Senin, 02 November 2015

Jendela Tua

Jendela kamar itu kembali terbuka, untuk kesekian kalinya aku mendesah. Sepertinya setiap kali aku melintasinya, jendela ini itu selalu terbuka. Bahkan saat malam tiba, aku sering melihatnya terbuka. Sepertinya penghuninya sengaja membiarkan jendela itu terbuka terus.

"Kenapa selalu terbuka?"

Mulan menarik tanganku menjauhi pintu. Gadis itu sepertinya menyimpan sesuatu. Sejenak pandanganku teralihkan dari jendela itu.

"Sejak kapan kau suka memerhatikan jendela itu?"

"Entahlah, ada apa dengan kamar itu. Selama ini kamar itu kosong 'kan?"

"Bagaimana kalau tidak?"

Aku menatap Mulan, gadis itu terlihat serius. Pantas jika ada penghuninya, jendela itu selalu terbuka setiap aku melintasi bawahnya...

"Jadi ada penghuninya?"

"Mungkin."

Alisku bertaut mendengar ucapan itu. Mungkin? Tak adakah kalimat yang lebih jelas dari kata 'mungkin'?

"Kau mulai main tebakan lagi."

"Temukan sendiri jawabanmu. Aku tak mau berurusan dengan penghuni kamar itu." Mulan beranjak pergi.

Apa penghuninya galak? Selama aku tinggal di rumah itu, tak pernah kulihat sekalipun ada orang yang keluar masuk tempat itu. Pintu kamarnya selalu tertutup rapat. Tidak pernah terdengar sekali pun suara-suara aneh dari dalam kamar itu. Benarkah ada penghuninya? Kembali pandanganku terarah ke jendela kamar. Hanya ada kesunyian yang tertangkap di sana.

Rasa penasaranku mulai menggelitik hati, ucapan Mulan membuatku penasaran. Sebenarnya ada apa dengan kamar itu dan penghuninya? Kenapa tak pernah ada yang membicarakan kamar ini?

Tangga ini terasa lebih panjang dari biasanya, langkah kakiku terasa berat saat menaikinya seperti ada yang menahannya untuk tidak naik ke atas. Tapi rasa penasaran tak bisa lagi dibendung..

Hawa dingin mulai menerpa, membuatku merinding. Sejenak langkahku terhenti. Tinggal beberapa anak tangga lagi dan aku akan sampai di depan kamar itu.

"Kalaupun ada yang harus terjadi maka terjadilah." gumanku pelan.

Satu desahan pelan mengawali langkahku lagi menyusuri anak tangga itu kembali. Pandanganku masih terkunci pada pintu yang tertutup rapat.

Akhirnya kakiku sampai juga di depan pintu itu, selama ini, aku hanya melintasi pintu tanpa berniat ingin tahu isinya, tapi hari ini rasanya pintu itu terlihat beda buatku. Sejenak aku ragu untuk menarik heandle pintunya. Tidak ada suara dari dalam sana, hanya deru napasku saja yang terdengar jelas saat ini.


Akhirnya kuberanikan diri juga membukanya. Perlahan mataku bisa menangkap isi kamar. Beberapa perabotannya mulai berdebu, sepertinya kamar ini sudah lama tidak dibersihkan. Pandanganku beralih ke arah jendela.

Jendela itu masih terbuka. Perlahan kakiku mulai memasuki kamar. Ekor mataku kembali menyusuri isi kamar. Pandangan kini tertuju pada cermin yang terletak di samping tempat tidur. Kutajamkan pandanganku saat debu-debu di kaca itu membentuk sebuah kata secara perlahan.

"Sudah lama aku menunggumu."

Angin dingin kembali menerpa, pintu kamar itu tertutup dengan sendirinya. Entah mengapa kakiku seakan terpatri di tempat dan lidahku terasa kelu untuk berteriak. hanya mataku saja yang mampu mengawasi gerakan benda-benda di sekitarku.

Sepertinya hari ini akan jadi hari yang panjang buatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar