Selasa, 13 Oktober 2015

Ijinkan Aku Gila

"Dy, kau benar-benar ndak waras!"

"Tab, sekali ini saja ijinkan aku gila. Menghilangkan kewarasanku sejenak. Sekali ini saja, biarkan aku menikmatinya, kelak .... aku tak akan bisa melihat ataupun berbicara lagi dengannya. Sekali ini saja biarkan aku hilang kewarasan agar aku bisa terus mengenangnya--nanti."

"Kau GR."

"Heahahah ... ndak papa. Sekali-kali bolehkan aku bermimpi dia melihatku. Sekali saja bolehkan aku  berharap dia menulis sesuatu untukku. Kelak aku tak akan bisa melihat tulisannya lagi."


"Kau sakit!"

"Tidak, aku hanya ingin menikmati rasa sakitku dengan bicara denganmu. kelak aku hanya akan diam --selamanya."

"Kau membuatku takut, Dy."

"Kenapa harus takut denganku, Tab. Aku hanya bisa membunuh orang dalam cerita saja. Aku tak bisa berbuat apa-apa di aam nyata. Hanya bisa tersenyum meski hatiku remuk. Bukankah aku pemain yang handal, Tab?"

"Kau penipu yang ulung!"

"Setidaknya aku tak merugikan siapapun. Aku juga sudah menahan diriku untuk tidak berinteraksi dengannya lebih banyak lagi. Aku sudah jarang sms sekarang."

"Apa itu cukup? Dia akan mengenangmu sebagai orang oon yang suka komentar seenaknya tanpa pikir panjang."

"Bukankah itu bagus, setidaknya dia punya sedikit kenangan denganku meski sebentar lagi dia akan melupanku setelah menemukan cinta sejatinya."

"Bagaimana denganmu? Kamu bukan tipe orang yang mudah move-on. Selamanya kamu akan meratapinya dan mengenangnya."

"Andai saja aku bisamembedah otakku, maka aku akan mengeluarkan semuanya. Setiap sel akan kubuat kosong agar tak ada lagi sedikit pun ingatan tentangnya. Tentang dunia ini."

"Kau mengenaskan, Dy."

"Sekali ini saja, ijinkan aku untuk gila. Gila karena cinta yang kubuat dan kulepas. Akulah yang harus bertanggung jawab atas semua ini. Bukan dia, biarkan dia bebas. Hidupnya bukan di sampingku."

"Aku tabur bunga untukmu."

"Makasih, aku menikmatinya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar