Brak!
Tendangan keras di pintu membuat Lermo terjungkal karena terkejut. Sejak semalam dia bersembunyi di dalam sarung dan duduk menekuk lutut di atas balai-balai rumahnya. Bahkan kepalanya pun enggan untuk keluar.
"Bocah bau, beraninya kau mengabaikanku!"
Hardik keras membuat Lermo membuka matanya, mendapati sosok yang dikenal berdiri di ambang pintu, dia masih enggan untuk bicara. Hanya matanya yang masih mencari pembenaran.
"Apa? Masih tidak bergerak? Apa perlu aku menyeretmu!"
Lermo masih menatapnya ragu.
"Kang....?"
"Akhirnya kau bicara, kupikir kau sudah jadi bisu sekarang gara-gara hantu itu," Sarpo duduk dengan gayanya yang angkuh, seolah itu adalah rumahnya sendiri.
Bau harum yang menyengat segara menghatam hidung Lermo. Dia ingat bau ini, itu minyak 'mujarab' dari Mbah Su, lelaki tua yang dianggap sakti di desa mereka.
Mbak Su bilang, minyak itu ajaib. Dia mendapatkannya dengan susah payah. Bahkan katanya, dia sudah bersemedi di hutan larangan selama 10 tahun untuk mendapatkannya.
Semua orang berebut karena tergiur 'kashiatnya'. Hingga akhirnya Sarpo berhasil mendapatkannya dengan harga tertinggi mengalahkan yang lain. Ini lebih mirip kembali ke zaman kuno, dimana mereka mengadakan lelang, untuk mendapatkan barang.
Mbah Su bilang, cukup gunakan setetes dan mengusapnya diantara alisnya akan membuat auranya semakin kuat. Tapi, dari baunya yang menyengat, Lermo yakin minyak itu dipakai mandi olehnya.
Lermo berpikir minyak itu lebih tajam dari minyak serimpi yang pernah dia cium di pasar kembang.
"Kang, apa kau mandi pakai minyak itu?"
"Semakin banyak, semakin bagus efeknya," sanggah Kang Sarpo tanpa rasa bersalah.
"Tapi, semakin banyak membuat orang muntah," Lermo tidak mau kalah.
"Kau bocah bau, tahu apa? Bilang saja kau cemburu karena tidak berhasil mendapatkan minyak itu," cibir Sarpo.
"Bahkan jika aku punya uang banyak pun, aku tidak akan membelinya," kata Lemo penuh percaya diri.
"Masih bicara omong kosong, tidak heran yang dikatakan Mbahh Su benar!"
Lermo tahu Sarpo mengejeknya karena ketakutan semalam. Dia hanya bisa mendesah pelan. Gangguan ini sudah dia alami sejak beberapa malam yang lalu. Apalagi sekarang pintu rumahnya rusak, jika dia tidak bergerak cepat sekarang, nanti malam dia pasti akan mendapatkan dua gangguan sekaligus. Tentu saja dari angin malam yang dinginnya menusuk tulang dan dari suara berisik yang mengganggunya tiap malam.
Mbah Su bilang, itu karena dia tidak mau membeli minyaknya untuk penangkal. Padahal, ada beberapa warga yang juga tidak membelinya. Tapi entah kenapa, dia yang paling sering di ganggu. Mungkin karena dia yang paling ngotot tidak mau membeli.
Pikiran Lermo masih melayang kemana-mana saat Sarpo menyeretnya keluar rumah. Sepajang jalan dia menjaga jarak dari Sarpo. Bau minyaknya membuat dia mual.
"Mukamu gelap. Sepertinya kau menikmati malammu dengan baik," ejekan pertama sudah mampir di telinga Lermo sejak dia memasuki warung Pak Ojang.
Dia hanya acuh, tidak peduli dengan ejekan mereka. Duduk menyingkir dari yang lain. Dia sudah biasa dengan hal ini dan enggan untuk membalas.
"Lermo, apa mereka menggangumu lagi? Belakangan ini mereka merajalela. Kamu harus hati-hati."
Peringatan Pak Ojan hanya di balas dengan anggukan. Pikirannya masih terfokus pada pintu rumahnya yang rusak. Dia ingin bergegas pulang daripada duduk di warung mendengarkan rumpian orang-orang ini yang lebih ganas daripada gosip ibu-ibu.
"Hey... apa kalian tahu, Mbah Su mendapatkan barang baru!" Paimo mulai obrolan lagi.
"Benarkah, apa lagi itu?" beberapa orang mulai penasaran, mereka bahkan mulai menggeser tempat duduknya di samping Paimo.
Melihat antusias warga, Paimo semakin bersemangat.
"Ini adalah sebuah keris. Mbah Su sudah mengalahkan jin di hutan larangan untuk mendapatkannya."
Alis Lermo terangkat satu karena ucapannya. Dia hanya melirik mereka dan kembali acuh. Soal "kesaktian" Mbah Su ini, Lermo sudah merasakannya.
Beberapa waktu yang lalu, Lermo sakit perut. Dia datang ke tempat Mbah Su untuk meminta obat. Akhirnya Mbah Su memberinya sebotol air, katanya itu sangat manjur. Sekali minum semua penyakit hilang, tanpa efek samping. Tidak sepertu obat warung.
Semua uang penjualan hasil kebun dia gunakan untuk membayarnya. Sesampai di rumah dia langsung meminumnya tanpa ragu, meski rasanya sedikit aneh dan baunya wangi. Dia tidak peduli, dia hanya ingin sembuh.
Hasilnya, semalaman dia tidak bisa tidur dan muntah terus, perutnya sakit bukan main. Dia jelas jalan keluar mencari pertolongan. Beruntung Pak Ojan yang sedang ronda menemukan dan membawanya ke rumah sakit di kota.
Pengalaman ini membuat Lermo tahu bagaimana "kesaktian" Mbah Su yang sebenarnya.
"Tidak di sangka Mbah Su benar-benar kuat! Bahkan jin pun dikalahkan. Tidak heran dia selalu mendapatkan barang bagus," timpal yang lain.
"Tentu saja, Mbah Su rajin bersemedi dan menempa kesaktian di sana. Jika itu kita, mungkin kita sudah mati sebelum mengalahkan jin-jin itu," kata Paimo penuh keyakinan.
Lermo tidak yakin dengan ucapannya, kapan Mbah Su pergi semedi? Kadang, dia sering melihat Mbah Su nongkrong di warung tiap malam. Bahkan pergi begitu saja tanpa membayar kopinya. Kata Pak Ojang, Mbah Su sudah berbaik hati memasang penangkal di warungnya supaya bebas gangguan dari makhuk-makhuk itu. Itu sebabnya Pak Ojang tidak menarik uang kopi Mbah Su, meski kadang dia mendesah pelan.
Sering pula, Lermo melihat Mbah Su di pos ronda dengan beberapa warga.
"Semedi cara apa yang digunakan Mbah Su hingga mendapatkan keris itu, hingga dia masih punya banyak waktu nongkrong dengan yang lain?" Lermo hanya bisa penasaran.
Melirik Paimo yang bersemangat, Lermo jadi curiga kalau Paimo kaki tangan Mbah Su. Dia hanya menggeleng dan bangkit membayar kopinya.
"Kemana kau pegi?" Sarpo yang dari tadi diam akhirnya bertanya.
"Pulang," jawabnya acuh.
"Jangan bilang kau akan langsung ke rumah Mbah Su kali ini," tuduh Sarpo.
"Kang, apa kau lupa? Kau merusak pintuku. Jika aku tidak memperbaikinya sekarang, nanti malam aku akan di serbu angin dingin," Lermo berbalik dan pergi.
Melihat kepergian Lemo, Paimo mulai mengipasi warga lagi.
"Jika kalian tidak pergi sekarang, keris itu mungkin akan jadi milik Lermo."
Mendengar ucapan Paimo, warga yang semula tenang seolah diingatkan. Mereka bergegas bangkit dan menyusul Lermo tanpa menoleh ke belakang.
"Hey! orang-orang ini. Bu, catat mereka!" perintah Pak Ojang pada istrinya.
Segera Bu Ojang mencatat semua makanan yang mereka ambil. Karena terlalu seringnya mereka seperti itu. Pak Ojang jadi waspada dan memperhatikan setiap gerakan mereka mengambil makanan.
Lermo yang berjalan, langkahnya kini terhenti. Di depannya berdiri sesosok lelaki separuh baya
Berdir tegak sambil mengelus jenggotnya. Tentu saja sosok itu adalah Mbah Su dan di belakangnya beberapa warga berhasil mengejarnya.
Sepertinya, mereka tidak akan membiarkan Lermo tenang kali ini...