Senja ini masih sama, masih merah ranum dengan bayangan hitam yang mengekorinya. Bayanganmu masih terlukis manis dalam bingkai kerinduan yang seakan seperti rantai yang kian membelenggu hati ini, membuatku tak bisa bergerak meski aku meronta. Masih kuingat dengan jelas, hari dimana kita mengikrarkan sumpah untuk selalu setia. Menautkan hati dan jiwa kita menjadi satu. Senyummu mengembang, tanpa beban kita berbagi kasih.
“Apa kamu bahagia, Dee?” tanyaku dan kau balas dengan senyuman manismu. Wajahmu yang tampan tampak berseri kala itu. Senyummu merekah dan berhias lesung pipit, membuat wajahmu makin sempurna. Sungguh suatu maha karya bak pahatan dewa yunani.
Senja ini masih tetap sama, saat terakhir kita berjumpa. Dengan berat hati aku melepasmu di bandara, rasanya ingin sekali aku mengikatmu agar kamu tak pergi. Tapi karena tuntutan pekerjaan, kita pun harus berpisah.
“Berjanjilah untuk selalu mengujungiku dan ceritakan semuanya, tanpa terlewati setiap harinya.” Ucapmu pelan dan mengecup dahiku.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum, rasanya saat itu aku tak mau melepaskan pelukanmu. Memandang tubuhmu yang menjauh, membuatku merasakan kerinduan yang teramat sangat, padahal kita baru beberapa detik berpisah.
Dan hari-hariku terasa sepi tanpamu, Dee. Semakin sepi saat kamu tak pernah kembali lagi sesuai janjimu.
Dan hari-hariku terasa sepi tanpamu, Dee. Semakin sepi saat kamu tak pernah kembali lagi sesuai janjimu.
Dan sekarang setiap hari aku datang ke tempatmu yang baru. Aku tak peduli apa kau akan marah atau malah senang, yang jelas, aku datang memenuhi janjiku padamu. Menceritakan semua hal yang yang aku lalui tanpa kamu di sisiku karena pesawat itu telah mengoyak dirimu
.
“Senjamu indah, Dee. Apa kau bahagia dicsana? Kau punya teman? Apa dia seorang bidadari? Apa dia secantik aku, Dee? Aku rindu padamu, Dee.” Ucapku lirih sambil memeluk pusaranmu yang menjadi tempat favoritku kini, yang juga menjadi rumah barumu.
“Senjamu indah, Dee. Apa kau bahagia dicsana? Kau punya teman? Apa dia seorang bidadari? Apa dia secantik aku, Dee? Aku rindu padamu, Dee.” Ucapku lirih sambil memeluk pusaranmu yang menjadi tempat favoritku kini, yang juga menjadi rumah barumu.
Langit senja pun semakin menghilang berganti kabut yang menghitam, menghantarkan butiran bening yang kini ikut larut dalam duka dan langit pun semakin muram.
Tangerang, 1 april 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar