Aku berhenti di depan sebuah pohon yang cukup rindang. Pohon itu masih sama, bekas hitam karena jilatan api masih terlihat jelas. Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu dan kemarahanku kembali memuncak, dengan kasar aku menyeret tubuh-tubuh mungil itu ke bawah pohon dan mengguyurnya dengan minyak.
Setiap kali mereka mencoba melarikan diri, aku kembali menyeretnya ketempat semula. Tanpa ampun lagi kunyalakan api dan dengan cepat api menjalar dan menyambar tubuh mereka, membuat tubuh mungil mereka melengkung. Aku tersenyum puas melihat kejadian itu.

“Itu balasannya karena kalian mengganggu hidupku, kehadiran kalian membuat tubuhku sakit!”
Aku meninggalkan tempat itu, tidak kuhiraukan lagi teriakan segerombolan semut merah dan ulat bulu yang kini terbungkus api
Tangerang, 12-6-2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar