Kamis, 30 Juli 2015

Sayap Bidadari



“Tempat kita sekarang jadi sepi,” guman Antoni.

“Benar, Kak. Sejak raksasa itu datang semua jadi berubah,” Raut wajah Maliki terlihat sedih.

"Kakak kenapa? Kenapa memandangi aku seperti itu?" tanya maliki. Ditatapnya sekilas kakaknya.
Antoni menjadi sedih, kehadiran raksasa itu membawa bencana yang cukup dasyat. Bahkan sekarang jumlah penduduk semakin berkurang karena menjadi persembahan setiap malam bulan purnama. Antoni tampak berpikir keras, dia tidak mau kehilangan adiknya. Harapan mereka satu-satunya adalah Bidadari Utara yang kini sedang di tawan raksasa itu.

"Apa kita akan selamanya seperti ini?" Desah Antoni.

"Iya Kak, semua ini gara-gara raksasa jelek itu," sungut maliki

"Tapi kita bisa apa kak?"

 "Salah satu cara lepas dari raksasa cuma dengan membebaskan Bidadari Utara,"

"Tapi akan sangat berbahaya melakukan itu. Tidak akan mudah untuk bisa sampai ke sana. Kakak akan mencoba membebaskannya besok," kata Antoni.

 Tapi tanpa sayap bidadari miliknya, Melody tidak bisa melakukan apa-apa. Ares sudah memusnahkan sayap melodi dengan cara meminumkan ramuannya. Sayap melodi hanya bisa tumbuh bila dia mengajukan keingian pada mutiara hijau yang kini di sembunyikan Ares. Melody tidak bisa mencarinya karena kini dia terkurung di sangkar ajaip milik Ares.

"Jangan Kak, bahaya. kita bukan tandingan raksasa itu!" cegah Maliki.

"Tapi kita harus coba atau kita akan selamanya seperti ini." kata Antoni.

Pagi-pagi sekali Antoni meninggalkan desa, niatnya untuk membebaskan bidadari tidak dapat di bendung. Untuk mencapai tempat raksasa itu, Antoni harus melewati hutan larangan yang terkenal angker. Hutan itu tidak pernah dijamah manusia sejak raksasa menguasai wilayah itu. Hutan yang biasanya digunakan penduduk untuk mencari kayu bakar dan makanan ternak kini tak lagi didatangi penduduk.

Raksasa selalu menangkap siapa saja yang memasuki hutan dan tidak pernah melepaskan mereka. Dengan hati-hati Antoni menyusuri hutan itu. Tak jarang tubuhnya tergores semak berduri. Saat sedang menyusuri jalanan setapak, tanah yang dipijak Antoni tiba-tiba bergetar. Dirapatkan tubuhnya di samping pohon yang cukup besar.

"Manusia … hmmm, manusia!" Suara berat raksasa menggema di dalam hutan. Membuat burung-burung bertebangan meninggalkan sarang mereka. Antoni memperhatikan tubuhnya, sejenak dia berpikir, mungkin bau keringat dan darah yang keluar dari luka-lukanya telah memancing penciuman raksasa itu, segera dia menjatuhkan tubuhnya di lumpur.

Antoni melumuri tubuhnya dengan lumpur agar raksasa itu tidak dapat mengendusnya lagi. Malam ini adalah bulan purnama. Raksasa akan ke desa untuk mengambil persembahannya. Ini kesempatan bagus, pikir Antoni.

Diamatinya sekitar gua tempat raksasa itu tinggal. Dia bersembunyi di balik pohon besar. Malam hampir tiba dan benar perkiraan Antoni, raksasa itu keluar dari guanya. Sejenak raksasa itu berhenti di depan gua. Hidungnya mulai mengendus-endus sekeliling tempat itu. Diayunkannya senjatanya hingga mengenai pohon-pohon di sekitar gua itu.

"Grrrgrrrrr!" geram raksasa itu. Antoni tetap bertahan di tempat persembunyiannya. Raksasa itu perlahan meninggalkan tempat itu.

Setelah raksasa menghilang dari tempat itu barulah perlahan Antoni berani memasuki gua. Bau aneh menyeruak ketika dia sampai di dalam gua. Dengan hati-hati antoni menyusuri gua. Diamatinya sekelilingnya, dari tempatnya merapat di lihatnya seluruh penjuru gua, hingga matanya menemukan seorang wanita yang berada di dalam sebuah sangkar yang berada di atas bebatuan yang cukup tinggi. Antoni berbegas memanjat dinding berbatu itu, tak jarang dia terpeleset jatuh lagi ke bawah dan terluka. Akhirnya dia bisa mencapai tempat bidadari itu ditahan.

"Hsst … hssst … Bidadari … Bidadari," Antoni memanggil gadis itu.

"Siapa kamu?" Bidadari merapatkan tubuhnya, dia tampak terkejut dan ketakutan melihat Antoni yang tiba-tiba muncul dengan tubuh di penuhi lumpur dan wajah yang kotor.

"Aku akan membebaskanmu, tapi kita harus cepat sebelum raksasa itu kembali.” Antoni berusaha membuka kurungan itu.

"Kamu tidak akan bisa membukanya, kuncinya dibawa Ares," sahut Bidadari.

"Trus harus bagaimana?" Antoni tampak cemas.

"Carilah mutiara hijau, cuma itu yang bisa membebaskan aku," kata bidadari, "mutiara itu dibawa terox, dia ada di ruangan sebelah sana!”

Antoni menepuk jidatnya dan menggerutu, satu raksasa saja dia tidak bisa menghadapi kini ada dua makhuk aneh di tempat itu. Ingin rasanya dia mengurungkan niatnya saat itu juga tapi dia teringat lagi Maliki. Perlahan dia turun dan menuju ke tempat yang ditunjukan bidadari. Ruangan itu lebih mirip dapur, dengan kuali besar dan beberapa kuali kecil. Ada juga beberapa sangkar yang berisi hewan hasil buruan raksasa. Sejenak terox menghentikan kerjaannya, di amatinya sekelilingnya. Hidungnya tampak mengendus sesuatu.

Antoni bersembunyi di balik kaki meja, di amatinya gerak-gerik Terox. Tak jauh dari tungku ada deretan pisau dapur dengan ukuran yang besar. Di sudut ruangan ada onggokan tulang belulang manusia dan binatang.

Bulu kuduk Antoni berdiri. Terox mengeluarkan mutiara dari dalam kantonya. Sejenak di pandanginya mutiara itu, dia tersenyum sekilas lalu memasukan lagi mutiara itu kekantonya dan mulai memasak lagi. Antoni perlahan merayap ke atas, kali ini perhitungannya harus tepat dan cepat, kalau tidak; gagal semua usaha kerasnya selama ini.

Terox mengeluarkan seekor ular dari dalam sangkar, ular itu tampak kecil ditangannya padahal ular itu besarnya empat kali lipat tubuh Antoni. Ular itu meronta dan menggigit Terox, membuat raksasa itu marah, saat itulah Antoni melemparkan pisaunya tepat mengenai mata Terox membuat raksasa itu sempoyongan hingga menabrak kuali yang berisi kuah panas.

Antoni semakin berani menyerang raksasa itu hingga membuatnya jatuh terjerebak ke tanah dan mati dengan pisau yang menancap di wajahnya. Antoni bergegas mengambil mutiara yang ada dikantong raksasa. Secepat mungkin dia berlari ketempat Bidadari tadi.

 "Buatlah permintaan Antoni cepatlah. Waktu kita tidak banyak!" teriak bidadari.

 "Aku ingin bidadari mendapatkan kembali kesaktiannya!"
Antoni mengangkat mutiara itu ke udara. Seketika itu juga sinar putih meliputi tempat itu. Bidadari mendapatkan kembali sayapnya. Dan tertebas dari sangkar ajaib.

 "Cepatlah tiup terompetnya sebelum raksasa membunuh semua penduduk!" pinta Antoni.

Tiiiuuuuuunng …! Suara terempet menggema nyaring.

 Bumi pun bergetar. Antoni berlari keluar gua, dinding gua sebagian mulai runtuh. Dia berlari secepat mungkin. Bidadari menarik tangan Antoni dan membawanya terbang menjauhi hutan itu.

“Yuhuuu … aku terbang!” seru Antoni riang.

Di desa penduduk tampak gemetar, raksasa sudah menggemgam seorang gadis yang sejak tadi meronta ketakutan. Tidak ada yang berani membebaskan gadis itu dari cengkraman si Raksasa. Mereka hanya mampu diam dan bersembunyi.

Saat itu tiba tiba muncul sesosok makhluk. Tubuhnya manusia tapi kepalanya mirip banteng. Dia membawa senjata berupa tali yang di selimuti api dan tombak dialah Artos si penjaga. Angin yang berhembus kencang mulai membuat tempat itu kacau.

Semua penduduk berlari menyelamatkan diri. Ares tampak murka dilemparkannya gadis yang tadi digemgamnya. Dia mulai menyerang Artos. Suara benturan senjata kedua senjata makhuk itu membuat dentuman yang amat keras, tidak jarang juga muncul kilatan api dari kedua senjata itu. Ares mulai kewalahan, beberapa kali dia jatuh terjerebab ke tanah. Artos melemparkan tali apinya ke arah Ares dan tali itu mengikat kuat Ares hingga membuat tubuh raksasa itu terbakar habis dan mati.

Kematian Ares di sambut sorak gembira penduduk. Antoni yang sampai di tempat itu di sambut pelukan oleh adiknya. Senyum kelegaan tergambar di wajah gadis itu. Secara gaib Artos menghilang dari tempat itu begitu juga sang Bidadari.



Sejak saat itu kehidupan berjalan seperti biasa lagi. Banyak penduduk luar desa yang mulai datang  untuk berdagang kembali di desa itu. Semua tampak gembira dan bersuka cita dan burung-burung pun kembali berkicau menyambut cerahnya pagi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar