"Berikan ini pada Rudi!" Sepucuk surat terbungkus kertas polos terulur di depan wajahku.
Aku mendongakkan kepala, Mita menatapku setius, sorot matanya penuh pengharapan. Sejenak aku masih enggan untuk menerima amplop itu. Bukan karena aku tak mau membantunya kali ini, tapi aku tak ingin ikut campur urusan mereka.
Mita akhirnya mendudukan pantatnya dengan kesal di bangku di depanku. Surat itu masih di genggamnya.
"Dy ...!"
"Serius? Kamu ngejar dia?"
"Iya, kenapa emang?"
"Selamat kalau begitu ...."
"Selamat apa, Dy?"
"Selamat berjuang ...!"
"Aseeeem ...." Mita terkekeh.
Aku menerima surat itu dan menyimpannya di saku. Istirahat ke dua mungkin aku bisa menemui Rudi nanti. Mita terlihat lega.
Aku hanya menggeleng, kenapa dia tidak mengejar Denny saja yang jelas-jelas macho n keren. Tapi aku bersyukur, setidaknya sainganku berkurang.
Cinta emang buta, apa yang di lihat Mita dari sosok Rudi selain dia kakak kelas. Apa bagusnya? Kerempeng, hitam tapi dia selalu tersenyum. Mungkin senyum ini yang sudah membuat Mita jatuh hati.
Tapi Denny juga sering senyum, bahkan senyumnya berhasil merontokkan perhatianku. Diam-diam aku sering melirik ke arahnya, aku suka gayanya yang cuek. Dia seperti bos genk saja, ada beberapa anak yang selalu mengekori kemana pun dia pergi.
"Kamu boleh membacanya, Dy. Kita kan sahabat."
"Aku akan membacanya saat amplop ini tidak direkatkan. Aku malas kalau harus menggantinya dengan yang baru," itu artinya aku harus ke kantin seberang jalan untuk membeli amplop baru dan harus melewati kelas Rudi. Bisa-bisa itu cowok bakalan curiga kalau aku melintas di sana, parahnya lagi dia bakalan ngira aku ngejar dia. Hiks ... ribet amat ya urusan sama mereka.
Bel masuk berbunyi, semua kembali ke bangku masing-masing. Sosok yang aku tunggu muncul, siapa lagi kalau bukan Denny. Senyumnya merekah dan seperti biasa, dia di ikuti beberapa teman sekelas. Mereka selalu bersama layaknya sodara.
Saat pelajaran di mulai, pikiranku di penuhi rasa penasaran tentang surat itu, meski aku bisa menebak apa isinya tapi tetap saja rasa penasaran itu datang.
Hingga akhirnya bel istirahat berbunyi, aku langsung lari ke luar kelas. Tujuanku cuma satu, kelas Rudi.
Sampai di sana ternyata mereka masih ujian hingga jam istirahat, jadi mereka akan terlambat untuk istirahat. Kuputuskan untuk menunggu di perpus depan kelas Rudi.
Beberapa buku kuambil dan kukembalikan dengan cepat tanpa berniat membaca isinya. Beberapa kali aku mengintip ke kelas Rudi. Mereka masih terlihat serius.
"Sepertinya mereka bakalan telat istirahatnya." gumanku pelan sambil mengintip lagi ke kelas Rudi.
Kuputuskan untuk mengembalikan buku yang kupegang ke raknya. Mungkin pulang nanti aku bisa menjegal Rudi sebentar untuk memberikan surat itu. Tapi saat aku keluar perpus kulihat seorang guru ke luar dari kelas Rudi, itu artinya mereka sudah selesai ujian.
Aku segera berkari masuk kelas Rudi, tidak aku pedulilan pandangan puluhan mata yang memandangku aneh saat aku menyerebot begitu saja.
"Dari Mita!" Aku menyodorkan surat itu pada Rudi dan berlari ke luar. Gemuruh sorak dan tawa tertangkap jelas di telingku.
Aku berlari cepat. Bukan karena malu dengan sorakan teman Rudi tapi karena aku melihat sosok guru wali kelasku sudah ke luar dari kantor dan menuju ke kelasku. Bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.
Sampai di kelas, semua masih riuh. Mita menatapku dengang penuh harap. Aku hanya mengacungkan jempol saja ke arahnya dan senyum kelegaan terpancar di wajahnya.
Keringat mengucur deras membasahi wajahku, napasku masih tersengal. Aku mengambil buku dan kugunan sebagai kipas untuk mendinginkan suhu tubuhku. Tenggorokanku terasa kering.
"Keluarkan kertas kalian, kita akan ujian!" Suara Pak Guru saat sosoknya muncul di pintu.
"Pak izin bentar ke belakang!" Aku mengangkat tanganku. Beberapa pasang mata menoleh ke arahku.
"Kebiasaan. Kelakuan kayak preman, tapi waktu ujian pasti mules duluan!" kata Denny disambut tawa beberapa orang.
"Cepet, Dy. Waktumu ndak banyak."
Terserah ah mereka mau ngomong apa, aku bener-bener tidak bisa menahan kali ini. Kupercepat langkah menyusuri lorong. Di ujung lorong aku membelokkan lanhkah menuju kantin. Tenggorokanku rasanya tercekat.
"Rud, di cari cewek, lo!" Suara seorang laki-laki membahana. Beberapa pasang mata menoleh ke arahku.
"Bener-bener preman ni bocah, yang lain pada masuk, dia malah ke luar," seorang gadis menggeleng. Mereka semua teman Rudi.
Aku menyambar aqua dingin dan segera membayarnya. Saat ini aku tak punya waktu meladeni mereka.
Baru saja hendak berlalu, seseorang menarik rambutku. Membuatku terjatuh dengan pantat membentur lantai.
"Lepasin, Rud. Aku ujian nich!" kepalaku terasa berdenyut, aku yakin pasti ada yang rontok selarang.
"Kalau ujian kenapa ke luar? Ke kantin pula," Rudi melepaskan rambutku.
"Haus tau! Nungguin lo lama banget. Elo ngerjain ujian apa nglamun sich? Ndak kelar-kelar, sampai dehidrasi rasanya nungguin lo. Udah ah, gue mau ujian dulu!" Aku menbetulkan letak kucirku yang miring karena tarikan Rudi tadi.
"Sok serius! Tetep aja nilai pas-pasan!" ucpannya membuat teman-temannya tergelak.
Aku berlari cepat ke kelas. Aku kehilangan beberapa menit gara-gara Rudi. Dengan napas masih tersengal dan detak jantung yang berlompatan tak beraturan aku mulai mengerjakan soal. Tidak ada suara, hanya ada keheningan. Semua wajah terlihat serius, mereka berpikir keras. Sepertinya hanya aku yang masih bisa celingukan saat ini.
Mataku tertuju pada lembaran soal yang kini berada di hadapanku. Tanpa sengaja mataku menangkap sosok beberapa orang yang melintas di depanku. Rudi dan teman-temannya. Sejenak aku mengamati kelakuan pemuda itu. Sepertinya dia sengaja ke sini. Apa dia penasaran pingin melihat Mita?
"Lima belas menit lagi kumpulkan!" perintah Pak Guru me buatku tersadar.
"Mampus aku, tinggal lima belas menit dan aku belum selesaikan semuanya? Masih ada setengah soal yang belum aku baca. Apa yang harus aku tulis sekarang? Awas lo, Rud. Tunggu pembalasanku!" Aku memukul kepalaku pelan, merutuki kebodohanku hari ini.
Sementara itu di luar kelas, Rudi tersenyum miring. Dia berlalu kembali ke kelasnya saat mendengar panggilan dari teman-temannya.
Melihat senyumnya yang seolah mengejek, muncul sebuah ide dalam benakku. Kali ini ganti aku yang tersenyum miring.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar