Kamis, 19 November 2015

Secret-heart_6

"Kenapa kamu selalu melihat Nadia seperti itu?"

"Ada sesuatu yang menarik darinya, mengingatkanku pada seseorang. Kamu cemburu?"

Pertanyaan itu telak mengenaiku.  Sebisa mungkin kualihkan perasaan yang kini tengah bergolak. Wanita itu pasti kekasihnya. Ingin sekali aku berteriak padanya kalau aku cemburu.

"Aku hanya ingin tahu. Saat kamu memandangnya, terlihat begitu fokus."

"Aku suka memandang gadis cantik, apalagi jika dia sering tersenyum."

"Pantas, saat melihatnya kau tak berkedip."

"Siapa saja pasti suka melihatnya. Tidak cuma aku,"

"Lalu kenapa kau tak menampakkan dirimu padanya?"

Dia hanya terdiam. Pandangannya kini beralih ke luar jendela. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Ingin aku menembus apa yang sedang di pikirkannya saat ini?

"Jangan coba membaca pikiranku."

"Aku ingin sekali tahu,"

"Tidak sopan."

Aku tertawa melihatnya cemberut dan berlalu, pasti dia akan mencari Nadia. Mengamati gadis itu. Selalu seperti itu. Seolah tidak ada  hal yang menarik selain memerhatikannya.

"Aku akan pergi beberapa hari." Damar tiba-tiba muncul kembali.

"Pergilah, tumben pamit. Biasanya datang dan pergi semuanya."

"Aku tidak ingin melihatmu cemas dan merindukanku nanti."

"Tak akan."

"Penipu." ucapnya sambil berlalu.

Aku melanjutkan pekerjaanku. Beberapa hari libur membuat pekarjaan menumpuk.

Nadia sangat beruntung, dia punya Dimas yang selalu setia berada di dekatnya dan juga Damar yang diam-diam  mengaguminya, sedangkan aku. Menyedihkan...  rasanya aku hanya jadi bayangan Nadia saja. Menggantikannya saat dia sakit. Menjadi dirinya yang beda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar