sesosok tubuh perlahan masuk. Itu adalah Bibi Nue. Wanita paruh baya yang selama ini menjaga Deya. Mata wanita itu memerah dan sembab. Dia berusaha menahan tangisnya. Tapi melihat Deya yang sekarang tak berjiwa, hatinya sakit. Perlahan dia menyentuh lengan gadis itu.
"De..." panggilnya pelan.
Tapi gadis itu tetap diam bahkan tidak menoleh.
"Dia sudah pergi, sudah lama pergi." kata Deya perlahan.
Airmata jatuh di wajah bibi nue, yang dia takutkan terjadi. Tidak peduli seberapa kuat mereka menyembunyikannya gadis itu akan tetap tahu. Diam mereka kini menjadi bumerang, mereka berpikir bisa membuat deya menerima semuanya saat dia bisa menerima kehadiran zein. Tp sungguh diluar digaan, deya menolak keras hal ini.. dia pasti merasa hancur saat tahi semua orang diam diam bermain di belakangnya.
Bibi memeluk gadis itu. Tapi dia terkejut karena merasa tubuh di depannya terasa panas.. sudah berapa lama dia sakit, kenapa dia tidak menyadarinya tadi..
Kecemasan melanda Bibi Nue. Deya kembali ke mode diamnya. Ini pernah terjadi sebelumnya orang tuanya meninggal. Gadis itu akan diam, demam tinggi dan tidak mengeluh. Bahkan tidak ada airmata.
"Panggil ambulance!" Teriak Bibi Nue.
Keadaan Deya benar benar tidak baik, wajahnya sangat pucat sekarang gadis itu hanya diam menutup matanya dan terjatuh begitu saja. Zein dengan sigap menangkapnya. Dia bisa merakan hawa panas pada gadis itu. Dengan cepat dia menggendongnya.
" Jun, siapkan mobil!" teriaknya.
Rumah yang semula tenang, kini seperti dilanda angin puyuh. Jun segera berlari ke garasi begitu dia tahu Zein membawa Deya turun.
Mobil melaju cepat ke rumah sakit kota. Rumah sakit terbesar dengan fasilitas terbaik dan menjadi rujukan.
Begitu mobil berhenti staf medis sudah bersiaga di depan. Melihat Zein membawa Deya turun, mereka dengan sigap membantu. Deya pun di bawa keruang IGD.
Zein masih berdiri tegak di samping pintu. Bibi Nue yang berhasil menyusul masih terlihat khawatir. Dia tidak banyak bertanya. Tidak bisa dipungkuri, dia ikut andil dalam membiruknya keadaan Deya. Zein tidak bisa disalahkan. Perasaan Deya pada Zain terlalu kuat. Dia tahu itu.. kedua orang itu seperti satu jiwa. Jika yang satu terluka, yang satu juga akan terluka. Dan sekarang Zain sudah meninggal, dia tidak berani membayangkan.
Kematian mendadak Zain tidak ada yang menduganya, kemudian mucul Zein. Saudara kembar yang selama ini tidak pernah muncul. Serti kisah dalam drama, tapi kisah ini tidak berjalan seindah novel.
Mereka masih diam. Tidak ada yang bicara. Mdlihat keadaan mereka, Dokter menyarankan agar merka kembali.. saat ini keadaannya masih belum baik. Mereka masih berusaha memantaunya. Demamnya sudah sedikit menurun tapi tetap harus diwaspadai. Dalam keadaan seperti ini, keadaan pasien seperti rollcoaster. Naik turun dengan cepat tak terkendali.
Zein masih diam, duduk sendiri tidak bergerak. Pertanyaan Deya masih terngiang di benaknya.
"Apakah dia kesakita?'
Dia bahkan tidak tahu apakah Zain lesakitan saat itu. Dia mendapat kabar saat semuanya sudah terlambat. Zain sudah terbujur diam di kamar jenazah.
Seminggu setelah kematian Zain dia baru berani lembali ke kamar saudaranya, di sana dia tahu tentang Deya. Gadis yang sangat dicintai Zain. Dan sekarang gadis itu pun memilih untuk menyerah. Rasa sakit menghinggapi hatinya. Baru kali ini dia merasakan sakit yang teramat menyiksa. Seakan ini adalah perasaan Zain.
lorong waktu
Tatapan mata mereka terasa aneh, seolah mereka baru melihat manusia saja. Pikiran Xian terasa buntu, untuk sesaat mereka saling mengamati. Semua terasa asing. Tidak ada yang dia kenal, seolah saat ini dia terdampar ke demensi yang berbeda.
Mereka terus berbisik, sambil sesekali melirikku. Aku mengamati sekeliling, ada dua jalan setapak saat ini. Entah arah mana yang aman buatku atau semuanya sama sekali tidak aman.
Seorang pemuda gendut menghampiriku, beberapa temannya berdiri tak jauh dari tempat itu, mata mereka terus mengawasi. Tanpa sadar, langkahku surut ke belakang. Gayanya yang sok bikin tanganku gatal ingin menonjoknya dan membuat mulutnya yang nyiyir.
Mereka terus berbisik dan sesekali tertawa lirih, entah apa yang ada di pikiran mereka yang jelas itu bukan suatu yg baik. Mata mereka terlihat mesum.
Xian mengibaskan tangannya dengan kasar, membuat cekalannya tangannya terlepas, beberapa pemuda lainnya maju. Mataku mengawasi sekeliling, mencoba menghitung berapa kekuatan mereka.
Gerakannya begitu waspada.
Sedangkan pemuda itu masih diam mematung di sampingku. Sejenak dia memperhatikanku dan kembali menunduk. Pemuda aneh. Aku belum bisa melihat wajahnya secara jelas karena masih tertutup capingnya.
"Terimakasih, kalau begitu... aku akan merepotkan Tuan kali ini."
Perlahan dia mendongakkan kepalanya, kini aku bisa menatap leluasa pemuda di hadapanku. Wajahnya lumayan, rahangnya kokoh dan hidungnya mancung. Dilihat dari perawakan dan olah tubuhnya yang begitu santun sepertinya dugaanku benar kali ini. Pemuda ini bukan pemuda sembarangan.
Pemuda itu kembali tersenyum sekilas.
Pemuda itu hanya menggangguk dan tersenyum.
Jujur aku suka sekali gayanya yang mirip dengan cerita dongeng pewayangan itu. Sebenarnya di bukan pemalu, mungkin dia belum terbiasa dengan wanita asing.