Minggu, 01 November 2015

Cinta Semu

Untuk kesekian kalinya lirikanku jatuh ke arloji yang melingkar di tangan kiriku, rasanya sudah tidak sabar melihat ekspresinya saat dia memasuki pintu itu. Expresi apa yang akan ditunjukan nanti. Ah, apa dia akan pulang terlambat lagi hari ini?

Tujuh tahun meninggalkan tempat ini ternyata tidak banyak yang berubah. Rumah ini tetap saja hangat, Ibu masih dengan senyumnya yang teduh dan juga Kak Ri ramah. Sekarang anggota keluarga sudah bertambah, ada si kecil Alisya. Sepertinya keceriaan rumah ini bertambah.

"May?" Suara itu membuatku terhenyak. Sejenak kami sama-sama terpaku. Sepertinya bukan aku saja yang memberikan kejutan padanya. Tapi dia juga memberikan kejutan padaku.

Seorang gadis muncul di belakangnya.

"Ada tamu ya?" sapanya ramah. Aku hanya tersenyum membalas ucapannya.

"May keluarga kita juga, Ris. Dia dulu ikut ibu juga. Sekarang di sini lagi, bantu ibu."

"Ooo ... iya to?" gadis itu duduk di dekatku. Kak Dodi masih terpaku di tempatnya.

"Kak, mau jadi satpam ya? Dari tadi berdiri terus."

"Bodat kau, May!"

Aku tergelak mendengar ucapannya, sudah sekian lama kau tak mendengarnya dan sekarang ucapan itu terasa hangat. Riska, sekarang gadis ini yang menempati ruang hati yang dulu sempat aku masuki diam-diam.

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenang seseorang dalam ketidak pastian. Kurasa pilihannya tepat untuk mencari penggantiku. Lagi pula rasa yang kami miliki tanpa nama, kita hanya menikmatinya saja.

Sore ini, sore pertama aku di sini. Kembali bergulat dengan dapur dan aneka kesibukan lainnya, membuatku sejenak melupakannya meski kadang suaranya mengganggu konsentrasiku.

"Sepertinya kau perlu belajar masak lagi, May." ucapnya sambil berlalu.

Aku benar-benar merindukan suasana ini, ingin rasanya aku memeluk mereka lagi, tapi segera kusingkirkan keinginan konyol ini...

Malam itu entah mengapa resah kembali menyapa. Untuk kesekian kalinya dada ini terasa pengap. Bergegas aku bangkit dan menuju dapur, sepertinya tenggorokanku mulai kering karena gelisah.

Rumah  terlihat sepi dan gelap, semua penghuni sudah terlelap dalam mimpi mereka. Segelas air dingin yang mengaliri tenggorokan, belum mampu membuat pikiranku tenang.

Kulangkahkan kaki ke balkon atas, di sana dulu aku sering menghabiskan malam jika gelisah menyerang. Sepertinya malam ini pun aku membutuhkan tempat itu.

Tempat ini masih seperti dulu, tenang dan juga dingin. Kurebahkan tubuh, menatap lagit yang tertutup kabut gelap, semilir angin dinginnya membuat perasaanku sedikit tenang, kupejamkan mata, menikmati keheningan malam ini.

"Kenapa baru sekarang kau balik lagi, Dik?" Suara itu membuatku terhenyak. Tangannya yang kokoh menahan bahuku untuk bangkit. Napasnya terasa hangat menerpa wajahku, Apa aku tadi tertidur hingga tidak menyadari kehadirannya...

"Aku bukan paranormal yang bisa meprediksi kapan harus muncul dan kapan harus pergi, Kak."

"Andai saja kau datang lebih awal, Dik."

"Pada kenyataannya kita tak akan bisa mengubah apapun, Kak."

"Apa kita akan seperti dulu, May?"

Pertanyaan ini membuat kita berpikir lagi. Sekarang meski aku berada di sisinya, aku tak akan bisa memasuki hatinya. Di sana sudah ada gadis itu.

"Kembalilah ke kamar. Istrimu pasti sudah menunggu. Kita tak perlu kembali ke masa lalu. Sekarang yang terpenting adalah kembali berjalan di jalan kita masing-masing. Kamu majikanku dan itu tak akan berubah sampai kapan pun."

"Apakah rasamu sudah berubah?"

"Rasaku sudah beruabah sejak dulu, Kak. Tak ada yang tersisa sekarang. Turunlah."

"Tapi rasaku tak pernah berubah, May."

Pemuda itu perlahan bangkit dan berlalu. Ah, sepertinya aku salah telah kembali ke tempat ini. Harusnya aku tak kembali, tapi rasa ini  begitu kuat, memakasaku kembali.

Sepertinya aku harus segera mengalihkan rasa ini agar tidak menjadi bumerang untuk kedua kalinya bagi kami. Cukup dalam diam saja rasa itu menjalar, tak perlu diungkapkan dan diumbar, karena rasa ini salah, sama seperti dulu. Malam ini langit begitu gelap dan dingin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar