Dania sengaja mengambil tempat yang terlindung dari pandangan Nadia, dari tempatnya dia bisa leluasa meliha apa yang di lakukan gadis itu.
"Sekarang apa lagi yang kamu lakukan, Nad?" Dania menegak minumannya. Baginya Nadia adalah segalanya kini, meski rasanya ingin sekali dia berontak dan menyalahkan Nadia atas apa yang dijalannya kini, tapi dia tidak bisa, cinta dan janjinya lebih besar dari rasa marah yang di rasakannya. Janji pada kedua orang tuanya membuatnya haru mengalah dan diam dengan semua yang di lakukan gadis itu.
"Gadis bodoh," ucapnya lagi. dia mengetuk-ngetuk meja perlahan. Pikirannya kembali teringat Bimo. Pemuda itu terlalu sudah terlalu banyak berkorban untuk gadis itu. Bimo dengan sabar merawat Nadia saat gadi itu sakit, mengantarnnya kemana pun dia mau. Sekarang Nadia meninggalkannya begitu saja. Kadang Dania berkhayal jika Dia menjadi Nadia, pasti dia akan sangat bahagia, tangannya tak perlu berlumuran darah.
"Berhentilah melamun seperti itu," suara yang tak asing membuat lamunan Dania buyar seketika.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Dania menatap tak percaya laki-laki yang duduk santai di hadapannya.
"Ada janji dengan klien, kamu ngapain ngalamun di sini?" tangan Bimo terulur menyentuh dahi Dania.
"Tidak demam, tapi wajahmu merah. Kamu nervouse ketemu aku, ya?" ledek Bimo, Dania hanya melihat pemuda itu sekilas sebelum mengalihkan perhatiannya pada Nadia, di lihatnya gadis itu bangkit hendak meninggalkan tempat itu.
"Lihat apa sich? Serius amat," Bimo menoleh ke belakang.
Dania menarik dasi yang digunakan Bimo hingga membuat pemuda itu ikut tertarik ke depan. Wajah mereka begitu dekat, Dania bia merasakan hembuan napas hangat Bimo di wajahnya.
Mata mereka beradu, Dania bisa meraakan degub jantung pemuda itu berpacu cepat. Wajahnya terasa memanas, saat tangan Bimo menyentuh bibirnya.
"Kau sangat cantik, Dan,"
"Berhentilah mengikutiku!" Dania melepaskan dasi Bimo dan menyentakkan pemuda itu kembali ke tempat duduknya kembali. Bimo membetulkan letak dasinya. Di lihatnya Dania tampak emngawasi sekelingnya, sebelum akhirnya pergi tanpa pamit. Bimo kembali medesah,
"Lain kali aku tak akan melepaskanmu, Dan." Dia hanya tersenyum melihat gadis itu berlalu begitu saja.
Dania mengawasi sekelilingnya, dia tidak menemukan sosok Nadia di tempat itu.
"Kemana lagi gadis itu? Ah, sudahlah. Apa pun yang terjadi nanti, biar dia yang bertanggung jawab. Dania membuka pintu mobilnya, tapi belum sempat dia masuk, diarasakannya ada yang menarik tangannya dengan cepat dan memeluknya. Dania merasakan ada sesuatu yang menyentuh bibirnya. Dania mendorong tubuh lelaki yang menghimpitnya.
Plaak....! sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Bimo. Dania bergegas masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari tempat itu. Beberapa kali dia mengusap bibirnya kasar, seoalah mencoba membuang jejak bibir Bimo yang tadi menempel di bibirnya.
"Gila... benar-benar gila dia...," kekesalan Dania bertumpuk saat ini, debarannya tdak lagi seirama.
"Sial ..." Nadia memukul stirnya beberapa kali. Dia mengacak rambutnya. Dania menghentikan mobilnya di pinggir jalan, memejamkan matanya sejenak.
"Dania, kamu tak boleh lari. Buang cinta itu, perasaan itu. Tunjukkan bahwa kamu bisa melawannya." Dania menepuk kepalanya beberpa kali sebelum akhirnya kembali melajukan mobil menuju ke luar kota.
Langit terlihat mulai gelap ketika Dania tiba di pekarngan sebuah rumah. Tidak ada yang aneh dengan rumah itu. Terlihat sederhana dan asri, tidak ubahnya seperti rumah pada umumnya.
"Perlu latihan?" Anjar menyambutnya dengan senyum sinis yang menghiasi wajah tampannya.
Dania melangkah masuk tanpa memedulikan Anjar, gadis itu mlepas jaketnya dan menuju ke ruang dalam. Ada beberapa alat olah raga di sana, Dania terus melangkah masuk hingga sampai di kamarnya.
"masalah cinta?" Anjar berdiri di samping pintu kamar Dania. Gadis itu hanya diam dan menyalakan laptopnya. Jariny begitu lincah memainkan tusts keyboardnya.
"kalau kau utuh pelampiasan ada beberapa file yang bisa kamu ambil. Semua datanya ada di atas mejamu. Satu hal yang harus kamu ingat, bagi kita cinta itu ibarat virus yang melemahkan. Jadi harus di musnahkan atau kita yang akan musnah." Anjar berllu dari tempat itu, tidk lama kemudia terdengar suara deru motor menjauhi tempat itu. Dania menyandarkan tubuhnya sejenak sebelum akhirnya bangkit meninggalkan kamarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar