Selasa, 10 November 2015

Secret heart bag 2

Kuputuskan untuk pergi ke kedai makanan yang biasa aku datangi, sudah waktunya aku mengisi perut sekarang setelah tadi pagi Nadia berhasil mengacaukannya dengan secangkir kopi.

 Tempat ini menyediakan menu  istimewa yang tidak menguras kantong. Jadi aku tak perlu khawatir, dompet kosong setelah memakan sesuatu yang membuat perutku kenyang seharian.

"Kau yakin menghabiskan semua ini sendirian?" Suara yang sangat kuhapal membuatku mengehentikan kunyahan. Tapi sesaat kemudian aku mulai mengunyah lagi.

Sepertinya makan siangku pun akan terganggu kali ini. Hanya Nadia yang tahu tempat favoritku ini. Kurasa gadis itu sedang bermain hati sekarang.

"Dania, sepertinya aku mulai terbiasa dengan sikapmu yang seperti ini."

"Kalian punya hobi yang sama. Pantas jika kalian cocok."

"Maksudnya?"

"Berhentilah merusak acara makanku. Kau dan Nadia sama saja." Aku melap mulutku dengan tissu dan beranjak bangkit tapi Bimo mencekal tangannku.

"Selesaikan makanmu baru pergi. Tidak baik menyiakan makanan."

"Aku sudah kenyang."

Perutku rasanya masih menyisakan banyak ruang untuk semua makanan yang kupesan siang ini, tapi kehadiran Bimo membuatku hilang selera.

"Apa aku punya salah denganmu?"

"Tidak, tapi aku tidak suka diganggu saat makan."

"Dari dulu, kamu selalu menyendiri. Dunia kamu tutupi dengan diam dan tak banyak bicara. Kau membuatku penasaran, Dan."

"Tapi sayangnya aku tak tertarik denganmu."

"Apa aku bilang aku tertarik denganmu?" Dia tersenyum mengejek.

"Kamu penasaran denganku, secara tidak langsung kamu sudah mengatakan kalau menyukaiku."

"Begitukah? Bagus juga analisamu. Tapi sepertinya kau salah, aku hanya penasaran denganmu. Sikapmu sangat berbeda dengan Nadia."

"Kurasa tak ada satu pun wanita di dunia ini yang suka dibandingkan dengan wanita lainnya meski mereka kembar sekali pun."

"Maaf,aku tak bermaksud seperti itu."

Rasanya aku tak perlu bicara lagi dengannya, berada di dekatnya membuat semuanya terasa kacau dan aku tidak menyukai ini. Dia mengacaukan konsentrasiku dalam banyak hal.

"Datanglah ke rumah, kurasa Nadia membutuhkanmu."

"Kamu mengundangku? Tumben. Kupikir kamu tak menyukaiku."

"Aku hanya tidak ingin dia menyiksaku dengan apa yang dia buat hanya karena menahan rindu padamu."

"Begitukah? Memangnya apa yang dia buat?"

"Kurasa aku tak perlu menjawabnya."

"Begitu ya, meski kamu seperti ini, tapi aku senang. Hari ini kemajuannya pesat sekali. Kamu mau bicara denganku. Sebelumnya kamu hanya diam dan pergi tanpa bicara. Aku merasa berhubungan dengan orang aneh saja."

"Kurasa diantara kita tak ada yang perlu dibicarakan."

"Maaf soal beberapa waktu yang lalu. Soal ciuman itu. Kurasa itu kesalahanku."

"Ciuman? Kurasa aku tak pernah ciuman dengan siapapun apalagi denganmu."

"Begitukah? Tapi saat itu bukankah kamu yang ada  di sana?"

"Dimana? Apa kamu yakin itu aku? Sepertinya kamu masih tidak bisa membedakan aku dan Nadia. Kamu tak mengenalku rupanya."

Aku beranjak pergi meninggalkan tempat itu.  Sepertinya dia masih mengingat malam itu. Harusnya aku tak menggantikan Nadia. Ah, Nadia ... berhentilah bermain dengan hati seperti ini. Kita tidak akan berbagi soal hati. Tidak untuk yang satu ini.

#Secret_Heart

Tidak ada komentar:

Posting Komentar