Selasa, 28 Juli 2015

SENJA YANG BEDA
"Apa yang kau tahu tentang 'Senja'?"
Aku menatap ke langit, sejenak mengamati semburat merah keunguan yang kini mulai memudar warnanya. Duduk di atas gedung berlantai 25, ditemani sebotol beer memang terasa beda, dengan kaki menggantung, menimbulkan sensasi yang beda buatku, apalagi bersamanya.
"Mungkin bagimu senja romantis, tapi tidak bagiku. Senja ini terlihat beda?"
"Beda? Apanya? Warna, bentuk atau karena aku? Bukankah senja itu sama saja, pergantian waktu dari siang ke malam?"
"Benar, tapi aku rasa banyak yang membuatnya jadi beda. Kau tahu? Mereka selalu membuat cerita yang indah tentang senja. Duduk bersama kekasih, bergandengan tangan, memejamkan mata, ck," aku tersenyum miring mendengar ucapanku sendiri.
"Bukankah ini juga romantis? Kita duduk berdua, menikmati semilir angin. Memandang gedung-gedung di bawah kita, sambil berbincang--berdua,"
Aku tersenyum miring mendengar ucapannya, inikah yang dimaksud romantis, akan kubuat dia tahu romantis yang sebenarnya itu seperti apa. Aku menatapnya lekat-lekat dan perlahan mendekatinya. Dia menatap ke arahku, aku yakin saat ini jantungnya berdebar, dan sepertinya dia menahan napasnya.
"MInumlah, kurasa kau butuh minum sekarang,"
Dia menghela napas dan tersenyum ke arahku, tangannya terulur menerima botol minuman itu. Aku memutar tubuhku hingga kini aku berdiri di bekangnya.
"Kau ingin tahu kenapa senja ini buatku beda?" bisikku lirih di telinganya. dia hampir tersedak mendengar ucapanku, dianggukkan kepalanya cepat.
"Karena ada teriakanmu sebagai musiknya." Ucapku sambil mendorong tubuhnya ke bawah.
"Sudah kubilang 'Senja' ini beda." Aku berlalu dari tempat itu.

Tangerang, 28-7-2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar