Rabu, 21 Oktober 2015

Kewarasan yang Di nantikan

"Sebentar lagi Dy. Bersabarlah."

"Kepalaku rasanya mau meledak. aku tak akan tenang sebelum maslah ini selesai."

"Bersabarlah, pikirkan langkah selanjutnya."

"Aku tak bisa berpikir apa-apa. Seluruh sel otakku mati seketika rasanya. Aku jadi linglung, plin-plan, semaunya dan juga egois."

"Tenanglah!"

"Aku tak bisa tenang, setelah selesai bawa ibu baru aku bisa tenang. Pikiranku benar-benar buntu.!"

"Sudah cari info?"

"Mereka tak akan mengijinkanku kerja."

"Kau bisa nekad seperti biasanya."

"Ibu ndak bakalan ngijinin.... seperti dulu, dia akan memintaku merawatnya."

"Ya, sudah. Diam saja di rumah."

"Aku setres kalau lama-lama di rumah tanpa ada kerjaan."

"Cari yang online...."

"Boros quota. Lagian aku dah malas dagang novel itu saat ini. Buatku itu karya gagal. Terlalu banyak masalah yang membebani buku itu. Jadi ya sudah, di off saja."

"Apa tidak apa? Kau iklas?"

"Iya ... kita off kan saja. Aku akan menulis lagi lain waktu?"

"Royaltimu?"

"Iklaskan saja, Tab. Lagi pula aku tak yakin dengan yang dia ucapkan. Member lain saja sampai sekarang bukunya juga belum pada turun. hahahha..... sudahlah, mana ada anak kuliahan yang borong bukuku. Buat apa? Aku bukan penulis terkenal."

"Ya sudah, Sekarang tenanglah ...."

"Aku ndak bisa, Tab. Kepalaku mau meledak. Andai bisa kubedah sendiri, sudah pasti dari dulu aku aku operasi."

"Ini tak ada hubungannya dengan isi kepalamu. Kau cuma harus tenang."

"Itu yang tak bisa aku lakukan."

"Kau harus mencobanya."

Ya, aku harus mencobanya. kemarahan tak akan menyelesaikan apapun. Meski semua hadir di saat yang bersamaan tapi tak boleh di hindari. Sesak, bukan berarti tak bisa dilegakan. Hanya tinggal bersarbar beberapa waktu saja dan kewarasan bisa di dapatkan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar