"Telepon dia." Aku menyodorkan handponku padanya.
"Dia? Siapa?"
"Haruskah kuperjelas?" ucapku sambil menoleh ke arah kopi yang masih mengepul di atas meja.
"Oh, tidak. Aku rasa tidak ada yang perlu kami bicarakan." ucapnya lirih sambil mengoles selai di atas roti. Aku memerhatikan selai yang dia pilih. Kurasa roti itu pun juga buat kami. Aku benci selai kacang, dan kurasa Nadia juga.
Dugaanku benar, dia hanya mengoles saja tanpa berniat memakannya. Roti pun hanya teronggok di atas piring. Dia meletakkan di depan kursi kosong. Kusodorkan kopiku ke dekat roti yang dia buat. Kursi itu biasanya ada yang menempati. Pagi ini kami hanya sarapan berdua.
"Kau yakin tak ingin bicara dengannya?"
"Apa tidak apa-apa jika aku bicara dengannya?" Dia balik bertanya padaku.
"Maksudnya?" Aku jadi penasaran dengan ucapannya kali ini.
"Aku ... tahu kau menyukainya."
Ucapannya membuat alisku bertaut, jadi inikah yang membuatnya menghindari Bimo saat ini. Kurasa ada yang harus aku luruskan sekarang. Jika dia sanggup mengalah untukku, maka aku juga melakukan hal yang sama dengannya.
"Dari mana kau dapat pikiran itu?"
"Aku melihat dari matamu, caramu memandangnya itu ... cinta?"
"Kurasa kau salah, aku hanya mengaguminya. Itu bukan cinta."
"Benarkah?"
"Benar, aku sudah mengenal Bimo sedari kecil, sama sepertimu. Kita tumbuh bersama. Bukan karena kita kembar, kita menyuaki orang yang sama. Kurasa seleraku tentang lelaki berbeda denganmu."
"Benarkah? Lelaki seperti apa yang kau sukai?" Dia terlihat semangat.
"Aku suka lelaki yang cuek, sedikit dingin tapi hatinya hangat."

"Adakah lelaki seperti itu di sini? Bukankah Bimo juga berhati hangat?"
"Tapi aku tidak suka sikapnya yang terlalu hangat pada semua gadis."
"Kau cemburu, ya?"
"Tentu saja tidak. Dia buka tipeku. Sudahlah, telepon dia, aku tidak suka kau menyiksaku dengan makanan yang kau buat, ini bukan seleraku."
"Tapi Bimo menyukainya, siapa tahu kau juga belajar menyukainya. Jadi kubuat untukmu." Nadia tersenyum ke arahku. Sepertinya kali ini dia ingin menggodaku lagi.
"Ayolah, berhentilah menjodohkan kami. Kami tak akan cocok dalam banyak hal. Lagi pula dia tidak suka gadis sepertiku. Dia suka gadis yang ramah dan murah senyum."
"Tapi aku merasa dia juga menyukaimu." Suara Nadia terdengar sendu kali ini.
"Kurasa kau terlalu banyak berpikir. Berhentilah berpikir atau kau akan kena migrain lagi. Aku tak mau repot karena urusan sepele seperti ini."
"Ayolah Tania, kurasa kau terlalu serius dalam banyak hal. Kau juga jarang tersenyum."
"Hari ini kau ada jadwal pemotretan di galeri Tante Irma, apa kau mau ke sana? Jangan minta aku menggantikanmu lagi kali ini." Aku melirik Nadia.
"Iya aku akan ke sana. Kau membuat orang ketakutan dengan wajah dinginmu. Bisa-bisa tak ada lagi yang memakaiku untuk model produk mereka jika kau dingin seperti itu. Bisakah kau tersenyum pada mereka, kurasa itu tidak sulit untuk dilakukan."
Aku hanya melirik ke arahnya dan kembali menatap majalah di hadapanku. Kurasa modeling bukanlah duniaku. Aku punya impian sendiri.
"Oya, aku membeli banyak durian kemarin. Kurasa aku akan membuatnya menjadi beberapa menu makanan.Kau harus mencobanya." Wajahnya terlihat cerah. Senyum mengembang di sudut bibirnya. Aku benci durian, kenapa Bimo punya banyak hal yang aku benci?
Oh, tidak. aku berharap pagi ini Bimo datang dan mengajak Nadia keluar seharian. Dengan begitu aku bisa menyuruh para pelayan menghabiskan durian itu, atau dia akan menyiksaku dengan olahannya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar