Rabu, 25 Maret 2026

Waktu

KARENA CINTA TAK PERLU DIUCAPKAN

Tik ... Tok ...

Waktu berlalu begitu saja, seperti kemarin. Hari ini pun waktu masih berdetak dan kita melewatinya dalam diam. Kamu di seberang sana dengan setumpuk kesibukan yang mengalihkan pandanganmu dariku. Di sini aku masih melirikmu, berharap kali ini kau kan berpaling padaku tapi sepertinya aku salah. Kamu masih asyik dengan laptop menyala dan secangkir kopi yang menemanimu sore ini.

"Apa kau tak lelah melihatku terus?" Suara itu menyadarkanku.

 Ah, ternyata dia sadar aku memerhatikannya dari tadi. Ingin rasanya kulemparkan tumpukan buku yang ada di hadapanku saat ini padanya. Dia selalu berhasil membuatku mati kutu.

"Kalau kau tahu, kenapa sedari tadi diam?"

"Pergilah keluar kalau kau bosan,"

"Kurasa itu bukan jawaban yang aku inginkan."

Kembali dia diam, membenamkan diri dalam dengan setumpuk pekerjaannya. Ah, rasanya bosan juga menunggunya seperti ini. Kuraih tasku dan beranjak pergi.

"Bersenang-senanglah."

"Tentu, kurasa udara di luar sana lebih segar daripada di sini. Jangan menungguku, malam ini mungkin aku tak akan pulang."

Sudah sekian lama aku bersamanya dan baru kali ini aku merasakan kebosanan yang teramat sangat. Biasanya jika sore tiba kami akan menghabiskan sore dengan jalan-jalan di sekitar alun-alun atau menikmati sore yang indah di teras rumah.

Tapi sejak mendapatkan proyek baru Hanung sepertinya melupakan aku. Hari-harinya habis tersita di luar rumah dan juga di depan komputernya.

Senja ini terasa beda, keramaian taman kota tak bisa mengalihkan kesunyian yang aku rasakan. Aku merindukan Hanung yang dulu, meskipun dia jarang bicara tapi hatinya hangat. Kini aku merasakan hatinya begitu dingin.

Aku merogoh sakuku dan berganti memeriksa tasku. Beberapa kali aku mencoba memastikan dan ternyata benar, dompet dan ponselku ketinggalan. Ah, aku selalu ceroboh... bagaimana mungkin aku meninggalkan rumah tanpa dompet. Aku mengecek tasku kembali, berharap masih ada lembaran uang yang tersisa di sana.

"Kau mencari ini?"

Sebuah dompet hitam terulur di depanku. aku hapal suara itu. Aku menerimanya tanpa menoleh ke arahnya.

"Terimakasih."

Dia mengacak rambutku pelan.

"Ah, kalau seperti ini, mana bisa aku meninggalkanmu sendirian."

"Jangan meledekku, aku terburu-buru tadi." Aku memasukkan dompetku ke dalam tas.

"Sudah hampir gelap, kita pulang sekarang." Senyumnya sehangat mentari sore ini. 

"Pulanglah, kurasa proyekmu sudah menunggu untuk di selesaikan."

"Tapi aku ingin pulang dengan istriku yang selalu berisik saat aku kerja, merasakan masakannya yang selalu berantakan rasanya."

"Kalau begitu kau cari saja istri yang tenang dan pandai memasak."

"Maunya begitu. Tapi aku sudah terbiasa dengannya, jika sehari tidak melihatnya, aku seperti kehilangan sesuatu. Dia selalu membuatku cemas dan hangat."

Ah, ada yang terasa hangat saat ini, aku bahkan tak bisa membantah ucapnnya. Mungkin aku yang harus lebih banyak mengenalnya lagi dan lagi, seperti dia yang berusaha menerima kekuranganku.

Dia meraih tanganku dan tersenyum hangat.

"Kita pulang." Suaranya begitu tenang, tanpa riak kemarahan. 

Aku mengikuti langkahnya, kadang kala memang pertengkaran kecil bisa membuat kita memahami sesuatu dan mengenal sosok yang beda dengankita, segala kelebihan dan kekurangannya. Senja ini memang beda, hatiku terasa hangat sekarang.

Selasa, 24 Maret 2026

pengganti

Kotak kayu itu mengapung menjauh, arus air yang mengalir membuatnya itu bergerak-gerak. 

"Apa yang kau buang?" sebuah suara mengejutkanku. Seorang gadis mungil berdiri di belakangku.

"Hanya barang yang tak pantas disimpan." 

"Apa itu sebuah boneka?" 

"Darimana kau tahu?"

"Aku hanya menebak saja. Kenapa kau membuangnya?"

"Karena dia tak pantas di simpan.'

"Benarkah? Apa dia jahat?"

Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Mata bocah ini terasa aneh, ada kemarahan dan sesuatu yang tersembunyi di sana.

"Siapa namamu?"

"Valen."

Valen? Nama yang sama. Boneka terkutuk itu juga memakai kalung bernama Valen. Kebetulan yang aneh.

"Nama yang bagus, Aku Dy."

Aku mengulurkan tanganku, sejenak dia ragu. Tapi kemudian dia menyambutnya. Saat itulah aku melihat bayangan mengerikan yang selama ini ingin aku lupakan. Aku buru-buru menarik tanganku.

"Kenapa? Apa yang kau lihat?"

"Tidak ada, aku hanya kaget saja. Tanganmu begitu dingin. Mungkin udara di sekitar tempat ini membuatmu kedinginan."

Gadis itu hanya terdiam, pandangannya lalu beralih pada kotak kayu yang terlihat menjauh. Perasaanku menjadi aneh. Di sini dulu aku menemukan boneka tua itu dan membawanya pulang. Siapa sangka, boneka itu justru menimbulkan malapetaka.

Aku memerhatikan gadis itu, saat aku menyentuhnya pintasan kejadian semua tersusun seperti sebuah film. 

Kadang aku membenci diriku sendiri karena keadaanku ini, sepertinya aku harus berhati-hati dengan sosok di hadapanku. Meski terlihat seperti gadis mungil yang tak berdaya, tapi di balik itu ada suatu kekuatan yang menyelimuti jasadnya.

"Kalau kau ingin boneka, datanglah ke rumah. Aku punya banyak boneka peninggalan Aria dan Arisa."

"Mereka sudah pergi?"

"Iya ...."

"Kenapa?"

"Kurasa Tuhan sangat menyayangi mereka dan memintanya bermain di surga saat ini."

Gadis itu menatapku. Aku tak ingin terlihat kalah di depannya. Aku tahu pasti, gadis ini tahu dengan pasti penyebab kematian kedua adik kembarku.

"Datanglah ke rumah. Ada banyak boneka yang bisa kau ajak bermain daripada boneka yang di peti itu." Aku beranjak pergi darinya. 

Sekarang waktunya aku mengenal musuhku, mungkin akan sulit untuk menyingkarkannya meski nyawa akan jadi taruhannya, tapi tak ada salahnya aku mempertaruhkan semuanya sekarang. Cukup Aria dan Arisa korban terakhirnya, saatnya aku mengakhiri semuanya.

boneka

Kotak kayu itu mengapung menjauh, arus air yang mengalir membuatnya itu bergerak-gerak. 

"Apa yang kau buang?" sebuah suara mengejutkanku. Seorang gadis mungil berdiri di belakangku.

"Hanya barang yang tak pantas disimpan." 

"Apa itu sebuah boneka?" 

"Darimana kau tahu?"

"Aku hanya menebak saja. Kenapa kau membuangnya?"

"Karena dia tak pantas di simpan.'

"Benarkah? Apa dia jahat?"

Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Mata bocah ini terasa aneh, ada kemarahan dan sesuatu yang tersembunyi di sana.

"Siapa namamu?"

"Valen."

Valen? Nama yang sama. Boneka terkutuk itu juga memakai kalung bernama Valen. Kebetulan yang aneh.

"Nama yang bagus, Aku Dy."

Aku mengulurkan tanganku, sejenak dia ragu. Tapi kemudian dia menyambutnya. Saat itulah aku melihat bayangan mengerikan yang selama ini ingin aku lupakan. Aku buru-buru menarik tanganku.

"Kenapa? Apa yang kau lihat?"

"Tidak ada, aku hanya kaget saja. Tanganmu begitu dingin. Mungkin udara di sekitar tempat ini membuatmu kedinginan."

Gadis itu hanya terdiam, pandangannya lalu beralih pada kotak kayu yang terlihat menjauh. Perasaanku menjadi aneh. Di sini dulu aku menemukan boneka tua itu dan membawanya pulang. Siapa sangka, boneka itu justru menimbulkan malapetaka.

Aku memerhatikan gadis itu, saat aku menyentuhnya pintasan kejadian semua tersusun seperti sebuah film. 

Kadang aku membenci diriku sendiri karena keadaanku ini, sepertinya aku harus berhati-hati dengan sosok di hadapanku. Meski terlihat seperti gadis mungil yang tak berdaya, tapi di balik itu ada suatu kekuatan yang menyelimuti jasadnya.

"Kalau kau ingin boneka, datanglah ke rumah. Aku punya banyak boneka peninggalan Aria dan Arisa."

"Mereka sudah pergi?"

"Iya ...."

"Kenapa?"

"Kurasa Tuhan sangat menyayangi mereka dan memintanya bermain di surga saat ini."

Gadis itu menatapku. Aku tak ingin terlihat kalah di depannya. Aku tahu pasti, gadis ini tahu dengan pasti penyebab kematian kedua adik kembarku.

"Datanglah ke rumah. Ada banyak boneka yang bisa kau ajak bermain daripada boneka yang di peti itu." Aku beranjak pergi darinya. 

Sekarang waktunya aku mengenal musuhku, mungkin akan sulit untuk menyingkarkannya meski nyawa akan jadi taruhannya, tapi tak ada salahnya aku mempertaruhkan semuanya sekarang. Cukup Aria dan Arisa korban terakhirnya, saatnya aku mengakhiri semuanya.

DANIA (11)

Untuk kesekian kalinya Dania kembali menggeleng, tak jauh dari tempatnya duduk, Nadia sedang duduk bersama seorang lelaki yang di lihatnya beberapa hari ini. Mereka tampak begitu mesra.

Dania sengaja mengambil tempat yang terlindung dari pandangan Nadia, dari tempatnya dia bisa leluasa meliha apa yang di lakukan gadis itu.

"Sekarang apa lagi yang kamu lakukan, Nad?" Dania menegak minumannya. Baginya Nadia adalah segalanya kini, meski rasanya ingin sekali dia berontak dan menyalahkan Nadia atas apa yang dijalannya kini, tapi dia tidak bisa, cinta dan janjinya lebih besar dari rasa marah yang di rasakannya. Janji pada kedua orang tuanya membuatnya haru mengalah dan diam dengan semua yang di lakukan gadis itu.

"Gadis bodoh," ucapnya lagi. dia mengetuk-ngetuk meja perlahan. Pikirannya kembali teringat Bimo. Pemuda itu terlalu sudah terlalu banyak berkorban untuk gadis itu. Bimo dengan sabar merawat Nadia saat gadi itu sakit, mengantarnnya kemana pun dia mau. Sekarang Nadia meninggalkannya begitu saja. Kadang Dania berkhayal jika Dia menjadi Nadia, pasti dia akan sangat bahagia, tangannya tak perlu berlumuran darah.

"Berhentilah melamun seperti itu," suara yang tak asing membuat lamunan Dania buyar seketika.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" Dania menatap tak percaya laki-laki yang duduk santai di hadapannya.

"Ada janji dengan klien, kamu ngapain ngalamun di sini?" tangan Bimo terulur menyentuh dahi Dania.

"Tidak demam, tapi wajahmu merah. Kamu nervouse ketemu aku, ya?" ledek Bimo, Dania hanya melihat pemuda itu sekilas sebelum mengalihkan perhatiannya pada Nadia, di lihatnya gadis itu bangkit hendak meninggalkan tempat itu.

"Lihat apa sich? Serius amat," Bimo menoleh ke belakang.

Dania menarik dasi yang digunakan Bimo hingga membuat pemuda itu ikut tertarik ke depan. Wajah mereka begitu dekat, Dania bia merasakan hembuan napas hangat Bimo di wajahnya.

Mata mereka beradu, Dania bisa meraakan degub jantung pemuda itu berpacu cepat. Wajahnya terasa memanas, saat tangan Bimo menyentuh bibirnya.

"Kau sangat cantik, Dan,"

"Berhentilah mengikutiku!" Dania melepaskan dasi Bimo dan menyentakkan pemuda itu kembali ke tempat duduknya kembali. Bimo membetulkan letak dasinya. Di lihatnya Dania tampak emngawasi sekelingnya, sebelum akhirnya pergi tanpa pamit. Bimo kembali medesah,

"Lain kali aku tak akan melepaskanmu, Dan." Dia hanya tersenyum melihat gadis itu berlalu begitu saja.

Dania mengawasi sekelilingnya, dia tidak menemukan sosok Nadia di tempat itu.

"Kemana lagi gadis itu? Ah, sudahlah. Apa pun yang terjadi nanti, biar dia yang bertanggung jawab. Dania membuka pintu mobilnya, tapi belum sempat dia masuk, diarasakannya ada yang menarik tangannya dengan cepat dan memeluknya. Dania merasakan ada sesuatu yang menyentuh bibirnya. Dania mendorong tubuh lelaki yang menghimpitnya.

Plaak....! sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Bimo. Dania bergegas masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari tempat itu. Beberapa kali dia mengusap bibirnya kasar, seoalah mencoba membuang jejak bibir Bimo yang tadi menempel di bibirnya.

"Gila... benar-benar gila dia...," kekesalan Dania bertumpuk saat ini, debarannya tdak lagi seirama.

"Sial ..." Nadia memukul stirnya beberapa kali. Dia mengacak rambutnya. Dania menghentikan mobilnya di pinggir jalan, memejamkan matanya sejenak.

"Dania, kamu tak boleh lari. Buang cinta itu, perasaan itu. Tunjukkan bahwa kamu bisa melawannya." Dania menepuk kepalanya beberpa kali sebelum akhirnya kembali melajukan mobil menuju ke luar kota.

Langit terlihat mulai gelap ketika Dania tiba di pekarngan sebuah rumah. Tidak ada yang aneh dengan rumah itu. Terlihat sederhana dan asri, tidak ubahnya seperti rumah pada umumnya. 

"Perlu latihan?" Anjar menyambutnya dengan senyum sinis yang menghiasi wajah tampannya.

Dania melangkah masuk tanpa memedulikan Anjar, gadis itu mlepas jaketnya dan menuju ke ruang dalam. Ada beberapa alat olah raga di sana, Dania terus melangkah masuk hingga sampai di kamarnya.

"masalah cinta?" Anjar berdiri di samping pintu kamar Dania. Gadis itu hanya diam dan menyalakan laptopnya. Jariny begitu lincah memainkan tusts keyboardnya.

"kalau kau utuh pelampiasan ada beberapa file yang bisa kamu ambil. Semua datanya ada di atas mejamu. Satu hal yang harus kamu ingat, bagi kita cinta itu ibarat virus yang melemahkan. Jadi harus di musnahkan atau kita yang akan musnah." Anjar berllu dari tempat itu, tidk lama kemudia terdengar suara deru motor menjauhi tempat itu. Dania menyandarkan tubuhnya sejenak sebelum akhirnya bangkit meninggalkan kamarnya.

Wedding day

Ada yang beda saat aku datang ke rumahnya pagi ini. Meski kesibukannya sama seperti kemarin, kali ini dengan nuansa berbeda. Beberapa buket bunga menghiasi sudut rumah, tenda merah menaungi teras depan.

"Jangan sampai ada yang ketinggalan, siapkan semuanya!" perintah seorang wanita separuh baya. Dia terlihat sibuk pagi ini, berjalan hilir-mudik seperti setrika tanpa kabel. Memberikn arahan. 

Tak ada yang peduli denganku, tak ada yang menyapaku. Mereka sibuk dengan persiapan pernikahan esok hari. Teganya mereka padaku, mereka membuatku tak tenang dan gelisah seperti ini. Kesedihan ini tak akan bisa mereka tutupi dengan indahnya bunga yang menghiasi pelaminan atau bau harum yang tercium dari tempat itu.

"Harusnya aku bahagia melihatmu esok hari dengan pakaian pengantin tapi ... ." tak ada yang peduli degan ucapanku. Bahkan pemuda yang duduk di hadapanku pun tak peduli.

Wajahnya terlihat pucat dan sembab, bahunya terguncang pelan. Dia menunduk dan sesekali menyeka airmatanya. beberapa orang yang melintai tempat itu hanya mempu menyeka airmata mereka, tapi aku masih bisamendengar bisik-bisik di belakangku. Mereka tak peduli dengan perasaanku saat ini.

"Kamu yakin akan menikahinya?" tepukan halus di bahu pemuda itu membuatnya menoleh. Tidak ada jawaban, hanya bahunya yang kembali terguncang.

"Aku mencintainya, Bu. Dia sudah mengorbankan hidupnya untukku, tulang rusukku, kembali pada tubuhku," Dia menyentuh dadannya pelan. Di sana jantungku berada.

Pernyataannya membuatku sakit, lebih sakit dari sebelumnya. Aku tak ingin melihatnya menikah esok hari. Melihatnya memakai jas putih dengan dandanan rapi dan wajah sembab dan pucat. Itu menyakitkan buatku. Harusnya dia tak perlu melakukan ini, dia tak perlu memaksakan diri menikahiku.Lukanya belum mengering, aku tak bayaran atas apa yang aku lakukan, apalagi sebuah pernikahan.

"Tapi ..." Wanita paruh baya itu terlihat ragu melanjutkan ucapannya.

"Janji tetaplah janji, Bu. Aku sudah janji akan menikahinya apa pun keadaannya," 

Wanita paruh baya itu hanya mendesah, menepuk bahu anaknya pelan sebelum akhirnya meninggalkannya duduk sendirian di pelaminan yang baru selesai ditata.

Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. Berharap dia mau mengabulkan permintaanku kali ini.

"Bisakah kamu batalkan pernikahan ini? Aku mohon ...." 

Pemuda itu bangkit dan meninggalkanku, dia tak mengindahkan permintaanku. Bahkan airmataku tak bisa membuatnya menoleh. Aku mengikutinya, berharap bisa membuatnya mendengar keinginanku dan menurutinya.

Langkahnya terhenti di depan kamarku. Ada yang berbeda kali ini, beberapa bunga yang menghiasi tiap sudut ruangannya. Pemuda itu duduk di sisi pembaringan, bahunya kembali terguncang pelan, tetesan bening ke luar dari sudut matanya.

"Ga, kumohon. Batalkan pernikahan ini. Aku tak ingin melihatmu menikah esok. Aku tak sanggup melihatmu esok dengan baju pengantin itu!"

"Ra, kita akan tetap menikah esok. Kamu tak akan sendiri lagi, kita akan jadi satu keluarga, seperti mimpimu,"

"Ga, aku memang menginginkan menikah denganmu tapi tidak esok, lusa atau hari sesudahnya.... kamu tak boleh melakukan ini! Aku tak sendirian, Ga. Kamu tak perlu mecemaskan itu,"

"Aku tetap akan menjadikanmu pengantinku esok, Ra. Tetaplah berdetak dalam tubuhku,"

Aku mengusap wajahnya pelan. Matanya terlihat merah dan bengkak karena terlalu banyak menangis. 

"Bisakah kau mendengarku kali ini? Kabulkan keinganku,Ga. Iklaskan aku pergi, jangan menikahiku!" kurasa mataku kembali memanas kali ini.

"Besok, kamu akan jadi pengantin paling cantik. Kamu paling suka aku meriasmu. Esok ... aku juga melakukannya untukmu. Tak perlu cemas. Aku akan merawatmu, seperti kamu merawatku dulu," Aga mengusap air matanya, dia mencoba tersenyum meski akhirnya airmatanya kembali mengalir. 

Cinta memang sulit di pahami, harusnya esok aku akan jadi pengantin paling berbahagia saat ini, tapi kenyataannya esok aku akan menjadi pengantin paling menyedihkan. Tak bisa lagi bicara atau pun menyentuhnya, bahkan duduk di pelaminan pun aku tak akan bisa melakukannya. 

Aga bangkit dari duduknya, langkahnya gontai meninggalkan tempat itu. Dia berjalan pelan menuju kamar belakang, tempat jasadku di simpan.
Malam ini hujan kembali turun dan aku kembali tertunduk diam dalam putaran waktu yang mengalahkanku...

#Little_Story_Dy

Stalker

Untuk kesekian kalinya aku berkeliling kompleks perumahan, kali ini aku berharap keberuntungan berpihak padaku agar bisa melihat sosoknya seperti kemarin.

Sore ini keberuntungan berpihak padaku, aku melihatnya sedang berdiri di depan pintu pagar rumahnya, sepertinya dia baru saja pulang kerja. Tidak seperti kemarin, hari ini dia pulang cepat.

Kemejanya sudah tergulung sebatas siku, dasi yang dikenakan sudah dilepas, aku bisa melihat ujung dasi yang masih tersembul di saku celannya. Wajah putihnya sedikit kemerahan terbakar matahari. Untuk sesaat aku menikmati pemandangan ini. 

Pemuda itu menoleh padaku, sepertinya dia sadar jika sedang di perhatikan. Aku tersenyum padanya sebelum melanjutkan langkahku. Kurasa cukup sampai di sini untuk hari ini. Setidaknya aku sudah membuatnya melihat ke arahku untuk kesekian kalinya. Aku tak ingin dia berpikiran aku sengaja mengutitnya meski kenyataannya memang demikian.

Pagi ini taman kompleks terlihat lebih ramai dari biasanya, banyak warga yang berolah raga di tempat itu. Aku duduk di bawah pohon, melihat sekelompok ibu-ibu yang sedang senam. Gerakan mereka membuatku tersenyum.

"Ah, sepertinya mereka lebih suka semaunya daripada mengikuti arahan," tawaku hampir meledak ketika kulihat beberapa ibu-ibu yang lebih asyik bergoyang sendiri daripada mengikuti instruktur mereka. Sepertinya mereka lebih nyaman dengan goyangan mereka buat.

"Apa kamu penghuni baru?" Suara itu membuatku menoleh. Pemuda yang kuikuti kini berdiri di sampingku.

"Iya, aku baru pindah ke sini,"

"Oooo ... pantas, aku baru melihatmu belakangan ini. Kerja di sini?"

"Bisa di bilang begitu." Aku bangkit dan meninggalkannya. Kurasa perbincangan kami cukup sampai di sini.

"Hai, tunggu!" Pemuda itu menyusulku. Sepertinya dia mulai penasaran denganku, ini kemajuan yang aku inginkan.

"Ada apa?"

"Kamu kerja di mana?"

"Di restoran,"

"Kamu koki?"

Aku megangguk dan tersenyum.

"Oya, siapa namamu?''

"Zara," Aku mengulurkan tanganku. Dia membalasnya.

"Aku Ridwan. Kamu mau balik?"

Aku mengangguk, kulihat senyumnya mengembang. Ada lesung pipi yang tertangkap mataku saat dia tersenyum. Aku mengamati sosok yang kini berdiri di hadapanku. 

Selama ini aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Kini, aku bisa melihatnya dengan jelas. Bahkan aku bisa mencium bau semerbak parfum yang dikenakannya pagi ini. 

"Kapan-kapan boleh donk merasakan masakanmu,"

"Tentu dengan senang hati,"

Pemuda itu masih saja berceloteh panjang lebar tentang pekerjaan dan juga tentang kompleks perumahan ini. Aku hanya sesekali menjawab pertanyaannya. Semula kupikir dia pemuda pendiam dan agak ketus tapi ternyata pikiranku salah, dia lebih cerewet dari dugaanku.

Jika diperhatikan, pemuda ini memang tampan, alis matanya tebal dan hidungnya mancung. Pantas jika Saki tergila-gila padanya, hingga membuatnya rela melakukan apa pun termasuk mengakhiri hidupnya demi pemuda ini. 

Aku melihat tawanya mengembang. Rasa nyeri itu kembali hadir, harusnya dia tidak tertawa seperti itu setelah menyuruh seorang gadis mengkhiri hidupnya secara konyol demi cinta yang dimilikinya.

"Tertawalah sepuasmu, karena esok saat kamu bertemu denganku lagi, tawa itu akan menghilang selamanya," ucapku dalam hati. Kurasa dia tak akan bisa tertawa seperti ini saat tahu kebenarannya nanti. 

Aku akan menikmati tawa itu untuk sesaat, sebelum mengirimnya bertemu dengan Saki--adikku. Kurasa Saki pasti akan senang dengan kirimanku nanti. 

Sepertinya keberuntungan berpihak padaku hari ini, kuharap esok hari pun keberuntungan juga berpihak kepadaku agar tak ada penyesalan di hatiku karena dendam padanya.

Sayap Patah

"Berikan ini pada Rudi!" Sepucuk surat terbungkus kertas polos terulur di depan wajahku.

Aku mendongakkan kepala, Mita menatapku setius, sorot matanya penuh pengharapan. Sejenak aku masih enggan untuk menerima amplop itu. Bukan karena aku tak mau membantunya kali ini, tapi aku tak ingin ikut campur urusan mereka. 

Mita akhirnya mendudukan pantatnya dengan kesal di bangku di depanku. Surat itu masih di genggamnya.

"Dy ...!"

"Serius? Kamu ngejar dia?"

"Iya, kenapa emang?"

"Selamat kalau begitu ...."

"Selamat apa, Dy?"

"Selamat berjuang ...!"

"Aseeeem ...." Mita terkekeh. 

Aku menerima surat itu dan menyimpannya di saku. Istirahat ke dua mungkin aku bisa menemui Rudi nanti.  Mita terlihat lega. 

Aku hanya menggeleng, kenapa dia tidak mengejar Denny saja yang jelas-jelas macho n keren. Tapi aku bersyukur, setidaknya sainganku berkurang. 

Cinta emang buta, apa yang di lihat Mita dari sosok Rudi selain dia kakak kelas. Apa bagusnya? Kerempeng, hitam tapi dia selalu tersenyum. Mungkin senyum ini yang sudah membuat Mita jatuh hati. 

Tapi Denny juga sering senyum, bahkan senyumnya berhasil merontokkan perhatianku. Diam-diam aku sering melirik ke arahnya, aku suka gayanya yang cuek. Dia seperti bos genk saja, ada beberapa anak yang selalu mengekori kemana pun dia pergi.

"Kamu boleh membacanya, Dy. Kita kan sahabat."

"Aku akan membacanya saat amplop ini tidak direkatkan. Aku malas kalau harus menggantinya dengan yang baru," itu artinya aku harus ke kantin seberang jalan untuk membeli amplop baru dan harus melewati kelas Rudi. Bisa-bisa itu cowok bakalan curiga kalau aku melintas di sana, parahnya lagi dia bakalan ngira aku ngejar dia. Hiks ... ribet amat ya urusan sama mereka.

Bel masuk berbunyi, semua kembali ke bangku masing-masing. Sosok yang aku tunggu muncul, siapa lagi kalau bukan Denny. Senyumnya merekah dan seperti biasa, dia di ikuti beberapa teman sekelas. Mereka selalu bersama layaknya sodara.

Saat pelajaran di mulai, pikiranku di penuhi rasa penasaran tentang surat itu, meski aku bisa menebak apa isinya tapi tetap saja rasa penasaran itu datang. 

Hingga akhirnya bel istirahat berbunyi, aku langsung lari ke luar kelas. Tujuanku cuma satu, kelas Rudi.

Sampai di sana ternyata mereka masih ujian hingga jam istirahat, jadi mereka akan terlambat untuk istirahat. Kuputuskan untuk menunggu  di perpus depan kelas Rudi. 

Beberapa buku kuambil dan kukembalikan dengan cepat tanpa berniat membaca isinya. Beberapa kali aku mengintip ke kelas Rudi. Mereka masih terlihat serius.

"Sepertinya mereka bakalan telat istirahatnya." gumanku pelan sambil mengintip lagi ke kelas Rudi.

Kuputuskan untuk mengembalikan buku yang kupegang ke raknya. Mungkin pulang nanti aku bisa menjegal Rudi sebentar untuk memberikan surat itu. Tapi saat aku keluar perpus kulihat seorang guru ke luar dari kelas Rudi, itu artinya mereka sudah selesai ujian. 
Aku segera berkari masuk kelas Rudi, tidak aku pedulilan pandangan puluhan mata yang memandangku aneh saat aku menyerebot begitu saja.

"Dari Mita!" Aku menyodorkan surat itu pada Rudi dan berlari ke luar. Gemuruh sorak dan tawa tertangkap jelas di telingku. 

Aku berlari cepat. Bukan karena malu dengan sorakan teman Rudi tapi karena aku melihat sosok guru wali kelasku sudah ke luar dari kantor dan menuju ke kelasku. Bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.

Sampai di kelas, semua masih riuh. Mita menatapku dengang penuh harap. Aku hanya mengacungkan jempol saja ke arahnya dan senyum kelegaan terpancar di wajahnya.

Keringat mengucur deras membasahi wajahku, napasku masih tersengal. Aku mengambil buku dan kugunan sebagai kipas untuk mendinginkan suhu tubuhku. Tenggorokanku terasa kering.

"Keluarkan kertas kalian, kita akan ujian!" Suara Pak Guru saat sosoknya muncul di pintu.

"Pak izin bentar ke belakang!" Aku mengangkat tanganku. Beberapa pasang mata menoleh ke arahku.

"Kebiasaan. Kelakuan kayak preman, tapi waktu ujian pasti mules duluan!" kata Denny disambut tawa beberapa orang.

"Cepet, Dy. Waktumu ndak banyak."

Terserah ah mereka mau ngomong apa, aku bener-bener tidak bisa menahan kali ini. Kupercepat langkah menyusuri lorong. Di ujung lorong aku membelokkan lanhkah menuju kantin. Tenggorokanku rasanya tercekat.

"Rud, di cari cewek, lo!" Suara seorang laki-laki membahana. Beberapa pasang mata menoleh ke arahku. 

"Bener-bener preman ni bocah, yang lain pada masuk, dia malah ke luar," seorang gadis menggeleng. Mereka semua teman Rudi.

Aku menyambar aqua dingin dan segera membayarnya. Saat ini aku tak punya waktu meladeni mereka. 

Baru saja hendak berlalu, seseorang menarik rambutku. Membuatku terjatuh dengan pantat membentur lantai.

"Lepasin, Rud. Aku ujian nich!" kepalaku terasa berdenyut, aku yakin pasti ada yang rontok selarang. 

"Kalau ujian kenapa ke luar? Ke kantin pula," Rudi melepaskan rambutku.

"Haus tau! Nungguin lo lama banget. Elo ngerjain ujian apa nglamun sich? Ndak kelar-kelar, sampai dehidrasi rasanya nungguin lo. Udah ah, gue mau ujian dulu!" Aku menbetulkan letak kucirku yang miring karena tarikan Rudi tadi.

"Sok serius! Tetep aja nilai pas-pasan!" ucpannya membuat teman-temannya tergelak.

Aku berlari cepat ke kelas. Aku kehilangan beberapa menit gara-gara Rudi. Dengan napas masih tersengal dan detak jantung yang berlompatan tak beraturan aku mulai mengerjakan soal. Tidak ada suara, hanya ada keheningan. Semua wajah terlihat serius, mereka berpikir keras. Sepertinya hanya aku yang masih bisa celingukan saat ini.

Mataku tertuju pada lembaran soal yang kini berada di hadapanku. Tanpa sengaja mataku menangkap sosok beberapa orang yang melintas di depanku. Rudi dan teman-temannya. Sejenak aku mengamati kelakuan pemuda itu. Sepertinya dia sengaja ke sini. Apa dia penasaran pingin melihat Mita?

"Lima belas menit lagi kumpulkan!" perintah Pak Guru me buatku tersadar.

"Mampus aku, tinggal lima belas menit dan aku belum selesaikan semuanya? Masih ada setengah soal yang belum aku baca. Apa yang harus aku tulis sekarang? Awas lo, Rud. Tunggu pembalasanku!" Aku memukul kepalaku pelan, merutuki kebodohanku hari ini.

Sementara itu di luar kelas, Rudi tersenyum miring. Dia berlalu kembali ke kelasnya saat mendengar panggilan dari teman-temannya.

Melihat senyumnya yang seolah mengejek, muncul sebuah ide dalam benakku. Kali ini ganti aku yang tersenyum miring.