“Kenapa kamu dc aku?” Itu pertanyaan yang kamu
lontarkan padaku beberapa waktu yang lalu.
“Karena aku kecewa padamu.” jawabku sambil lalu.
Ya aku kecewa padamu, bagaimana mungkin kamu bisa
berbuat seperti itu padaku? Baru beberapa saat kamu menyatakan suka padaku dan sekarang berpaling dengan dengan mudahnya.
Setiap kali aku hadir di statusmu
kamu selalu cuek dan menganggapku tak ada. Malah asyik dengan
teman-temanmu, seolah kalian sepakat untuk menyingkirkanku secara perlahan.
Lebih
menyakitkan lagi ketika kamu meminta sahabatmu untuk membalas inboxku malu,kecewa dan sakit hati itulah yang
aku rasakan saat ini.
Di saat kamu menolak inboxku, kamu malah menawarkan inboxmu pada gadis
lain? Apa karena dia cantik dan juga menawarkan cinta maka kamu
berlaku seperti itu? Tak tahukah kamu aku membacanya dan bahkan ada ratusan
mata yang juga membacanya.
“Wah Kang, penggemarmu banyak sekali. Waktunya untuk
merazia inboxmu,” ucap Mbak Dina tanpa beban dan dia tahu pasti aku juga ada di
situ.
“Wah Mbak
Dina, untung aku ndak inbox Akang lagi. Coba kalau aku inbox dia, pasti aku
akan tergaget-kaget kayak kemarin,” balasku santai dan berakhir tanpa komentar
lagi darimu dan dari Mbak Dina.
Orang bilang kamu dan Mbak Dina hanya sebatas
sahabat. Benarkah? Apakah sahabat harus berlaku seperti itu? Tak ada yang
namanya sahabat sejati antara cowok dan cewek yang sudah dewasa, yang ada
hanyalah cinta terselebung yang tak terucap.
Bohong jika kamu bilang kamu tak menyukainya, karena
dia selalu menceritakan dengan gamblang dan riang saat kopi darat
denganmu. Bahkan mereka sampai kesasar saat pulang karena Mbak Dina tidak
konsentrasi menyetir.
Aku ingat saat kamu bilang Mbak Dina tidak berani menatap
matamu. Sakit hatiku karena kalimatmu seakan menunjukan jika kamu menyukainya
atau lebih tepat lagi, kamu suka ada cewek seperti Mbak Dina yang mengagumimu.
Awal pertama aku berjumpa adalah saat aku
menyukai puisimu, lalu kita saling berbalas komen dan bercanda. Tak ada yang
aneh hingga akhirnya kamu inbox aku duluan dan mengirim emotion love padaku,
bahkan kamu juga mengirimkan foto padaku di saat orang lain tidak tahu wujud
aslimu.
Aku bahkan tak memintanya. Seiring waktu perasaan
itu tumbuh tapi kamu mulai berubah. Ternyata banyak sekali peri cantik dan kamu mulai mengabaikanku dan ketika rasa sakit itu mulai memuncak,
aku memilih untuk melepaskan karena pada kenyataannya aku tak bisa berdamai
dengan perasaanku sendiri dan memaklumi bahwa mereka hanyalah sahabatmu.
Dunia tak berhenti saat aku melepasmu, bahkan kini menemukan dunia kecilku sendiri. Sekarang kita berpisah, hidup dalam dunia
kita masing-masing. Aku dengan semangatku mengikuti beberapa lomba agar bisa
melupakanmu dan kamu, tetap sibuk dengan akunmu yang setiap saat berganti nama
dan foto profil dan selalu ramai dengan para wanita.
Terima kasih karena kamu sudah membuka mataku untuk
tidak percaya dengan cintai dunia maya seperti ini dan karena kamu pula aku
menemukan hal indah dalam yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Dunia
kecil yang membuatku mulai menyukai menulis dan berpuisi. Terima kasih dan
maaf, aku memilih untuk melupakanmu.
Bitung, 12/3/2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar