"Dari mana kamu?"
Gadis itu terkejut melihatku sudah duduk di ruang tengah, tubuhnya surut kebelakang.
"Kau mengejutkanku, seperti hantu saja. Kenapa duduk di tempat gelap."
"Dari mana, Nan?"
"Pemotretan."
"Dimana?"
"Ayolah, haruskah aku bilang kemana aku pergi? Aku sudah dewasa."
"Dewasa? Kalau kamu sadar sudah dewasa, tak seharusnya kamu membuat skenario pertemuanku dengan Bimo. Berhentilah bermain-main. Kamu bisa menghancurkan semua."
"Aku hanya ingin membantumu."
"Membantu? Perjodohan? Untuk terakhir kalinya aku mohon padamu. Kita akan berbagi banyak hal, tapi tidak dengan hati. Sudah aku bilang, aku akan menemukan sendiri lelakiku. Jadi berhentilah untuk mempertemukanku dengan Bimo!"
"Dan, maafkan aku. Mungkin sikapku keterlaluan tapi aku tak ingin melihatmu seperti ini. Sejak dulu, kamu mengorbankan dirimu untukku, aku hanya ingin menebusnya."
"Hentikan omong kosong ini, sudahlah. Aku hanya melakukan tugasku untuk menjagamu. Kita hanya berdua. Jadi jangan berpikir tentang balas budi atau pengorbanan. Aku tak merasa berkorban untukmu." Aku beranjak pergi meninggalkannya.
Aku menghempaskan pintu kamarku sedikit keras, rasanya kekesalanku bertumpuk saat ini.
"Jangan terlalu keras padanya."
"Kau mengejutkanku. Berhetilah membelanya."
Sosok pemuda itu hanya tersenyum, dia duduk di tepi jendelaku. Kedua tangannya tersilang di dada. Beberapa hari ini aku tidak melihatnya. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya tapi rasanya moodku sudah hilang sekarang.
"Maaf, tapi aku merindukan kalian jadi aku menyusup kemari."
Sudah sekian lamanya pemuda itu bersama kami. Menjagaku dan Nadia dengan cara dan keterbatasannya.
"Kurasa Bimo pemuda yang baik." Dia mengerlingkan matanya padaku.
"Sudahlah, berhentilah bicara soal Bimo."
"Kenapa? Sepertinya kamu begitu frustasi?"
"Tidak. Sudahlah, aku mau istirahat."
"Tidurlah, aku mau melihat Nadia dulu."
Pemuda itu berlalu begitu saja. Kadang, ada kecemburuan yang tiba-tiba menggoda saat dia juga memerhatikan Nadia. Tapi selama ini dia selalu menjaga kami dengan baik.
Kusingkirkan pikiran konyol itu dan beranjak tidur. Entah mengapa mataku tiba-tiba memanas dan basah, sepertinya ada yang salah denganku. Andai saja dia bisa kumiliki sepenuhnya.
Sekarang waktunya aku untuk mandiri, cepat atau lambat pemuda itu juga akan pergi dari sisiku. Aku tak ingin terlalu bergantung padanya. Akan kutunjukkan padanya aku tak selemah Nadia. Mungkin akan sulit lepas darinya tapi bukan berarti tidak bisa.
Kesedihan terindah adalah saat kau berhasil melewatinya dengan baik. Kemenangan terbesar adalah saat kau bisa menaklukkan dirimu sendiri tanpa hilang kewarasan. Saat kau kembali terseret ke masa lalu maka ingatlah bahwa masa lalu akan tetap hidup meski kau ingin membuangnya. Biarkan saja dia lewat dan menggodamu sementara waktu, taklukkan dengan cara yang benar. Kelak kau akan menjadi kuat karena rasa sakit tak akan bisa mengalahkanmu lagi.
Kamis, 12 November 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar