Selasa, 20 Januari 2026

Janji

Cinta Sekilas Pandang

"Ini konyol," ucapku pada pria yang kini tertunduk di hadapanku.
Untuk pertama kalinya aku berani menatap matanya. Dia menghembuskan napas pelan, selama ini aku hanya berani melihatnya sekilas dan ternyata itu berakibat fatal.
"Ini memang konyol, Mbak--?"
"Namaku saja kamu ndak tahu, bagaimana mungkin kamu bisa membuat janji semacam itu?"
"Aku tahu, aku nekat dan konyol. Aku tertarik pada gadis yang selalu berjalan menunduk, selalu menyunggingkan senyum di wajah pucatnya. Manatap sekiling dengan pandangan kosong. Sama sekali tak tertarik padaku meski aku sering menatapnya."
"Kau pikir aku setan, mengerikan sekali gambaranmu tentangku," aku beranjak bangkit, tapi dia menarik ujung bajuku.
"Aku ndak akan mundur, aku sudah berjanji dan akan aku tepati apapun itu,"
"Janjimu konyol, bagaimana jika aku sudah menikah dan punya anak. Pernah kau pikirkan itu?"
Dia melepaskan tangannya dari ujung bajuku, wajahnya terlihat serius dan dia hanya terdiam. Kepalanya menunduk.
"Lain kali, jangan membuat janji konyol seperti ini," aku membalikkan badan.
"Aku ndak akan mundur dan aku yakin dengan keinginanku."
Kali ini ganti aku yang terdiam, bagaimana mungkin dia bisa senekat ini. Janji konyol yang sama sekali tak masuk akal. Aku berlalu darinya tanpa berucap salam.
"Tunggu aku di rumahmu dan akan kujadikan semuanya nyata!" teriakannya semakin membuatku mempercepat langkah meninggalkannya. Ini konyol--sangat.
Tgr, 18-7-2015


Cinta dalam sekantong asa

Yang namanya rindu tidak akan pernah bisa dikendalikan.

Yang Deya tahu, Zein bukan orang yang gampang diajak kompromi. Yang dia tahu, lelaki itu egois. Apa yang diputuskan itu yang akan dijalani.

Seperti hari ini, dia berencana untuk pergi keluar kota dengan alasan urusan kantor. Padahal besok adalah hari pertunangan mereka.

Deya ingin marah tapi itu percuma. Dia hanya bisa tetsenyum dan menekan kekhawatirannya. Hatinya berontak, selalu ada bisikan yang mengatakan dia akan kehilangannya.

Benarkah?

Pertanyaan itu selalu di sanggahnya. Deya yakin jika itu hanya kekhawatirannya. Zain masih tampak normal. Tersenyum senang dan bercanda bersama keluarga.

Tidak ada beban terlintas di wajahnya. Apa yang dia pikirkan hanya dia yang tahu.

"Apa semua sudah siap?" Deya meletakkan kopor didekat pintu.

"Hmm..."

Hanya itu jawaban yang diterimanya. Dia tidak puas. Zain yang sekarang terkesan menjauh darinya. Menjaga jarak darinya. Dan menyembunyikan sesuatu.

Saat berangkat pun, tidak ada kata mesra yang terucap. Matanya sesalu menghindarinya. Deya masih berharap akan ada satu ucapan untuknya.

Itu bukan kamu...

Kalimat ini terlintas dalam pikirannya. Deya berlari, menebas kerumunan.

"Dimana dia?"

Tatapan tajam Deya membuat Zain sejenak terpaku.

"Sudah cukup... Cukup membodohiku. Dimana dia?"

Zain masih diam, mengamati gadis itu.

"Lengan ini terlihat sama, tapi sebenarnya berbeda. Berhenti membodohiku. Dimana dia? Dimana suamiku?"

"Deya? Dia hanya pergi sebentar. Kenapa tidak sabaran?" kalimat sengit Anti tidak membuyarkan cekalan tangannya.

"Apa yang kau katakan?" Zain seolah kembali tersadar pada sesuatu.

"Baik. Ini pilihanmu? Jika aku menemukannya sendiri, aku tak akan pernah memaafkanmu." Deya berbalik. Wajahnya yang semula kacau kini tetlihat tegas.

Sejenak Zain terpaku. Hatinya terasa sakit. Nyeri ini sangat terasa. Hanya beberapa saat dia mengenal gadis itu, tapi seolah kini separuh hatinya telah teriris parah.

Zain... Dia milikmu. Hanya memilikimu dihatinya. Dia bahkan bisa mengenaliku hanya sekilas pandang. Zain... Hatimu, aku tak bisa membawanya.

Zain membuka pintu mobil dan melaju. Rasa sakit semakin terasa. Andai saja dia tahu masa depan akan seperti apa, mungkin dia akan memutar ulang waktu saat ini.

Dalam pandangannya kini terlintas ekspresi Deya saat pertama kali bertemu dengannya. Senyum yang semula berkembang sempurna, langsung menghilang saat pertama kali bertemu dengannya.

Ada rasa sakit yang terlintas dimatanya. Meski hanya sekilas tapi dia melihatnya. Gadis ini, cinta matinya hanya untuk Zain.

Zein memukul stirnya. Sejak awal gadis itu sudah tahu... Dia sudah tahu tapi tetap diam. Menunggu... Ya... Dia menunggunya. Tapi dia tidak mendapatkan apa-apa.

Janjinya pada Zain tak bisa dipungkuri begitu saja. Dia harus merahasiakan ini. Meski dia tak mau... Lebih baik Deya berpikir dia menghianatinya daripada tahu yang sebenarnya. Resikonya akan lebih besar daripada ini.

Besok dia tak perlu hadir dipertunangan. Tapi nyeri dihatinya tak bisa disangkal. Dia tahu gadis itu tak akan mengharapkan kehadirannya esok. Mobil melaju tampa arah. Zein hanya bisa mengusir galaunya kali ini.

Waktu berlalu begitu saja. Gelap malam melarutkan penat penantian dalam tidur. Tapi ada segelintir orang yang tidak tidur malam ini. Pikiran kalut mereka menjerat erat hati mereka.

Pagi merayap. Deya masih duduk di samping jendela. Pandangannya kosong. Tidak jauh darinya kelopak bunga berguguran.

"Deya... " panggilan lembut Zein tak berbalas.

Gadis itu seperti kehilangan warnanya. Hanya menatap kosong pohon sakura di depannya. 

Zein masih terpaku di tempatnya, dia takut mendekati gadis itu. Dia takut gadis itu akan menjadi histeris saat dia mendekat.

"Apa dia kesakitan?"

Pertanyaan itu membuat zein tersentak. Tidak mungkin deya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia masih diam, menatap gadis yang masih berdiri tegak di sana. 

Langkah kaki terdengar pelan, sesosok tubuh perlahan masuk. Itu adalah Bibi Nue. Wanita paruh baya yang selama ini menjaga Deya. Mata wanita itu memerah dan sembab. Dia berusaha menahan tangisnya. Tapi melihat Deya yang sekarang tak berjiwa, hatinya sakit. Perlahan dia menyentuh lengan gadis itu.

"De..." panggilnya pelan.

Tapi gadis itu tetap diam bahkan tidak menoleh. 

"Dia sudah pergi, sudah lama pergi." kata Deya perlahan. 

Airmata jatuh di wajah bibi nue, yang dia takutkan terjadi. Tidak peduli seberapa kuat mereka menyembunyikannya gadis itu akan tetap tahu. Diam mereka kini menjadi bumerang, mereka berpikir bisa membuat deya menerima semuanya saat dia bisa menerima kehadiran zein. Tp sungguh diluar digaan, deya menolak keras hal ini.. dia pasti merasa hancur saat tahi semua orang diam diam bermain di belakangnya.

Bibi memeluk gadis itu. Tapi dia terkejut karena merasa tubuh di depannya terasa panas.. sudah berapa lama dia sakit, kenapa dia tidak menyadarinya tadi..

Kecemasan melanda Bibi Nue. Deya kembali ke mode diamnya. Ini pernah terjadi sebelumnya orang tuanya meninggal. Gadis itu akan diam, demam tinggi dan tidak mengeluh. Bahkan tidak ada airmata. 

"Panggil ambulance!" Teriak Bibi Nue. 

Keadaan Deya benar benar tidak baik, wajahnya sangat pucat sekarang gadis itu hanya diam menutup matanya dan terjatuh begitu saja. Zein dengan sigap menangkapnya. Dia bisa merakan hawa panas pada gadis itu. Dengan cepat dia menggendongnya. 

" Jun, siapkan mobil!" teriaknya. 

Rumah yang semula tenang, kini seperti dilanda angin puyuh. Jun segera berlari ke garasi begitu dia tahu Zein membawa Deya turun. 

Mobil melaju cepat ke rumah sakit kota. Rumah sakit terbesar dengan fasilitas terbaik dan menjadi rujukan. 

Begitu mobil berhenti staf medis sudah bersiaga di depan. Melihat Zein membawa Deya turun, mereka dengan sigap membantu. Deya pun di bawa keruang IGD. 

Zein masih berdiri tegak di samping pintu. Bibi Nue yang berhasil menyusul masih terlihat khawatir. Dia tidak banyak bertanya. Tidak bisa dipungkuri, dia ikut andil dalam membiruknya keadaan Deya. Zein tidak bisa disalahkan. Perasaan Deya pada Zain terlalu kuat. Dia tahu itu.. kedua orang itu seperti satu jiwa. Jika yang satu terluka, yang satu juga akan terluka. Dan sekarang Zain sudah meninggal, dia tidak berani membayangkan. 

Kematian mendadak Zain tidak ada yang menduganya, kemudian mucul Zein. Saudara kembar yang selama ini tidak pernah muncul. Serti kisah dalam drama, tapi kisah ini tidak berjalan seindah novel. 

Mereka masih diam. Tidak ada yang bicara. Mdlihat keadaan mereka, Dokter menyarankan agar merka kembali.. saat ini keadaannya masih belum baik. Mereka masih berusaha memantaunya. Demamnya sudah sedikit menurun tapi tetap harus diwaspadai. Dalam keadaan seperti ini, keadaan pasien seperti rollcoaster. Naik turun dengan cepat tak terkendali. 

Zein masih diam, duduk sendiri tidak bergerak. Pertanyaan Deya masih terngiang di benaknya. 

"Apakah dia kesakita?'

Dia bahkan tidak tahu apakah Zain lesakitan saat itu. Dia mendapat kabar saat semuanya sudah terlambat. Zain sudah terbujur diam di kamar jenazah. 

Seminggu setelah kematian Zain dia baru berani lembali ke kamar saudaranya, di sana dia tahu tentang Deya. Gadis yang sangat dicintai Zain. Dan sekarang gadis itu pun memilih untuk menyerah. Rasa sakit menghinggapi hatinya. Baru kali ini dia merasakan sakit yang teramat menyiksa. Seakan ini adalah perasaan Zain. 


lorong waktu

Ada yang aneh dengan tempat ini, bukan hanya penduduknya yang tinggal di sini, tapi juga suasana tempatnya. Rumah mereka begitu sederhana, dindingnya terbuat dari anyaman bambu, dan beratap ilalang. Penduduknya mengenakan pakaian minim dengan rambut di sanggul. 
Alat makan yang mereka gunakan menggunakan bahan kayu ataupun tanah liat. Sangat sederhana.
Sepertinya era ini bukanlah era berkembang

Tatapan mata mereka terasa aneh, seolah mereka baru melihat manusia saja. Pikiran Xian terasa buntu, untuk sesaat mereka saling mengamati. Semua terasa asing. Tidak ada yang dia kenal, seolah saat ini dia terdampar ke demensi yang berbeda.

Mereka terus berbisik, sambil sesekali melirikku. Aku mengamati sekeliling, ada dua jalan setapak saat ini. Entah arah mana yang aman buatku atau semuanya sama sekali tidak aman.

Seorang pemuda gendut menghampiriku, beberapa temannya berdiri tak jauh dari tempat itu, mata mereka terus mengawasi. Tanpa sadar, langkahku surut ke belakang. Gayanya yang sok bikin tanganku gatal ingin menonjoknya dan membuat mulutnya yang nyiyir.

Mereka terus berbisik dan sesekali tertawa lirih, entah apa yang ada di pikiran mereka yang jelas itu bukan suatu yg baik. Mata mereka terlihat mesum.

"Kenapa bingung seperti itu, Cah Ayu, kamu kabur dari rumah? Kalau begitu, tinggalah di rumahku gratis. Asal ...." Pemuda itu menatap teman-temannya seakan memberi isyarat.

"Apa ...?" Aku menatap mereka satu persatu. Kurasa mereka masih berumur belasan, terlihat wajah mereka yang masih kekanak-kanakan. Hanya si Gembul ini saja yang terlihat lebih dewasa dari mereka.

"Kau harus memuaskan kami ...." dia terkekeh.

Teman-temannya mencibir dan tersenyum mengejek, si Gembul mendekatiku dan mencoel daguku. 
Aseem belum pernah di tabrak gerobak ini orang..benar-benar tidak sopan. Berani sekali dia menyentuhku.

"Apa? Helo, Mas-Mas yang aneh ... sepertinya kalian benar benar gatal!" Aku melangkah pergi.
 Tidak ingin lagi membuang energi dengan mereka, sekarang yang terpenting menemukan tempat untuk tinggal.

Pemuda itu mencekal lenganku, membuat langkahku terhenti. Matanya  memerah dan raut wajahnya terlihat kesal. Sinyal diotakku menangkap sesuatu yang salah dengan reaksi pemuda gembul ini. Dari balik bajunya dia memamerkan gagang goloknya.

Sepertinya mereka tidak akan membiarkanku lolos begitu saja kali ini. 

Xian mengibaskan tangannya dengan kasar, membuat cekalannya tangannya terlepas, beberapa pemuda lainnya maju. Mataku mengawasi sekeliling, mencoba menghitung berapa kekuatan mereka.

 Tiba -tiba muncul seorang lelaki tegap berpakaian seba hitam. Kulitnya bersih dan  memakai caping yang menutupi sebagian wajahnya. Matanya tampak mengamati beberapa lelaki yang mengelilingiku.
Gerakannya begitu waspada.

"Nimas tidak apa-apa?" Suara itu begitu tenang dan menyejukan, berwibawa dan juga santun. 

Dilihat dari sosoknya, sepertinya dia bukan dari kalangan rakyat biasa, meski pakiannya seba hitam tapi kwalitas baju itu berbeda dengan yang dipakai rakyat biasa.


Beberapa pemuda itu mulai bergerak maju. Beruntung aku pernah belajar bela diri, tapi sepertinya menghadapi mereka memerlukan konsentrasi tinggi, sedikit saja lengah, maka senjata mereka dengan mudah merobek kulitkku. 

Beruntung dengan sedikit ketrampilan aku bisa mengimbangi mereka. Sekarang rasanya memyesal, kenapa aku begitu malas belajar bela diri.

Pemuda di sampingku ternyata pria yang tangguh, gerakannya cepat dan terarah. Sepertinya kemampuannya jauh di atas para berandal kampung itu. Pandangannya begitu awas, dia berusaha melindungiku di sela-sela geraknnya membela diri. Tidak butuh waktu lama untuk membuat para berandal itu kabur meninggalkan tenpat itu.

"Terimakasih." Ucapku sambil terduduk lesu.
 Napasku masih tersengal akibat perkelahian tadi.Tanganku sedikit linu. Ototku terasa kaku, karena kurangnya latihan.

 Sedangkan pemuda itu masih diam mematung di sampingku. Sejenak dia memperhatikanku dan kembali menunduk. Pemuda aneh. Aku belum bisa melihat wajahnya secara jelas karena masih tertutup capingnya.

"Siapa saya itu tidak penting. Sekarang kemana diajeng akan pergi? Sebentar lagi gelap, tidak aman berjalan dimalam hari." Kata pemuda itu tenang.

Sialnya aku juga tidak punya uang.

Kemana aku bisa pergi? Aku bahkan tidak tahu jalan, dan aku juga lapar. Ah, kenapa aku tidak punya kemampuan seperti di novel. Punya ruang dan juga kekayaan. 

Pemuda itu melirik kearahku, entah mengapa aku masih bisa menangkap sudut mulutnya yang terangkat sekilas. 

Kenapa dia tersenyum? Apa yang lucu?
 Aku melihat penampilanku yang kusut, lebih kusut dari seribu benang yangbterjerat jadi satu. Perlahan aku bangkit, menyeka debu dipakaianku.

"Terimakasih sekali lagi utuk hari ini." 
Aku berbalik arah dan berjalan meninggalkannya.

"Kemana diajeng akan pergi?" tanya pemuda itu.

"Tuan, aku miskin sekarang, tidak mampu menyewa penginapan. Jadi aku akan pergi berjalan sebentar. Sampai jumpa." ucapku sambil melambaikan tangan padanya.

" jika diajeng mau, ikutlah denganku. Kebetulan aku punya tempat kosong yang bisa digunakan untuk istirahat. Soal bayaran, kita akan membicarakannya nanti." 
 Ah... dia memberiku bantal, bodoh jika aku menolaknya.
"Terimakasih, kalau begitu... aku akan merepotkan Tuan kali ini."

"Silahkan." ucap pemuda itu tenang. Kemudian melangkah maju. 

Aku berjalan mengikutinya, tapi tetap menjaga jarak darinya. Sesekali pandanganku mengamati sekeliling. Malam ini cukup dingin dan sunyi. Angin dingin yang bertiup beraroma air. Sepertinya hujan akan turun. 

Langit bertambah gelap, suara jangkrik dan kodok terdengar nyaring di sekelilingku. Sepanjang jalan kami terdiam, pemuda itu sepertinya menjaga langkahnya agar aku bisa mengikutinya.  Kami berbelok ke tikungan dua kali dan akhirnya masuk ke sebuah gang. 

Jika tebakanku benar, kami menuju pintu samping atau mungkin bahkan pintu belakang. 
Saat kami melangkah masuk, seorang pemuda bergegas mendekat.

"Tuan muda.. syukurlah Tuan muda kembali. "
Senyum pemuda itu mengembang. Tp gerakannya berubah dan dia berdiri kaku. 

"Nona..." pemuda tergagap dan terjatuh. Ekspresinya terlihat aneh dan ketakutan. 

Aku berdiri diam, mengamati expresi bocah. Tanpa aba aba aku melompat ke depannya. 
"Booo!" Aku mengangkat tanganku hendak menyakarnya. 
Mata pemuda itu terbelalak dan dia pun pingsan. 
"Eh..." rasa bersalah muncul di hatiku. 

Aku memandang bocah yang pingsan di depanku dan kemudian beralih pada Tuan muda yang berdiri diam di sampingku. Pikiranku kusut, apa yang terjadi? 
Tuan muda itu menghela napas tak berdaya. Dia terbatuk pelan, tp aku melihat bahunya sedikit bergetar. 

Karena bingung dan rasa bersalah yang menumpuk di hati, aku hanya bisa mundur diam. Melihat ke arah lain. Aku akan meminta maaf besok jika bertemu lagi dengannya. 

"Sudah malam.. diajeng pasti lelah. Aku kan meminta seseorang untuk mengantar seseorang diajeng ke kamar." 

"Arum.. panggil saja Arum.. kata "diajeng"  terlalu resmi buatku. Dan maaf soal dia." 
Aku menunjuk pemuda yang masih pingsan di tanah.

"Hmm..." jawabnya singkat. 

Kami berjalan ke depan dan aku bisa melihat masih ada beberapa pelayan yang lalu lalang di malam hari.  Mereka berjalan sambil menundukkan kepala. Hanya sekilas mereka melirikku, tp setelah itu mundur seolah mereka melihat hantu. 
Aku merasa aneh dengan sikap mereka, tp hal ini tidak membuatku penasaran. Mungkin kisah ini akan sama dengan yang ada novel. Kasus pembunuhan para selir. Tanpa sadar sudut mulutku terangkat. Sepertinya esok akan ada banyak drama yang bisa dilihat. 

"Bawa nona ke kamarnya." Ucapan Tuan muda membuatku kembali sadar. 
Pelayan kecil itu mengangguk, aku bisa melihat dia masih sedikit ketakutan. Kalau aku tiba tiba menyentuhnya apakah dia akan pingsan. 

"Arum, sudah malam.. istirahatlah."
Aku medecak... ais.. benar benar pelindung bunga, dia bahkan tidak mengijinkanku bermain dengan pelayan kecilnya. 
Jika diperhatikan baik baik pelayan inic5 memang cantik. Bahkan di malam hari pun dia masih memakai riasan. 
Aku melirik Tuan Muda yang seolah olah tidak peduli dengan sekelilingnya. Sepertinya pelayan ini punya angan yng tinggi.. baguslah, dunia akan hidup sekarang.

"Siapa namamu?" tanyaku sambil menepuk bahu gadis itu.

Mungkin karena gerakanku yang tiba tiba, membuat pelayan itu terkejut dan hampir terjatuh. 
" maafkan aku, aku tidak sengaja membuatmu takut."  ucapku pelan. 

"Nona, silahakan ikutin kami."
Pelayan itu cepat kembali ke penampilannya yang serius, sekuat tenaga menjaga citranya.

"Tuan, selamat malam." ucapku sambil melambaikan tangan dan mengikuti pelayan kecil itu pergi. 


****
Kami berjalan beberapabsaat hingga sampai pada sebuah bangunan yang cukup jauh dari yang lainnya. Aku puas dengan tempat ini.. cukup tenang. Jauh dari bangunan utama. 

"Nona silahkan, "

Masuk ke dalam ruangan aku bisa melihat ruangannyang bersih dan rapi, tidak banyak barang di sana, tp setiap barang tetlihat solid dan dari bahan yang berkwalitas. 
Luamyan bagus tempat ini. 

"Nona, aku akan membawakan air hangat untukmu mandi."  ucap gadis itu sambil mundur.

"Tunggu, tidak perlu menyiapkan air panas. Aku akan mandi seadanya. Sudah malam, istirahtlah." 

Gadis itu mengangguk dan pergi. Aku hanya bisa mencibir.. orang bodah pun tahu jika dia tidak sepenuh hati membantunya, sikapnya seolah penegasan statusnya di sini... 

"Diajeng, sudah malam kenapa belum tidur?" Suara itu begitu menyejukan, pemuda itu berdiri di belakangku.

Sekilas dia memandangku dan menunduk saat mata kami beradu,kali ini aku tak bisa melihat jelas wajahnya karena cahaya yang temaram. Dia kembali menunduk, sepertinya sengaja menghindari kontak mata langsung denganku.

"Maaf, sebenarnya ini ada apa? Kenapa aku tiba-tiba bisa ada di sini? Rasanya aku ada di tempat yang salah." Aku tak bisa menahan rasa penasaran ini dan aku rasa dia punya jawabannya.

"Maaf sebelumnya Diajeng, mungkin ini salah saya juga." Pemuda itu duduk di hadapanku bersila dengan tenang, sikapnya begitu teratur. Dia masih saja menunduk.

"Maksudnya? Dan kamu siapa? Saya rasa kamu bukan dari kalangan biasa, setidaknya pasti anak penjabat." Aku menatap sekilas pemuda di hadapanku, dia hanya melirikku dan tersenyum.

"Bisahkan untuk tidak menunduk terus, biar nyaman bicaranya atau memang ada larangan untuk tidak menatap lawan bicara?"

Perlahan dia mendongakkan kepalanya, kini aku bisa menatap leluasa pemuda di hadapanku. Wajahnya lumayan, rahangnya kokoh dan hidungnya mancung. Dilihat dari perawakan dan olah tubuhnya yang begitu santun sepertinya dugaanku benar kali ini. Pemuda ini bukan pemuda sembarangan.

"Perkenalkan saya Panji Kusuma putra dari Sinuwun Pramban sembada, Diajeng sekarang ada di wilayah Menak sembadra. Mungkin yang terjadi ini sebagai balasan atas mukti tresna saya beberapa waktu di lembah Taru Mendara..dan mungkin ini yang membawa diajeng masuk kemari." pandangannya begitu teduh. Bicaranya begitu tenang. Dia kembali menunduk.

"Jadi Tuan ini seorang pangeran, Begitukah? Lalu apa itu mukti tresno?"

Pemuda itu kembali tersenyum sekilas.

"Itu seperti ilmu untuk mendapatkan seorang wanita yang diinginkan." katanya sambil tersipu.

"Maaf, boleh aku panggil Raden?"

Pemuda itu hanya menggangguk dan tersenyum.

"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke sana Raden, maaf tapi di sini bukan duniaku Raden, kalau aku terlalu lama di sini aku akan merusak sejarah yang ada, Raden. Setiap apa yang ada di dunia ini memiliki takdir sendiri-sendiri dan aku rasa takdirku bukan di sini. Saya harap Raden mengerti, saya dan Raden tidak boleh merusak sejarah yang ada, karena apa yang ada saat ini akan menjadi bahan cerita untuk anak cucu kita kelak Raden."

Dia hanya diam saja. Sibuk dengan pikiran dan perasaannya saat ini.

"Jujur, saya menyukai Diajeng. Diajeng berbeda dengan gadis-gadis yang ada di kadipaten ini. Suatu saat saya akan mengantar Diajeng kembali ke tempat asal diajeng." kata pemuda itu.

"Kapan?" Aku rasa sudah tak sabar menanti saat itu.

"Saya belum tahu. Pasti saat itu akan ada tandanya Diajeng, sebelum saat itu tiba izinkan saya untuk menebus kesalahan saya karena sudah menyeret Diajeng masuk ke alam saya." dia menatapku sekilas kemudian menunduk lagi.

Jujur aku suka sekali gayanya yang mirip dengan cerita dongeng pewayangan itu. Sebenarnya di bukan pemalu, mungkin dia belum terbiasa dengan wanita asing.

"Raden ini lucu, apalagi kalau wajahnya jadi merah seperti itu, tambah ganteng. Jangan menunduk terus, orang tidak akan tau kalau Raden ini cakep." aku tak bisa menahan tawa saat melihat reaksinya yang salah tingkah.

Sungguh berbeda dengan jamanku, anak mudanya hura-hura semaunya. Kadang nenentang orang tua, tanpa ada tatanan nyata dan di sini semua dididik dengan tata krama yang ketat, unggah-ungguhnya sangat tinggi, bahasa mereka halus. Padahal kemampuanku bertata krama sangat minim.

"Diajeng ini," dia tersenyum sekilas. Sungguh..pribadi yang luar biasa.

Jujur aku menyukai pemuda beda dunia ini. Di balik tubuhnya yang kekar tersimpan magnet yang sungguh luar biasa dan magnet itu berhasil menariku untuk terus menempel padanya.

Sikapnya yang begitu tenang dan berwibawa cerminan dari seorang pemimpin.

Malam semakin larut dan kami hanya terdiam di teras depan penginapan tanpa kata meski kadang sering mencuri pandang. Esok perjalan masih panjang dan aku tak ingin sabar menunggu petualangku bersama pemuda beda jaman ini.