Rabu, 29 Juli 2015

AKU, KAMU DAN DIA


“Kenapa kamu dc aku?” Itu pertanyaan yang kamu lontarkan padaku beberapa waktu yang lalu.

“Karena aku kecewa padamu.” jawabku sambil lalu.

Ya aku kecewa padamu, bagaimana mungkin kamu bisa berbuat seperti itu padaku? Baru beberapa saat kamu menyatakan suka padaku dan sekarang berpaling dengan dengan mudahnya.

Setiap kali aku hadir di statusmu kamu selalu cuek dan menganggapku tak ada. Malah asyik dengan teman-temanmu, seolah kalian sepakat untuk menyingkirkanku secara perlahan.

Lebih menyakitkan lagi ketika kamu meminta sahabatmu untuk membalas inboxku malu,kecewa dan sakit hati itulah yang aku rasakan saat ini.

Di saat kamu menolak inboxku, kamu malah menawarkan inboxmu pada gadis lain? Apa karena dia cantik dan juga menawarkan cinta maka kamu berlaku seperti itu? Tak tahukah kamu aku membacanya dan bahkan ada ratusan mata yang juga membacanya.

“Wah Kang, penggemarmu banyak sekali. Waktunya untuk merazia inboxmu,” ucap Mbak Dina tanpa beban dan dia tahu pasti aku juga ada di situ.

“Wah  Mbak Dina, untung aku ndak inbox Akang lagi. Coba kalau aku inbox dia, pasti aku akan tergaget-kaget kayak kemarin,” balasku santai dan berakhir tanpa komentar lagi darimu dan dari Mbak Dina.

Orang bilang kamu dan Mbak Dina hanya sebatas sahabat. Benarkah? Apakah sahabat harus berlaku seperti itu? Tak ada yang namanya sahabat sejati antara cowok dan cewek yang sudah dewasa, yang ada hanyalah cinta terselebung yang tak terucap.

Bohong jika kamu bilang kamu tak menyukainya, karena dia selalu menceritakan dengan gamblang dan riang saat kopi darat denganmu. Bahkan mereka sampai kesasar saat pulang karena Mbak Dina tidak konsentrasi menyetir. 

Aku ingat saat kamu bilang Mbak Dina tidak berani menatap matamu. Sakit hatiku karena kalimatmu seakan menunjukan jika kamu menyukainya atau lebih tepat lagi, kamu suka ada cewek seperti Mbak Dina yang mengagumimu.

Awal pertama aku berjumpa adalah saat aku menyukai puisimu, lalu kita saling berbalas komen dan bercanda. Tak ada yang aneh hingga akhirnya kamu inbox aku duluan dan mengirim emotion love padaku, bahkan kamu juga mengirimkan foto padaku di saat orang lain tidak tahu wujud aslimu. 

Aku bahkan tak memintanya. Seiring waktu perasaan itu tumbuh tapi kamu mulai berubah. Ternyata banyak sekali peri cantik dan kamu mulai mengabaikanku dan ketika rasa sakit itu mulai memuncak, aku memilih untuk melepaskan karena pada kenyataannya aku tak bisa berdamai dengan perasaanku sendiri dan memaklumi bahwa mereka hanyalah sahabatmu.

Dunia tak berhenti saat aku melepasmu, bahkan kini menemukan dunia kecilku sendiri. Sekarang kita berpisah, hidup dalam dunia kita masing-masing. Aku dengan semangatku mengikuti beberapa lomba agar bisa melupakanmu dan kamu, tetap sibuk dengan akunmu yang setiap saat berganti nama dan foto profil dan selalu ramai dengan para wanita.

Terima kasih karena kamu sudah membuka mataku untuk tidak percaya dengan cintai dunia maya seperti ini dan karena kamu pula aku menemukan hal indah dalam yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Dunia kecil yang membuatku mulai menyukai menulis dan berpuisi. Terima kasih dan maaf, aku memilih untuk melupakanmu.



Bitung, 12/3/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar