Rabu, 09 Desember 2015

"Kamu orang baru ya?" Seorang pemuda muncul sambil memegang korang pagi itu. Ara memerhatikan pemuda itu, kegiatan membersihkan teras depan sejenak terhenti. Dia mendekati pemuda itu.

"Buat Pak Agung," ucapnya lagi sambil menyodorkan koran itu.

Ara menerimanya. Pemuda berlalu dan mengayuh sepedanya kencang.

"Bahasa indonesia kaku sekali." ucap Ara lirih.

Ara mendapatkan pekerjaan baru di daerah. Di sana dia beruaha membaur dengan masyarakat yang baru, mengenali bahasa mereka dan juga masakannya. Dia tinggal di perumahan yang masih terbilang baru dan juga masih sepi. Tidak ada aktivitas warga yang dia lihat pagi itu.

Ini bukan pertama kalinya dia bekerja di tempat yang jauh, dia sudah terbiasa berpisah dengan orang tuanya.

"Mbak Ninin itu di bilangin agak susah."

Sore itu semua berkumpul di ruang depan. Menikmati gorengan sambil berbincang. Ara menyandarkan tubuhnya di tembok, mendengarkan pembicaraan mereka. Sebagai anggota baru dalam rumah itu, dia masih belum berani akrab dengan semua anggota keluarga.

"Jangan terlalu sering senam biar cepat hamil." ucap Ibu lagi.

"Tidak apa-apa, Bu. Senam kan bikin sehat." ucap Mbak Ninin.

"Jangan pilih senam seperti itu." Ibu berlalu, masuk ke kamar.

"Ayo, Ra. Senam!" ucap Mbak Ninin seoalh tak terpengaruh dengan ucapan ibu mertuanya.

Ara hanya menggeleng. Setahun Pak Agung dan Mbak Ninin menikah tapi mereka belum juga punya momongan. Kekhawatiran ibu tentang hobi senam Mbak Ninin, membuatnya kadang jengkel. Setiap hari topiknya tak pernah beranjak dari makanan dan juga senam.

"Mbak Ninin itu anak tunggal, orang tuanya juga susah hamil. Makanya Mbak Ninin juga susah hamil."

Kuping Ara terasa panas mendengar ucapan Ibu mertua Mbak Ninin, dalam hati dia berdoa agar kelak tidak mendapatkan mertua seperti ini. Dia sering tahu dan mendengar, seorang mertua yang tidak akur dengan menantunya.

 Tiba-tiba saja dia merindukan rumahnya yang tenang dan sederhana. Selama di sana, Ara lebih suka berada di kamarnya, membaca tumpukan majalah usang daripada mendengarkan nada protes ibu mertua Mbak Ninin.

"Ra, inget ya. Selama di sini kamu harus mengawasi Mbak Ninin. Jangan boleh senam yang begituan. Bikin susah hamil!" ucap ibu sebelum masuk ke mobil. Ara hanya mengangguk, hari itu Ibu pulang ke sragen.

"Rumah tenang!" seru Ara dalam hati.

Mobil yang membawa ibu bergerak pelan meninggalkan komplek perumahan. Di ujung gang Ara melihat pemuda pengantar koran datang sambil mengayuh sepedanya.

"Koran!" teriaknya, padahal Ara masih berdiri di depan pagar.

Gadis itu hanya tersenyum dan menerima koran.

"Ada berita bagus pagi ini." celoteh pemuda itu.

Ara mengangguk dan melihat koran itu.

"Kamu suka membaca?"

Ara kembali menganngguk.

"Kamu tak bisa bicara, ya?"

"Bisa." jawab Ara cepat.

"Nah, itu suaramu terdengar. Dari kemarin cuma diam dan mengangguk. Kayak ngomong sama tembok saja rasanya." Pemuda itu segera berlalu dan mengayuh sepedanya cepat.

Ara hanya tersenyum dan kembali masuk ke dalam.

Hari berikutnya pemuda itu datang lebih pagi dan membawakan Ara majalah baru.

"Bacalah cepat. Ingat jangan sampai lecek."

"Kamu akan terlambat jika menungguku selesai membaca."

"Aku bisa mengayuh sepedaku lebih cepat!"

Ara membuka majalah itu.

"Sudah." katanya sambil menyodorkan majalah itu.

"Sudah?" Pemuda itu menatap Ara tak percaya.

"Iya, aku sudah selesai melihatnya."

"Kamu tak baca isinya?''

"Sudah," jawab Ara mantap.

"Yang bener?"

"Iya."

Ara memang sudah membaca cerita itu meski hanya beberapa paragraf di bagian endingnya saja. Baginya tak perlu tahu proes alur ceritanya. Cukup dia tahu bagaimana endingnya, dia akan menembak sendiri jalan ceritanya.

"Pergilah cepat! Sudah siang."

Pemuda itu memasukkan majalah itu ke dalam tasn dan mengayuh sepeda lebih cepat. Ara melihatnya hingga pemua itu menghilang di ujung gang. Hari-hari berikutnya pemuda itu datang pagi-pagi sekali dan dia akan menyodorkan majalah baru buat Ara.

"Besok, tak perlu membawakanku majalah lagi."

"Kenapa? Kamu tak suka majalah yang aku bawakan. Kalau kamu mau aku bisa mencarikan majalah bekas untukmu. Kebetulan kemarin di agen ada beberapa majalah yang di kembalikan. jadi kamu bisa puas membacanya."

"Tidak perlu. Aku akan pulang."

"Pulang?"

"Iya, aku rindu rumah. Aku ndak mau membawa atau meninggalkan banyak barang." ucap Ara pelan.

"kapan kamu pulang?"

"Mungkin...."

"Mungkin?"

"Mungkin hari ini kalau ndak besok."

"Mendadak sekali. Harusnya dari kemarin kamu bilang, jadi aku bisa siapkan sesuatu untuk temanmu di jalan."

"Tak perlu, terimakasih untuk majalahnya. Sebaiknya kamu segera pergi. Kasihan pelangganmu."

pemuda itu beranjak bangkit tapi kemudia dia duduk lagi.

"Kamu yakin akan pulang?"

Ara mengangguk.

"Kembli ke sini?"

Ara menggeleng, "maaf, merepotkanmu dan terima kasih."

Pemuda itu menggeleng. Raut wajahnya berubah seketika.

"Hati-hati di jalan." Pemuda itu segera berlalu. Mengayuh sepedanya pelan meninggalkan kompleks.

"Kelak aku akan mengenangmu dengan caraku." ucapnya lirih sebelum menutup pintu pagar.

Kekecewaan telah membuat Ara memutuskan meninggalkan tempat itu. Bukan hanya karena masalah makan yang dibatasi tapi juga karena gaji yang minim. Ara tidak berani protes, dia hanya menerima dan memutuskan mencari pekerjaan di tempat lain.

Pagi ini koran datang lagi tapi bukan pemuda yang kemarin yang mengantarnya.

"Lopernya ganti, Mas yang kemarin sudah keluar kerjaan katanya." ucap Mbak Ninin sambil meletakkan koran di meja.

"Kenapa dia cepat sekali pergi, padahal aku ingin melihatnya pagi ini sebelum pulang. Bahkan aku belum tahu namanya." ucap Ara lirih sambil mengemasi bajunya. Hari ini Ara pulang dengan setumpuk kesedihan.

#Little_story_dy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar