"Jangan sampai ada yang ketinggalan, siapkan semuanya!" perintah seorang wanita separuh baya. Dia terlihat sibuk pagi ini, berjalan hilir-mudik seperti setrika tanpa kabel. Memberikn arahan.
Tak ada yang peduli denganku, tak ada yang menyapaku. Mereka sibuk dengan persiapan pernikahan esok hari. Teganya mereka padaku, mereka membuatku tak tenang dan gelisah seperti ini. Kesedihan ini tak akan bisa mereka tutupi dengan indahnya bunga yang menghiasi pelaminan atau bau harum yang tercium dari tempat itu.
"Harusnya aku bahagia melihatmu esok hari dengan pakaian pengantin tapi ... ." tak ada yang peduli degan ucapanku. Bahkan pemuda yang duduk di hadapanku pun tak peduli.
Wajahnya terlihat pucat dan sembab, bahunya terguncang pelan. Dia menunduk dan sesekali menyeka airmatanya. beberapa orang yang melintai tempat itu hanya mempu menyeka airmata mereka, tapi aku masih bisamendengar bisik-bisik di belakangku. Mereka tak peduli dengan perasaanku saat ini.
"Kamu yakin akan menikahinya?" tepukan halus di bahu pemuda itu membuatnya menoleh. Tidak ada jawaban, hanya bahunya yang kembali terguncang.
"Aku mencintainya, Bu. Dia sudah mengorbankan hidupnya untukku, tulang rusukku, kembali pada tubuhku," Dia menyentuh dadannya pelan. Di sana jantungku berada.
Pernyataannya membuatku sakit, lebih sakit dari sebelumnya. Aku tak ingin melihatnya menikah esok hari. Melihatnya memakai jas putih dengan dandanan rapi dan wajah sembab dan pucat. Itu menyakitkan buatku. Harusnya dia tak perlu melakukan ini, dia tak perlu memaksakan diri menikahiku.Lukanya belum mengering, aku tak bayaran atas apa yang aku lakukan, apalagi sebuah pernikahan.
"Tapi ..." Wanita paruh baya itu terlihat ragu melanjutkan ucapannya.
"Janji tetaplah janji, Bu. Aku sudah janji akan menikahinya apa pun keadaannya,"
Wanita paruh baya itu hanya mendesah, menepuk bahu anaknya pelan sebelum akhirnya meninggalkannya duduk sendirian di pelaminan yang baru selesai ditata.
Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. Berharap dia mau mengabulkan permintaanku kali ini.
"Bisakah kamu batalkan pernikahan ini? Aku mohon ...."
Pemuda itu bangkit dan meninggalkanku, dia tak mengindahkan permintaanku. Bahkan airmataku tak bisa membuatnya menoleh. Aku mengikutinya, berharap bisa membuatnya mendengar keinginanku dan menurutinya.
Langkahnya terhenti di depan kamarku. Ada yang berbeda kali ini, beberapa bunga yang menghiasi tiap sudut ruangannya. Pemuda itu duduk di sisi pembaringan, bahunya kembali terguncang pelan, tetesan bening ke luar dari sudut matanya.
"Ga, kumohon. Batalkan pernikahan ini. Aku tak ingin melihatmu menikah esok. Aku tak sanggup melihatmu esok dengan baju pengantin itu!"
"Ra, kita akan tetap menikah esok. Kamu tak akan sendiri lagi, kita akan jadi satu keluarga, seperti mimpimu,"
"Ga, aku memang menginginkan menikah denganmu tapi tidak esok, lusa atau hari sesudahnya.... kamu tak boleh melakukan ini! Aku tak sendirian, Ga. Kamu tak perlu mecemaskan itu,"
"Aku tetap akan menjadikanmu pengantinku esok, Ra. Tetaplah berdetak dalam tubuhku,"
Aku mengusap wajahnya pelan. Matanya terlihat merah dan bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Bisakah kau mendengarku kali ini? Kabulkan keinganku,Ga. Iklaskan aku pergi, jangan menikahiku!" kurasa mataku kembali memanas kali ini.
"Besok, kamu akan jadi pengantin paling cantik. Kamu paling suka aku meriasmu. Esok ... aku juga melakukannya untukmu. Tak perlu cemas. Aku akan merawatmu, seperti kamu merawatku dulu," Aga mengusap air matanya, dia mencoba tersenyum meski akhirnya airmatanya kembali mengalir.
Cinta memang sulit di pahami, harusnya esok aku akan jadi pengantin paling berbahagia saat ini, tapi kenyataannya esok aku akan menjadi pengantin paling menyedihkan. Tak bisa lagi bicara atau pun menyentuhnya, bahkan duduk di pelaminan pun aku tak akan bisa melakukannya.
Aga bangkit dari duduknya, langkahnya gontai meninggalkan tempat itu. Dia berjalan pelan menuju kamar belakang, tempat jasadku di simpan.
Malam ini hujan kembali turun dan aku kembali tertunduk diam dalam putaran waktu yang mengalahkanku...
#Little_Story_Dy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar