Rabu, 29 Juli 2015

DENDAM



Aku memandang Aning yang kini duduk diam membisu, pandangan gadis itu kosong. Perlahan aku mendekati dan mengamatinya. Aning masih duduk terdiam tanpa kata, seolah kini dia terhempas ke alam lain. Aku tersenyum tipis, dia tak lagi menyerangku seperti  saat dia melihatku.

“Hai, Rin. Apa kabar? Bagaimana rasanya menikmati kekalahan?” tanyaku lirih.

“Dee …."

Aku menoleh ke arah suara, kulihat Kak Tio berdiri di dekat pintu, sejenak dia sepertinya ragu untuk melangkah masuk.

“Masuklah .…” aku tersenyum padanya, sejenak dia masih terdiam sebelum kemudian melangkah masuk. Dia memandangku, kemudian menarikku menjauhi Rien. Ada kekawatiran yang terlintas di wajahnya.

“Tenang saja, Kak. Dia tidak akan bisa menyakiti kita lagi.” ucapku lirih.

“Hai, Rien. Apa kabarmu? Maaf, aku baru bisa berkunjung sekarang. Aku ke sini cuma mau bilang, aku cinta Dee. Aku memaafkan kesalahanmu. Kuharap kau tak mengganggu kami lagi.” Kak Tio segera balik badan dan menarikku keluar ruangan, sepertinya dia tidak nyaman berada di dekat Rien saat ini.

Aku hanya melirik sekilas dan tersenyum miring ke arah Rien yang masih diam membeku tanpa kata. Sikapnya ini berbanding terbalik dengan sikapnya yang dulu selalu mencoba mencelakaiku, beberapa kali dia berhasil melancarkan aksinya hingga membuatku terluka dan masuk rumah sakit.
 Waktu yang ada hanya digunakannya untuk terus memburuku dan menjauhkanku dari Kak Tio tanpa memerdulikan kecemasan orangtua dan rasa malu yang akan mereka tanggung karena anak mereka di cap sebagai peneror rumah tangga orang.

Malam itu angin bertiup cukup kencang, aku menutup jendela rapat-rapat. Kami memutuskan untuk tinggal di rumah Rien malam ini. Aku meilirk Kak Tio yang tertidur pulas di sampingku. Sepertinya dia tidak terpengaruh dengan keadaan sekelilingnya. 
Aku segera bangkit dari ranjang dan melangkah keluar. Suasana temaram tampak menyelimuti rumah itu. Sunyi mencekam terasa sekali di tempat itu. Rumah ini memang terletak jauh dari daerah perkotaan dan juga terpencil dari rumah warga lainnya. Perlahan aku melangkahkan kakiku menuju lantai atas, kamar Aning.

Pelan tapi pasti aku memutar knop pintu dan melangkah masuk. Angin yang masuk cukup kencang, sepertinya mereka lupa menutup jendelanya sore tadi. Bergegas aku menutup jendela dan menarik kordennya. Aku membalikkan badanku dan melangkah kearahnya. Gadis itu terlihat tenang, matanya tertutup rapat dan nafasnya teratur.

“Apa kabarmu, Rien? Bagaimana rasanya menjadi yang dilupakan. Aku bukan Dee, si Lemah, aku sisi lain yang bersemayam dalam dirinya selama ini. Apa yang kau lakukan pada Dee, sudah memberiku jalan untuk bangkit dan membalaskan dendam padamu. Jangan berpikir aku jahat, aku hanya membalas kelakuan busukmu lewat alam bawah sadarmu dan kurasa dugaanku tepat. Kamu tak siap menghadapiku kan? Sekarang pergilah dengan tenang. Tidak ada lagi yang bisa kau harapkan di sini, orangtuamu sudah merelakanmu, apalagi satu-satunya orang yang paling kau cintai sudah melepasmu. Dan aku akan menganggatikan posisimu di hati mereka dengan mudahnya. 
Selamat tinggal, Rien. Tidurlah yang nyenyak dalam keabadian.” Aku tersenyum miring, kemudian beranjak meninggalkan Aning yang masih terbujur tenang dalam diamnya dan hanya tinggal menunggu sang waktu memangkas hidupnya.

Bitung, 8 april 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar