Senyum mengembang di sudut bibir lelaki yang kini berstatus tunanganku. Rengkuhan tangannya yang sedari tadi berada di pinggang membatku ingin berlalu saja.
"Santai saja, Rum. Jangan tegang seperti itu, mereka bukan monster."
Untuk sejenak aku bisa tersenyum mendengar gurauannya. Ini gila, aku melirik jam tanganku. Sudah hampir jam 21.00 dan teleponku belum juga berdering.
"Ada yang kau tunggu? Sedari tadi aku melihatmu melihat arlojimu terus. Sepertinya aku harus menyingkirkan arlojimu agar kau hanya melihatku malam ini."
"Kau tak akan bisa mengehentikan waktu yang berputar meski kau hancurkan seluruh jam yang ada di dunia ini."
"Begitukah? Bagaimana kalau aku bilang, aku bisa membuat keajaiban?"

"Setiap orang bisa membuat keajaiban dengan caranya sendiri. Tapi sayangnya aku tak menyukai keajaiban semu."
"Ayolah, nikmati saja malam ini, harusnya senyummu mengembang." Pemuda itu menatapku serius. Genggaman tangannya terasa beda malam ini.
"Akan kucoba, pergilah menyapa teman-temanmu. Aku ke belakang sebentar."
"Jangan mencoba lari dariku."
Aku segera berlalu dari hadapannya. Mencari tempat tenang untuk sejenak menenangkan diri. Ini hal tergila yang aku lakukan dari sekedar kencan buta yang pernah aku jalani bersamanya.
Kring ....Kring...
Akhirnya yang kutunggu datang juga....
"Dimana?"
"...."
"Aku ke sana."
Kupercepat langkah menuju tempat yang dimaksud. Beberapa kali aku menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti malam ini apalagi Yoga.
Malam ini entah mengapa perasaanku resah, tidak seperti biasanya. Biasanya setiap berhadapan dengan Yoga aku bisa tenang, tapi tidak malam ini. Ada sesuatu yang di sembunyikan lelaki itu dan itu sangat menggangu pikiranku.
"Kau terlambat!"
Gadis itu hanya tersenyum dengan tenangnya. Dia seakan tak terpengaruh dengan ketegangan yang aku rasakan.
"Tenang saja, tak perlu panik seperti itu. Terimakasih sudah membantuku lagi malam ini."
"Tenang katamu? Gila! Ini gila. Untuk terakhir kalinya aku membantumu dan setelah ini, aku tak akan bertukar tempat lagi denganmu." Aku mengganti pakianku yang sudah kusiapkan.
"Itu berarti kau tak akan punya cukup uang untuk operasi adikmu."
"Aku akan cari jalan lain, aku tak saggup lagi bersandiwara seperti ini. Yoga tak seharusnya di permainkan seperti ini."
"Apa kau menyukai Yoga?"
Ucapannya membuatku terdiam sesaat. Suka? Entahlah, tapi aku merasa bersalah karena berada di sisinya. Tak seharusnya ini kulakukan.
"Pergilah, Yoga pasti mencarimu. Ini cincinmu. Setelah ini jangan mencariku lagi."
Sepertinya aku memang harus pergi dari kehidupan mereka. Semua harus dikembalikan ke keadaan semula. Yoga milik Arum, bukan milikku. Wajah kami memang serupa tapi bukan berarti semua harus serupa termasuk soal lelaki. Suatu hari nanti aku pasti akan menemukan lelakiku sendiri.
Kupercepat langkah menuju halte. Bus terakhir sebentar lagi akan melintas. Di halte masih ada beberapa karyawan yang juga menunggu bus. Beruntung malam ini tidak begitu berdesakan. Aku bisa mendapatkan tempat duduk. Kusandarkan kepala di jendela, pikiranku melayang entah kemana. Suara musik yang mengalun dari earphone sepertinya tak bisa meredam kegalauan yang aku rasakan saat ini.
Lamunanku buyar saat ada yang menarik earphoneku..
"Yoga?"
"Sudah kubilang jangan lari dariku!'
Oh ... tidak, sepertinya dugaanku salah, masalahku belum berakhir. Malam ini sepertinya awal masalah baru.
Pemuda itu duduk tenang di sampingku, entah sejak kapan aku tidak tahu.
Seribu alasan kini mulai memenuhi otakku, entah harus kukeluarkan yang mana. Sepertinya malam ini aku tak tak akan bisa tidur dengan nyenyak lagi
#DUA_REMBULAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar