Jumat, 30 Oktober 2015

Lembaran Hitam

Seperti hari sebelumnya, dia akan berdiri di samping jendela dan menikmati senja yang tak berapa lagi akan berganti hamparan gelap.

"Bukankah senja ini selalu indah, Dy?'' Dia masih menengadah, seolah ada yang membuatnya tak bisa berpaling saat ini.

"Bagiku senja sama saja, hanya pergantian waktu."

"Kau selalu sinis, Dy."

Aku hanya tersenyum miring mendengar ucapannya.

"Aku hanya mencoba realistis."

"Itu karena kau tak punya kenangan tentang senja." Arin masih menengadah.

"Kalaupun punya, aku tak akan mengatannya padamu."

"Andai kau tahu, Dy. Senja membuatku hangat."

"Kalau ingin kehangatan, keluarlah. Jangan sembunyi di balik tirai kamarmu yang pengap ini. Di luar sana banyak kehangatan yang bisa kau dapatkan."

"Kurasa, mereka tak punya kehangatan yang aku cari."

"Dari mana kau tahu? Selama kau tak merentangkan tanganmu, tidak akan ada yang datang padamu. Pernah kau coba? Kurasa tidak. Kau lebih suka diam di sini dari pada keluar."

"Bagaimana denganmu, kau juga lebih suka berada di sisi gelap daripada keluar kan?"

"Setidaknya aku tidak mencari kehangatan dari sepotong senja yang menghadirkan luka." ucapku lirih.

"Beberapa hari yang lalu Damar ke sini. Dia bilang akan melamarku dan ternyata dia tak pernah kembali lagi, kenapa dia pergi begitu saja?" Dia mulai terisak.

"Jangan buang air matamu untuk sesuatu yang percuma, Za. Kurasa lelaki itu tak pantas untukmu."

"Apanya yang tak pantas, Dy? Apa standar kepantasan seseorang dalam berpasangan? Kau tahu, aku sudah menantikan ini lama sekali. Dia tidak pernah melihat padaku dan di saat dia memilihku, kenapa Tuhan memisahkan kami? Tak layakkah aku untuknya?"

"Dia yang tak layak untukmu!" bantahku dalam hati.

"Aku menginginkannya, Dy."

"Tapi aku sudah menyingkirkannnya!" teriakku dalam hati.

"Dia pemuda yang baik, Dy."

"Dia pembohong, penipu, suka mainin perempuan. Apa yang kau harapkan dari penipu seperti itu? Tidak ada yang lebih mengenal dia selain aku. kekasih yang dicampakkannya begitu saja saat dia punya mangsa yang baru." jelasku dalam hati.

"Aku merindukannya, Dy. Tiga bulan kita bersama dan aku mulai mencintainya." Zaza menatapku sendu.

"Dan aku sudah bersamanya bertahun-tahun. Dia baru mengenalmu, dan memilih berpaling daripada terus bersamaku." jelasku dalam hati.

"Dia orang yang menyenangkan, Dy."

"Tapi aku membencinya, Za. Sangat!" balasku dalam hati.

"Kenapa kau dari tadi diam saja, Dy?"

"Tidak, aku bicara denganmu. Sepertinya aku harus pergi. Ada hal yang harus aku lakukan." Aku berlalu dari hadapannya. Kurasa dia akan membenciku jika tahu aku yang menyingkirkan Arman dari kehidupannya.

"Dy, beritahu aku jika kau melihat Damar!" pintanya putus asa.

Suatu saat mungkin aku akan bicara dengannya, tapi tidak saat ini. Sekarang aku harus menyingkirkan tubuh Arman dulu sebelum bau busuk tercium banyak orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar