Selasa, 24 Maret 2026

boneka

Kotak kayu itu mengapung menjauh, arus air yang mengalir membuatnya itu bergerak-gerak. 

"Apa yang kau buang?" sebuah suara mengejutkanku. Seorang gadis mungil berdiri di belakangku.

"Hanya barang yang tak pantas disimpan." 

"Apa itu sebuah boneka?" 

"Darimana kau tahu?"

"Aku hanya menebak saja. Kenapa kau membuangnya?"

"Karena dia tak pantas di simpan.'

"Benarkah? Apa dia jahat?"

Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Mata bocah ini terasa aneh, ada kemarahan dan sesuatu yang tersembunyi di sana.

"Siapa namamu?"

"Valen."

Valen? Nama yang sama. Boneka terkutuk itu juga memakai kalung bernama Valen. Kebetulan yang aneh.

"Nama yang bagus, Aku Dy."

Aku mengulurkan tanganku, sejenak dia ragu. Tapi kemudian dia menyambutnya. Saat itulah aku melihat bayangan mengerikan yang selama ini ingin aku lupakan. Aku buru-buru menarik tanganku.

"Kenapa? Apa yang kau lihat?"

"Tidak ada, aku hanya kaget saja. Tanganmu begitu dingin. Mungkin udara di sekitar tempat ini membuatmu kedinginan."

Gadis itu hanya terdiam, pandangannya lalu beralih pada kotak kayu yang terlihat menjauh. Perasaanku menjadi aneh. Di sini dulu aku menemukan boneka tua itu dan membawanya pulang. Siapa sangka, boneka itu justru menimbulkan malapetaka.

Aku memerhatikan gadis itu, saat aku menyentuhnya pintasan kejadian semua tersusun seperti sebuah film. 

Kadang aku membenci diriku sendiri karena keadaanku ini, sepertinya aku harus berhati-hati dengan sosok di hadapanku. Meski terlihat seperti gadis mungil yang tak berdaya, tapi di balik itu ada suatu kekuatan yang menyelimuti jasadnya.

"Kalau kau ingin boneka, datanglah ke rumah. Aku punya banyak boneka peninggalan Aria dan Arisa."

"Mereka sudah pergi?"

"Iya ...."

"Kenapa?"

"Kurasa Tuhan sangat menyayangi mereka dan memintanya bermain di surga saat ini."

Gadis itu menatapku. Aku tak ingin terlihat kalah di depannya. Aku tahu pasti, gadis ini tahu dengan pasti penyebab kematian kedua adik kembarku.

"Datanglah ke rumah. Ada banyak boneka yang bisa kau ajak bermain daripada boneka yang di peti itu." Aku beranjak pergi darinya. 

Sekarang waktunya aku mengenal musuhku, mungkin akan sulit untuk menyingkarkannya meski nyawa akan jadi taruhannya, tapi tak ada salahnya aku mempertaruhkan semuanya sekarang. Cukup Aria dan Arisa korban terakhirnya, saatnya aku mengakhiri semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar