Budi memperhatikan burung kecil itu, tangan dan kakinya terluka, “mungkin terkena peluru pemburu atau digigit binatang lainnya,” pikir budi dengan hati-hati dia mengangkat burung itu dan kembali masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian dia sudah keluar sambil membawa sebuah sangkar kecil.
"Nah ... burung kecil, kau tinggal di sini saja. Aku akan merawatmu." Kata Budi dengan riang. setelah meletakan burung kecil itu di dalam sangkar Budi segera menggantungnya di halaman depan dan bergegas ke ladang sebelum matahari bertambah tinggi.
Berhari-hari Budi merawat burung kecil itu hingga akhirnya burung itu sembuh dan bisa mengepakan sayapnya.
"Wah ... kau sudah terbang kembali burung kecil, lihatlah kau riang sekali," kata Budi sambil memperhatikan burung itu.
"Makan dulu, Le. Sudah siang," Sesosok tubuh keluar dari balik pintu sambil membawa mampan makanan.
"Mbok ... burung kecilku sudah sembuh. Lihat, dia senang sekali ... lincah to, Mbok," kata Budi dengan riang.
"Apa kamu akan melepaskannya nanti, Le?" kata simbok
"Ndak tahu, Mbok. Burung ini lucu meski belum bersuara sama sekali tapi dia lucu,"
"Tapi kalau dikurung terus, kasihan juga, Le," simbok menatap Budi.
"Ya nanti akan aku pikirkan, Mbok," Budi tampak lesu, dalam hati dia membenarkan apa kata simboknya tapi dia juga sayang pada burung itu.
Langit tampak mendung, burung kecil itu berkicau terus dari pagi. Suaranya nyaring dan merdu.
"Tumben burung kecilmu itu berkicau terus, Le?" kata simbok sambil memandang keluar.
"Iya, Mbok ada apa ya? Semoga ada kabar baik hari ini," kata Budi pelan.
Tak lama kemudian....
"Pemisi, Mbak yu ...!"Suara seorang lelaki terdengar dari teras depan.
"Oh, Dik Marto. Mari masuk, di luar gerimis. Ayo duduk dulu, sebentar ya." Simbok masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian dia sudah keluar bersama Budi. Seorang lelaki separuh baya melangkah perlahan memasuki rumah di susul seorang gadis muda yang tampak menunduk.
"Oh, ada Pak Lik Marto," Budi menyalami tamunya. Sejenak dia memandang ke arah seorang gadis yang tampak menunduk.
"Oh, iya kenalkan ini Marni. Anak sepupu saya," Pak Lik Marto memperkenalkan gadis itu. Gadis itu masih menunduk malu. Dia menyalami simbok dan Budi...
"Dari mana ini, Pak Lik?" tanya Budi.
"Dari kampung sebelah, Le, Ada acara syukuran bersih desa di sana. Pak Lik kebetulan di undang. Eh, ternyata di sana ketemu Marni juga jadi ya Pak Lik ajak pulang sekalian," Pak Lik menjelaskan.
"Lha Dik Marni ke sana sama siapa?" tanya Budi pada Marni.
"Sebenarnya sama teman-teman, saya pingin liat Reog, Kang, tapi teman-teman pulang duluan jadinya saya di tinggal sendiri. Untung ketemu Pak Lik di sana," kata marni masih menunduk.
"Ya sudah kalian istirahat di sini saja, di luar hujan deras. Besok kalian baru bisa melanjutkan perjalan lagi, simbok mau menyiapkan makan dulu," kata Simbok yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Pak Lik.
"Boleh saya bantu, Mbok?" kata Murni sambil beranjak dari tempatnya duduk , simbok menganggukan kepala tanda setuju.
Malam semakin larut. Pak lik dan Budi masih duduk di ruang tengah sambil menikmati kopi manis dan ubi rebus. Simbok dan Murni sudah masuk ke dalam kamar, di luar hujan semakin deras. Burung kecil pun mulai merapatkan sayapnya.
Pagi itu berkabut, udara yang berenbus terasa dingin. Jalanan masih becek akibat hujan semalam. Burung-burung mulai berkicau di dahan pohon. Jalanan desa masih tampak lengang, hanya sesekali terlihat beberapa orang yang melintas menuju ke sawah. Pak Lik dan Murni berpamitan pada Simbok dan Budi, mereka harus berangkat pagi agar tidak kemalaman di jalan karena perjalanan masih jauh. Budi mengantar mereka sampai ke batas desa sambil sesekali bercerita.
Sejak kedatangan Pak Lik kemarin Budi menjadi resah, dia diam-diam menyukai Marni tapi malu untuk mengutarakan pada simboknya, dia hanya menyimpan perasaannya. Diam-diam simbok mulai merasakan perubahan sikap yang ditunjukan Budi, dia sering melihat Budi melamun dan kadang seperti mendesah tanpa sebab.
"Kenapa melamun, Le?" kata simbok.
"Eh tidak apa-apa, Mbok," Budi tampak terkejut mendengar suara simbok.
"Jangan bohong, Le. Simbok ini ibumu jadi tahu apa yang kamu pikirkan," simbok duduk di dekat Budi yang masih tertunduk diam, dia masih enggan untuk mengutarakan isi hatinya.
"Simbok tahu kamu suka sama Murni. Kalau kamu mau Simbok pasti akan melamar Murni." kata-kata simbok membuat Budi terkejut. Dia tidak menyangka Simbok tahu apa yang dipikirkannya selama ini.
"Apa benar,Mbok. Simbok akan melamar Murni?" kata Budi penuh sumringah yang di balas anggukan kepala oleh Simbok.
"Tapi bagaimana kita akan memberitahukan keluarga Murni? Tempat mereka jauh. Butuh waktu lama untuk bisa sampai ke sana," Kata Budi.
"Serahkan semua padaku." kata sebuah suara.
Serentak Budi dan Simbok menoleh ke arah suara itu. Mereka terkejut ketika suara itu berasal dari seekor burung yang selama ini mereka pelihara.
"Kamu ... bisa bicara?" Budi seakan tak percaya pada apa yang dilihat dan didengarnya.
"Bisa ... tapi hanya orang yang berhati baik saja yang bisa mendengar suaraku," kata burung kecil itu.
"Benarkah kamu bisa membantuku?" kata Budi berusah meyakinkan dirinya.
"Tentu saja ... aku akan terbang ke rumah Murni untuk mengabarkan ini." kata burung itu penuh kenyakinan
"Terimakasih burung kecil, jasamu tak terkira. Terimakasih banyak selama ini kamu sering membantu simbok. Simbok tahu diam-diam selama ini kamu sering membantu mengurus rumah selama kami pergi ke ladang." kata Simbok sambil tersenyum. Burung kecil itupun hanya mengangguk.
“Tunnggulah kabar baik dariku, aku akan segera kembali!” Burung kecil itu terbang mengtari rumah, sebelum akhirnya menembus awan, sambil berkicau dan disambut dengan kicauan burung-burung yang lainnya hingga sampai ke rumah Murni.
Keluarga Murni tampak gembira. Mereka tahu datangnya burung itu sebagai pertanda akan ada kabar baik yang akan datang pada mereka dan sampai sekarang hal itu masih berlangsung. Burung kecil itu akan berkicau nyaring disekitar rumah orang sebagai pertanda mereka akan kedatangan kerabat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar