Senin, 16 November 2015

Heart_Secret_5

"Kita kemana?"

"Ikut saja, aku sudah lama ingin pergi ke sana bersamamu."

Kali ini aku membiarkan Nadia memegang kemudi. Setidaknya aku bisa mengawasinya. Selama ini Nadia selalu diantar Pak Atmo, pagi ini beliau libur.

Perjalanannya lumayan lama, siang hari kami baru sampai di tujuan. Pantai...

Suara deburan ombaknya tertangkap jelas di telingaku.

"Jadi ini tempatnya? Lumayan...." Aku merentangkan tanganku, udara yang berhembus terasa segar. Tempat itu tidak terlalu panas. Beberapa pohon kelapa membuat tempat itu terlindung dari sengatan matahari.

"Ayo kita main air!"

"Aku tak bawa ganti, Nan."

"Sudah kusiapkan. Ayo!"

Semoga kali ini dia benar-benar sudah membawakanku baju ganti. Sedikit ragu untuk ikut bermain meski ingin. Dulu dia membawakanku baju kurang bahan semua, akhirnya terpaksa seharian aku tak ganti baju. kuputuskan untuk bermain di pingggir saja. Tidak sampai bergulingan seperti yang Nadia lakukan.

"Kita akan menginap di sini."

"Hah?"

Menginap? Bencana! Aku bahkan belum seching penginapan di sekitar tempat ini. Kalau tidak segera mencari tempat, bisa-bisa kami tak punya tempat untuk  tidur, apalagi ini wekend. pasti banyak yang menginap di sini.

"Tenang saja, sudah ada yang ngatur. Kita main lagi ...!" Nadia sudah menceburkan dirinya ke air. Senyumnya merekah. Tak dihiraukan lagi bajunya yang kini  kotor.

Mengatur? Mendengar kata ini pikiranku tertuju pada satu orang, siapa lagi kalau bukan...

Tiba-tiba hatiku terasa sunyi, beberapa hari ini aku tak melihat pemuda itu, kemana perginya? Apa dia marah padaku? Biasanya dia  datang saat aku memikirkannya.
Beberapa hari ini kesibukanku memang bertumpuk membuatku melupakannya untuk sejenak, dan hari ini tiba-tiba saja kerinduan itu begitu menggoda..

''Ada yang merindukanku?" Suara itu mengejutkanku.

Pemuda itu sudah berdiri di sampingku, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Aku menatapnya sekilas, entah sudah berapa lama dia berdiri di sampingku.

"Kenapa melamun? Mikirin aku ya?"

"Iya."

"Benarkah? Ini kemajuan. Kamu mulai memikirkanku." Dia berlari menghambur ke arah Nadia yang  asyik bermain air. Aku menggeleng ...

"Aku memikirkanmu, tapi bukan karena aku merindukanmu." ucapku lirih.  Sepertinya membiarkan mereka menikmati waktu berdua adalah keputusan yang paling tepat.

Aku membalikkan badan dan ternyata pemuda itu sudah berdiri di sana. Di samping mobil Bimo. Dia yang aku rindukan, Damar!

Kedua tangannya di masukkan di saku celana, pandangannya lurus memandang ke arah Nadia, aku bisa melihat senyum manis saat ini. Sayang sekali senyum itu bukan untukku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar