Cinta Sekilas Pandang
"Ini konyol," ucapku pada pria yang kini tertunduk di hadapanku.
Untuk pertama kalinya aku berani menatap matanya. Dia menghembuskan napas pelan, selama ini aku hanya berani melihatnya sekilas dan ternyata itu berakibat fatal.
"Ini memang konyol, Mbak--?"
"Namaku saja kamu ndak tahu, bagaimana mungkin kamu bisa membuat janji semacam itu?"
"Aku tahu, aku nekat dan konyol. Aku tertarik pada gadis yang selalu berjalan menunduk, selalu menyunggingkan senyum di wajah pucatnya. Manatap sekiling dengan pandangan kosong. Sama sekali tak tertarik padaku meski aku sering menatapnya."
"Kau pikir aku setan, mengerikan sekali gambaranmu tentangku," aku beranjak bangkit, tapi dia menarik ujung bajuku.
"Aku ndak akan mundur, aku sudah berjanji dan akan aku tepati apapun itu,"
"Janjimu konyol, bagaimana jika aku sudah menikah dan punya anak. Pernah kau pikirkan itu?"
Dia melepaskan tangannya dari ujung bajuku, wajahnya terlihat serius dan dia hanya terdiam. Kepalanya menunduk.
"Lain kali, jangan membuat janji konyol seperti ini," aku membalikkan badan.
"Aku ndak akan mundur dan aku yakin dengan keinginanku."
Kali ini ganti aku yang terdiam, bagaimana mungkin dia bisa senekat ini. Janji konyol yang sama sekali tak masuk akal. Aku berlalu darinya tanpa berucap salam.
"Tunggu aku di rumahmu dan akan kujadikan semuanya nyata!" teriakannya semakin membuatku mempercepat langkah meninggalkannya. Ini konyol--sangat.
Tgr, 18-7-2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar