Sore ini keberuntungan berpihak padaku, aku melihatnya sedang berdiri di depan pintu pagar rumahnya, sepertinya dia baru saja pulang kerja. Tidak seperti kemarin, hari ini dia pulang cepat.
Kemejanya sudah tergulung sebatas siku, dasi yang dikenakan sudah dilepas, aku bisa melihat ujung dasi yang masih tersembul di saku celannya. Wajah putihnya sedikit kemerahan terbakar matahari. Untuk sesaat aku menikmati pemandangan ini.
Pemuda itu menoleh padaku, sepertinya dia sadar jika sedang di perhatikan. Aku tersenyum padanya sebelum melanjutkan langkahku. Kurasa cukup sampai di sini untuk hari ini. Setidaknya aku sudah membuatnya melihat ke arahku untuk kesekian kalinya. Aku tak ingin dia berpikiran aku sengaja mengutitnya meski kenyataannya memang demikian.
Pagi ini taman kompleks terlihat lebih ramai dari biasanya, banyak warga yang berolah raga di tempat itu. Aku duduk di bawah pohon, melihat sekelompok ibu-ibu yang sedang senam. Gerakan mereka membuatku tersenyum.
"Ah, sepertinya mereka lebih suka semaunya daripada mengikuti arahan," tawaku hampir meledak ketika kulihat beberapa ibu-ibu yang lebih asyik bergoyang sendiri daripada mengikuti instruktur mereka. Sepertinya mereka lebih nyaman dengan goyangan mereka buat.
"Apa kamu penghuni baru?" Suara itu membuatku menoleh. Pemuda yang kuikuti kini berdiri di sampingku.
"Iya, aku baru pindah ke sini,"
"Oooo ... pantas, aku baru melihatmu belakangan ini. Kerja di sini?"
"Bisa di bilang begitu." Aku bangkit dan meninggalkannya. Kurasa perbincangan kami cukup sampai di sini.
"Hai, tunggu!" Pemuda itu menyusulku. Sepertinya dia mulai penasaran denganku, ini kemajuan yang aku inginkan.
"Ada apa?"
"Kamu kerja di mana?"
"Di restoran,"
"Kamu koki?"
Aku megangguk dan tersenyum.
"Oya, siapa namamu?''
"Zara," Aku mengulurkan tanganku. Dia membalasnya.
"Aku Ridwan. Kamu mau balik?"
Aku mengangguk, kulihat senyumnya mengembang. Ada lesung pipi yang tertangkap mataku saat dia tersenyum. Aku mengamati sosok yang kini berdiri di hadapanku.
Selama ini aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Kini, aku bisa melihatnya dengan jelas. Bahkan aku bisa mencium bau semerbak parfum yang dikenakannya pagi ini.
"Kapan-kapan boleh donk merasakan masakanmu,"
"Tentu dengan senang hati,"
Pemuda itu masih saja berceloteh panjang lebar tentang pekerjaan dan juga tentang kompleks perumahan ini. Aku hanya sesekali menjawab pertanyaannya. Semula kupikir dia pemuda pendiam dan agak ketus tapi ternyata pikiranku salah, dia lebih cerewet dari dugaanku.
Jika diperhatikan, pemuda ini memang tampan, alis matanya tebal dan hidungnya mancung. Pantas jika Saki tergila-gila padanya, hingga membuatnya rela melakukan apa pun termasuk mengakhiri hidupnya demi pemuda ini.
Aku melihat tawanya mengembang. Rasa nyeri itu kembali hadir, harusnya dia tidak tertawa seperti itu setelah menyuruh seorang gadis mengkhiri hidupnya secara konyol demi cinta yang dimilikinya.
"Tertawalah sepuasmu, karena esok saat kamu bertemu denganku lagi, tawa itu akan menghilang selamanya," ucapku dalam hati. Kurasa dia tak akan bisa tertawa seperti ini saat tahu kebenarannya nanti.
Aku akan menikmati tawa itu untuk sesaat, sebelum mengirimnya bertemu dengan Saki--adikku. Kurasa Saki pasti akan senang dengan kirimanku nanti.
Sepertinya keberuntungan berpihak padaku hari ini, kuharap esok hari pun keberuntungan juga berpihak kepadaku agar tak ada penyesalan di hatiku karena dendam padanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar