"Iya ada pertemuan dengan seseorang. Ada apa?"
"Bisa kita makan malam nanti di luar?"
"Tentu."
"Yuuhhuuui...!" Nadia memelukku.
"Aku pergi dulu, ingat jangan lupa telepon aku kalau keluar ya?"
Pagi ini banyak hal yang harus aku lakukan. Restauran juga sudah beberapa hari belum aku datangi setelah acara liburan kemarin. Rindu juga dengan aroma aneka masakan.
Drrtt ... drrtt... drrrt... sebuah sms masuk.
"Kita makan di restauran saja, aku mau mengenalkan seseorang."
Seseorang? Tumben sekali Nadia mengajak seseorang untuk dinner bersama kami. Kekasihnya? Bimo? Mungkin Nadia ingin mengesahkan hubungan mereka. Ah, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah juga, kurasa Bimo bisa menjaga dengan lebih baik lagi.
Jam sudah menunjukan pukul 14.00 tapi pria itu belum juga muncul. Rasanya membosankan juga harus menunggu seperti ini, sudah sejam lebih aku menunggunya. Ini bukan sekedar terlambat.
"Maaf menunggu lama!"
Sosok di hadapanku terlihat tenang. Seorang gadis cantik berdiri di belakanganya. Aku bangkit dari dudukku. Andai saja tidak ada orang lain di tempat itu, aku sudah memukul wajahnya yang tersenyum tanpa penyesalan itu. Kalau saja dari awal aku tahu Bimo yang akan jadi patner kerjaku sudah tentu aku akan menggagalkan semuanya.
"Oya kenalkan nama saya, Bimo Adiswara."
"Dania." Aku menerima uluran tangannya dan mencoba untuk tersenyum. Aktingnya kali ini benar-benar meyakinkan.
"Andin." gadis itu mengulurkan tangannya. Aku menyalaminya.
"Oya, kita lanjutkkan sambil makan siang."
"Kita keruanganku saja."
Sepertinya ruanganku lebih nyaman daripada di sini. Setidaknya aku bisa mendinginkan kepalaku yang rasanya ingin meledak saat ini.
"Silahkan masuk." Aku membuka pintu pemisah, terlihat taman kecil yang asri. Terdapat kolam kecil di pojok, udara segar menyeruak masuk. Gemericik suara air menjadi musik alami tempat ini.
"Tempatnya nyaman, bagus juga."
"Silahkan duduk."
Aku hanya sekilas memandang gadis yang ada di samping Bimo. Seleranya bagus juga.
"Maaf, kamar mandinya di mana?"
"Di samping kantor ini."
Gadis itu berlalu setelah meletakkan tasnya di sofa.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu." ucapku pelan.
"Dengan senang hati, aku tunggu!" Dia tertawa pelan, sepetinya dia sangat menikmati keterkejutanku saat ini.
"Jangan-jangan kamu juga yang akan Nadia kenalkan padaku?"
"Nadia ingin mengenalkan seseorang?"
"Iya. Nanti malam dia akan mengajaknya Dinner. Rasanya sudah tak supraise lagi kalau benar itu kamu."
"Kita lihat saja, kalau benar aku, rasanya dia tak perlu bersusah payah membuat Dinner kan?" Bimo terlihat memikirkan sesuatu. Sepertinya dia juga penasaran dengan hal ini.
"Benar juga, kita lihat saja nanti."
Saat berdiskusi dia terlihat serius, sangat berbeda dengan yang sering aku lihat, pada. Dia seolah tak pernah mengenalku sebelumnya. Beberapa kali mataku menangkap perhatian yang di berikan gadis itu pada Bimo, rasanya aku menangkap sinyal asmara yang diberikan gadis itu.
Drrtt ... drrrt... ponselku bergetar
"Maaf, permisi sebentar." Deringan telepon menyelematkanku kali ini, untuk sesaat aku tak perlu melihat tingkah mereka.
"Hai, Nad!"
"Aku ke sana ya. Bantu siapin."
"Ndak usah, kamu tinggal bilang saja mau seperti apa, nanti aku minta orang buat bantu.""Tapi, Dan."
"Baiklah ... aku tunggu. Kita persiapkan semuanya."
Aku berlalu dari tempat itu, menuju dapur. Kurasa selera makanku sudah hilang sekarang.
"Mbak Tari nanti Nadia ke sini. Tolong persiapkan satu meja untuk dinner nanti malam!"
Mbak Tari mengangguk dan tersenyum. Sore ini restoran lumayan ramai. Beberapa tempat di penuhi pengunjung. Anak-anak pun membuat tempat ini semakin riuh, mereka berlarian ke sana kemari, seolah tak terganggu dengan lalu lalang para pengunjung. Beberapa pelayang hilir mudik, meletakkan sesuatu dan menyambar sesuatu. Mereka bergerak cepat.
"Ri, meja 6 belum dilayani."
"Iya, Mbak. Sebentar."
Sepertinya sore ini kami kekurangan tenaga untuk membantu melayani tamu.
"Aku bantu."
"Tamunya, Mbak?"
"Tidak apa-apa. Mereka lagi makan."
Kuambil menu makanan dan menghampiri meja 6. Meninggalkan Bimo sebentar kurasa tak masalah Setelah menulis pesanan tamu aku ke dapur. Di sana tak kalah sibuknya. Rasanya tak tega meninggalkan dapur begitu saja.
"Ayo semangat semua, kita rampungkan kerjaan!"
Mereka tersenyum melihatku memakai celemek. Sudah lama rasanya tidak melakukan pekerjaan ini. Kembali bisa merasakan aroma dapur dan dentingan alat masaknya, rasanya sangat menyenangkan.
"Biar aku aja, Mbak." Wahyu sudah siap dengan peralatannya.
"Aku kangen dapur. Ayo selesaikan pesananmu. Jangan buat mereka menunggu lama."
Wahyu hanya mengangguk dan kembali ke tempatnya. Gerakannya begitu cekatan mempersiapkan semuanya.
"Tamunya?" Mbak Tari kembali mengingatku soal tamu yang kini sedang menunggu di kantor. Aku melirik arlojiku.
Aku hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Saatnya membalas Bimo. Dia akan belajar sesuatu sekarang. Sekarang tunggu menunggu Nadia saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar