"Dan ...!" Wajah Nadia terlihat ceria sore ini.
"Oh, kau sudah datang cepat sekali. Tunggu saja di kantor, Bimo juga ada di sini."
"Bimo di sini?" Nadia berlari ke kantor.
Aku melepar panci itu hingga menimbulkan suara berdentang, membuat puluhan mata terarah padaku. Sekarang saatnya mendengar penjelasan dari mereka. Dengan kesal kutinggalkan dapur begitu saja.
"Apa sebenarnya yang sedang kalian rencanakan?"
Nadia masih berdiri di antara mereka. Pandangannya kini beralih padaku.
"Mbak Tari! Tolong bersihkan kantorku!"
Mbak Tari muncul bersama seorang karyawati. Dengan cekatan dia membersihkan meja. Tidak ada suara yang terdengar di antara kami. Aku masih bersandar di pintu. Bimo terlihat tenang. Sedangkan gadis di sampingnya terlihat salah tingkah. Mbak tari dengan cepat membuat tempat itu bersih kembali.
"Kita bicara sekarang. Ada apa ini Nadia?"
"Aku hanya ingin mengenalkan seseorang padamu."
"Siapa? Bimo? Kalau memang dia tak perlu seribet ini kan? Kamu tinggal bilang ke aku kalau kalian akan menikah. Gampang kan?"
"Dia bukan Bimo?"
"Bukan?" Aku menatap Nadia tak percaya.
"Maaf, saya permisi dulu." Andin sepertinya merasa tak enak mendengar pertengkaran kami. Dia segera berlalu dari tempat itu.
Aku melepas celemekku dan meleparkannya begitu saja. Aku menatap mereka bergantian.
"Kau membuatku bingung. Jika bukan Bimo, lalu siapa? Hubungan kalian selama ini apa?"
Bimo terdiam, sekilas memandang Nadia dan mengalihkan pandangannya ke luar, menunggu jawaban. Diteguknya minumannya dengan cepat, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Aku hanya menganggapnya saudara."
"Saudara? Nad. Setelah apa yang dia lakukan padamu selama ini, kau hanya menganggapnya saudara? Jangan bermain dengan hati."
"Dan ..."
"Aku kecewa padamu Nad, semudah itukah kau bermain hati. Kami bukan bola yang bisa kau oper semaumu." Aku hanya menggeleng saja.
''Dan kau Bim! Apa maumu sebenarnya? Aku kecewa padamu. Harusnya kau tak perlu ganti identitas untuk bekerja sama denganku. Kita bisa membicarakannya sebagai keluarga 'kan?"
"Sorry, Dan. Soal kerja sama ini aku juga baru tahu kalau itu kamu. Sebenarnya ini tugas Pak Herman, tapi mendadak beliau ada keperluan jadi aku yang menyelesaikan. Aku juga terkejut saat tahu itu kamu."
"Kalian membuatku pusing. Kurasa kalian perlu bicara sekarang!" Aku meninggalkan mereka.
"Dan!"
"Aku akan minta Mbak Tari membantumu nanti. Aku pergi dulu."
"Kau mau kemana?"
Kurasa aku butuh tempat yang tenang sekarang. Kupacu mobil meninggalkan restoran. Entah kenapa kemarah ini bertumpuk rasanya.
Ingatanku kembali saat pertama kali melihat Bimo, masih terekam jelas di ingatanku saat Nadia menggandeng tangannya, senyum mereka begitu ceria, selama ini mereka begitu dekat. Lalu apa artinya ciuman dan pelukan itu buat Nadia. Bagaimmana mungkin dia hanya menganggapnya saudara.
"Nadia ... aku kecewa padamu!" Protesku kini hanya berakhir di dalam hati.
Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin dia bisa melepaskan Bimo dengan mudahnya. Harusnya dia bersyukur karena Bimo tak melepaskan tangannya meski Bimo tahu keadaannya yang seperti itu.
Dia pemuda yang baik dan juga perhatian. Dekat dengannya terasa hangat. Satu hari bersamanya membuatku merasa dicintai lebih, tapi sayangnya saat itu bukan aku yang sebenarnya. Aku hanya menggantikan peran Nadia dan Bimo tak menyadari itu.
#Secret_heart_8
Kesedihan terindah adalah saat kau berhasil melewatinya dengan baik. Kemenangan terbesar adalah saat kau bisa menaklukkan dirimu sendiri tanpa hilang kewarasan. Saat kau kembali terseret ke masa lalu maka ingatlah bahwa masa lalu akan tetap hidup meski kau ingin membuangnya. Biarkan saja dia lewat dan menggodamu sementara waktu, taklukkan dengan cara yang benar. Kelak kau akan menjadi kuat karena rasa sakit tak akan bisa mengalahkanmu lagi.
Kamis, 26 November 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar